Ini adalah tulisan ketiga dari cerita jalan jalan Eksplor Blitar bersama teman teman alumni SD. Tulisan pertama berjudul “Dengan Sepur Kelinci Kunjungi Candi Penataran Blitar” dan yang kedua berjudul “Berkunjung ke Penangkaran Rusa Maliran, Kesambi Trees Park Blitar“. Sengaja saya tulis dalam tiga judul karena setiap tempat mempunyai kekhasan dan menyimpan cerita manis tersendiri.
Sepur kelinci kami mulai berjalan meninggalkan Kesambi Trees Park Kabupaten Blitar, dan kini menuju Masjid Ar Rahman Blitar.
Masjid yang sangat terkenal. Dalam beberapa kesempatan ke Blitar saya ingin mampir ke sini tapi belum kesampaian, dan kali ini dengan sepur kelinci, kami diberi kesempatan untuk mampir ke sini.
Siang semakin terik. Jalanan yang kami lewati lumayan ramai mungkin karena semakin ke tengah kota. Di kiri kanan jalan banyak buah nanas dijual dalam bentuk ikatan. Ya, Blitar terkenal sebagai daerah penghasil nanas madu di Jawa Timur.

Setelah sekitar empat puluh menit perjalanan, akhirnya sampailah kami di depan Masjid Ar Rahman Blitar. yang berlokasi di Jl. Ciliwung No.2, Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Jawa Timur. Masjid ini mudah dijangkau di pusat kota dan sering menjadi tujuan wisata religi.
Di bagian depan masjid, kami langsung disambut dengan gerbang yang berbentuk Al Quran. Gerbang tersebut merupakan miniatur dari Gerbang Mekkah, sebuah gerbang lengkungan monumental di Makkah al-Mukkarramah jalan dari Jeddah–Jalan Raya Mekkah, yang merupakan pintu masuk ke Mekkah.
Ciri khas dari masjid ini adalah dilengkapi dengan payung-payung raksasa yang memberikan keteduhan bagi para jemaah, mengingatkan pada payung-payung di Masjid Nabawi. Jumlah total ada tujuh payung, empat payung permanen dan tiga payung elektrik yang bisa membuka dan menutup seperti di Masjid Nabawi.
Penggagas berdirinya masjid Ar Rahman yaitu Abah Hariyanto mempunyai pengalaman spiritualyamg sangat mendalam tatkala beribadah haji pertama kali di Masjid Nabawi, dan beliau ingin setiap saat bisa merasakan berada di suasana khusyuk ketika beribadah di sana.
Peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan pada tanggal 24 Desember 2018, dan selesai pada tanggal 25 Desember 2019.
Memasuki masjid ini terasa kesan yang benar benar berbeda. Ornamennya sangat artistik dan didominasi dengan kubah kubah melengkung dengan dominasi warna putih, tembaga dan emas.

Begitu masuk kami langsung diarahkan ke pintu kiri tempat jamaah perempuan. Setelah memasukkan bawaan termasuk sandal di loker dan menguncinya, kami langsung menuju tempat wudhu. Hari itu pengunjung banyak sekali mungkin karena akhir pekan sehingga banyak orang jalan jalan dan melakukan sholat di Ar Rahman.

Azan Ashar baru saja berkumandang. Selesai wudhu kami segera masuk area sholat. Karena kami melaksanakan sholat jamak, oleh petugas masjid kami diarahkan ke tempat tersendiri, tidak sholat Ashar berjamaah bersama yang lain. Ruangan dipenuhi dengan asap wewangian yang memberikan sensasi rasa tenang.

Duduk sebentar setelah melaksanakan sholat membuat saya bisa melihat ornamen langit- langit dan sekitar masjid dan mengambil foto-foto.
Menurut informasi masjid ini dibangun di tanah seluas 5000 meter persegi dengan arsitektur Utsmaniyah Mamluk. Arsitektur khas Mamluk (abad 13-16 M) ditandai dengan penggunaan batu kokoh, kompleks bangunan multifungsi (masjid, madrasah, makam), dan detail dekorasi rumit seperti muqarnas, pahatan batu, serta pola geometris.

Setelah berjalan-jalan di sekitar masjid, kami menuju loker untuk mengambil barang barang . Tapi sebelumnya kami menyempatkan diri untuk mengambil minuman yang disediakan. Ada tiga jenis minuman yang disediakan dalam sebuah termos besar yaitu kopi, teh dan jahe, dan jamaah boleh mengambil sesukanya dengan menggunakan gelas yang tersedia.
Hmmm, sedap sekali rasanya menikmati minuman hangat setelah perjalanan yang cukup melelahkan.

Masjid Ar Rahman bukan hanya sekadar bangunan megah, tetapi juga simbol dari kecintaan seorang hamba kepada Allah SWT dan kerinduannya akan suasana Masjid Nabawi. Masjid yang juga diharapkan dapat menjadi tempat yang membawa keberkahan dan kedamaian bagi masyarakat Blitar dan sekitarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 16.00, dan ini saatnya kami kembali ke stasiun. Ya, kereta Doho Penataran arah ke Malang akan berangkat pukul 17.20.
“Sampun? Balik Stasiun?” tanya Pak Ali, Sang Driver sepur kelinci dengan ramah.
“Inggih Pak, langsung stasiun,” jawab kami hampir bersamaan.
Matahari kian meredup. Kereta kami mulai berjalan seiring senja yang menyapa Bumi Bung Karno. Sungguh perjalanan yang mengesankan. Sehari eksplor Blitar dengan tiga tempat tujuan : Candi Penataran, Kesambi Trees Park dan Masjid Ar Rahman.
“Kapan kapan jalan lagi ya..,” kata seorang teman di dalam kereta.
“Bagaimana kalau ke Bali? Mampir ke rumahku,” tanya seorang teman yang memang tinggal di Bali dan kali ini sedang sambang ke Malang.
“Ayo, tapi nyelengi dhisik,” jawab yang lain diiringi derai tawa kami yang ditelan suara deru kereta api.