Di akhir bulan Oktober yang baru lalu, tim Paskibra Kradika Bintaraloka kembali menorehkan sebuah prestasi yang sangat membanggakan.
Dengan mengirimkan satu tim yang terdiri dari lima belas siswa, Paskibra Kradika berhasil meraih kejuaraan dalam event LPBB AMUNISI 2.0
LPBB AMUNISI 2.0 singkatan dari Lomba PBB Aksi Muda Mudi Indonesia. Lomba ini diadakan oleh SMA Sabilillah Malang dan diikuti oleh berbagai regu dari SMP dan Mts di Jawa Timur.
Penguman lomba, dokumentasi pribadi
Ada berbagai nomor yang dilombakan dalam event ini yaitu PBB murni, variasi dan kreasi, formasi dan kreasi, film pendek dan poster digital.
Dalam lomba tersebut khususnya di nomor variasi dan formasi Kradika mengambil tema tentang Raden Kian Santang, seorang tokoh yang mempunyai nama besar dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa.
Di variasi diceritakan bagaimana sifat, kesaktian dan kegagahan dari Raden Kian Santang. Sementara di formasi, diceritakan bagaimana perjalanan dan perjuangan Raden Kian Santang dalam mencari ilmu dan juga menyebarkan agama Islam.
Kerja keras siswa dalam mempersiapkan lomba ini tidaklah sia-sia. Terbukti tiga gelar kejuaraan berhasil diraih yaitu Juara Harapan 2, Best Danton 2 dan Best Poster 1
Foto bersama, dokumentasi Munar
Ada banyak pengalaman baik yang diperoleh siswa selama mengikuti event tersebut, seperti disiplin, kerja keras juga kekompakan.
Meski bangga dengan prestasi yang diperoleh, tim beranggapan masih perlu dilakukan kerja keras lagi agar prestasi yang didapatkan akan semakin baik
Support dari para senior adalah hal yang sangat berarti dalam keikutsertaan Kradika dalam event ini. Mengapa? Support tersebut memberikan semangat dan energi luar biasa pada mereka untuk mengerahkan segala kemampuan yang ada dalam berlaga.
Berfoto di depan poster, dokumentasi Kamila
Harapan dari para senior adalah agar angkatan mendatang bisa berlatih dan berjuang lebih keras lagi, supaya bisa mempersembahkan prestasi yang lebih baik di berbagai event yang diikuti.
Beberapa anak tampak menata asesoris dalam kemasan plastik yang cantik sementara temannya menata berbagai pernak pernik di meja agar tampilan mejanya semakin menarik.
Mempersiapkan stand jualan, dokumentasi pribadi
Sementara itu di meja yang lain siswa sibuk menata cookies yang dikemas dalam dos dos kecil yang diberi hiasan hati.
Menata makanan (cookies ) dalam kotak, dokumentasi pribadi
Semua tampak bersemangat. Ada yang menata bangku, menempel papan reklame termasuk juga menyiapkan gazebo untuk tempat para undangan.
Aha, siang itu di sekolah kami akan diselenggarakan acara Market Day.
Sesuai namanya Market Day ini diisi dengan acara jual beli berbagai macam produk yang meliputi makanan, desain dan kerajinan termasuk juga sayuran.
Menawarkan dagangan, dokumentasi pribadi
Kegiatan yang diikuti seluruh siswa kelas 9 ini merupakan rangkaian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang mengambil tema Kewirausahaan dengan judul Ekrafku Bintaraloka.
Ekrafku Bintaraloka adalah kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang berfokus pada penanaman jiwa kewirausahaan pada siswa.
Papan promosi, dokumentasi pribadi
Sesuai namanya kegiatan ini mengajak siswa untuk aktif dalam dunia ekonomi kreatif. Dimensi kegiatan P5 kali ini adalah tentang Kemandirian .
Mengapa ada sayuran juga? Pokcoi dan jamur yang dijual hari itu adalah hasil dari hidroponik dan budi daya jamur yang merupakan kegiatan dari siswa yang tergabung dalam kader NGTS (Nutrition Goes To School).
Stand sayuran dari NGTS, dokumentasi NGTS
Dalam kegiatan P5 ini siswa diajak untuk belajar tentang seluk beluk berwirausaha. Mulai dari merencanakan produk, membuat produk, mempromosikan sekaligus menjual.
Kreasi siswa begitu beraneka ragam. Barang- barang yang dijual sudah diproduksi selama dua atau tiga minggu dalam jam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Produk buatan siswa, dokumentasi pribadi
Untuk pembuatan produk kerajinan seperti gelang, kalung, bros, rajutan atau bunga siswa membuatnya di kelas , sedangkan makanan seperti berbagai macam kue mereka membuatnya di sekitar kantin.
Membuat produk, dokumentasi pribadi Membuat produk, dokumentasi pribadi
Sekitar kantin tempatnya agak lapang sehingga siswa bisa mencetak, ataupun memanggang kue.
Sebelum Market Day dimulai, dalam upacara pembukaan Bapak Kepala Sekolah dan komite menekankan tentang pentingnya menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini.
Pembukaan Market Day, dokumentasi pribadi
Apa manfaat dari menanamkan jiwa wirausaha sejak muda? Banyak. Di antaranya adalah:
1. Mengajak siswa menciptakan berbagai ide kreatif dan inovatif serta kritis dalam melihat sebuah peluang untuk memulai kegiatan wirausaha.
2. Melatih kesungguhan, kejujuran dan tanggung jawab. Sifat sifat tersebut sangat diperlukan oleh para wirausahawan.
3. Mengurangi perilaku konsumtif sehingga siswa bisa lebih bijak dalam membelanjakan uang.
Melayani pengunjung, dokumentasi pribadi
Setelah pengguntingan pita sebagai tanda dimulainya Market Day, para pengunjung mulai berkeliling ke stand-stand yang ada di depan tiap kelas.
Dengan penuh semangat siswa menawarkan barang dagangannya pada para pengunjung. Transaksi mulai dilakukan. Lapangan volley benar-benar berubah menjadi pasar siang itu.
Papan apresiasi, dokumentasi pribadi
Apresiasi positif bermunculan dari acara Market Day ini. Keren, menyenangkan, inspiratif dan banyak lagi . Apresiasi ini ditempelkan pengunjung di papan yang sudah disediakan.
Harapannya dengan acara ini pada diri siswa akan terbentuk jiwa wirausaha, dan ke depan akan tercipta para pengusaha handal, tangguh dan bisa dibanggakan.
Pagi itu sekitar 50 anak yang merupakan perwakilan kelas sembilan mengikuti pengarahan di lapangan volley.
Ada yang mengenakan kaos, ada pula yang berseragam pramuka. Pengarahan diberikan oleh penanggung jawab Projek P5 bersama Ibu-Ibu Kader Lingkungan Kelurahan Samaan Malang.
Pengarahan pada siswa, dokumentasi pribadi
Pengarahan berisi hal apa saja yang harus dilakukan ketika kita membuka kaleng kompos dan memeriksa isinya.
Ya, sesuai yang dijanjikan hari itu kami akan membuka kompos yang sudah dibuat sekitar bulan September yang lalu.
Setelah pengarahan selesai, semua siswa mengenakan masker dan kaos tangan untuk selanjutnya menuju tempat penyimpanan kompos.
Setiap perwakilan kelas segera mengambil kaleng kompos masing-masing dan mulai membukanya.
Mengangkat kaleng kompos, dokumentasi pribadi
Bau tidak sedap mulai menguar. Meski demikian hal tersebut tidak mengurangi semangat semuanya untuk melihat kompos yang sudah dibuat. Jadi atau tidak jadi? pikir kami penasaran.
Diterangkan oleh ibu-ibu kader lingkungan bahwa tanda-tanda bahwa pupuk kompos sudah jadi adalah hilangnya bau, perubahan warna menjad coklat kehitaman, tekstur yang remah, dan tidak panas.
Kompos yang sudah jadi, dokumentasi pribadi
Dari kaleng-kaleng kompos yang dibuka didapatkan ada kompos yang jadi sesuai dengan ciri di atas , ada pula yang belum jadi dimana tekstur masih lembek, berair , keluar belatung dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.
Untuk kompos yang sudah jadi, kompos diangin-anginkan untuk selanjutnya diayak, dipakai memupuk tanaman sekolah ataupun dikemas lalu dijual dalam acara Market Day.
Kompos diangin-anginkan, dokumentasi pribadi
Untuk yang belum jadi (terlalu lembek dan berbau ) tidak masalah. Pada kompos ditambahkan tanah dan diaduk lalu disimpan kembali untuk beberapa minggu lagi.
Seperti yang pernah diungkapkan saat sosialisasi pembuatan kompos di awal projek, tidak ada kompos yang tidak jadi, hanya waktu matangnya saja yang berbeda.
Ada berbagai hal yang mempengaruhi lamanya pengomposan yaitu ukuran bahan, komposisi karbon dan nitrogen, mikroorganisme, suhu, kelembaban dan aerasi.
Mengaduk kompos yang terlalu lembek, dokumentasi pribadi Memindahkan kompos yang sudah jadi, dokumentasi pribadi
Semua bekerja dengan penuh semangat. Para siswa tidak segan-segan bertanya pada guru pendamping ataupun pada ibu-ibu kader lingkungan. Demikian juga, ibu-ibu PKK dengan sabar membantu siswa menangani segala masalah yang ada.
Sungguh sebuah sinergi yang amat baik dalam edukasi pengelolaan sampah untuk pemeliharaan lingkungan sekitar.
Memeriksa kompos dengan bantuan Ibu Kader Lingkungan , dokumentasi pribadi Memeriksa kompos dengan bantuan Ibu Kader Lingkungan , dokumentasi pribadi
Ya, sebagai salah satu negara dengan penghasil sampah terbanyak di dunia pengelolaan sampah adalah sebuah hal yang tidak bisa diabaikan dan pembuatan kompos adalah salah satu caranya.
Pengelolaan sampah, pembuatan kompos adalah sebuah usaha untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik, sehingga bumi sebagai tempat tinggal kita satu satunya menjadi bersih, nyaman dan lestari.
Setelah enam minggu berjalan tak terasa Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tema satu telah berakhir. Ya, kegiatan yang dimulai sekitar pertengahan Agustus itu telah diakhiri di awal Oktober 2024.
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tema satu ini.
Tema satu lebih banyak menekankan pada kepedulian siswa terhadap lingkungan sekitar, utamanya kebersihan kelas dan penataan taman.
Bintaraloka Care, konsep besar P5 SMP Negeri 3 Malang, dokumentasi pribadi Buz
Jika dihitung, dalam satu hari siswa berada di sekolah kira-kira delapan jam. Ini berarti sepertiga dari waktu mereka setiap hari dihabiskan di sekolah. Berkaca dari hal tersebut, menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, asri dan nyaman adalah hal yang harus dilakukan bersama..
Sebagai bagian dari Bintaraloka Care, Projek Tema 1 kelas 7, 8 dan 9 mengangkat judul yang berbeda.
Lalu apa saja judul projek tersebut?
Kelas tujuh mengambil tema projek Bangunlah Jiwa dan Raganya dan judul projek Pribadi Hebat, Lingkungan sehat.
Dengan lingkungan sehat diharapkan akan tercipta pribadi-pribadi hebat, atau sebaliknya pribadi-pribadi hebat adalah mereka yang mampu menciptakan lingkungan sehat.
Pembuatan video, dokumentasi Fabi
Berbagai aksi dari projek ini adalah mengenali diri sendiri, mengenali teman sebaya dan lingkungan diwujudkan dalam pelengkapan administrasi kelas, pembuatan keyakinan kelas, menjaga kebersihan dan keindahan kelas serta deklarasi pribadi hebat yang membentuk lingkungan nyaman dan kondusif untuk pembelajaran.
Kelengkapan kelas, dokumentasi FabiKegiatan kelas 7 di aula saat P5, dokumentasi Fabi
Harapan ke depannya siswa bisa lebih mengenali diri dan lingkungan, menjadi pribadi yang hebat dan menjaga lingkungan sehat.
Projek kelas delapan mengambil judul Cool Green Class
Penataan tanaman , dokumentasi Meiy
Tujuan kegiatan tema ini adalah untuk membuat siswa lebih peduli terhadap lingkungan dan tumbuhan dengan membuat taman di depan kelas.
Pembuatan taman kelas, dokumentasi Meiy
Sesuai namanya kegiatan utamanya adalah pembuatan taman kelas. Cool Green Class, dengan taman kelas yang terawat baik, maka suasana sejuk dan nyaman di kelas bisa diciptakan.
Salah satu bagian kegiatan pembuatan taman kelas, dokumentasi Meiy
Bagaimana dengan kelas sembilan? Judul projek kelas sembilan adalah Pupuk Organik untuk Bumi yang Lebih Baik.
Berbagai aksi dilaksanakan dalam tema ini seperti melakukan pemetaan sampah di kelas dan lingkungan sekitar, pembuatan kesepakatan kelas, membersihkan kelas, taman dan lingkungan sekitar, barcoding tanaman dan terakhir adalah pembuatan pupuk kompos.
Yang menarik dalam kegiatan pembuatan pupuk kompos ini sekolah bekerja sama dengan Kader Lingkungan PKK RW 02 Kelurahan Samaan Malang.
Pembuatan kompos dengan pendampingan kader lingkungan PKK, dokumentasi pribadi
Sungguh kegiatan yang patut diapresiasi. Semua kegiatan yang dilakukan oleh kelas 7, 8 dan 9 semua difokuskan pada kepedulian kita pada lingkungan dengan cara membersihkan dan merawat lingkungan sekitar kita.
Penataan tanaman dan barcoding , dokumentasi pribadi
Sesuai tema besar Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di SMP Negeri 3 Malang yaitu Bintaraloka Care, mari kita tingkatkan kepedulian pada sekitar kita agar bumi semakin nyaman untuk kita tinggali.
Penataan tanaman dan barcoding, dokumentasi pribadi Barcoding tanaman, dokumentasi pribadi Barcoding tanaman, dokumentasi pribadi
Ya, kita adalah bagian dari lingkungan dan bumi adalah tempat tinggal kita satu- satunya. Jika bumi sudah tak nyaman untuk kita tinggali, kemana lagi kita akan pergi?
Aula penuh dengan siswa kelas sembilan pagi itu. Semua siswa duduk sesuai kelas masing -masing. Mulai kelas 9.1, 9.2 hingga 9.9. Sementara itu Bapak ibu guru pendamping duduk di bagian belakang ataupun di depan siswa.
Para narasumber siap dengan berbagai peralatan, dokumentasi pribadi
Di meja depan lima orang narasumber dengan beberapa guru sudah siap dengan berbagai peralatan yang akan digunakan untuk mengajak semua siswa belajar tentang pembuatan kompos.
Menyanyikan lagu P5, dokumentasi pribadi
Hal yang istimewa semua narasumber adalah ibu-ibu. Ya, beliau semua adalah kader lingkungan Pokja 3 RW2 Kelurahan Samaan Malang. Sebuah Kelurahan yang lokasinya berdekatan dengan SMP Negeri 3 Malang .
Pengarahan dari Ibu Ari, dokumentasi pribadi
Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars SMP Negeri 3, semua yang hadir di aula bersama menyanyikan lagu P5. Suasana terasa demikian meriah karena semangat yang tercipta.
Para narasumber pagi itu memaparkan sekaligus praktik bagaimana cara membuat pupuk kompos baik dari daun kering maupun limbah dapur.
Tentang Pupuk Kompos
Membuat kompos, dokumentasi pribadi
Kompos adalah sisa-sisa bahan organik yang telah mengalami proses pelapukan dan bentuknya pun berubah menjadi menyerupai tanah, tidak berbau serta banyak mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman (Astuti, 2019).
Proses penguraian bahan organik menjadi kompos ini terjadi dengan adanya bantuan dari mikro-organisme aktif, bisa bakteri, jamur ataupun mikroba.
Kompos banyak memberikan manfaat pada lingkungan karena banyak mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman.
Proses pembuatan pupuk kompos secara umum sebagai berikut:
Menuang cairan EM4, dokumentasi pribadi
1. Cacah sampah organik atau daun menjadi bagian yang lebih kecil. Semakin kecil , ukuran, sampah akan lebih mudah terurai.
2. Tempatkan dalam ember yang bagian bawahnya diberi lubang dan tempat penampungan air lindi (air yang timbul dari hasil pengomposan)
Ember yang digunakan siswa pagi itu adalah komposter yang terbuat dari dua buah kaleng cat.
Komposter, dokumentasi pribadi
Kaleng pertama mempunyai lubang untuk keluarnya air dari proses pengomposan. Kaleng kedua untuk menampung air tersebut yang bisa dikeluarkan lewat kran yang melekat di kaleng.
3. Campur sampah organik hasil pencacahan dengan tanah ke dalam ember tempat melarutkan sampah dengan aktivator EM4.
Tuangkan juga molase kurang lebih 250 cc ke dalam campuran sampah organik dengan tanah.
Praktik pembuatan kompos, dokumentasi Tyas
4. Aduk-aduk sampah dan tanah dengan merata, lalu tutup rapat, lalu simpan di tempat teduh.
5. Aduk kompos setiap 1 minggu agar proses pengomposan berjalan dengan baik.
Pupuk kompos akan siap digunakan biasanya pada bulan ketiga.
6. Air lindi yang tertampung pun bisa menjadi pupuk cair yang bagus untuk tanaman.
Tidak ada kompos yang tidak jadi, demikian pesan narasumber. Jika kompos terlalu cair atau mengeluarkan magot (belatung), tinggal ditambah dengan tanah.
Sesudah mendapatkan penjelasan di aula, siswa langsung mempraktekkan pembuatan kompos di halaman sekolah deengan bimbingan narasumber.
Sebelum praktik dilakukan siswa terlebih dahulu menyiapkan. komposter, sampah dapur yang sudah dibawa dari rumah juga sampah daun yang sejak kemarin dikumpulkan dari halaman sekolah.
Lalu apa saja manfaat yang bisa diambil dari kegiatan ini? Banyak.
Ibu Kepala Sekolah, guru dan narasumber, dokumentasi Tyas
Utamanya siswa menjadi lebih peduli pada lingkungan terutama bagaimana melakukan pemilahan dan pengolahan sampah untuk dijadikan sesuatu yang berguna.
Ya, tidak boleh kita lupakan bahwa Indonesia darurat sampah. Penuhnya kapasitas TPA di beberapa daerah menunjukkan bahwa sampah adalah masalah yang serius. Tanpa pengolahan yang baik, masalah sampah bisa menjadi bencana bagi kita semua.
Lewat kegiatan ini siswa juga diajak peduli pada lingkungan dengan menjadikannya lebih hijau dan asri.
Sesuai dengan tema P5 kali ini yaitu Revolusi Hijau Bintaraloka, pupuk kompos yang dihasilkan nantinya akan dipakai untuk taman sekolah supaya menjadi lebih subur dan indah.
Hal lain yang tak kalah penting adalah lewat kegiatan ini terwujud sinergi yang baik dari sekolah dengan masyarakat sekitar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Ya, seperti yang diungkapkan Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara bahwa kemajuan pendidikan bergantung pada tripusat pendidikan yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat.