Betapa banyak bangunan bersejarah yang kita lalui tiap hari, tapi kita sendiri sebagai warga Malang tidak tahu cerita apa yang ada di balik bangunan tersebut.
Berkaitan dengan dengan hal tersebut, maka salah satu kegiatan dari kokurikuler kelas sembilan yang mengambil tema ” Malang Heritage”, mengundang seorang pemerhati sejarah untuk memberikan paparan tentang berbagai tempat dan bangunan bersejarah di Kota Malang.
Acara yang berlangsung sekitar dua jam ini dilaksanakan pada hari Kamis (15/10), dan diikuti sekitar 280 siswa dengan narasumber Pak Irawan, seorang pemerhati sejarah yang merupakan Arema asli.

Acara demikian gayeng. Siswa mengikuti semua penjelasan narasumber sembari membuat catatan. Ada rasa takjub ketika melihat foto-foto di masa lalu. Betapa sepi dan indahnya kota Malang saat itu. Seperti dalam dongeng, mungkin itu yang terbersit dalam benak mereka.
Narasumber membuka penjelasan dengan sebuah pertanyaan apakah siswa tahu akan sejarah SMP Negeri 3 Malang?
Sekilas sejarah SMP Negeri 3 Malang, dulu sekolah ini bernama MULO Wilhelmina. Dan dinamakan Wilhelmina karena berlokasi di Jalan Wilhelmina yang kemudian berubah menjadi jalan Dr Cipto.
“Jalan Wilhelmina ini adalah distrik pertama yang dibangun di Kota Malang,” lanjut Pak Irawan.
Dijelaskan lebih lanjut, pembangunan tata ruang Kota Malang telah dikembangkan sejak era kolonial Belanda.
Pengembangan tata kota ini dibuat berdasarkan Bouwplan atau rencana pembangunan kota. Bouwplan di Malang dirancang oleh arsitek Thomas Karsten dengan memanfaatkan perspektif kedudukan gunung di sekeliling dan sungai yang membelah kota. Rancangan tata kota dari Thomas Karsten ini menjadi rancangan kota terbaik di Hindia Belanda saat itu.
Menurut Karsten ada delapan Blouwplan untuk pengembangan Kota Malang saat itu.
Pelaksanaan Blouwplan I dimulai pada Mei 1917 yaitu dengan keputusan untuk membangun perumahan bagi orang Eropa. Perumahan baru ini dinamakan Oranjebuurt atau daerah Orange yang dihuni keluarga kerajaan Belanda. Ini adalah perumahan pertama di Malang.
Daerah Oranjebuurt itu banyak menggunakan nama anggota keluarga kerajaan Belanda sebagai nama jalan. Mulai Wilhelmina Straat (sekarang Jalan Dr Cipto), Juliana Straat (Jalan RA Kartini), Emma Straat (Jalan Dr Sutomo), Willem Straat (Jalan Diponegoro), Maurits Straat (Jalan MH Thamrin) hingga Sophia Straat (Jalan Cokroaminoto).
Perencanaan tata kota selanjutnya adalah Blouwplan II yang difokuskan untuk kawasan pusat pemerintahan yang mulai dibangun pada tahun 1922. Kawasan ini dinamai Gouverneur-Generaalbuurt yang meliputi Gedung Balai Kota Malang, Alun Alun Tugu Kota Malang, Hotel Splended hingga sekolah SMA Negeri Tugu.
Di kawasan yang banyak menggunakan nama gubernur jenderal terkenal era Hindia Belanda seperti Daendels boulevard (sekarang Jalan Kertanegara), Van inhoff straat (Jalan Gajahmada), Speelman straat (Jalan Majapahit), Maetsuucker straat (Jalan Tumapel), Riebeeck straat (Jalan Kahuripan), Van Oudthoorn straat (Jalan Brawijaya), Idenburg straat (Jalan Suropati), Van den Bosch (Jalan Sultan Agung), Van Heutz straat (Jalan Pajajaran) hingga Van Der Capellen Straat (Jalan Sriwijaya).
Bouwplan III menjadi rencana perluasan kota berikutnya, yaitu pembangunan kawasan pemakaman untuk orang Eropa di Kecamatan Sukun yang kini dikenal sebagai Kuburan Londo. Luasnya mencapai 3.740 meter persegi.

Bouwplan IV dilaksanakan mulai tahun 1920 dengan pembangunan perumahan kelas menengah ke bawah di daerah Celaket dan Lowokwaru.
Pembangunan Jalan Ijen, kawasan olah raga di kawasan Semeru masuk dalam Bouwplan V. Prencanaan tata kota dalam Blouwplan V ini ini kental akan pertemuan jalan besar dengan hiasan taman bunga.
Bouwplan VI pada 1932-1940 dimulai dengan pembangunan perumahan Eilandenbuurt atau daerah pulau pulau. Seperti Jalan Lombok, Jalan Jawa, Jalan Sumba, Jalan Flores, Jalan Madura, Jalan Bali, Jalan Kangean, Jalan Bawean, Jalan Sapudi hingga Jalan Seram.
Selain itu, pasar pasar rakyat seperti Pasar Bunul, Pasar Kebalen, Pasar Oro oro Dowo, Pasar Embong Brantas, Pasar Lowokwaru, Pasar Blimbing dan Pasar Dinoyo menjadi bagian dari Bouplan VI yang dibangun pada tahun 1932 hingga 1940.

Bouwplan VII menjadi perencanaan lanjutan dari Bouwplan V yang dimulai pada 1940. Pembangunan ini menjadi pengembangan kawasan Jalan Ijen, yakni dengan dibangunnya perumahan elit. Di dalamnya ada penambahan fasilitas olahraga seperti arena pacuan kuda (sekarang menjadi Poltekes Malang dan Simpang Balapan)
Terakhir, Bouwplan VIII yang dimulai pada 1935-1942 dengan area seluas 179.820 meter persegi. Area ini dibangun untuk kawasan industri yang lokasinya dekat dengan jalur rel kereta api. Kawasan industri itu bisa ditemui di wilayah sekitar Stasiun Kota Lama dan area perluasannya di Blimbing yakni di Jalan Tenaga.
Pembangunan ala kolonial Belanda ini akhirnya berhenti seiring dengan masuknya Jepang ke Malang pada 1942, dan selanjutnya pembangunan dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia.
Sebelum acara tanya jawab narasumber juga menjelaskan tentang Monumen Pahlawan TRIP yang merupakan makam dari 35 Tentara Republik Indonesia Pelajar yang gugur dalam agresi militer Belanda pada bulan Juli 1947.

Tanya jawab dan diskusi berlangsung sangat menarik. Pak Irawan beberapa kali memberikan pertanyaan yang langsung dijawab dengan antusias oleh anak- anak.
Beberapa pertanyaan juga muncul dari anak anak. Misal mengapa dinamakan Kota Malang? Mengapa beberapa sekolah Zaman Belanda memisahkan antara siswa laki-laki dan perempuan?
Belajar sejarah adalah sebuah cara yang sangat hangat untuk mencintai kota tempat tinggal kita.
Sebuah pembahasan menarik muncul juga tentang jembatan Buk gluduk.
Ya, jembatan yang berdekatan dengan stasiun Kota Baru ini masih kokoh berdiri sejak dibangun tahun 1890-1897. Dinamakan buk gluduk karena suaranya yang ‘gluduk gluduk’ ketika dilewati kereta api. Kata ‘buk’ berasal dari kata ‘brug’ dalam bahasa Belanda yang artinya jembatan. Alhasil, jembatan inipun dinamakan ‘buk gluduk’.

Hari yang luar biasa. Antusias siswa, kesabaran narasumber dalam menjawab pertanyaan serta memberikan paparan adalah chemistry yang sangat mengasyikkan untuk bersama-sama belajar sejarah Kota Malang.
Di balik tempat tempat yang hampir tiap hari kita lalui, ternyata banyak tersimpan cerita yang mungkin belum kita ketahui. Adalah penting untuk mengetahui sejarah kota kita. Tahu sejarah membuat kita merasa menjadi bagiannya, bahkan mencintainya, karena belajar sejarah adalah sebuah cara yang sangat hangat untuk mencintai kota tempat tinggal kita.
Salam dari Kota Malang 😊
- Mengenal Sejarah, Sebuah Cara untuk Lebih Mencintai Kota Tempat Tinggal Kita - October 20, 2026
- Kunjungi Pameran Museum Bersama, Pelajari Jejak Sejarah Peradaban Malang Raya - October 18, 2026
- Tabungan dan Pinjaman - October 5, 2026