Hotel Pelangi, Saksi Sejarah yang Berulangkali Ganti Nama

Jam menunjukkan sekitar pukul 12 siang. Ruang makan hotel sudah mulai ramai oleh para peserta pelatihan. Saya segera mengambil piring. Saya pilih nasi, sop, ayam goreng, tempe dan jus jeruk sebagai minumannya.

Saya mengambil tempat duduk di meja makan yang berisi empat orang. Tiga orang teman  sudah duduk sambil menikmati hidangan. Teman yang mendadak kenal pas pelatihan. Sama sama guru dari SMP, SMA dan SMK di kabupaten dan kota Malang.

Suasana ruang makan, dokumentasi pribadi

Sambil menikmati hidangan kami ngobrol ringan. Tentang apa saja. Yang terbanyak adalah tentang daerah sekitar hotel tempat kami mendapatkan pelatihan.

Lagu diperdengarkan di ruang makan dengan suara yang tidak terlalu keras. Geef Mij Maar Nasi Goreng” (Beri Aku Nasi Goreng). Sebuah lagu yang digubah oleh Louisa Johanna Theodora “Wieteke” van Dort atau Tante Lien pada tahun 1977.

Lagu yang bercerita tentang kerinduan Wieteke pada makanan Indonesia.

Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei

Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij

Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei

Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij..

Belum selesai. Selanjutnya suasana dihangatkan oleh lagu Bunga Anggrek (Als de Orchideen Bloeien) gubahan Ismail Marzuki.

Vibesnya benar-benar terasa…Kuno tapi menyenangkan.

*****

Hotel Pelangi di malam hari, dokumentasi pribadi

Sejak tanggal 18 Agustus kemarin saya mendapatkan tugas untuk mengikuti sebuah pelatihan menulis. Pelatihan ini diikuti oleh guru guru SD, SMP, SMA dan SMK yang ditunjuk.

Pelatihan yang dilaksanakan sampai tanggal 20 Agustus ini diadakan di Hotel Pelangi Jl. Merdeka Selatan sekitar Alun alun Merdeka Malang. 

Sangat menarik, karena hotel yang berjarak kira kira 10 menit perjalanan dengan sepeda motor dari rumah ini setiap hari saya lewati. Tapi tak pernah sekalipun saya menginap di sini.

Dulu sekali saya pernah masuk ke sini karena  mendapat undangan untuk halal bihalal, tapi itu sudah lebih dari 10 tahun yang lalu.

Tentang Hotel Pelangi

Hotel Pelangi termasuk salah satu bangunan kuno di Kota Malang, dokumentasi pribadi

Begitu mendengar kata Hotel Pelangi banyak di antara teman-teman saya yang memberi tanggapan menarik. Horor, singup, antik dan banyak lagi. Semua berintikan pada satu hal yaitu hotel ini termasuk bangunan kuno, dan seperti lazimnya bangunan kuno pasti ada cerita cerita ‘lain’ di baliknya.

Hotel ini memang sangat menarik. Nuansa lampau sangat terasa, hingga tak salah jika sejak tahun 2016 hotel ini dimasukkan sebagai cagar budaya oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang.

Syarat sebuah bangunan dapat dijadikan cagar budaya di antaranya memiliki usia lebih dari 50 tahun, masa jaya juga lebih dari 50 tahun dan memiliki nilai sejarah, dan Hotel Pelangi telah memenuhi semua itu.

Hotel Lapidoth, sumber gambar: ngalam Wearemania.net

Hotel yang dibangun pada tahun 1860 ini semula bernama Hotel Lapidoth, sesuai nama pendirinya yaitu Abraham Lapidoth, seorang pengusaha Belanda yang tinggal di Malang.

Lapidoth membangun hotel ini karena melihat prospek yang bagus dari Malang sebagai tempat wisata, dan benar saja di masa itu Hotel Lapidoth ternyata mendapat banyak kunjungan wisatawan.

Seiring berjalannya waktu di tahun 1870 dimana di Indonesia sedang dilakukan tanam paksa, di Malang sedang digalakkan penanaman kopi dan tebu. 

Malang semakin mendapat banyak kunjungan dari pengusaha dan pekerja, dan nama hotel berubah menjadi Hotel Malang.

Pada tahun 1908 setelah Abraham Lapidoth meninggal, hotel ini berpindah pengelolaannya pada pemerintah Hindia Belanda. Nama hotel berubah menjadi Hotel Palace.

Pada tahun 1942 ketika Jepang menduduki Indonesia, termasuk juga Kota Malang nama hotel berubah lagi menjadi Hotel Asoma.

Tiga tahun kemudian, yaitu tahun 1945 ketika Jepang kalah, hotel kembali beralih nama menjadi Hotel Palace. 

Tahun 1947 Hotel Pelangi dibumihanguskan Belanda, sumber gambar: Malang Tugu.id

Di masa agresi militer pertama tahun 1947 ketika Malang dibumi hanguskan, Hotel Palace mengalami imbasnya dan mengalami kerusakan di bagian menara kembarnya.

Akhirnya hotel ini dibeli oleh seorang pengusaha kontraktor dari Banjarmasin yang bernama H. Sjachran Hoesin. Tahun 1953 hotel ini diberi nama Hotel Pelangi. Arsitektur hotel tetap dipertahankan dengan nuansa kolonial yang demikian kental.

Berjalan dan menikmati interior hotel ini membawa kita seolah terlempar ke masa lalu. Di bagian pintu masuk ruang makan terdapat tulisan Lodji coffeeshop dengan angka tahun 1915.

Depan pintu masuk ruang makan, dokumentasi pribadi

Potret Malang Tempo Dulu yang bertebaran di mana mana membuat kita teringat pada masa lalu, seperti jalan kereta api di Embong Brantas, Kantor Pos, gambar bemo kendaraan bermotor di saat itu dan banyak lagi.

Foto Pasar Besar tempo dulu, dokumentasi pribadi
Kantor Pos tempo dulu, dokumentasi pribadi

Lukisan keramik yang ada di ruang makan juga tampak demikian cantik, menggambarkan suasana pedesaan Belanda di masa lalu.

Lukisan keramik suasana desa Belanda, dokumentasi pribadi

Balkon yang ada di ruang makan juga tampak unik. Saya langsung membayangkan film zaman dulu yang ada adegan pesta atau berdansa bersama, lalu sang pemilik pesta muncul di balkon. Aha…

Ada berbagai cerita yang mewarnai hotel ini sehingga hotel ini agak angker menurut sebagian orang. Tidak salah kalau sebelum berangkat pelatihan teman saya berkata dengan nada bergurau,” Nanti kabari kalau sudah ketemu dengan Noni Belanda ya…,” Waduh… .

Sejarah Hotel Pelangi, dokumentasi pribadi

Begitulah sedikit cerita tentang Hotel Pelangi. Dengan arsitektur dan nuansa yang demikian khas, hotel ini telah berulang kali ganti nama, sebagai penanda dan saksi sejarah berbagai peristiwa yang terjadi di Malang kota tercinta. 

Salam dari Kota Malang.

Dari Arena Pekan Seni dan Keterampilan (Pentas) PAI Kota Malang 2023

Sabtu pagi itu suasana di SMP Negeri 6 Malang lebih ramai dari biasanya. Meski seharusnya Sabtu adalah hari libur, tampak kesibukan di masjid dan kelas-kelas sekitarnya. Ya, hari itu diselenggarakan Pentas PAI Tingkat SMP se Kota Malang.

Tentang Pentas PAI

Lomba cerdas cermat, dokumentasi pribadi

Pekan Ketrampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) adalah ajang unjuk keterampilan dalam bidang keagamaan, yang diadakan mulai tingkat kota, provinsi dan nasional.

Dari situs kemenag RI, tujuan Pentas PAI ini adalah:

Suasana lomba cerdas cermat PAI, dokumentasi Utien

a. Memberikan kesempatan kepada para siswa yang beragama Islam untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri, bakat, minat, kemampuan dan potensi pada aspek ketrampilan dan seni Pendidikan agama Islam.

b. Membangun aspek Emotional Quotien dan Spiritual Quotioen yang baik.

c. Membangun ukhuwah Islamiyah di kalangan guru, orang tua, siswa dan pengelola pendidikan.

Pelaksanaan Pentas PAI Kota Malang dibuka oleh Kepala kantor Kemeneterian Agama Kota Malang : H.Ahmad Shamton, S.Hi.

Lomba pidato PAI, dokumentasi pribadi

Sesudah pembukaan, kontingen masing-masing sekolah mulai berlaga di tempat-tempat yang sudah ditentukan.

Semua peserta berusaha menunjukkan performa terbaiknya. Adalah sebuah kebanggaan jika bisa membawa gelar juara yang bisa mengharumkan nama sekolah. Lebih-lebih, para juara akan mewakili kota Malang ke Pentas PAI di tingkat provinsi.

Lomba kaligrafi, dokumentasi Utien

Berbagai lomba yang diadakan dalam Pentas PAI adalah:

  1. Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), dengan juri Ustad Sulaiman Fadli dan
    H.M. Sholeh
  2. Pidato keagamaan, dengan juri Syamsul Arifin, M.Pd dan Drs. Nur Kholiq
  3. Cerdas Cermat PAI, dengan juri Muhammad Alfash Mufassirin, Ahfa Daffa ‘Alian Tarif
  4. Kaligrafi dengan juri Ust. Ony Setiawan dan Ust. Alvan Sujevri

Acara Pentas ditutup sore hari oleh Bapak Nur Wachid, S.Ag , selaku ketua MGMP PAI kota Malang.

Adapun juara-juara dalam Pentas PAI kota Malang tahun 2023 adalah sebagai berikut:

Hasil akhir Pentas PAI kota Malang 2023, dokumentasi Utien

Akhirnya selamat pada para peserta dan juara Pentas PAI. Semoga prestasi yang diperoleh bisa menjadi motivasi bagi para siswa yang lain untuk membuat prestasi yang membanggakan sekolah.

Sebuah Pagi di Car Free Day

Rungkad……Entek entekan
Kelangan kowe sing paling tak sayang
Stop mencintaimu
Gawe aku ngelu

Lagu dari Happy Asmara menghentak semangat kami pagi itu. Pertigaan Jalan Semeru dan Ijen sudah dipenuhi manusia. Ada yang menggunakan kostum komunitas masing-masing, banyak pula yang tidak. Tiap orang mengambil jarak sekitar dua lengan agar tidak saling bertabrakan ketika melakukan gerakan.

Pas di pertigaan ada sebuah panggung kecil untuk para pemandu senam.

Suasana Car Free Day, dokumentasi pribadi

Aha, itu adalah suasana Car Free Day di kawasan Semeru dan Ijen pagi ini.

Suasana Car Free Day kota Malang seperti biasa selalu ramai. Event yang di adakan setiap hari Minggu itu sungguh sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Semua bergerak ( atau bergoyang?) selaras irama mengikuti sang pemandu senam. Ada sekitar lima orang yang menjadi pemandu senam di atas panggung. Gerakannya lincah, gemulai namun bertenaga.

Bergerak bersama , bergoyang bersama, dokumentasi pribadi

Wajah ceria tampak di mana-mana. Sedikit berlawanan dengan cuaca kota Malang pagi ini yang begitu mendung.

Selesai lagu Rungkad, irama mulai sedikit selow. Lagu Malang Seger berkumandang. Peserta senam semakin banyak, semua bergoyang sesuai irama. Saya dan dua orang teman menjadi bagian dari semuanya

Ketika irama beralih lebih keras, mulai dilakukan senam aerobik. Nah, ini…. Gerakan kami mulai tak karuan.

Ya, kami jarang ikut senam bersama seperti ini, jadi gerakannya jadi sering salah. Kami berpandangan sejenak lalu tertawa.

Jalan-jalan di CFD, dokumentasi pribadi

“Gak apa-apa… yang penting keluar keringat..,” kata teman saya menghibur diri, dan kamipun terus bergerak dengan penuh semangat.

Setelah empat lagu dan berkeringat, kamipun beranjak meninggalkan tempat senam. Jalan-jalan, itu agenda kami pagi itu.

Bagi kami warga Malang, Car Free Day selalu memiliki magnet tersendiri. Di kawasan itu tua, muda, anak kecil ikut bergembira bersama. Ada yang berjalan-jalan bersama keluarga, bertemu komunitas, bermain, mencari hiburan, promosi kegiatan, dan yang lainnya.

Berdatangan ke CFD, dokumentasi pribadi

Begitu banyaknya yang datang di CFD dimanfaatkan oleh para pedagang untuk menjajakan dagangannya. Dagangan bisa berupa makanan, baju, aksesoris juga mainan.

Penjual mainan di CFD, dokumentasi pribadi

Pedagang mainan ada di mana-mana. Persewaan mainan juga. Ada persewaan scooter yang mematok harga Rp10.000 tiap15 menit pemakaian. Wah, sangat menarik. Apalagi saya lihat penyewa scooter selalu datang silih berganti.

Persewaan scooter anak anak, dokumentasi pribadi

Di CFD kita juga bisa naik dokar (delman). Ongkosnya Rp10.000 perorang untuk satu kali naik. Sebenarnya kami ingin juga naik, tapi saat itu penumpang didominasi anak kecil, akhirnya kami mundur dulu.

Dokar dengan tarip Rp10.000,00 per orang, dokumentasi pribadi

Setelah sekian tahun tidak ke CFD, ada banyak yang berbeda. Salah satunya yang sangat mencolok adalah makanan yang dijual.

Satu stand makanan yang begitu laris adalah stand yang menjual makanan kekinian. Nama makanannya banyak yang menggunakan bahasa asing sehingga kami tidak berani mampir.

Makanan kekinian, dokumentasi pribadi

He..he.. benar benar kurang update. Masalahnya sebenarnya cuma takut tidak cocok di lidah saja.

Setelah berputar-putar di lokasi perbelanjaan yang berada di halaman Museum Brawijaya, kami memutuskan untuk istirahat dan makan soto ayam di pujasera. Menurut informasi dari teman- teman, pujasera ini selalu buka meski tidak pas penyelenggaraan CFD.

Soto ayam maknyus, dokumentasi pribadi

Nah, di pujasera ini makanan yang dijual cukup akrab dengan lidah kami. Seperti rawon, ayam geprek, soto ayam, soto daging dan lain-lain. Minumnya? Kami pilih es degan saja. Tapi esnya sedikit, maklum, hari masih pagi.

Duduk di pujasera sambil mengamati lalu lalang orang-orang sungguh mengasyikkan. Kebetulan di dekat Pujasera adalah stand mainan anak berupa kolam tempat memancing. Banyak sekali anak kecil yang duduk di situ dengan didampingi orang tuanya.

Kolam pemancingan anak anak, dokumentasi pribadi

Tak lama menunggu, soto ayam yang kami pesan datang. Wow, satu mangkuk penuh. Nasi, soto ayam, telur, sambel dan kerupuk. Benar-benar hidangan pagi yang mantap.

Setelah makan kami melanjutkan perjalanan. Pulang, itu tujuan utama. Ya, jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Saatnya kami melakukan kegiatan yang lain di rumah.

Dalam perjalanan pulang saya menyempatkan diri mampir ke pedagang aksesoris. Biasalah, emak-emak, selalu tidak tahan melihat barang-barang cantik. Di situ kami membeli beberapa jepit dan karet pengikat rambut.

Membeli aksesoris, dokumentasi pribadi

Menuju tempat parkir, kami harus melewati tempat kami senam tadi. Di lokasi senam pengunjung semakin banyak, irama lagu semakin menghentak dan tampak pesertanya banyak yang masih muda. Aih, cocok sekali dengan iramanya.

Di tempat parkir bergegas kami mengambil sepeda. Setelah mengucapkan terima kasih pada Mas parkir sepeda kami melaju keluar lokasi CFD di sepanjang jalan Semeru.

Tampak banyak pengunjung yang berdatangan, demikian pula yang pulang seperti kami. Ada yang sekedar berkeringat seperti kami, banyak pula yang pulang dengan membawa banyak belanjaan.

Ada yang datang dan pergi, di CFD. Ada yang datang untuk berkegiatan ataupun rehat dari segala kegiatan yang sudah dilakukan selama satu minggu.

Ya, meski banyak yang berubah dari waktu ke waktu, CFD tetap menjadi tempat rekreasi yang murah meriah bagi warga Malang setiap hari Minggu.

Semoga bermanfaat, salam Minggu pagi…😊

Jalan-jalan Sekitar Kajoetangan Sehari Jelang Ramadhan

Suasana jalan tidak begitu ramai pagi itu. Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh. Berempat kami naik sepeda motor berputar-putar sekitar kota Malang.

Sehari menjelang Ramadhan adik dan keluarganya datang ke Malang. Di samping ada agenda mengunjungi teman -temannya, yang tak kalah penting adalah nyekar ke makam ibuk dan bapak.

Kami berboncengan dua dua. Jalan Kawi yang biasanya dipadati kendaraan tampak sepi. Sepeda motor kami melaju bebas, dan Kajoetangan menjadi tujuan utamanya.

Kawasan Kajoetangan, sumber gambar : Terrakota

Di dekat jembatan penyeberangan Kajoetangan sepeda motor kami parkir, dan kami berjalan sepanjang trotoar.

Lama sekali tidak merasakan hawa Kajoetangan bersama adik. Padahal Kajoetangan menyimpan ribuan kenangan bagi kami.

Kami pernah tinggal di daerah Kajoetangan sekitar tahun 1990 selama dua tahun. Jadi daerah daerah kampung Kajoetangan juga toko-toko yang berderet di sepanjang Kajoetangan terasa begitu akrab bagi kami.

Tentunya banyak yang berubah. Seperti Rajabally yang dulu menjadi ikon Kajoetangan sekarang berubah menjadi Cafe Lafayette.

Tempat berfoto yang asyik, dokumentasi pribadi

Kajoetangan semakin cantik. Dengan pembenahan di sana-sini kawasan ini menjadi tempat yang asyik untuk berfoto ria. Bahkan sering dipakai sebagai lokasi foto prewedding oleh pasangan yang akan menikah.

Berfoto di Kajoetangan, dokumentasi pribadi

Bangku-bangku dan lampu taman yang berjejer berpadu dengan kedai kopi atau tempat berjualan makanan yang ditata dengan apik membuat suasana heritage semakin terasa.

Berfoto di Kajoetangan, dokumentasi pribadi

Mengapa daerah ini dinamakan Kajoetangan?

Kawasan ini sebelumnya bernama Jl. Jend Basuki Rachmat. Dikembalikan lagi ke nama Kajoetangan sejak walikota Pak Sutiaji.

Ada empat alasan berbeda yang membuat daerah ini dinamakan Kajoetangan. Alasan tersebut adalah:

Pertama : daerah ini dinamakan Kajoetangan karena sebelum tahun 1914 terdapat petunjuk lalu lintas berbentuk telapak tangan dan terbuat dari kayu. Petunjuk tersebut berada disebelah timur pertigaan Jalan Oro-Oro Dowo dan Kajoetangan.

Penunjuk jalan yang dulunya dari kayu berbentuk tangan, sumber gambar: Malang Voice

Kedua : dinamakan Kajoetangan karena di kawasan ini banyak pohon berderet di sepanjang jalan yang menyerupai deretan tubuh manusia. Tangkai pepohonan seakan tangan yang menjulur ke arah jalan.

Ketiga: dinamakan Kajoetangan karena terdapat pohon yang menyerupai tangan di ujung jalan menuju arah Alun-Alun. Ketika itu kawasan Alun-Alun Jalan Merdeka mulai berkembang.

Keempat, menurut keterangan Oei Hiem Hwie, seorang warga asli Malang, sewaktu ia masih kecil, jalan-jalan di kawasan ini banyak ditanami pohon yang daunnya berbentuk aneh. Daun mirip telapak tangan yang mengembang.

Bahwa kayu tangan adalah nama tanaman, ternyata disebutkan di dalam buku botani ilmiah berbahasa Belanda berjudul Nieuw Plantkundig Woordenboek voor Nederlandsch Indië.

Dalam buku tersebut diterangkan bahwa tanaman “kayu tangan” memiliki nama ilmiah Euphorbia Tirucalli L.

Disebutkan pula bahwa masyarakat Jawa menamakan tanaman ini dengan kayu tangan dikarenakan ketika tanaman ini tumbuh bentuknya mirip dengan tangan.

Depan sebuah cafe, dokumentasi pribadi

Berempat kami bergantian foto di sepanjang jalan Kajoetangan. Hawa yang sejuk dan sangat bersahabat membuat jalan-jalan tak terasa melelahkan. Hanya sayang pagi itu tidak ada konser musik seperti yang kami harapkan.

Ya, Kajoetangan adalah salah satu tempat warga Malang unjuk seni. Karenanya di salah satu bagian Kajoetangan terdapat jadwal pagelaran musik di Kajoetangan.

Jadwal pagelaran musik di Kajoetangan, dokumentasi pribadi

Matahari semakin naik, ketika jam menunjukkan sekitar pukul setengah sepuluh jalan- jalan pun diakhiri.

Kami segera menuju parkiran mengambil sepeda. Lalu- lalang kendaraan mulai banyak. Kajoetangan terus berbenah. Perubahan terjadi di mana-mana. Pada kampung-kampungnya, juga toko-tokonya yang beberapa beralih usaha.

Ya, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada yang tidak berubah selain dari perubahan itu sendiri.

Salam satu jiwa….😊

Sumber bacaan :

https://www.terakota.id/asal-usul-nama-jalan-kayutangan-kota-malang/

Babak Semi Final dan Final Olimpiade IPA SD dalam Rangka Memperingati HUT Bintaraloka ke 73

Jam belum menunjukkan pukul setengah tujuh. Tapi sepagi itu beberapa siswa berseragam SD sudah mulai memasuki halaman Bintaraloka. Berseragam SD? Benar. Mereka adalah para peserta babak semifinal olimpiade IPA SD yang siap berlaga di hari Kamis pagi itu.

Sambutan Ibu Kepala Sekolah, dokumentasi Jojo

Sebelum babak semifinal dimulai acara dibuka dengan sambutan dari Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang. Tampak panitia, baik dari guru maupun OSIS sudah siap untuk menyelenggarakan babak ini dengan sebaik-baiknya.

Olimpiade IPA adalah salah satu acara dalam peringatan HUT SMP Negeri 3 Malang ke 73 yang diperuntukkan bagi siswa SD.

Acara yang diadakan sejak awal bulan Maret ini diikuti oleh 85 regu, dimana tiap regu terdiri atas dua orang siswa. Peserta berasal dari berbagai SD di seputar kota Malang.

Dalam olimpiade IPA ini ada beberapa tahapan yang harus dilalui siswa yaitu:

Satu : Babak penyisihan. Babak ini diikuti seluruh peserta secara daring. Dalam babak penyisihan tiap regu mengerjakan soal dari sekolah masing-masing namun harus menghidupkan kamera zoom.

Panitia olimpiade IPA, dokumentasi pribadi

Dari 85 regu yang mengikuti penyisihan ada 8 regu yang lolos ke semi final yaitu SD Sabilillah (2 regu), SD Bunulrejo 6 (2 regu), SD Sukun 3 (3 regu) dan SD Purwantoro 1 ( satu regu).

Dalam babak penyisihan ini panitia stand by di lab bahasa mengamati peserta lewat layar LCD.

Dua : Babak semifinal. Dalam babak ini tiap regu diminta mengerjakan soal essay dan rally games. Dalam rally games peserta diminta menuju pos-pos yang sudah ditentukan.

Mengerjakan soal essay, dokumentasi Jojo
Rally games, dokumentasi Jojo

Di sana akan ada panitia yang siap memberikan soal untuk dikerjakan. Sesudah selesai mengerjakan soal siswa harus pindah ke pos yang lain. Dalam babak semi final ini ada 6 pos yang harus didatangi tiap regu.

Dari delapan regu yang mengikuti semi final ada enam regu yang diambil. Tiga regu berhak masuk ke babak final sedangkan tiga regu yang lain sebagai juara harapan 1, 2 dan 3.

Bagaimana dengan dua regu yang belum berhasil? Aha, keduanya tetap mendapatkan hadiah hiburan berupa paket buku dari Gramedia.

Penyerahan hadiah hiburan, dokumentasi Jojo

Tiga : Babak Final. Nah, inilah yang paling dinanti- nanti. Babak final diikuti oleh tiga regu, dan regu yang lolos adalah dua regu dari SD Islam Sabilillah dan satu regu dari SD Purwantoro 1.

Babak final dilakukan di Bintaraloka dua dan ada dua sesi yaitu sesi Ampibi dan Siapakah Aku.

Babak final, dokumentasi Jojo

Bertindak sebagai pemberi pertanyaan dalam babak final adalah Ibu Ahfi dengan didampingi OSIS.

Babak semi final dan final Olimpiade IPA SD berjalan lancar dari awal hingga akhir.

Sebuah kompetisi yang sangat menarik. Melalui Olimpiade IPA SD ini kesan olimpiade sebagai kompetisi yang menegangkan dimana tiap peserta harus duduk mengerjakan soal langsung hilang. Bagaimana tidak? Mereka harus berlari-lari mencari pos- pos guna mengerjakan soal yang sudah disiapkan.

Panitia dari OSIS, dokumentasi pribadi

Nah, siapakah pemenang Olimpiade IPA SD tahun ini? Sabar pembaca, karena pemenang akan diumumkan saat gebyar perayaan HUT SMP Negeri 3 pada hari Sabtu mendatang.

Salam Bintaraloka….:)