Kunjungi Pameran Museum Bersama, Pelajari Jejak Sejarah Peradaban Malang Raya

Suasana di depan gerbang pintu masuk Mpu Purwa demikian ramai. Beberapa mikrolet datang ngedrop anak-anak yang akan melakukan kunjungan ke pameran hari itu.

Suasana sedikit crowded sampai ketika kami sekelas demi sekelas mulai masuk area pameran.

Ya, hari Selasa (13/10) siang itu kami mengunjungi Pameran Bersama Temporer 8 Museum yang diadakan di Museum Mpu Purwa Malang.

Kunjungan yang kami lakukan hari itu adalah bagian dari kegiatan kokurikuler kelas 9 yang mengambil tema Malang Heritage. Kegiatan ini bertujuan agar siswa lebih memahami sejarah Malang dan pada akhirnya mereka lebih cinta akan Kota Malang sebagai tempat tinggal mereka.

Tentang Pameran Museum di Mpu Purwa

Siap berangkat ke Museum Mpu Purwa, dokumentasi pribadi

Pameran bersama ini diikuti oleh delapan museum di Malang Raya. Mengusung tema Perjalanan Waktu dan Jejak Peradaban Malang Raya, dalam pameran ini dihadirkan koleksi serta informasi sejarah dari  Museum Mpu Purwa, Museum Singhasari, Museum Ganesya, Museum Brawijaya, Museum Pendidikan, Museum Musik, Museum Zoologi Fr. M. Vianney BHK, dan Museum Karmel Padmawiyata.

Saya yang orang Malang asli merasa sangat surprise. Sungguh tak menyangka jika Malang ternyata punya museum sebanyak ini.

Suasana pameran , dokumentasi pribadi

Setelah masuk area pameran, anak anak pun menyebar ke masing masing stand museum untuk mencatat berbagai informasi menarik yang mereka dapatkan di sana.

Saya sendiri memulai perjalanan dari Museum Musik Indonesia. Museum yang berlokasi di Jl Sukarno Hatta ini menghadirkan poster para seniman musik kota Malang, seperti Silvia Saartje, Ian Antono dan Sal Priadi.

Silvia Saartje adalah lady rocker di kisaran tahun 70-80, Ian Antono adalah gitaris God Bless  yang ngetop di era 80-90 an dan Sal Priadi adalah penyanyi yang masih eksis hingga saat ini.

Sylvia Saartje, Sal Priadi dan Ian Antono, dokumentasi pribadi

“Wah, luar biasa ini suaranya,” komentar saya sambil mendekati poster Sang Lady Rocker.

“Benar, serak- serak begitu ya,” jawab penjaga stand museum. Pembicaraanpun semakin asyik, melantur kesana-kemari, baik tentang penyanyi maupun grup band lawas yang pernah terkenal di masa lalu.

Di stand Museum Musik Indonesia , dokumentasi pribadi

“Ian Antono ini gitarisnya God Bless,” kata penjaga stand. 

“Wah, benar. Ruame dulu konsernya di stadion Gajayana,” timpal saya.

Ya, ketika itu God Bless adalah band yang banyak digemari. Konsernya selalu membludak. Dengan hitsnya seperti Kehidupan, Semut Hitam, God Bless benar benar merajai musik di tanah air saat itu.

Dari stand Museum Musik saya berjalan ke stand Museum Pendidikan dan Museum Karmel Padmawiyata.

Di Museum Pendidikan kami disuguhi aneka koleksi mata uang baik dari Indonesia maupun negara lain. Berbagai koleksi tersebut diletakkan dalam sebuah album. 

Siswa mengamati koleksi mata uang, dokumentasi pribadi

Sambil membuka lembarannya satu persatu, pengunjung bisa bertanya berkaitan dengan koleksi mata uang tersebut.

Di stand Museum Karmel Padmawiyata yang tak jauh dari Museum Musik, kami bisa melihat lembaran Injil kuno yang masih menggunakan Bahasa Latin. 

Menurut keterangan, Injil tersebut dulunya masih sering dipakai beribadah pada zaman Belanda. 

Museum Karmel Padmawiyata  sendiri adalah museum sejarah dan kebudayaan yang dikelola oleh Ordo Karmel Indonesia di Malang dan berlokasi di kawasan  Oro-oro Dowo Malang.  

Sebuah hal yang sangat menarik kami jumpai di Museum Zoologi Fr. M. Vianney BHK. Di sini para pengunjung diperbolehkan memegang ular yang lumayan besar yang menjadi salah satu koleksi museum selain berbagai cangkang moluska.

Mencoba memegang ular di Museum Zoologi, dokumentasi pribadi

Museum Zoologi Fr. M. Vianney BHK terletak di dusun Karangwidoro kecamatan Dau Kabupaten Malang. Museum ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai tempat belajar tentang keanekaragaman fauna, penelitian hewan, serta praktik perawatan dan konservasi satwa. 

“Wiii,” pekik beberapa siswa geli, sementara siswa yang lain penasaran ingin mendekati ular yang dibawa oleh penjaga stand museum.

 Museum Singhasari  yang banyak menyimpan artefak, arca, dan sejarah mengenai Kerajaan Singhasari pada hari itu menyajikan aneka keris dan replika benda benda yang ada di Candi Singosari, seperti dwarapala. 

Stand pameran berbagai museum, dokumentasi pribadi

Tentang keris yang dipamerkan, dijelaskan bahwa jika keris lurus, maka  keris tersebut adalah peninggalan dari masa Kerajaan Singosari, sedangkan jika mempunyai luk (berbelok-belok) maka itu peninggalan dari masa Majapahit.

Jika di stand Museum Brawijaya kita bisa melihat berbagai macam senjata yang digunakan untuk perang di masa agresi militer tahun 1947, maka di Museum Panji kita bisa melihat aneka barang yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Mencoba alat jebakan tikus , dokumentasi pribadi

Barang yang dipamerkan di sini seperti jebakan tikus, pengaduk adonan juga alat pijat. yang pernah dipakai di kisaran tahun 1900 an

Wayang potehi, wayang suket bisa kita lihat dari dekat di stand Museum Ganesya. Menurut keterangan, museum Ganesya yang terletak di Graha Kencana Raya, Karanglo, Singosari, Kabupaten Malang ini mempunyai banyak koleksi artefak menarik peninggalan kerajaan Singosari dan Majapahit.

Wayang potehi, dokumentasi pribadi

Perjalanan hari itu kami akhiri dengan melihat koleksi museum Mpu Purwa yang terdiri atas berbagai macam topeng Malangan, peninggalan sejarah dari kerajaan yang ada di Malang termasuk diorama yang bercerita tentang berdirinya Singasari, keruntuhannya dan berdirinya Kerajaan Majapahit.

“Bagaimana perjalanan hari ini? Menyenangkan?” tanya saya pada seorang siswa. 

“Menyenangkan,” ungkap seorang siswa

“Saya baru tahu Malang punya museum sebanyak ini,” ungkap siswa yang lain.

“Luar biasa, koleksi cangkangnya bagus dan asli, saya pikir replika,” ungkap Tama, salah satu siswa yang rupanya tertarik pada aneka cangkang moluska di Museum Zoologi.

Cara yang paling hangat untuk mencintai tempat kita tinggal adalah dengan cara mengenal sejarahnya.

Hari yang luar biasa. Perjalanan hari itu membuka mata kami bahwa Malang bukan sekadar kota dengan udara sejuk dan kulinernya yang menggoda. Ia menyimpan jejak peradaban yang panjang, tersimpan rapi dalam delapan museum yang tersebar di Malang Raya.

Kami pulang dengan lelah yang menyenangkan karena membawa banyak cerita. Sebuah pelajaran yang kami dapatkan hari itu adalah bahwa cara yang paling hangat untuk mencintai tempat kita tinggal adalah dengan cara mengenal sejarahnya. Dan Malang, dengan segala jejak peradabannya, pantas untuk terus dikenang, dijaga, dan dibanggakan.

Yuli Anita
Latest posts by Yuli Anita (see all)

Published by

Yuli Anita

"The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you’ll go."

Leave a Reply

Your email address will not be published.