Menyusuri Jejak Sang Proklamator: Refleksi di Museum, Perpustakaan dan Makam Bung Karno

Mobil kami berjalan laju di tengah  lalu lintas kota Blitar yang tidak begitu ramai.

“Selanjutnya kita ke Museum?” tanya Bu Ari pada Mas Andre driver kami.

“Siapp,” jawab Mas Andre. Jawaban favorit kami. Ya, Mas Andre selalu siap mengantar kami ke mana saja.

Dari Kampung Coklat, destinasi berikutnya adalah Makam sekaligus Museum dan Perpustakaan Bung Karno.

Ini adalah kunjungan saya kedua ke Makam Bung Karno. Yang pertama sekitar dua tahun yang lalu saya ke sini bersama teman- teman SD.

Suasana jalan menuju museum terasa lebih ramai dari biasanya. Sangat berbeda. Ya, banyak orang mengenakan baju putih dan bawahan hitam di jalanan.

“Ada apa ya? Sepertinya ada acara?” tanya saya. Saya ingat, dulu pernah diberi tahu oleh Bapak penarik becak di daerah museum ini bahwa di Bulan Juni selalu ada banyak acara di Blitar terutama di area Makam Bung Karno.

“Bulan Bung Karno, Bu. Bung Karno itu lahir di bulan Juni, wafat di bulan Juni dan menemukan Pancasila tanggal 1 Juni,” kata Si Bapak waktu.

Mobil kami terus melaju menuju parkiran. Turun dari mobil kami kami bisa membaca beberapa spanduk yang terpasang di jalan jalan.

Ternyata hari itu bertepatan dengan diadakannya haul Bung Karno. Kami baru sadar bahwa kami datang ke Museum pas hari wafatnya Bung Karno yaitu tanggal 21 Juni.

Tentang Makam,  Perpustakaan dan Museum Bung Karno 

Koleksi lukisan Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Perpustakaan dan Museum Bung Karno  ini berlokasi di kompleks Makam Bung Karno Jl. Kalasan No. 1, Blitar, Jawa Timur.

Komplek makam sendiri menempati area seluas 1,8 hektar dan dibagi menjadi tiga yaitu halaman, teras, dan pendopo/mausoleum. Pembagian  ini sesuai dengan kepercayaan Jawa mengenai tiga tahap kehidupan  yaitu janin, kehidupan, kematian.

 Proses pembangunan Museum Bung Karno diketuai oleh Pribadi Widodo dan Baskoro Tedjo, arsitek asal ITB, dan  diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 3 Juli 2004.

Pesan Bung Karno, Koleksi Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Dalam museum ini kita bisa lebih mengenal sosok besar tersebut lewat berbagai barang koleksi yang dipamerkan, seperti jas yang digunakan Bung Karno saat mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, koper yang digunakan Bung Karno saat keluar masuk tahanan,  termasuk koleksi keris yang demikian kental dengan budaya Jawa.

Dalam museum ini juga dipamerkan berbagai macam lukisan dan foto- foto, seperti rumah masa kecil Bung Karno atau Kusno (nama kecil beliau), foto di masa sekolah, masa perjuangan, pesan-pesan, juga foto-foto ketika beliau menjabat sebagai Presiden RI pertama.

Sebuah foto yang sangat mengesankan bagi saya adalah ketika Bung Karno sungkem pada Ibunda beliau Ida Ayu Nyoman Rai. 

Foto Bung Karno sungkem pada Ibunda, koleksi Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Foto ini dibuat pada tahun 1953 ketika Bung Karno melakukan kunjungan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Foto yang menunjukkan betapa besar bakti beliau pada sosok Ibunda ini seolah memberikan nasehat bahwa setinggi apapun jabatan seseorang, Ibunda adalah tetap sosok yang yang harus kita hormati dan kita sayangi, karena beliaulah yang selalu tulus berdoa di setiap langkah kita .

Di museum ini juga banyak miniatur yang menunjukkan rumah tempat Bung Karno diasingkan. Seperti rumah di Bengkulu, Ende juga Brastagi.

Dari Museum kami masuk ke area perpustakaan yang berada di sampingnya persis.

Bung Karno adalah sosok yang gemar membaca, karena itu perpustakaan, museum dan makam dijadikan dalam satu kompleks.

Ah ya, kami sempat berfoto-foto di depan patung besar Bung Karno yang sedang membaca.

Berfoto di depan patung Bung Karno, dokumentasi Buz
Berfoto di depan patung Bung Karno sedang membaca, dokumentasi Buz

Begitu masuk museum , bau buku dan kamper langsung menyambut kedatangan kami. Aura adem dan nyaman sangat terasa. Setelah mengisi daftar tamu, kami mulai masuk menyusuri lorong di sekitar rak buku.

Beberapa buku yang sudah dibaca ada di atas meja. Luar biasa, buku- buku yang sangat bagus. Kebanyakan buku sejarah, ataupun tokoh baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Di perpustakaan Bung Karno, dokumentasi pribadi

Ketika jam sudah menunjukkan jam setengah dua kami bergegas mencari mushola untuk sholat Dhuhur.

Sesudah sholat rencananya kami langsung menuju makam yang tidak jauh dari perpustakaan.

Di perpustakaan Bung Karno, dokumentasi pribadi

Untuk menuju makam kami harus melalui beberapa tangga naik. Ternyata di area makam baru saja ada acara, dan ketika kami tiba di sana ada kesibukan pembongkaran tenda- tenda sesudah dipakai acara di pagi harinya.

Dari baliho besar yang ada di depan makam, di bulan ini ada acara Haul ke 55 Bung Karno. Tiga acara besar dalam haul tersebut diadakan pada tanggal 6, 20 dan 21 Juni.

Baliho Haul Bung Karno ke 55, dokumentasi pribadi

 Acara meliputi doa dan tahlil, kenduri brokohan, selametan Akbar, pagelaran wayang kulit, pengajian dan ziarah nasional.

Sebagai catatan Bung Karno lahir pada tanggal 6 Juni 1901 dan wafat pada tanggal 21 Juni 1970.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga, saatnya kami harus meninggalkan lokasi menuju destinasi berikutnya. Apalagi langit sudah tampak mendung.

Sebelum balik ke mobil kami sempat berfoto-foto dan membeli asesoris kecil- kecil seperti gelang, cincin dari manik-manik pada pedagang yang berjajar di sepanjang jalan. 

Membeli gelang dan cincin manik-manik, dokumentasi pribadi

Berjalan-jalan di Perpustakaan, Museum juga area Makam Bung Karno ini membuat kita bisa begitu merasakan aura semangat, perjuangan dan kegigihan Sang Proklamator.

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri

Bung Karno

Semangat dan cita-cita yang tak henti menginspirasi generasi masa kini agar tetap gigih dalam perjuangan untuk  menghadapi berbagai macam tantangan yang ada.

Ya, kita semua terus berjuang. Meski dalam bentuk yang berbeda dengan masa Bung Karno dulu, tidak berarti perjuangan kita lebih ringan, bahkan bisa jadi lebih berat.

Tekadkan semangat juang, dokumentasi Buz

Bukankah Bung Karno sendiri pernah mengatakan bahwa, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Satu Hari di Blitar, Sebuah Perjalanan Manis di Kampung Coklat

“Saya OTW dari Arjosari,”

Sebuah pesan singkat masuk WhatsApp saya. Bergegas saya menyiapkan tas yang berisi berbagai macam perbekalan (isinya cuma makanan ringan, mukena dan minyak kayu putih), dan taraaa, kami siap untuk melakukan perjalanan pagi itu.

Jam baru menunjukkan pukul delapan lebih ketika ,mobil kami terus melaju di tengah ramainya lalu lintas kota Malang. Kali ini perjalanan kami lakukan berenam. Tiga orang dewasa, dua remaja dan satu anak kecil.

Oh ya, tiga orang dewasa sudah termasuk Mas Andre driver, teman, sekaligus fotografer kami.

“Ini ke mana saja?” tanya Mas Andre pada kami.

“Ke mana dulu terserah Mas Andre, yang penting destinasi kita ada empat yaitu Kampung Coklat, Museum Bung Karno, Cafe de Karanganjar dan Candi Penataran,” jawab kami. Ya, sesuai rencana hari ini kami akan melakukan perjalanan ke Blitar, atau istilah kerennya eksplor Blitar.

“Siyaap..,” jawab Mas Andre ramah.

Perjalananpun dimulai.

Membeli tiket, dokumentasi pribadi

Kondisi lalu lintas normal saja. Tidak terlalu ramai juga tidak sepi. Mungkin libur sekolah baru saja dimulai sehingga masih banyak yang menikmati liburan di rumah. 

Memasuki Kabupaten Blitar terasa suasana yang sedikit berbeda di Malang. Jalan di sini tidak terlalu ramai, tidak terlalu lebar namun suasananya begitu nyaman.

Sekitar pukul sepuluh kami sampai di kawasan Kampung Coklat. Sebuah bangunan tinggi dengan dominasi warna coklat seolah menyapa kehadiran kami.

Dekat pintu masuk Kampung Coklat , dokumentasi pribadi
Dinding -dinding yang penuh informasi, dokumentasi pribadi

Berbagai informasi mengenai coklat ada di mana-mana. Sangat cocok jika Kampung Coklat ini menyatakan dirinya sebagai tempat wisata edukasi tentang coklat.

Setelah membeli tiket kami pun masuk. Dua puluh ribu per orang, sangat murah untuk tempat wisata edukasi sebagus itu.

Sejarah coklat dan Kampung Coklat

Sejarah coklat, dokumentasi Ayu

Mendengar kata coklat, yang sering tergambar dalam benak kita adalah minuman berwarna coklat yang sedap dan manis, atau bahkan permen kecil kecil dalam bentuk batangan dengan rasanya yang begitu khas. Tidak salah, tapi dengan melihat tanaman coklat dan buahnya, kita akan memahami bahwa untuk mengolah biji coklat  menjadi minuman, permen atau campuran kue tentu memerlukan proses yang  lumayan panjang.

Coklat adalah bahan makanan yang diperoleh dari biji tanaman kakao (Theobroma cacao), yang merupakan tanaman tropis. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan, dan sudah dibudidayakan di berbagai daerah tropis di seluruh dunia.

Sejarah coklat, dokumentasi Ayu

Dikutip dari history.com, coklat pertama kali dikonsumsi  oleh penduduk Mesoamerika kuno sebagai minuman. Sekitar tahun 1544 coklat mulai masuk benua Eropa lewat Spanyol, di mana saat itu delegasi dari Guatemala  mengunjungi Istana Spanyol dan membawa hadiah yang di antaranya adalah minuman cokelat. 

Di awal abad ke-17, cokelat mulai banyak disuka dan menjadi minuman yang digemari di kalangan istana di Eropa. 

Coklat akhirnya menyebar di kalangan kaum elit Eropa dan seiring berjalannya waktu permintaan akan coklat terus meningkat dan makin terkenal di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sejarah Kampung Coklat, dokumentasi Ayu

Mengenai sejarah Kampung Coklat sendiri, bermula di tahun 2004 ketika seorang peternak ayam bernama H. Kholid Mustofa mengalami kebangkrutan akibat wabah flu burung. 

Kholid lalu merintis usahan baru dengan merawat 120 pohon kakao milik keluarganya yang ditanam pada tahun 2000 di lahan seluas 750 meter persegi.

 Sejak saat itu, ia mulai fokus menjalankan usaha tersebut dan mempertimbangkan untuk membuka lapangan pekerjaan demi kesejahteraan para petani coklat di daerahnya.

Melalui magang di PTPN XII Penataran, Nglegok, Blitar dan belajar di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, Jawa Timur, Kholid terus mendalami teknik budidaya kakao yang benar

Kholid terus berusaha memberikan edukasi lewat kelompok-kelompok taninya tentang budidaya kakao ini.

Usaha Kholid terus maju dengan semakin banyaknya bibit kakao yang dikembangkan dan berakibat semakin banyaknya coklat yang dipasok ke tempat industri pengolahan coklat.

Tidak berhenti di situ, Kholid lalu belajar bagaimana cara mengolah coklat sendiri yang kemudian dipasarkan di Blitar dan Solo..

Pada puncaknya pada tahun 2014 Kholid  memutuskan untuk membuat wisata edukasi tentang coklat yang diberi nama Kampung Coklat dan berlokasi di jalan Banteng Blorok 18, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar,

Potongan-potongan cerita sejarah coklat, termasuk sejarah berdirinya Kampung Coklat ini ditampilkan dalam bentuk gambar-gambar yang ada di dinding di sepanjang jalan yang kita lalui.

Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dari tempat wisata ini. Selain mengetahui tentang coklat yang meliputi sejarah, budidaya dan pengolahannya, kita juga  bisa mendapatkan pengetahuan tentang manfaat coklat bagi kesehatan.

Kami sebenarnya ingin melihat cara pengolahan coklat, tapi sayang saat itu stand pengolahan coklat sedang tutup. Namun tak apa, banyak masih banyak tempat menarik lainnya yang bisa kami kunjungi.

Animal Feeding, dokumentasi pribadi
Kebun kakao, dokumentasi Buz

Selain berbagai informasi tentang coklat, di sini kita juga bisa melihat Kebun Kakao yaitu perkebunan coklat, juga Animal Feeding yang merupakan tempat peternakan berbagai macam binatang.

Lahan keduanya begitu luas, karenanya jika tidak ingin berjalan kaki, pengunjung bisa naik kendaraan yang disediakan untuk berkeliling di sekitar Kampung Coklat.

Di kebun coklat , dokumentasi pribadi

Tak ketinggalan berbagai wahana permainan anak juga ada. Oh ya, kami sempat naik Perahu Ceria. Apa itu? Dengan tiket sepuluh ribu rupiah per orang, kami bersama naik  perahu di sepanjang sungai kecil yang di kiri kanannya banyak ditumbuhi berbagai macam tanaman. Sangat mengasyikkan. Benar-benar membuat hati ceria.

Perahu Ceria, dokumentasi Buz

Dua jam  mengitari Kampung Coklat sepertinya belum bisa menuntaskan rasa ingin tahu kami tentang coklat dan segala pernak- perniknya. Maksud hati ingin menjelajah lebih jauh lagi, namun kami harus segera meneruskan perjalanan menuju destinasi yang lain.

Sebelum meninggalkan Kampung Coklat kami sejenak duduk di cafe untuk menikmati aneka minuman coklat dan cemilan. Suasana ramai kian terasa. Semakin siang pengunjung semakin banyak.

Gallery Coklat tempat membeli oleh oleh, dokumentasi pribadi

Paduan kopi dan coklat dari minuman hangat yang saya pesan terasa begitu sedap juga manis. Saya tiba tiba tersenyum membaca sebuah quotes di salah satu sudut area ini.

Cinta tidak menjanjikan ujung yang manis, tapi coklat menjanjikan manis di setiap ujungnya, he..he…, bisa saja.

Cinta tidak menjanjikan ujung yang manis, tapi coklat menjanjikan manis di setiap ujungnya

Kampung Coklat

Setelah belanja oleh-oleh sebentar di Gallery Coklat, kami segera menuju parkiran untuk melanjutkan perjalanan. 

Sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan. Kampung Coklat bukan sekedar tempat wisata, tapi kaya akan edukasi, baik lewat informasi di sudut-sudutnya, maupun berbagai wahana yang ada di dalamnya.

Seperti coklat, perjalanan kali ini terasa begitu hangat dengan kenangan manis yang tak terlupakan.  

Kampung Coklat

Blitar ternyata menyimpan banyak cerita, padahal ini baru destinasi pertama. Seperti coklat, perjalanan kali ini terasa begitu hangat dengan kenangan manis yang tak terlupakan.  

Peningkatan Karakter dan Etika Guru untuk Sekolah Masa Kini, Belajar Bersama Berlian Triatma

Sepandai apapun dirimu, tanpa etika tidak akan ada artinya.

Pertemuan kami pagi itu dibuka dengan sebuah kalimat yang singkat namun sarat makna, dan kalimat tersebut sekaligus merupakan tema besar pelatihan kami hari itu.

Pelatihan yang diadakan kali ini (Kamis, 26/06) merupakan salah satu rangkaian kegiatan workshop awal tahun pembelajaran. Sebuah kegiatan rutin yang dilakukan sekolah untuk persiapan dalam menghadapi tahun pelajaran baru sekaligus Peningkatan Kompetensi Guru.

Dalam kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru kali ini kegiatan bertajuk “Dari Hati ke Aksi : Karakter dan Etika Guru Milenial untuk Sekolah Masa Kini” dan mengundang Brilian Triatma sebagai narasumber.

Yang menarik sekaligus membanggakan Brilian Triatma adalah alumni SMP Negeri 3 Malang.

Narasumber Berlian Triatma, dokumentasi

Sekilas tentang Berlian, alumni Bintaraloka tahun 2011 ini menempuh pendidikan dari BA Restu, MIN Malang 1, SMP Negeri 3 Malang, SMA Negeri 4 Malang, kuliah di FISIP dan Psikologi Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 2020. Setelah lulus dari UI ia pernah mengambil short course tentang Mindfulness di Harvard University. 

Di usianya  yang ke 28 ini, Berlian aktif sebagai manajer, konsultan dan trainer sumber daya manusia di berbagai perusahaan.

Ada tiga hal yang menjadi topik pembicaraan pagi ini yaitu praktik pendekatan psikologi pada siswa, layanan prima oleh guru dan kerja kolaboratif berbasis kepercayaan.

Dalam paparan pagi itu dijelaskan bahwa satu indikator keberhasilan seorang guru adalah ia mampu untuk mengubah tingkah laku siswa dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Untuk mengubah perilaku tersebut guru harus bisa memberikan contoh atau berperan sebagai role model bagi pembentukan karakter siswa.

There are two ways to influence human, you can manipulated it or you can inspire it (Simon Sinek)

Adalah penting untuk memberikan inspirasi pada siswa agar  berperilaku lebih baik, dan sebelum melakukan hal tersebut guru harus melakukan refleksi diri dan mengubah perilakunya sendiri menjadi lebih baik.

Suasana pemberian materi dan diskusi, dokumentasi Bintaraloka

“Agar siswa mau meniru apa yang dilakukan guru, maka lebih dahulu guru harus membuat dirinya disukai siswa,” demikian dijelaskan oleh Berlian. Adanya rasa suka membuat siswa dengan sukarela  melaksanakan nasehat ataupun menirukan contoh dari guru.

Dalam materi kerja kolaboratif Berlian menjelaskan tentang perlunya kompetensi, reliabilitas, intimacy untuk membentuk sebuah kepercayaan.

Jika kepercayaan antar guru sudah timbul maka bersama-sama semua bisa berjalan cepat untuk meraih tujuan kita semua, jelasnya.

Diskusi dan pemberian materi hari itu berlangsung hangat. Para peserta aktif berpendapat maupun mengajukan pertanyaan yang dijawab oleh narasumber melalui paparan ataupun berbagai contoh nyata.

“Semoga Bapak /Ibu guru senantiasa sehat sehingga bisa melaksanakan tugas besar sebagai pencetak generasi penerus bangsa,” ungkap Berlian di akhir materinya.

Alumni Bintaraloka lintas angkatan, dokumentasi Buz

Acara pagi itu diakhiri dengan penyerahan cindera mata topeng Malangan dari sekolah yang diwakili oleh Ibu Arie kepada Berlian Triatma, disambung dengan berfoto bersama.

Sesi foto ditambah dengan foto bersama para alumni Bintaraloka lintas angkatan juga. Aha…

Hari yang luar biasa. Kami belajar banyak pagi itu.

Semoga dengan pemberian materi ini para guru Bintaraloka akan terus berusaha meng-upgrade dirinya, meningkatkan personal branding, dan bisa menjadi teladan bagi siswa.

Bincang bersama Berlian, dokumentasi Buz

Harapannya juga semua guru bisa memberikan layanan terbaik pada siswa agar mereka tumbuh menjadi generasi yang lebih baik di masa yang akan datang. 

Serunya Classmeeting , Bukan Sekedar Pertandingan Antar Kelas

Salah satu kegiatan pasca PAT yang sangat ditunggu siswa adalah classmeeting. Di acara ini masing masing kelas bertemu dalam sebuah bingkai pertandingan antara kelas. Ya, di saat guru menyelesaikan berbagai tugas penilaian akhir, siswa mendapatkan kesempatan untuk melakukan kegiatan ini dalam empat hari. 

Dalam classmeeting kali ini Bintaraloka mengadakan delapan macam Pertandingan yaitu kasti, futsal, teklek, bola tembak, badminton, estafet lari, kebersihan kelas, paduan suara, literasi dan numerasi.

Seru? Tentu saja! Siswa begitu antusias dalam mengikuti berbagai pertandingan yang diadakan. Sorak sorai suporter ataupun teriakan pemain mewarnai hari hari itu.

Salah satu nomor pertandingan classmeeting, dokumentasi Naufal
Salah satu pertandingan classmeeting, dokumentasi Naufal

Ada hal yang menarik dari classmeeting kali ini. Apa itu? Jika selama ini classmeeting identik dengan pertandingan-pertandingan oleh raga, kali ini tidak. Ada lomba paduan suara, literasi dan numerasi.

“Siswa banyak yang tidak hafal Mars SMP3, juga lagu-lagu nasional..,” demikian dituturkan Bapak Ardilah penanggung jawab classmeeting ketika ditanya mengapa dalam event kali ini ada lomba paduan suara.

“Untuk meningkatkan rasa nasionalisme,” ungkap salah seorang panitia dari OSIS.

Lomba literasi dan numerasi diadakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam  literasi baca tulis dan numerasi. Lebih- lebih di tahun ini siswa kelas sembilan akan menghadapi TKA. 

Meski belum diketahui bagaimana nantinya bentuk TKA itu, tapi menguatkan literasi adalah hal penting untuk persiapan menghadapi TKA, juga untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menerima pelajaran.

Lalu bagaimana pelaksanaan lomba paduan suara (padsu) dan literasi di sekolah?

Untuk lomba padsu seluruh siswa dalam satu kelas wajib ikut. Mereka menyanyikan dua buah lagu yaitu Mars SMP 3 dan satu lagu nasional bebas.

Setiap kelas diwakili oleh penampilan seluruh personil kelas menyanyi dengan satu orang menjadi konduktor.  

Lomba paduan suara , dokumentasi pribadi
Lomba paduan suara, dokumentasi pribadi

Dalam lomba ini selain kebenaran dalam membawakan lagu,  performance peserta juga masuk dalam penilaian. 

Performance ini meliputi penampilan penyanyi dan konduktor, kerapian, juga koreografi.  Karena itu peserta merancang berbagai koreografi yang menarik untuk mendukung penampilan mereka.

Bagaimana dengan lomba literasi dan numerasi?

Dalam lomba ini masing masing lomba  terdiri atas dua babak. Pada literasi, di babak penyisihan tiap peserta wajib menyalin sebuah cerpen yang terdiri atas dua lembar.

Peserta dengan typo atau kesalahan paling sedikit berhak maju ke babak berikutnya. 

Peserta lomba literasi, dokumentasi Meiy

Di babak final yang diikuti dua orang peserta dari kelas tujuh dan dua peserta dari kelas delapan, tiap peserta diminta mengetik sebuah surat resmi  dengan contoh yang sudah disediakan OSIS. 

Lomba yang tampaknya sederhana, tapi mengetik surat dengan bahasa resmi ternyata merupakan tantangan tersendiri bagi siswa.

Lomba literasi , dokumentasi Meiy

Nah, lomba numerasi lebih menarik lagi. Di babak penyisihan setiap kelas mengirimkan dua orang wakil yang harus mengerjakan soal secara estafet.

Setelah diambil dua peraih nilai terbaik dari kelas tujuh dan dua dari kelas delapan, babak final dilakukan dengan pemberian pertanyaan semacam adu cepat di depan banyak siswa.

Lomba dilaksanakan di lapangan volly, mirip mirip cerdas cermat atau klompen capir di zaman dulu. Apalagi ketika adu cepat bukan bel yang digunakan, tapi kentongan.

Babak penyisihan lomba numerasi, dokumentasi pribadi

Sorak sorai penonton langsung menggema begitu tim yang dijagokan bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Lomba berjalan serius, tegang, tapi juga sangat menyenangkan.

Akhir lomba ditandai dengan tepuk tangan panjang para penonton sekaligus seruan gembira para supporter.

Luar biasa, seru“,  komentar salah satu siswa.

Asyik , menegangkan..,” kata siswa yang lain sambil meninggalkan lapangan volly.

Akhirnya kegiatan classmeeting  tidak hanya bisa diisi dengan olah raga, tapi bisa juga diisi dengan lomba yang lain.

Ada banyak pelajaran penting yang bisa diambil dari sebuah kegiatan classmeeting, seperti mengajak siswa berkompetisi secara sehat, melatih kekompakan, kerjasama, setia kawan, tanggung jawab juga kegigihan.

Final lomba numerasi , dokumentasi pribadi

Lomba padsu bisa menjadi ajang untuk meningkatkan rasa cinta sekolah dan rasa nasionalisme, sedangkan lomba literasi baca tulis dan numerasi bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berliterasi.

Ya, bukan sekedar pertandingan antara kelas, classmeeting kali ini berhasil menciptakan momen seru, mengajarkan siswa tentang sportivitas, kerjasama, nasionalisme sekaligus meningkatkan potensi akademik.

Semoga bermanfaat..salam edukasi😊

Literasi Bersama Siciput, Perjuangan dan  Kegigihan Meraih Cita-cita dalam Film MARS

Sementara sebagian siswa menonton film di MOPIC, sebagian siswa yang tidak mengikuti kegiatan tersebut melakukan kegiatan literasi di sekolah.

Literasi kali ini diprakarsai oleh Siciput, perpustakaan SMP Negeri 3 Malang.

Sebagaimana kita ketahui bersama, ada enam jenis literasi dasar yang perlu dikuasai siswa yaitu: literasi baca dan tulis, numerasi, sains, digital, finansial dan literasi budaya dan kewargaan, dan kali ini kami melakukan literasi digital dengan menonton film motivasi berjudul MARS ( Mimpi Ananda Raih Semesta). 

Tentang film MARS (Mimpi Ananda Raih Semesta)

Film ini bercerita tentang sebuah keluarga miskin yang tinggal di daerah Gunung Kidul yang terdiri dari Ibu, ayah dan seorang anak bernama Sekar Palupi.

Meski hidup dihimpit dalam kemiskinan, Tupon , ibu dari anak ini memiliki cita cita besar yaitu agar anaknya menjadi orang yang pintar.

Tanpa kenal lelah Tupon membesarkan dan memberikan semangat kepada putrinya untuk sekolah. 

Ibu yang buta huruf ini  selalu membawa Sekar Palupi melihat alam semesta.

Tupon selalu menunjukan lintang lantip (bintang yang cerdas), planet Mars. Ia sering mengatakan bahwa Sekar bisa mencapai lintang tersebut dengan ilmu pengetahuan.

Kegigihan dan impian ibu ini sempat dicibir oleh tetangganya. Lebih- lebih ketika Sekar menolak lamaran seorang duda dengan alasan ingin melanjutkan kuliah.

Dalam perjalanan mencari ilmu Sekar akhirnya mendapat beasiswa untuk kuliah di sebuah universitas di Jogjakarta dan lanjut hingga meraih gelar master dalam bidang astronomi di Oxford University, Inggris.

Mimpi Adinda Raih Semesta, sumber gambar: Viu

Kata MARS di sini memiliki dua makna. Bukan hanya sebagai singkatan dari Mimpi Ananda Raih Semesta, namun juga bermakna sebagai planet mars atau lintang lantip.

Film yang direlease tahun 2016 ini dibintangi oleh Kinaryosih, Acha Septriasa, Teuku Rifnu Wikana, Cholidi Asadil Alam, dan Chelsea Riansy dan dibuat berdasarkan novel dengan judul yang sama , karya Aishworo Ang.

Banyak adegan yang mengharukan dan memperlihatkan kondisi kemiskinan rakyat kecil di masa itu. Adegan mengharukan didominasi oleh kegigihan perjuangan Tupon agar anaknya bisa sekolah dengan baik.

Sedikit yang mengganggu dalam film ini adalah alurnya yang terasa terlalu cepat. Terutama pada bagian di mana Sekar tiba- tiba dapat beasiswa untuk kuliah di Jogja dan langsung lanjut magister. Tidak tampak perjuangan Sekar di masa sekolah lanjutan ataupun kuliah.

Namun lepas dari hal tersebut ada banyak pelajaran penting yang bisa diambil dari film ini, di antaranya kegigihan mengejar mimpi, jangan menyerah pada keadaan, termasuk menghargai orang tua yang sangat berperan besar dalam meraih kesuksesan kita.

Adegan yang sangat mengharukan sekaligus membanggakan adalah ketika Sekar berpidato di hari kelulusannya dan memberikan tribute pada Ibunya yang selalu memberikan motivasi pada dirinya dalam menuntut ilmu meski didera kemiskinan.

“Saya menemukan surga dalam diri ibu saya,dan saya sangat percaya pada sebuah hadits yang mengatakan: Dalam hidup ini siapakah yang harus kamu hormati? Jawabannya adalah Ibumu, Ibumu, Ibumu, kemudian ayahmu,” ungkap Sekar di akhir pidatonya yang langsung disambut dengan tepuk tangan para mahasiswa yang lain.

Peserta nobar hari pertama , dokumentasi Bintaraloka

Masih belum cukup, applaus para mahasiswa di film diikuti tepuk tangan siswa di aula. Agaknya mereka benar- benar terbawa dengan alur cerita film ini.

Di akhir kegiatan ini siswa diminta untuk membuat resume cerita film, menulis pelajaran berharga yang bisa diambil termasuk menuliskan adegan film yang paling disukai beserta alasannya.

Hari yang sangat menyenangkan. Meski ada air mata pada beberapa siswi karena terharu, di akhir kegiatan suasana kembali ceria karena ada pembagian voucher kantin bagi siswa yang bisa menjawab pertanyaan tentang film hari itu.

Tanya jawab dan pembagian mbagian voucher di akhir acara, dokumentasi pribadi

Ketika jam menunjukkan pukul setengah sebelas siswa beranjak meninggalkan aula. Harapannya ke depan kegiatan literasi akan dikemas dalam kegiatan kegiatan menarik, dan nonton bareng ini akan lebih sering dilakukan.