Sirup Lebaran dan Kesabaran Ibuk

Lebaran telah datang. Hari yang sangat menyenangkan itu kembali menyapa. Hari di mana kita saling bermaaf-maafan, silaturahmi, saling mengunjungi dan ditandai dengan sajian berbagai kue, masakan juga minuman.

Opor, ketupat, sambal goreng kentang seolah berlomba memenuhi meja makan. Nastar, putri salju, kastengel juga demikian. Hanya posisi mereka berada. Jika masakan ada di ruang tengah atau dapur, maka aneka kue siap di garda depan  untuk menyambut kedatangan tamu.

Selain kue dan makanan, yang tidak boleh dilupakan adalah hadirnya minuman. Ya, makanan tanpa minuman kurang pas rasanya.

Meskipun hadirnya aneka minuman mulai digeser oleh air putih dalam kemasan, kehadiran sirup saat Lebaran sepertinya tidak bisa diabaikan. Terbukti jelang Ramadhan selalu ditandai dengan munculnya iklan salah satu produk sirup yang diputar berulang-ulang.

Bicara masalah sirup membuat saya teringat pada kejadian yang membuat saya tidak pernah lagi menyajikan minuman ini saat Lebaran. Bukan salah minumannya, tapi peristiwa yang menyertainya yang membuat sirup jadi kurang ‘manis’ di mata saya.

Dulu sebelum Ramadhan kami selalu siap dengan aneka sirup dari berbagai rasa. Ada rasa jeruk, sirsak juga frambozen.

Sirup-sirup itu biasanya kami beli di pasar atau kami mendapat bingkisan dari kenalan atau saudara.

Keluarga kami bukan dari kalangan berada, karenanya kedatangan tamu dari famili sering membuat kami bingung.  Ya, saudara-saudara yang secara ekonomi berada jauh di atas kami membuat kami agak ‘salting’ ketika harus menjamu.  Mau menyuguhkan apa-apa takut tidak pantas. Bukankah apa yang ada di rumah kami pasti ada di rumah mereka? itu yang ada dalam pikiran kami.

Alhasil kami selalu tidak percaya diri saat mendapat kunjungan famili. Maksud hati ingin memberikan yang terbaik, apa daya kadang tanggapan yang kami terima kadang tidak seperti yang diharapkan, dan kami hanya bisa menyimpan semua tanggapan itu dalam hati.

Suatu malam jelang Lebaran ada famili datang ke rumah. Sengaja mereka datang malam-malam karena besok saat Lebaran tidak bisa hadir di pertemuan keluarga besar.

Karena yang datang adalah famili istimewa, saya juga mengeluarkan hidangan istimewa yaitu sirup rasa frambozen dengan warna merah menyala. 

Harum frambozen langsung menguar dari botol ketika segelnya dibuka.  Saya segera menuangkan sirop ke dalam gelas-gelas, dan dengan sepenuh hati saya buatkan minuman yang terbaik menurut ukuran saya. Saya buatkan di gelas baru pula. Gelas yang rencananya akan dipakai untuk Lebaran besok.

Ketika semua sudah siap, minuman saya letakkan di baki dan dihidangkan, dengan harapan tamu akan merasa senang. 

Tapi alamak, reaksi yang muncul benar-benar di luar dugaan saya. Mereka kelihatan terkejut karena sirup yang saya buat terlalu merah, katanya. 

Walah, malu sekali rasanya. Apalagi ketika akan saya ganti  minumannya tamu menolak. “Sudah, tidak usah minum, kebetulan kami tidak minum sirup,” kata mereka sambil segera berpamitan.

Malam itu saya benar- benar merasa tidak enak. Sambil mencuci gelas di dapur saya buang sirup- sirup yang ada dalam gelas karena para tamu hanya mencicipi sedikit sekali.

Kabangen thithik (sedikit terlalu merah) Nduk, tapi tidak apa-apa, lain kali dikurangi siropnya,” hibur ibuk. Saya mengangguk sambil mengelap kembali gelas-gelas yang sudah bersih.

Ilustrasi diskusi dengan ibuk, gambar by AI Chat GPT

Masalah sirup tidak berhenti di situ. Saat Lebaran hari kedua famili yang lain bertamu ke rumah, dan seperti biasa adalah tugas saya untuk membuat minuman. 

Ada sekitar delapan orang yang datang, dan saya membuatkan sirop di gelas yang agak kecil. Mengapa agak kecil? Pengalaman di hari pertama sirup banyak yang tidak habis dan akhirnya dibuang. Mubazir sekali bukan? 

Ketika saya suguhkan ternyata komentar yang ‘miring’ muncul pula.

“Eh, gelasnya mini ya… Seperti ukuran gelas air zam zam,” celetuk satu orang ditambah tawa yang lain. Mungkin maksudnya guyon, tapi pengalaman kurang enak berkaitan dengan masalah sirup di hari sebelumnya membuat saya overthinking dan terus terang sedikit sakit hati. Dengan tetap memasang senyum di wajah, saya cepat-cepat masuk ke dalam untuk meredakan sakit hati saya 

“Buk, gelasnya kekecilan ya?” bisik saya pada ibuk ketika tamu- tamu pulang. Ibuk tersenyum sabar sambil berkata,”Ora Nduk, sudah bagus, tidak mubazir seperti kemarin,”

Meski saya tahu itu hanya hiburan, tapi cukup melegakan saya. Itulah ibuk. Selalu sabar dan datar dalam menghadapi apapun. Di titik di mana saya tidak sabar dan merasa sakit hati, ibuk selalu menjadi pendingin dengan senyum dan nasehat pendeknya yang sejuk. Ya, ibuk tidak banyak bicara, tapi sikapnya menunjukkan kesabaran yang nyata.

Seandainya beliau masih ada, orang yang ingin saya temui untuk melepas rindu dan meminta maaf di hari Lebaran adalah ibuk saya. Ibuk yang penuh kasih, tidak banyak bicara tapi begitu sabar. 

Sampai sekarangpun saya belum bisa mencontoh kesabaran beliau. Buktinya, sejak dua peristiwa di atas, selama bertahun-tahun saya tidak pernah lagi menyajikan sirup saat Lebaran. Sirup hanya saya sajikan di bulan Ramadhan, untuk saya nikmati bersama anak-anak saat berbuka puasa.

Apakah pembaca juga punya kisah Lebaran yang tak terlupakan? Share di kolom komentar ya…

Selamat menikmati kehangatan Lebaran bersama keluarga tercinta..😊🙏

Bahasa Kasih di Balik Kemarahan Ibu pada Anaknya

Membaca cerita Kompasianer Willi yang berjudul Memahami Ibu dari Kemoceng Beliau, membuat saya tersenyum sendiri. Ya, cerita itu mengingatkan saya pada pengalaman saya sendiri ketika anak- anak masih kecil. 

Cerita yang hampir sama, hanya bedanya Kompasianer Willi bercerita dalam sudut pandang beliau sebagai anak, saya bercerita dalam pandangan saya sebagai ibu. Pengalaman yang menunjukkan betapa kemarahan seorang ibu seringkali hanya karena kasih sayang dan kekhawatiran yang begitu besar pada anak- anaknya.

Cerita ini terjadi ketika bulan Ramadhan. Ketika itu anak-anak saya yang laki laki masih kecil-kecil. Yang paling besar berumur delapan tahun, adiknya enam tahun dan empat tahun. 

Oh ya, dari empat anak saya, yang pertama perempuan dan berjarak agak jauh dari adik-adiknya. Sebagaimana anak perempuan, anak sulung saya lebih banyak di rumah membantu ibunya, sementara tiga adiknya lebih banyak bertualang di luar rumah bersama teman- temannya

Hari masih menunjukkan pukul lima pagi itu. Tampak beberapa orang tetangga lewat di depan rumah. Mereka baru saja pulang dari langgar dekat rumah setelah Subuhan. 

Di bulan Ramadhan,  langgar di kampung kami lebih banyak pengunjungnya. Biasanya habis sahur banyak yang langsung Subuhan di langgar termasuk anak-anak kecil.

“Buk, kami bal-balan ya,” kata anak- anak saya sepulang dari langgar. Sarung mereka masih diselempangkan di bahu, dengan mengenakan peci sholat. Sekilas mirip  Si Unyil.

Ilustrasi ibu dan anak anaknya, gambar by AI chat gpt

Di belakang mereka tampak teman temannya yang lain. Saya lihat kira kira ada sepuluh anak kecil dengan kostum yang senada.

“Boleh, hati-hati. Jangan capek-capek, nanti mokel lho…,” pesan saya.

“Sarungnya dilipat dulu,” tambah saya.

Bergegas ketiganya masuk, melipat sarung lalu berangkat dengan ‘gang’ nya. Stadion Gajayana, itu yang dituju. Ya, rumah saya lokasinya tidak jauh dari stadion Gajayana. Bermain bola di stadion adalah kegiatan yang sering dilakukan anak-anak kampung di masa itu 

Dengan membawa bola plastik rombongan pun berangkat. Celoteh riang anak- anak terdengar ramai. Mereka masih begitu segar, maklum habis sahur.

Hari itu kebetulan pekerjaan rumah saya agak banyak. Dengan ditemani si sulung saya bersih- bersih rumah. Hari itu puasa hari ke 24, kira-kira enam hari lagi Lebaran.

“Anak-anak kok belum pulang ya Buk?” tanya anak saya heran sambil melihat jam dinding. Saat itu kami sedang bersih- bersih kulkas.

Saya segera melihat jam. Deg… sudah ja sebelas, pikir saya.

“Sebentar lagi paling, Nduk,” kata saya. Lebih untuk menenangkan hati saya sendiri.

Saya terus bersih- bersih sambil sesekali melihat keluar barangkali anak-anak datang.

Sayup-sayup azan Dhuhur dari langgar mulai bergema. Saya mulai panik. “Ya Allah…kemana anak anak kecil ini?” Pikir saya. Sungguh , saya takut kalau terjadi apa-apa dengan mereka. Jalan raya dari rumah menuju ke stadion ramai pula.

Bergegas saya memakai kerudung lalu segera keluar.

“Nduk, teruskan bersih-bersih. Ibuk cari adik adikmu,” 

Dengan cemas saya langsung berjalan menuju stadion. Dari lapangan bola ke satu, ke dua, lapangan volley suasana tampak sepi. Ya, siapa mau olah raga di siang hari seperti ini? Bulan puasa pula. 

Hati saya makin cemas. 

Ya Allah, kemana anak anak ini.., 

Setelah muter- muter di stadion tidak juga ketemu sayapun pulang. Dalam perjalanan saya sungguh berharap anak-anak sudah ada di rumah, dan kami cuma ketlisipan jalan. Sepanjang jalan hati saya deg-degan. Ya Allah, berilah keselamatan pada anak anak saya, bisik hati saya.

Sampai di rumah, hati saya benar- benar lega. Tiga anak kecil dengan baju kotor ada di depan pagar. Mereka tampak ragu dan takut-takut mau masuk ke rumah. Ketiganya tidak tahu bahwa saya ada di belakang mereka.

“Mengapa pulang? Ibu kira sudah lupa jalan ke rumah,” kata saya sambil menekan perasaan. Rasa marah, jengkel sekaligus lega campur aduk dalam hati saya.

Mendengar suara saya mereka tampak kaget, sekaligus takut.  Ketiganya langsung menangis dan memeluk saya. Jelas sekali mereka merasa sangat bersalah karena bermain terlalu lama.

“Masuk, segera mandi! ” kata saya marah.

“Ibuk, maaf Buk..,” kata yang paling besar sambil menangis.

“Mandi sana!” kata saya sambil terus mempertahankan kemarahan saya. Air mata hampir menetes. Ya, saya benar- benar jengkel sekaligus khawatir. Takut kalau terjadi apa- apa dengan anak anak kecil ini.

Hari itu tanpa banyak bicara mereka segera mandi, sholat Dhuhur dan tidur. Mungkin karena kecapekan, dan jelang Maghrib mereka baru bangun. 

Ketika azan Magrib berkumandang kami segera berbuka.

Hari itu suasana buka puasa terasa beda. Saya tidak bicara sama sekali. Ada rasa bersalah di wajah-wajah ketiga anak saya.  Tapi sengaja saya diam dan tidak mengajak mereka bicara. Mereka sudah tahu kebiasaan saya yang banyak diam jika marah.

Barulah ketika hendak tarawih suasana menjadi cair. Melihat ketiganya dengan berbusana muslim pamitan hendak ke langgar, hati saya benar benar meleleh 

“Ibuk, kami tarawih ya,” kata yang paling besar diikuti adik-adiknya.

Saya diam sesaat lalu tersenyum menatap mereka bergantian. “Berangkatlah, pulang langsung pulang, tidak boleh main-main,”

Ada terpancar kelegaan di wajah mereka.

“Siyap komandan..,” jawab anak- anak sambil memberikan isyarat hormat. Si sulung yang ada di dekat saya tertawa geli melihat tingkah adik-adiknya, demikian juga saya.

Begitu terdengar qomat, anak-anak langsung berlari menuju langgar.

Oalah, anak-anak dengan segala tingkahnya memang kadang membuat kita merasa cemas dan kadang marah. Dan kemarahan orang tua pada anak gambaran kasih serta  kekhawatiran yang begitu besar pada mereka.

Persiapan TKA (2)

Setelah mengerjakan persiapan TKA (1), mari lanjut ke TKA (2). di bagian bawah ada kunci jawaban, tapi seperti biasa cobalah mengerjakan sendiri, baru dicocokkan dengan kunci. Selamat mengerjakan..

Soal 1

Sumber gambar : Nibble

 Pembuatan Roti Bahan yang diperlukan untuk membuat 1 adonan Roti  adalah : Tepung terigu 250 gr, Gula pasir 40 gr , Susu bubuk 10 gr,  Mentega 30 gr, Garam 2 gr, Ragi 4 gr.  Info ketersediaan stok gula 160 gram. Jika pemilik toko roti memutuskan mengurangi gula pasir 20% dari takaran awal, maka selisih banyaknya adonan roti yang dapat dibuat sebelum dan sesudah dikurangi takaran gulanya adalah ….

  A. 1 B. 2 C. 3 D. 4

Soal 2

Sebuah mesin dapat memproduksi 120 botol dalam 3 menit. Berikut adalah pernyataan-pernyataan mengenai laju produksi. Tentukan Benar atau Salah pernyataan berikut dengan memberi tanda centang (v)

Sumber gambar: Thaizou Waton

Soal 3

Pada hari Minggu pagi, Mirna pergi ke pasar untuk membeli cabai merah dengan uang Rp20.000,00. Jika harga ½ kg cabai merah hari itu adalah Rp12.500,00, maka berat maksimum cabai yang bisa Mirna beli adalah … .

 A. 600 gram

 B. 700 gram

 C. 800 gram

 D. 900 gram

Sumber gambar: Desa Pereoa

Soal 4

 Jarak antara kota A dan kota B ditempuh sebuah mobil dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam selama 3 jam 30 menit. Jika jarak yang sama ditempuh dengan kecepatan rata-rata 90 km/jam, maka waktu yang diperlukan adalah ….

 A. 2 jam

 B. 2 jam 20 menit

 C. 2 jam 30 menit

D. 2 jam 45 menit

sumber gambar: Tempo.com

Semangat Persiapan TKA (1)

Salam Matematika

Mari kita belajar soal-soal persiapan TKA berikut. Sebagai petunjuk, kerjakan sendiri terlebih dahulu, baru cocokkan dengan kunci jawaban. Tetap semangat ya…

Soal 1:

Diketahui bilangan real p dan q dengan p < q. Pilihlah di antara pernyataan-pernyataan berikut manakah yang benar:

a. 𝑝+1 < 𝑞+1

b. −𝑝 > −𝑞

c. 𝑝−𝑞>0

d. 𝑝−𝑞<0

Soal 2 :

Cuaca Ekstrem dan Perubahan Suhu Harian
Dalam beberapa waktu terakhir, Indonesia mengalami cuaca ekstrem yang ditandai dengan
perubahan suhu yang tidak menentu antara pagi, siang, dan malam hari. Cuaca ekstrem ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti perubahan iklim, pergeseran musim, dan pola
angin yang tidak menentu. Kondisi ini menyebabkan suhu udara mudah berubah dalam
waktu singkat.
Perubahan suhu ini dapat dirasakan di berbagai daerah, termasuk di Kota Malang. Suhu
udara pada pagi hari tercatat sebesar 18°C. Memasuki siang hari, suhu udara meningkat
sebesar 7°C akibat paparan sinar matahari yang cukup terik. Namun, pada sore hari suhu
udara kembali menurun sebesar 5°C karena mulai turun hujan dan angin bertiup lebih
kencang. Pada malam hari, suhu udara turun lagi sebesar 4°C dibandingkan suhu pada sore
hari. Perubahan suhu tersebut terjadi secara bertahap sepanjang hari.
Berdasarkan info pada teks di atas, suhu udara pada malam hari adalah …
A. 16°C
B. 18°C
C. 20°C
D. 25°C

Soal 3 :

Toko “ Segara” menjual buah apel jenis Apel Malang dengan berat rata-rata 0, 98 kg setiap
kantong. Jika toko tersebut menjual 52 kantong Apel Malang, maka
pernyataan-permyataan berikut yang benar adalah… .
a. Jika semua terjual habis, maka perkiraan berat Apel Malang yang terjual adalah 51
kg
b. Total berat Apel Malang yang terjual diperkirakan lebih dari 50 kg
c. Pembulatan 0,98 menjadi 1 menyebabkan estimasi berat Apel Malang yang terjual
menjadi lebih kecil dari hasil sebenarnya
d. Jika 0,98 kg dibulatkan menjadi 1 kg dan 52 kantong dibulatkan menjadi 50, maka
estimasi berat Apel Malang yang terjual semuanya adalah 50 kg

Soal 4 :

Sumber gambar: TribrataNews

Pada saat bencana banjir di Aceh bulan November 2025 yang lalu, sebuah komunitas peduli
bencana mengumpulkan 420 paket makanan untuk korban bencana alam tersebut.
Paket-paket tersebut akan dibagikan ke beberapa posko dengan jumlah paket yang sama di
setiap posko dan tanpa sisa.
Untuk menentukan jumlah paket yang diterima setiap posko, perhatikan
pernyataan-pernyataan berikut kemudian berilah tanda centang (v)pada
pernyataan-pernyataan yang benar!

Selamat Belajar..

Kunci bisa dilihat di sini

Maryam Mirzakhani, Sang Jenius Matematika dari Iran

Maryam Mirzakhani lahir pada 12 Mei 1977 di Teheran, Iran. Masa kecilnya dihabiskan di sebuah negara yang baru saja mengalami pergolakan revolusi. Namun, di tengah situasi tersebut, semangatnya untuk belajar justru tumbuh subur. 

Menariknya, ia tumbuh di keluarga yang tidak memiliki latar belakang ilmuwan, tetapi ia banyak belajar dari kakak laki-lakinya yang tertarik pada matematika dan sains .

Sebagai seorang gadis kecil, Maryam bercita-cita menjadi seorang penulis. Ia sangat gemar membaca novel dan membayangkan bahwa keindahan matematika pun dapat dirasakan seperti alur dalam sebuah cerita. 

“Keindahan dari matematika hanya akan terwujud bagi mereka yang tekun mempelajarinya,” ujarnya suatu kali. “Semakin aku mendalami matematika, semakin tertarik aku kepadanya” .

Bakat luar biasa Maryam mulai terlihat saat ia bersekolah di Farzanegan, sebuah sekolah khusus untuk siswa-siswa berbakat di Iran . Di sanalah kemampuannya di bidang matematika diasah dan mendapat tantangan yang sepadan.

Keindahan dari matematika hanya akan terwujud bagi mereka yang tekun mempelajarinya

Maryam Mirzakhani

Puncak kejayaan masa mudanya diraih di ajang Olimpiade Matematika Internasional (IMO). 

Pada tahun 1994 di Hong Kong, ia meraih medali emas dengan nilai nyaris sempurna (41 dari 42). Prestasi gemilang ini ia ulangi pada tahun 1995 di Toronto, Kanada. 

Saat itu, ia mencetak sejarah sebagai peserta asal Iran pertama yang meraih nilai sempurna sekaligus meraih medali emas keduanya . Keberhasilannya ini membuka jalan baginya untuk kuliah di dalam negeri tanpa tes masuk.

Pendidikan Tinggi dan Karier Cemerlang di Amerika Serikat

Setelah meraih gelar sarjana di bidang matematika dari Universitas Teknologi Sharif, Teheran pada tahun 1999, Maryam melanjutkan pendidikan pascasarjana ke Amerika Serikat.

Ia meraih gelar PhD dari Universitas Harvard pada tahun 2004, dengan disertasi tentang geodesi sederhana pada permukaan hiperbola. Disertasinya ini diselesaikan di bawah bimbingan Curtis T. McMullen, seorang peraih Fields Medal juga .

Maryam Mirzakhani, Sumber gambar: Aktual.com

Karier akademisnya terus meroket. Ia menjadi peneliti di Institut Matematika Clay, profesor di Universitas Princeton, dan akhirnya bergabung dengan Universitas Stanford sebagai profesor matematika pada tahun 2008. Bidang penelitiannya sangat kompleks, meliputi teori Teichmüller, geometri hiperbola, teori ergodik, dan ruang moduli .

Puncak pengakuan dunia datang pada tahun 2014. Maryam Mirzakhani dianugerahi Fields Medal, penghargaan tertinggi di bidang matematika yang sering dijuluki “Penghargaan Nobel untuk Matematika”.

 Ia adalah wanita pertama dan juga orang Iran pertama yang menerima penghargaan ini sepanjang sejarahnya yang dimulai pada tahun 1936 . Presiden Iran saat itu, Hassan Rouhani, pun mengucapkan selamat dan menyatakan bahwa prestasinya membuat bangsa Iran sangat bangga .

Sayangnya, di balik kecermelangan pikirannya, Maryam harus berjuang melawan kanker payudara yang didiagnosis pada tahun 2013. Pada 14 Juli 2017, di usia 40 tahun, penyakit itu merenggut nyawanya .

Akhirnya Maryam Mirzakhani bukan hanya seorang ilmuwan brilian. Ia adalah simbol harapan dan inspirasi, terutama bagi perempuan di seluruh dunia. Kisahnya menunjukkan bahwa batasan geografis, gender, atau sosial tidak dapat menghentikan seseorang yang memiliki tekad kuat dan kecintaan mendalam pada ilmu pengetahuan.

Warisannya tidak hanya terletak pada rumus-rumus rumit tentang alam semesta yang ia tinggalkan, tetapi juga pada pesan kuat yang ia sampaikan melalui hidupnya: bahwa perempuan dari negeri mana pun, bisa mencapai puncak tertinggi dalam sains dan mengukir namanya dalam sejarah dunia.