Romantika Sepak Bola, dari Penyemangat Hingga Gol Bunuh Diri

Bola selalu mempunyai magnet tersendiri apalagi bagi anak laki laki. Ya, tiga anak laki laki saya adalah penggemar bola. Jelas ini adalah warisan bapaknya yang juga pecandu bola.

Masih jelas dalam ingatan saya betapa tertariknya anak-anak dengan bola. Setiap pulang mengaji mereka  selalu mencermati tabloid BOLA atau Tribun. Lebih-lebih yang baru terbit. 

Liga Italia yang menjadi rubrik kesukaan mereka. Diskusi tentang liga Italia dan Inggris seolah tidak ada habis-habisnya. Hingga meski saya sendiri  tidak begitu faham dengan dunia mereka paling tidak saya  bisa mengenal nama nama Alessandro Nesta, Maldini, Filippo Inzaghi, Del Piero, Zinedine Zidane, Lilian Thuram dan banyak lagi.

Nama nama itu tiap hari berseliweran dalam diskusi anak anak dengan ayahnya. Padahal mereka saat itu masih duduk di SD dan TK.

“Semalam Inter menang berapa?”

“Wah, golnya Vieri bagus ya, Ba?”

“Juventus menang berapa?” atau

“Club apa yang terdegradasi?”

Kalimat- kalimat seperti itu yang muncul dalam diskusi yang hangat setiap hari. 

Tabloid BOLA, sumber gambar: superwaw

Diskusi selalu berjalan seru. Saya dan anak saya yang perempuan sering senyum sendiri ataupun geleng-geleng kepala . Bayangkan, kami tidak ngerti sama sekali apa yang mereka bicarakan. Seolah kami hidup di planet yang berbeda. He..he..

Bola Sebagai Penyemangat

Anak anak bermain bal Balan, sumber gambar: Kompas.id

Saat itu bermain bal-balan adalah hal wajib yang dilakukan anak-anak di kampung tiap sore hari, termasuk juga anak-anak saya. Dengan bola plastik mereka beraksi di gang yang tiba tiba jadi arena bal-balan. Dua anak jadi kiper dan yang lain jadi penyerang.

Suasana bermain selalu seru dan menyenangkan. Teriakan- teriakan muncul saat gol berhasil dibuat. Kadang-kadang teriakan itu membuat tetangga marah karena terlalu bising.

Satu akibat dari asyiknya main bal-balan ini ternyata anak-anak jadi agak enggan berangkat mengaji atau belajar.

Ada saja alasan untuk tidak mengaji atau belajar. Alhasil mereka baru bisa bubar dengan sedikit paksaan. Setelah terpaksa bubar mereka akan pergi mengaji ke masjid terdekat.

“Ibuk, kenapa kita harus sekolah?”

tanya anak saya suatu saat.

“Ya supaya pintar,” jawab saya sambil menahan senyum. Mengapa? Pertanyaan yang sama selalu diulang terutama saat ia akan berangkat ke sekolah.

“Lha kan nanti malam di rumah belajar juga sama Ibuk? Kok di rumah belajar, di sekolah belajar? Jadinya belajar terus?” katanya.

“Ya iyalah, biar pintar,” jawab saya lagi.

“Aku kan kepingin jadi pemain bola? Kenapa aku harus terus belajar?”kejarnya

“Eh, tahu tidak, banyak pemain bola yang sekolahnya pintar lho,” kata saya sambil menyebutkan satu persatu nama pemain bola yang sekolahnya juga bagus seperti Lampard, Lilian Thuram dan lain lain. 

Anak saya agak heran mendengar cerita saya. Eh, ternyata para pemain sepak bola itu tidak hanya latihan bola saja, tapi mereka harus sekolah juga. Mungkin seperti itu yang tersirat dalam benaknya.

Sejak saat itu anak saya semakin rajin sekolah dengan harapan bisa pintar seperti idola-idola sepak bolanya. Drama jelang sekolah atau jelang mengaji semakin berkurang.  Semua lancar, dan tentu saja main bal-balan semakin lancar.

Pak Toib dan Gol Bunuh Diri 

Sumber gambar: hypeabis

Kegemaran akan bola ternyata bukan hanya melanda anak-anak, tapi orang dewasa juga. Hanya bedanya jika anak-anak bisa langsung beraksi dengan bermain bola, orang dewasa cukup menonton bola.

Ada sebuah cerita lucu yang sampai saat ini selalu saya ingat. Meski sudah lama kejadiannya, tapi setiap mengingat cerita ini saya selalu tersenyum sendiri.

 Adalah seorang tetangga saya yang bernama Pak Toib. Pak Toib mempunyai hobbi menonton bola, sekaligus pengamat bola yang setia.

Berbagai macam liga ia ikuti beritanya. Ia juga hafal macam-macam kesebelasan, sekaligus para pemain juga rangking masing masing tim yang ada di liga.

Mengamati Klasemen sepak bola yang ada di koran jangan ditanya lagi. Itu adalah makanannya sehari-hari. Rasanya tiada hari tanpa mengamati pergerakan rangking kesebelasan favoritnya.

Suatu saat kesebelasan favorit Pak Toib akan berlaga di final yang disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun TV pada malam hari. Karena tidak punya televisi, ia minta izin pada Pak Dulah tetangganya untuk menonton TV di malam hari itu.

“Monggo nonton sendiri ya Pak Toib, saya besok pagi ada acara, tidak bisa ikut menemani,” kata Pak Dulah.

“Siap Mas, tidak apa- apa saya nonton sendiri , nanti kalau selesai saya pamitan ya,” jawab Pak Toib senang.

Malam hari sekitar jam sepuluh Pak Toib sudah siap di depan TV di rumah Pak Dulah. Sebungkus kacang rebus sudah dibawa dari rumah, sementara segelas kopi disediakan Pak Dulah sebagai penyemangat.

“Walah, tidak usah repot-repot Mas,” kata Pak Toib sungkan.

“Ah, mboten nopo, biar semangat,” kata Pak Dulah sambil meraih bantal.

“Tak tinggal tidur ya, Mas,” 

“Monggo,” jawab Pak Toib.

Pertandinganpun dimulai. Seiring Pak Toib yang begitu serius mengikuti bola yang terus bergulir, Pak Dulah semakin tenggelam dalam mimpi. Kerja seharian benar- benar membuat badannya lelah sehingga tidurnya terasa begitu nyenyak.

Hingga suatu saat… 

“Waaah, bunuh diri..!” Pak Toib berteriak keras sekali diiringi suara sorak sorai di televisi. Pak Dulah langsung bangun.

“Sinten? Sinten bunuh diri, Mas?” teriak Pak Dulah kaget.

“Kesebelasan kulo bunuh diri..,” kata Pak Toib lemas. Wajahnya tampak begitu sedih. Rupanya kesebelasan kesayangan Pak Toib memasukkan bola ke gawangnya sendiri.

Pak Dulah terperangah. Jadi ini tadi urusan bola toh? pikirnya. Rasa kaget, jengkel sekaligus lucu campur aduk dalam hatinya.

Tiba-tiba terdengar pintu rumah diketuk.

“Pak Dulah? Mboten nopo-nopo?” tanya seseorang. Walah, Pak RT.

Rupanya ada tetangga yang lapor pada Pak RT karena mendengar terialan Pak Toib tadi.

“Aman Pak RT, mboten nopo-nopo,” jawab Pak Dulah sambil membukakan pintu lalu menutupnya lagi sepeninggal Pak RT.

Sepuluh menit kemudian Pak Toib pun berpamitan. Kedudukan tetap. Tim kesayangannya kalah. Padahal mereka bermain bagus dan bisa mempertahankan kedudukan imbang hampir di sepanjang 45 menit babak kedua.

Dengan wajah kuyu Pak Toib meninggalkan rumah Pak Dulah yang tak lama kemudian menjadi gelap karena lampunya dimatikan.

Begitulah romantika sepak bola yang sampai sekarang masih saya ingat. Lebih dari sekadar olahraga, bola telah menjadi perekat yang hangat bagi keluarga kami—menghadirkan tawa, diskusi seru, bahkan drama kecil yang lucu untuk dikenang. 

Dari anak-anak yang bersemangat mencari ilmu demi menjadi pemain hebat, hingga Pak Toib yang dengan polosnya membuat satu kampung terjaga karena “gol bunuh diri” tim kesayangannya. Ya, meski saya sendiri tidak begitu paham tentang bola, tapi semua itu adalah bagian dari kenangan manis yang tak tergantikan. 

Superwaw

Hypeabis

Kompas.id

Yuli Anita

Published by

Yuli Anita

"The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you’ll go."

Leave a Reply

Your email address will not be published.