Drama Cacar Air : Dari Puskesmas Hingga ke UGD

Libur semester genap yang baru saja berlalu menyisakan cerita yang tak terlupakan bagi kami.  Betapa tidak? Liburan yang kami rencanakan untuk diisi dengan jalan-jalan, cari inspirasi tulisan, mencoba Transjatim, berubah total karena ulah virus yang tiba-tiba merusak semua rencana. 

Ya, cangkrang atau cacar air tiba- tiba datang menyapa. Cacar air yang tidak bisa dianggap remeh meski menurut berbagai sumber cacar air ini adalah penyakit yang nantinya bisa sembuh sendiri 

Kejadian bermula ketika menjelang liburan saya sering merasakan agak demam di malam hari. Seperti agak nggreges begitu, tapi segera hilang ketika minum parasetamol atau dipakai tidur. Mungkin kecapekan, pikir saya. Jelang libur adalah saat rapotan dan kegiatan kokurikuler. Kesibukan benar- benar luar biasa dan rasa demam tiap malam hari saya abaikan dan esok harinya kembali beraktivitas.

Begitu rapotan selesai datanglah si cangkrang. Mula-mula saya tahu dari dua bintik berisi air yang muncul di lengan atas. Itupun tahunya tidak sengaja ketika mengenakan mukenah mau sholat Subuh.

Lho, kok ada semacam cangkrang ya? pikir saya heran. Padahal saya sudah pernah kena? Kata orang orang kalau sudah pernah kena cangkrang tidak akan pernah kena lagi? Tapi anehnya badan saya tidak panas alias normal saja suhunya.

Khawatir bintiknya bertambah banyak, agak siang sayapun ke Puskesmas.

Setelah diperiksa dan ditanya-tanya sebentar, akhirnya dinyatakan bahwa saya terkena cacar air dan  diberi obat dengan takaran yang unik. Acyclovir diminum 5×2, ibuptofen jika terasa sakit, vitamin sehari satu kali, dan acyclovir salep untuk obat luar.

Sekilas Tentang Cacar Air

Anak terkena cacar air, sumber gambar: Alodoc

Penyakit cacar air (varicella) adalah infeksi virus sangat menular yang disebabkan oleh Varicella zoster. Penyakit ini memicu ruam berupa bintil kemerahan yang berisi cairan dan terasa sangat gatal di sekujur tubuh.

Apakah orang yang sudah pernah cacar air bisa terkena lagi? Menurut Alodokter meski kemungkinannya kecil ternyata bisa. Beberapa penyebabnya adalah karena infeksi pertama terlalu ringan, terkena cacar air waktu bayi juga karena imunitas tubuh yang turun.

Saya agak heran dengan dosis acyclovir ini. 5×2, berarti saya harus minum 10 obat satu hari. Subhanallah.., buanyak sekali.

Tapi syukurlah dengan minum obat teratur cangkrang tidak muncul lagi, dan dua bintik yang ada di lengan yang sempat terasa sakit sudah hilang pula.

Selesai? Ternyata belum.

Beberapa hari kemudian ganti anak saya yang kena. Kali ini ditandai dengan demam yang tidak begitu tinggi tapi selalu muncul jelang malam hari.

“Kalau masih panas, besok kita bawa ke Puskesmas,” kata saya. Saat itu ia demam di hari kedua.

Karena paginya masih demam, sesuai rencana jam 9 an kami akan ke puskesmas. Jelang keberangkatan ke Puskesmas tiba- tiba saya melihat ada beberapa bintik berisi air di daerah lehernya.

“Lho, ini cangkrang Le,” kata saya. 

“Ketularan ibuk, ini,” tambah saya.

Bergegas hari itu kami berangkat ke Puskesmas dan mendapat obat yang sama. Acyclovir, Ibuprofen dan vitamin. Hanya yang membedakan kali ini dosis acyclovirnya 4×1.

“Lho, dosisnya kok beda ya?” tanya anak saya heran. 

“Iya ya? Mungkin kondisi tubuhmu dianggap lebih kuat jadi obatnya cukup sedikit saja,” kata saya mereka- reka.

Acyclovir dan obat tetes mata, dokumentasi pribadi

“Apa kita tanyakan saja?” ajak saya

“Tidak usah Buk, biar saja,” jawab anak saya. Mungkin karena demam dan pusing dia enggan masuk kembali ke ruang periksa guna bertanya ke dokter. 

Singkat kata sejak hari itu obat diminum empat kali sehari dan byur…. cangkrangpun bermunculan. Banyak sekali terutama di daerah punggung, perut dan wajah.

“Kok buanyak ya?Jangan jangan obatnya kurang ..?” tanya anak saya khawatir.

Saya yang sudah pernah dua kali kena cangkrang tidak begitu panik. 

“Mungkin keluar dulu semua, lalu pelan- pelan habis Le..,” jawab saya menenangkan.

Suatu sore tiba- tiba anak saya merasakan matanya pedih seperti kelilipan. Matanya terus berair. Saya segera menyodorkan tisu.

“Hati hati, kalau menghapus, jangan sampai air cangkrang  kena mata,” kata saya mengingatkan. Ya, hal yang membuat kami khawatir adalah beberapa bintik cangkrang muncul di sekitar mata.

Apakah keluarnya air mata adalah efek dari cacar air? Apa langkah yang harus dilakukan? Untuk menjawab pertanyaan itu kami pun browsing. Dan ternyata ada informasi yang menakutkan yang kami dapatkan dari browsing ini.

Acyclovir salep, dokumentasi pribadi

Dalam artikel yang kami baca dijelaskan bahwa cacar air yang mengenai area mata sangat berbahaya dan merupakan kondisi darurat medis. Jika virus menyerang mata, risikonya meliputi infeksi kornea, peradangan saraf mata (Herpes Zoster Oftalmikus) hingga  kerusakan jaringan permanen.

Ya Allah, ngeri rasanya. Penyakit yang mulanya kami anggap ringan’ ternyata menyimpan akibat yang mengerikan.

” Kita  ke dokter saja ya?” tawar saya demi melihat anak saya yang semakin cemas. Ya, daripada kami mereka reka sendiri, browsing ke mana-mana, lebih baik tanya pada ahlinya.

Anak saya langsung setuju. Untungnya di sekitar rumah ada dokter praktek. Singkat kata kami datang ke dokter sore itu.

Dari dialog sekaligus pemeriksaan akhirnya kami diberi resep yang isinya acyclovir dan vitamin. Bedanya acyclovir di sini dosisnya dinaikkan sedikit.

Sesampai di rumah hati terasa lebih lega, sebab tadi diterangkan dokter bahwa proses penyembuhan cacar air ini rata- rata tujuh hari, dan ini masih hari ke empat.

Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama. Jelang Maghrib tiba-tiba mata anak saya berair lagi. “Kok pedes ya..,” katanya takut.

Saya segera telpon ke dokter menanyakan kalau matanya terus berair bagaimana

“Dibawa ke spesialis mata saja Bu,” jawab dokter singkat. Deg…,  kekhawatiran kembali datang. Setelah diskusi sebentar tanpa menunggu lama kami segera ke UGD RS  yang tak jauh dari rumah saya.

Sesampai di sana ternyata dokter spesialis mata tidak ada (praktiknya sudah selesai) dan kami disarankan untuk ke dokter umum yang juga ada di RS saja. Kami setuju. Ya, daripada kami pulang ‘tidak membawa apa- apa’ dan hati yang luar biasa cemas.

Di dokter umum anak saya segera diperiksa termasuk juga daerah mata dan sekitarnya

“Aman kok Mas, tidak apa-apa. Hanya memang cacarnya banyak sekali. Sudah minum obat apa?” 

“Acyclovir dokter, 4×1,” jawab anak saya.

“Lha, cuma 4×1? Tidak ‘ngaruh’ itu,” kata dokter tersebut sambil menuliskan resep acyclovir 5 x 2, ditambah dengan obat tetes mata. Lha, sama dengan dosis saya kemarin, pikir saya. 

Obat segera ditebus, dan kami bergegas pulang. 

Hati lebih tenang  dan mulai malam itu anak saya minum obat dengan dosis yang baru yaitu 5×2. Subhanallah, sesudah dua kali minum obat, dia bisa lebih tenang, tidur bisa enak dan mata tidak mbrebes lagi. Sebelumnya karena bintik- bintik terus keluar dia mengeluh badannya sakit semua. 

Dua hari berikutnya bintik- bintik mulai mengering, mengecil dan sampai  obat habis bintik bintik tinggal menyisakan bekas- bekasnya.

Lega sekali rasanya. Sungguh, seminggu terakhir liburan yang luar biasa. Benar-benar cacar air telah menciptakan drama. Pelajaran penting yang bisa kami dapatkan adalah jangan pernah menyepelekan penyakit. Terbukti dari cacar air yang mulanya kami anggap ‘ringan’ ternyata bisa menciptakan drama kecemasan hingga sampai  membawa kami berkunjung ke UGD.

Sekedar berbagi cerita , salam sehat 😊

Artikel ini dimuat di Kompas.com :

https://katanetizen.kompas.com/read/2026/07/24/220028785/liburan-yang-tak-terlupakan-karena-cacar-air?utm_source=Various&utm_medium=Referral&utm_campaign=traffic_share-ae2a5c764ad904293952289c51b35871
Yuli Anita

Published by

Yuli Anita

"The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you’ll go."

Leave a Reply

Your email address will not be published.