Persahabatan Belalang dan Kupu-kupu

Matahari muncul dari peraduannya dengan sinarnya yang lembut.  Binatang-binatang mulai bermunculan.  Burung- burung dengan cericitnya yang ramai ikut meramaikan suasana pagi. Dari balik semak dan rerumputan Pongki belalang menggeliatkan tubuhnya dengan malas. Hujan yang turun semalam membuat tidurnya nyenyak hingga rasa kantuknya masih tersisa.

 “Selamat pagi Pongki.. ,” sebuah suara menyapanya dengan ramah.  Pongki tersenyum.  Sosok tubuh gendut berbulu berayun ayun di tangkai daun.

“Pagi Ulil, ” jawab Pongki ramah. 

Ulil adalah seekor ulat berwarna kehijauan. Ia tinggal di balik tanaman perdu yang tumbuh tak jauh dari semak-semak tempat Pongki tinggal.

 Pertama kali Pongki mengenal Ulil ketika suatu hari  Ibu kupu-kupu meletakkan telurnya di tangkai daun. Beberapa hari kemudian telur itu menetas.  Dari dalamnya muncul mahluk kecil dan lembut.  Hal pertama yang  dilakukan mahluk itu adalah memakan cangkangnya.  Pongki sempat terkejut saat itu.  Tapi demi melihat dari hari ke hari mahluk itu selalu makan dan makan akhirnya ia maklum.  Mungkin Ulil, mahluk kecil itu selalu kelaparan.

 Tiap hari Pongki selalu bercengkerama dengan Ulil.  Hanya Pongki yang mau berteman dengan Ulil.  Ini yang membuat Pongki merasa kasihan. Binatang-binatang yang lain tidak menyukai Ulil. Semut,  kepik,  laba-laba menjauhi Ulil.   Tubuhnya menjijikkan , banyak bulu yang tumbuh di sekujur tubuhnya.  Di samping itu Ulil terlalu rakus.  Ya,  yang dilakukannya tiap hari adalah makan,  makan dan makan.  Binatang lain sampai risih melihatnya.  Sampai-sampai tanaman yang ditempatinya  berlubang lubang daunnya. 

 Suatu hari Pongki merasakan ada sesuatu lain.  Tidak ada sapaan dari Ulil sahabatnya seperti biasanya.

 “Ulil… Uliil.., ” kata Pongki khawatir.  Jangan-jangan Ulil jatuh lalu terinjak…  Atau dipatuk oleh burung pipit. 

 “Uliil…, ” kata Pongki sedih.

 Hari demi hari berlalu.  Pongki sering duduk di bawah pohon tempat biasanya ia ngobrol dengan Ulil sahabatnya.  Ia benar benar rindu pada Ulil yang lembut dan lucu.

 Tiba tiba di suatu pagi yang cerah sebuah suara menyapanya ceria.

 “Pongki….  Apa kabar teman..? ”  Suara yang amat dikenal Pongki!

 Pongki langsung mencari  arah suara. 

 “Ulil… Kamu di mana? ” teriaknya senang.

 Ulil tidak menampakkan dirinya.

 “Uliil..? ” kata Pongki lagi.

 “Aku di sini,  ” kata suara itu senang. Pongki memandang ke atas. Tidak ada Ulil.  Yang muncul adalah seekor kupu-kupu dengan sayap berwarna-warni cantik.  Mengingatkan Pongki pada Ibu kupu-kupu. 

 “Ulil? ” tanya Pongki ragu-ragu.

 Ulil tersenyum senang.  “Benar Pongki,  aku sudah menjadi kupu-kupu.  Kemarin berhari-hari kita tidak ketemu,  karena aku menjadi kepompong.. ,” jelas Ulil sambil mengepak-kepakkan sayapnya yang indah.

 Pongki tersenyum senang.  Ternyata Ulil tidak terinjak atau dimakan burung seperti yang disangkanya.  Ulil hanya perlu waktu untuk berubah menjadi bentuk yang lebih sempurna.

PETUALANGAN HAMHAM DAN HEMO

Hamham dan Hemo adalah hamster kecil yang tinggal dalam kandang milik Bidin. Bisa dikatakan mereka adalah hamster yang bahagia.  Bagaimana tidak?  Bidin selalu memberi makan,  tidak lupa mengganti air juga mengecek apakah kondisi mereka baik baik saja.

 Satu hal yang sangat menyenangkan bagi mereka adalah tatkala Bidin memamerkan kelincahan mereka pada teman-temannya.  Itu saat-saat yang mereka tunggu,  karena melihat decak kagum dan pujian teman-teman Bidin pada ketangkasan mereka berdua adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.  Biasanya saat seperti itu keduanya akan memutar roda mainan masing masing semakin cepat dan cepat.

Namun pagi ini ada sesuatu yang lain.  Hamham diam saja ketika Hemo bermain di roda berputar.  Biasanya saat Hemo bermain di roda itu ,Hamham akan segera menyusul di rodanya.  Dan  sambil tertawa-tawa mereka berlomba siapa yang bisa memutar roda paling cepat.

 “Kenapa Hamham?  Kamu sakit? ” tanya Hemo khawatir.

 Hamham menggeleng.  Hemo melihat ke arah makanan Hamham.  Kelihatannya juga belum disentuh. 

 “Hamham kenapa? ” tanya Hemo lagi.

 Hamham melihat ke luar kandang.

 “Aku ingin keluar kandang.  Lihat,  aku ingin berjalan jalan seperti ayam ,  terbang seperti burung burung itu,  melihat indahnya dunia, ” kata Hamham sedih.

 “Hamham tidak suka di sini?  Bidin ‘kan baik pada kita? ” tanya Hemo pelan.

 “Benar Hemo,  Bidin memang baik pada kita,   aku cuma ingin keluar saja. Di sini sangat membosankan, ” jawab Hamham sambil terus memandang ayam-ayam Bidin yang berkeliaran mencari makan.  Sesekali ayam-ayam itu berkejaran dengan teman-temannya. Betapa menyenangkan.

 “Coba lihat,  ayam-ayam itu bisa berkeliaran bebas, bermain dan mencari makan,  tidak seperti kita.., ” keluhnya.

Hemo terdiam sambil ikut memandang ayam-ayam itu seperti halnya Hamham.

 Pagi telah datang dengan sinar mentarinya yang hangat. Seperti biasanya Bidin mengganti air dan memeriksa kandang hamstenyar. Tiba-tiba saat  hendak mengambil air secara tak sengaja Bidin lupa menutup kandang hamster.  Tanpa pikir panjang Hamham segera keluar.

 “Hamham,  mau kemana? ” tanya Hemo terkejut.

 “Ayo,  keluar Hemo.. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini, ” ajaknya.  Tanpa dikomando dua kali Hemo mengikuti Hamham,  dan petualanganpun dimulai.

 Mereka segera berlari menuju halaman.  Ah,  senangnya …hangatnya sinar matahari,  bau semak tanaman memang sangat menyegarkan.  Hamham berteriak senang.  “Hemoo,  betapa senangnya ya…! “

 Hemo juga berteriak senang. “Aku bebaas!” Keduanya berlarian ke sana kemari. Bermain petak umpet,  tertawa-tawa  dan sesekali berguling di rerumputan. Bahagia sekali.

hamster berguling-guling, gambar by Gemini AI

   Namun ada satu hal yang tidak mereka sadari.  Dari balik semak-semak sepasang mata berkilat menatap keduanya. Ya,  sepasang mata  milik Bony,  kucing yang tinggal di sebelah rumah.  Bony menatap keduanya dengan girang.  Perutnya lapar sekali.  Dengan mengendap- endap Bony mengambil ancang -ancang untuk menerkam dua hamster kecil itu.  Namun suara geraman Bony tiba-tiba tertangkap oleh telinga Hamham.  Sontak ia menoleh dan segera berteriak.  “Lari ,Hemo! “

Hamham berlari sekencang-kencangnya. Hemo terjejut dan seketika mengikutinya.  Bony menggeram semakin keras demi menyadari mangsanya akan lepas.  Di dekat pagar ketika akan berbelok tiba-tiba mereka tercebur dalam selokan.  Keduanya tidak menyadari bahwa di luar pagar terdapat sebuah selokan yang cukup besar.

 “Byurr..!”

 “Tolong…! ” teriak Hamham dan Hemo.  Air selokan begitu deras.  Keduanya tidak mendapatkan pegangan dan tidak bisa menahan arus.  Hamham dan Hemo mulai menangis. Tubuhnya terus terbawa arus air selokan. Sampai tiba-tiba mereka diangkat oleh sebuah keranjang plastik kecil. 

Betapa leganya keduanya ketika mereka sadar ,ternyata Bidin yang membawa keranjang plastik itu.  Rupanya sejak tadi Bidin mencari keduanya.

gambar by Gemini AI

            Setelah Bidin membersihkan bulu kedua hamster itu, mereka dimasukkan lagi ke dalam kandang mereka yang hangat. Hamham terdiam beberapa saat,  demikian juga Hemo.  Petualangan mereka hari ini sangat menegangkan.  Tapi dari petualangan itu keduanya makin sadar bahwa Bidin sangat memperhatikan dan menyayangi mereka.

Aku Tidak Akan Bertengkar Lagi

Mak Ayam mempunyai enam ekor anak yang lucu-lucu. Keenam anak ayam itu Ciko, Cika, Cika, Caki, Coki dan Ciki setiap hari mengikuti ibunya mencari makanan di depan rumah Mbah Sur.

Dengan patuh mereka mengikuti petunjuk Mak Ayam dalam mencari makan. Sambil mencari makan, kadang mereka kejar kejaran dan bergurau. Mak Ayam sangat bangga melihat anak anaknya yang lucu dan cantik. Bulu-bulu mereka yang putih kekuningan berkilau lembut diterpa sinar matahari.

Pagi itu tidak seperti biasanya Cika dan Ciko terlibat dalam pertengkaran. Ya, ketika mencari makan, tiba tiba paruh mereka mematuk cacing yang sama.

“Ini punyaku!” kata Cika

“Bukan, punyaku..!” kata Ciko tak mau kalah.

Anak ayam berebut cacing , gambar by: Gemini AI

Ketika keduanya bertengkar Mak Ayam dan keempat anak yang lain sedang sibuk makan dedak yang disebar Mbah Sur di samping rumah.

Pertengkaran antara Cika dan Ciko makin ramai, karena tak ada satupun yang mau mengalah. Karena terus bertengkar mereka tidak melihat Katty yang bersembunyi di balik batu mengawasi keduanya.

“Hmmm, anak ayam yang lezat ini,” bisik hati Katty sambil menatap keduanya dengan mata berkilat. Melihat dua anak ayam yang lucu dan gemuk membuat perut Katty terasa demikian lapar.

Dengan mengendap endap Katty mendekati Cika dan Ciko yang terus bertengkar. Kedua anak Mak Ayam tidak tahu ada bahaya sedang mengintai.

Di saat yang genting itu tiba- tiba Mak Ayam terkejut ketika melihat anak-anak ayam yang ada di sekitarnya hanya ada empat.

“Cika…Ciko… dimana kalian?” teriak Mak Ayam khawatir. 

“Cika…!Ciko..!” Mak Ayam terus berteriak.

Tiba-tiba dari kejauhan Mak Ayam melihat Katty, kucing gendut itu sedang berusaha mendekati anak- anaknya.

“Petooook….! Cika, Ciko…,lari…!” teriak Mak Ayam. 

Secepat kilat Mak Ayam mengembangkan sayapnya lalu lari mengejar dan menubruk Katty.

Katty yang sedang fokus mengamati Cika dan Ciko langsung mengaduh ketika sayap Mak Ayam mengenai tubuhnya. Apalagi ujung-ujung sayap tersebut cukup runcing sehingga beberapa bagian tubuh Katty terluka.

“Pergi kau kucing nakal!” teriak Mak Ayam.

“Maaak..!” teriak Cika dan Ciko serempak. Mereka berlari ketakutan, menghambur pada ibunya. Mak Ayam langsung memeluk keduanya dengan sayang. 

Cika dan Ciko menangis ketakutan. Ya, baru kali ini mereka melihat ibunya berkelahi dengan kucing.

“Kalian harus waspada, dimanapun kalian berada, kalian harus selalu hati-hati,” bisik Mak Ayam menenangkan.

Induk ayam dan anak anaknya, gambar by: Gemini AI

“Maaf Mak, kami tadi tidak tahu ada Katty.., kami tadi sedang berebut cacing,” kata Ciko sambil menangis. Ciki mengangguk membenarkan.

“Makanya, jangan suka bertengkar sesama saudara. Pertengkaran membuat kalian kurang waspada,” kata Mak Ayam lagi.

“Iya Mak..,” kata Cika dan Ciko hampir bersamaan.

“Ayo, sekarang ikut Mak ke saudara -saudaramu. Itu ada dedak dari Mbah Sur. Ayo makan sama-sama..,” ajak Mak Ayam. Cika dan Ciko mengikuti langkah Mak Ayam dengan lega. Keduanya bertekad untuk tidak lagi suka bertengkar dan mau berbagi dengan saudaranya 

Ayam Madu, Kejutan Kuliner Saat Lebaran 

Ada sebuah kejutan manis di saat saya bersilaturahmi ke rumah adik di Mojokerto tahun ini. Ayam madu, ya, sebuah hidangan dikeluarkan dari dapur setelah sekian menit yang lalu bau tumisan bumbu menguar dari dapur menjelajah seisi rumah. Harum dan sedap.

“Bude, monggo dhahar,” ajak keponakan saya. Tanpa menunggu lama saya segera menuju dapur. Meja makan kecil sudah tertata rapi. Tempe goreng, sayur, sambal tersedia di sana. Satu piring dengan hidangan berwarna kecoklatan sangat menyita perhatian saya.

“Ah, rupanya ini, sumber bau sedap tadi,” kata saya. 

“Rio pintar masak sekarang,” kata adik saya sambil tertawa.

“Ayam madu, Bude,” kata Rio, keponakan saya memperkenalkan hidangan yang ada di meja.

“Oh ya? Baunya sedap sekali,” kata saya sambil mengambil dua potong daging ayam dan meletakkan di piring nasi saya.

“Pintar sekali memasaknya Le, sering membuat ayam madu?” tanya saya lagi. Keponakan saya tertawa. Dari cerita-cerita bersama ibunya saya tahu bahwa di kosnya, setiap hari keponakan saya inj memasak sendiri.

“Ah, pantas masakannya enak sekali, ” kata saya.

Nama hidangan ayam madu terus terang baru saya tahu dari dialog di film Upin Ipin. 

Saat itu saya berpikir, bagaiman ya rasanya ayam madu? Ayam selama ini saya kenal sebagai hidangan yang identik dengan rasa asin dan gurih. Ya, saya hanya tahu ayam Laos, ayam goreng krispi, ayam bumbu merah, kare atau opr ayam. Lha ini ada ayam madu, berarti kan manis? Wah jadi penasaran. 

Tentang Ayam Madu

Ayam madu, dokumentasi Rio

Dari berbagai sumber, ternyata ayam madu adalah resep masakan yang merupakan adaptasi kuliner China yang disesuaikan dengan lidah lokal, serta terinspirasi dari jajanan khas Korea .

Hidangan ini menonjolkan rasa manis, gurih, dan juicy, dengan bahan utama ayam, madu, kecap manis/asin, dan jahe sebagai penyeimbang rasa, seringkali disajikan dalam versi krispi atau panggang 

Berikut resep dan cara membuat ayam madu. Karena yang dihidangkan kemarin adalah versi panggang, maka resep berikut adalah Ayam Madu Panggang.

Bahan-bahan

Bahan-bahan ayam madu, gambar by Chat GPT

500 gr  fillet ayam, di cuci bersih, marinasi dengan air jeruk nipis dan sedikit garam

5 siung bawang putih dihaluskan

2 cm Jahe dihaluskan

1 sdm saus tomat

3 sdm saus tiram

2 sdm kecap manis

3 sdm madu

1 sdt garam

1/2 sdt merica bubuk

50 ml Air

2 sdm Margarin (untuk menumis)

Cara Membuat

1. Siapkan semua bahan, lalu panaskan margarin dan tumis bawang putih serta jahe hingga harum, masukkan ayam, aduk sampai berubah warna.

2. Masukkan  saus tomat, saus tiram, kecap manis, dan madu. Masak dengan api kecil sambil diaduk. 

3. Tambahkan garam, lada dan air.. Masak hingga ayam matang dan air menyusut.

Lebaran benar-benar membuat talenta- talenta tak terduga muncul. Siapa sangka ternyata para  keponakan ini ternyata juga  pintar memasak.

4. Siapkan oven teflon , lalu panggang ayam sampai matang dan berwarna coklat keemasan sambil dioles sisa bumbu ayam nya.

4. Ayam madu siap disajikan. Pastikan ayam matang sempurna sebelum dihidangkan.

Simpel sekali cara membuatnya, tapi jangan ditanya rasanya. Nasi hangat dengan ayam madu adalah pelengkap silaturahmi istimewa sore itu. Irama derasnya hujan membuat hidangan kian terasa hangat dan sedap.

Aih, lebaran benar-benar membuat talenta- talenta tak terduga muncul. Siapa sangka ternyata para  keponakan ini ternyata juga  pintar memasak.

“Enak sekali Le, Bude harus praktek di Malang nanti,” kata saya sambil menambah lagi sedikit nasi ke piring saya yang hampir kosong. 

Sirup Lebaran dan Kesabaran Ibuk

Lebaran telah datang. Hari yang sangat menyenangkan itu kembali menyapa. Hari di mana kita saling bermaaf-maafan, silaturahmi, saling mengunjungi dan ditandai dengan sajian berbagai kue, masakan juga minuman.

Opor, ketupat, sambal goreng kentang seolah berlomba memenuhi meja makan. Nastar, putri salju, kastengel juga demikian. Hanya posisi mereka berada. Jika masakan ada di ruang tengah atau dapur, maka aneka kue siap di garda depan  untuk menyambut kedatangan tamu.

Selain kue dan makanan, yang tidak boleh dilupakan adalah hadirnya minuman. Ya, makanan tanpa minuman kurang pas rasanya.

Meskipun hadirnya aneka minuman mulai digeser oleh air putih dalam kemasan, kehadiran sirup saat Lebaran sepertinya tidak bisa diabaikan. Terbukti jelang Ramadhan selalu ditandai dengan munculnya iklan salah satu produk sirup yang diputar berulang-ulang.

Bicara masalah sirup membuat saya teringat pada kejadian yang membuat saya tidak pernah lagi menyajikan minuman ini saat Lebaran. Bukan salah minumannya, tapi peristiwa yang menyertainya yang membuat sirup jadi kurang ‘manis’ di mata saya.

Dulu sebelum Ramadhan kami selalu siap dengan aneka sirup dari berbagai rasa. Ada rasa jeruk, sirsak juga frambozen.

Sirup-sirup itu biasanya kami beli di pasar atau kami mendapat bingkisan dari kenalan atau saudara.

Keluarga kami bukan dari kalangan berada, karenanya kedatangan tamu dari famili sering membuat kami bingung.  Ya, saudara-saudara yang secara ekonomi berada jauh di atas kami membuat kami agak ‘salting’ ketika harus menjamu.  Mau menyuguhkan apa-apa takut tidak pantas. Bukankah apa yang ada di rumah kami pasti ada di rumah mereka? itu yang ada dalam pikiran kami.

Alhasil kami selalu tidak percaya diri saat mendapat kunjungan famili. Maksud hati ingin memberikan yang terbaik, apa daya kadang tanggapan yang kami terima kadang tidak seperti yang diharapkan, dan kami hanya bisa menyimpan semua tanggapan itu dalam hati.

Suatu malam jelang Lebaran ada famili datang ke rumah. Sengaja mereka datang malam-malam karena besok saat Lebaran tidak bisa hadir di pertemuan keluarga besar.

Karena yang datang adalah famili istimewa, saya juga mengeluarkan hidangan istimewa yaitu sirup rasa frambozen dengan warna merah menyala. 

Harum frambozen langsung menguar dari botol ketika segelnya dibuka.  Saya segera menuangkan sirop ke dalam gelas-gelas, dan dengan sepenuh hati saya buatkan minuman yang terbaik menurut ukuran saya. Saya buatkan di gelas baru pula. Gelas yang rencananya akan dipakai untuk Lebaran besok.

Ketika semua sudah siap, minuman saya letakkan di baki dan dihidangkan, dengan harapan tamu akan merasa senang. 

Tapi alamak, reaksi yang muncul benar-benar di luar dugaan saya. Mereka kelihatan terkejut karena sirup yang saya buat terlalu merah, katanya. 

Walah, malu sekali rasanya. Apalagi ketika akan saya ganti  minumannya tamu menolak. “Sudah, tidak usah minum, kebetulan kami tidak minum sirup,” kata mereka sambil segera berpamitan.

Malam itu saya benar- benar merasa tidak enak. Sambil mencuci gelas di dapur saya buang sirup- sirup yang ada dalam gelas karena para tamu hanya mencicipi sedikit sekali.

Kabangen thithik (sedikit terlalu merah) Nduk, tapi tidak apa-apa, lain kali dikurangi siropnya,” hibur ibuk. Saya mengangguk sambil mengelap kembali gelas-gelas yang sudah bersih.

Ilustrasi diskusi dengan ibuk, gambar by AI Chat GPT

Masalah sirup tidak berhenti di situ. Saat Lebaran hari kedua famili yang lain bertamu ke rumah, dan seperti biasa adalah tugas saya untuk membuat minuman. 

Ada sekitar delapan orang yang datang, dan saya membuatkan sirop di gelas yang agak kecil. Mengapa agak kecil? Pengalaman di hari pertama sirup banyak yang tidak habis dan akhirnya dibuang. Mubazir sekali bukan? 

Ketika saya suguhkan ternyata komentar yang ‘miring’ muncul pula.

“Eh, gelasnya mini ya… Seperti ukuran gelas air zam zam,” celetuk satu orang ditambah tawa yang lain. Mungkin maksudnya guyon, tapi pengalaman kurang enak berkaitan dengan masalah sirup di hari sebelumnya membuat saya overthinking dan terus terang sedikit sakit hati. Dengan tetap memasang senyum di wajah, saya cepat-cepat masuk ke dalam untuk meredakan sakit hati saya 

“Buk, gelasnya kekecilan ya?” bisik saya pada ibuk ketika tamu- tamu pulang. Ibuk tersenyum sabar sambil berkata,”Ora Nduk, sudah bagus, tidak mubazir seperti kemarin,”

Meski saya tahu itu hanya hiburan, tapi cukup melegakan saya. Itulah ibuk. Selalu sabar dan datar dalam menghadapi apapun. Di titik di mana saya tidak sabar dan merasa sakit hati, ibuk selalu menjadi pendingin dengan senyum dan nasehat pendeknya yang sejuk. Ya, ibuk tidak banyak bicara, tapi sikapnya menunjukkan kesabaran yang nyata.

Seandainya beliau masih ada, orang yang ingin saya temui untuk melepas rindu dan meminta maaf di hari Lebaran adalah ibuk saya. Ibuk yang penuh kasih, tidak banyak bicara tapi begitu sabar. 

Sampai sekarangpun saya belum bisa mencontoh kesabaran beliau. Buktinya, sejak dua peristiwa di atas, selama bertahun-tahun saya tidak pernah lagi menyajikan sirup saat Lebaran. Sirup hanya saya sajikan di bulan Ramadhan, untuk saya nikmati bersama anak-anak saat berbuka puasa.

Apakah pembaca juga punya kisah Lebaran yang tak terlupakan? Share di kolom komentar ya…

Selamat menikmati kehangatan Lebaran bersama keluarga tercinta..😊🙏