Tim Futsal SMP Negeri 3 Malang Raih Juara 1 Dalam Allievo Futsal Students Competition Kota Malang

Pada hari Rabu (26/02) tim futsal SMP Negeri 3 Malang telah meraih sebuah prestasi yang sangat membanggakan, yaitu mendapatkan juara 1 kejuaraan Allievo Futsal.

Allievo Futsal Students Competition merupakan bentuk kompetisi cabang olahraga futsal antar pelajar se-Pulau Jawa yang telah terselenggara sejak tahun 2019.

Untuk Kota Malang, kejuaraan  tingkat SMP diikuti oleh 16 tim dari SMP dan MTs SE kota Malang.

Dalam kejuaraan ini berbagai kemenangan telah diraih oleh tim SMP Negeri 3 Malang dari berbagai pertandingan.

 Dalam babak grup di pertandingan pertama SMP Negeri 3  melawan SMP Negeri 6 dan menang dengan skor 1-0.

Berfoto bersama sesudah penganugerahan juara, dokumentasi tim futsal

Di pertandingan berikutnya SMP Negeri 3  berhasil menang atas MTsN 1  dengan skor 3-0.

Di  babak 8 besar regu Bintaraloka bertemu dengan  SMP Negeri 20 Malang dan menang dengan skor 4-2. Sebuah kemenangan yang membawa Bintaraloka melaju ke babak semi final.

Di babak semi final ini,  kembali anak-anak bertemu dengan  SMP Negeri 6 Malang dan menang melalui babak adu pinalti dengan skor 3-2.

Di partai final, tim Bintaraloka bertemu dengan SMP BSS Malang. 

Pertandingan berlangsung demikian menegangkan. Sampai dua babak berakhir hingga perpanjangan waktu 2 x 5 menit skor bertahan di 2-2. 

Di babak adu pinalti akhirnya SMP Negeri 3 Malang berhasil menang dengan skor adu pinalti 2-1. Kemenangan ini sekaligus membawa SMP Negeri 3 Malang menjadi juara 1 Allievo Futsal untuk kategori SMP /MTs, dan berhak mewakili Kota Malang untuk bertanding di Mini Grand Champions di Surabaya dalam kategori SMP/MTs. 

Best player, dokumentasi Tim Futsal

Hal lain yang membanggakan dalam kejuaraan tersebut adalah terpilihnya salah satu siswa SMP Negeri 3 Malang yaitu Higuain Rafa Arthur Ibrahim Kelas 8.8 sebagai pemain terbaik di turnamen ini.

Sebuah prestasi yang sangat membanggakan. Selamat pada tim futsal juga pelatihnya, Brillyan, dan semoga ke depan tim futsal Bintaraloka akan semakin berjaya

Cintai Budaya Indonesia Bersama Indahnya Harmoni Nusantara

Selasa pagi (25/02) adalah hari yang begitu istimewa. Meski langit mendung dan sesekali gerimis muncul, hal tersebut tidak mengurangi semangat siswa untuk datang ke sekolah lebih pagi daripada biasanya. Ya, hari itu akan dilaksanakan perayaan P5 yang akan melibatkan seluruh siswa dari kelas 7, 8 dan 9.

Penampilan siswa yang menyanyikan lagu dari Jawa Timur, dokumentasi pribadi

Perayaan Projek kali ini bertajuk Harmoni Nusantara. Perayaan dilaksanakan setelah semua siswa melaksanakan kegiatan projek sesuai tema masing masing.

Dalam semester genap ini tema yang diusung masing masing jenjang benar-benar bernuansa budaya. Kelas 7 mengambil tema Harmoni Nusantara, kelas 8 Batik Topeng Malangan Karya Cipta Bintaraloka sedangkan kelas sembilan bertema Membangun Seniman Muda Topeng Malangan.

Batik yang dipamerkan , dokumentasi pribadi
Topeng karya siswa, dokumentasi pribadi
Alat pembuat batik cap karya siswa, dokumentasi pribadi

Acara perayaan dibuka oleh Bapak Teguh Edy Purwanta, kepala SMP Negeri 3 Malang dan dihadiri oleh ketua komite dan perwakilan pengurus paguyuban. 

Bapak Kepala Sekolah dan para undangan, dokumentasi Bintaraloka

Dalam acara tersebut juga hadir  komite SMP Negeri 21 yang  sedang  melaksanakan studi banding ke komite SMP Negeri 3 Malang.

Aksi panggung siswa berupa lagu dan tari daerah Nusantara (kelas 7), juga parade batik dan topeng (kelas 8 dan 9) benar benar memukau.

MC Pak Ardillah dan Ibu Happy, dokumentasi Bintaraloka

Dengan MC Bapak Ardillah dan Ibu Happy, acara demi acara berjalan dengan lancar. Sesekali MC memberikan pertanyaan pertanyaan yang disambut dengan antusias oleh anak anak.

Parade batik siswa kelas 8, dokumentasi Bintaraloka
Parade Batik Topeng Malangan Karya Cipta Bintaraloka, dokumentasi Bintaraloka

Penampilan anak anak demikian memukau. Kerja keras mereka selama berminggu minggu tampak dalam harmoni lagu yang ditampilkan serta keindahan karya cipta batik maupun topeng yang diparadekan.

Lagu dan tari yang dibawakan oleh kelas tujuh tampak demikian selaras dengan baju adat yang mereka kenakan. Indah berwarna warni, seperti warna- warni budaya Nusantara kita tercinta.

Siswa dengan kostum dari Betawi, dokumentasi Ahfi
Cublak cublak suweng, dokumentasi pribadi

Demikian pula dengan batik topeng Malangan  karya cipta Bintaraloka tampak demikian cantik dan anggun dikenakan oleh para pemakainya.

Parade topeng Malangan, dokumentasi Bintaraloka

Topeng Malangan hasil karya cipta kelas sembilan pun tak kalah indah. Selain diparadekan, topeng tersebut juga dipasang di depan lobby SMP Negeri 3 Malang.

Parade topeng Malangan, dokumentasi Bintaraloka
Parade topeng Malangan, dokumentasi Bintaraloka

Sesudah parade topeng, penonton dihibur dengan tari topeng yang dibawakan oleh Aprilia, Tiffany dan Aurora. Baju yang menyala, gerakan yang demikian lugas namun tetap luwes membuat penampilan ketiganya demikian memikat.

Tari topeng, dokumentasi Aminullah

Acara hari itu juga dimeriahkan dengan menyanyikan lagu- lagu medley dengan iringan gitar dan sape artis SMP 3 Malang yaitu Bapak Vigil dan tim keroncong.

Pak Vigil dengan alat musik sape, dokumentasi Bintaraloka

Di akhir acara semua siswa dan guru melakukan senam pelajar Pancasila bersama- sama dengan dipandu Bapak Ardillah.

Sebagai catatan, dalam kegiatan ini bapak dan ibu fasilitator tetap melakukan penilaian terhadap aksi anak anak.

Fasilitator P5, dokumentasi pribadi
Fasilitator P5, dokumentasi pribadi

“Seru,” kata Elmo kelas 7.5, ketika ia diminta mengajukan kesannya tentang perayaan kali ini.

“Perayaan kali ini begitu meriah karena semua kelas terlibat di dalamnya,” ungkap Kamila (9.1) dan Dini (9.3)

Sungguh sebuah hari yang sangat mengesankan. Pagi itu, karya, gembira dan sukacita berpadu dalam indahnya budaya dan harmoni Nusantara.

Salam Bintaraloka

Giat Kemah Pramuka Blok, Latih Mental Kepramukaan pada Siswa Bintaraloka

Pada hari Jumat (21/02) telah dilaksanakan kegiatan Perjusa ( Perkemahan Jumat Sabtu) sebagai pelaksanaan  Pramuka  sistem  Blok di Bumi Pusdiklatcab Wita Raga Kota Malang. 

Perkemahan pramuka dengan sistem blok ini dilakukan untuk memenuhi jam pengganti ekstrakurikuler pramuka bagi kelas sembilan. Menurut Permendikbud nomor 63 tahun 2014, peserta didik wajib mengikuti kegiatan Pramuka dengan jumlah 36 jam dalam satu tahun.

Kegiatan yang diikuti seluruh siswa kelas sembilan ini  ini dilaksanakan mulai pukul 13.00 hari Jumat hingga sekitar pukul 14.00 keesokan harinya dengan didampingi oleh Bapak/Ibu Guru, dan dewan Galang sebagai panitia.

Menyanyikan lagu Hymne Pramuka dalam apel pembukaan, dokumentasi Naufal

Karena hujan turun tak henti-henti, apel pembukaan dilaksanakan di dalam aula dengan pembina apel Kak Herianto.

Dalam sambutannya Kak Herianto berpesan agar siswa melaksanakan kegiatan ini dengan gembira. Kegiatan Perkemahan Pramuka blok kali ini sangat bermanfaat untuk melatih mental, kerjasama juga disiplin para pesertanya sesuai isi Dasa Dharma Pramuka.

Sesudah pembukaan yang ditandai dengan pengalungan tanda peserta, acara dilanjutkan dengan pengarahan dan pemberian materi oleh Kak Mubin. 

Pengalungan tanda peserta, dokumentasi Naufal
Suasana pemberian materi, dokumentasi pribadi
Kak Mubin, dokumentasi pribadi

Sesudah break sejenak untuk sholat Ashar, pendirian tenda dimulai. Meski medan terasa agak berat karena hujan, dengan semangat tinggi tenda-tenda pun berdiri memenuhi lapangan Pusdiklat di sore hari itu.

Mendirikan tenda, dokumentasi pribadi
Pendirian tenda, dokumentasi Naufal
Semangat walau hari hujan, dokumentasi Naufal

Berbagai lomba diikuti siswa dalam kegiatan dua hari itu, seperti paduan suara, lomba cerdas cermat, halang rintang, mini pionering, bivak juga morse.

Giat malam hari, dokumentasi Bintaraloka

Yang menarik, di pagi hari sebelum lomba memasak siswa harus belanja di pasar tradisional terdekat yaitu pasar Madyopuro. Aha, benar-benar Pramuka mengajak siswa untuk kembali mencintai dan mengenal pasar tradisional kita.

Berbelanja di pasar tradisional , dokumentasi Bu Utin

Dalam kegiatan tersebut Bapak Teguh, Kepala SMP Negeri 3 Malang juga mengunjungi anak-anak. Beliau berharap agar kegiatan ini bisa memberikan dampak positif bagi semua peserta. Tak lupa Pak Teguh mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ini.

Kunjungan Bapak Kepala Sekolah saat lomba masak , dokumentasi Bintaraloka

Acara kemah blok ditutup dengan apel dan pengumuman juara masing masing lomba.

Salut setinggi tingginya pada panitia yang diketuai Pak Fabi, juga pendamping yang sejak jauh hari sudah melakukan berbagai persiapan sehingga acara berjalan dengan lancar dari awal hingga akhir.

Sebagian pendamping, dokumentasi Hertika

Harapannya semoga dari kegiatan ini terbentuk mental mental tangguh dari para pemuda harapan bangsa untuk kemajuan Indonesia kita tercinta.

Salam Pramuka…

Nonton Film Bersama , Sebuah Kegiatan Baru Si Ciput

Siang itu (Jumat, 21/02) tidak seperti biasanya perpustakaan SMP Negeri 3 Malang tampak begitu ramai. Sekitar dua puluh lima siswa dari kelas tujuh dan delapan siap mengikuti nobar atau nonton film bareng di perpustakaan Si Ciput.

Si Ciput adalah akronim dari Siswa Cinta Pustaka yang merupakan ikon dari perpustakaan SMP Negeri 3 Malang. Dengan ikon ini harapannya tentu siswa SMP Negeri 3 Malang cinta akan membaca.

Si Ciput , dokumentasi pribadi

 Secara berkala dalam programnya Si Ciput akan mengadakan nobar film  untuk penguatan pendidikan karakter siswa.

Sebagai salah satu sumber belajar di sekolah, perpustakaan memiliki beberapa fungsi yang sangat penting dalam mendukung kegiatan belajar siswa. Di perpustakaan siswa bisa membaca ataupun meminjam berbagai macam buku, baik untuk pembelajaran, pengetahuan ataupun fiksi.

Dalam perkembangannya, di masa sekarang perpustakaan bukan hanya berfungsi sebagai tempat membaca atau meminjam buku, namun lebih dari itu, di perpustakaan siswa bisa mengakses berbagai macam informasi baik secara daring maupun luring. Perpustakaan sekaligus bisa menjadi tempat belajar yang menyenangkan bagi siswa.

Suasana nobar, dokumentasi Putra

Pada dasarnya ada tiga fungsi utama perpustakaan yaitu:

1. Fungsi edukatif, dimana perpustakaan menyediakan sumber daya belajar yang luas dan beragam untuk mendukung kegiatan belajar dan penelitian.

2. Fungsi informasi, akses berbagai informasi yang akurat dan terkini bisa disediakan perpustakaan melalui buku, jurnal, ataupun akses digital.

3. Fungsi rekreatif, di perpustakaan bisa dilaksanakan berbagai kegiatan yang menyenangkan dalam belajar, misal membaca, bermain dan menonton film.

Film yang diputar hari itu berjudul  Turning Red, sebuah film animasi dari Disney Pixar. 

Film yang berlatar Kanada pada awal tahun 2000-an ini  bercerita tentang seorang gadis bernama Mei Lee yang berubah menjadi panda merah raksasa saat terlalu bersemangat. 

Pesan moral  dari film ini adalah agar kita bisa menerima perubahan pubertas, menemukan jati diri, belajar mengendalikan emosi, percaya diri, menemukan keseimbangan antara harapan orang tua dan keinginan diri sendiri. 

Film Turning Red, sumber gambar: Jabar Express

Film yang sangat menarik dan cocok untuk siswa SMP yang sedang masuk usia pubertas.

Siswa tampak begitu antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Bapak ibu tim perpustakaan semua terlibat dalam persiapan hingga pemutaran film ini sampai selesai.

Sesudah film selesai siswa diminta mengisi google form yang berisikan pertanyaan tentang bagaimana kesan mereka tentang film Turning Red, dan pelajaran apa yang bisa diambil dari film tersebut.

Selain dilombakan, hasil google form ini dipakai sebagai acuan untuk program program perpustakaan Si Ciput ke depannya. 

Salam Bintaraloka….😊

Larasati, Ketika Perempuan Berjuang dengan Caranya Sendiri

Novel Larasati ini saya temukan di perpustakaan beberapa hari yang lalu. Berbeda dengan tetralogi Pulau Buru yang bukunya tebal-tebal, novel Larasati ini agak tipis, kira- kira terdiri atas 177 halaman.

Buku ini diterbitkan oleh Lentera Dipantara pada tahun 2003, dan pada tahun 2018, buku ini sudah sampai pada cetakan ke-11.

Covernya menarik.  wanita cantik dengan riasan “tempo dulu” , tersenyum pada orang sekitarnya. 

Pramoedya Ananta Toer, salah satu penulis besar yang dimiliki Indonesia memiliki daya tarik tersendiri dalam karya-karyanya.

Karya Pram seringkali membahas tema-tema yang kuat dan relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia, seperti perjuangan kemerdekaan, kesetaraan sosial juga hak asasi manusia.

Daya tarik lain dari tulisan Pram adalah bahasanya yang sederhana namun sangat efektif untuk menyampaikan pesan yang kompleks.

Sumber gambar: tangkapan layar pribadi

Seperti halnya novel Larasati ini, meski tidak begitu tebal tapi banyak memberikan pesan tentang kesetaraan sosial, hak asasi manusia juga perang kemerdekaan.

Diceritakan bahwa Larasati atau terkenal dengan nama Ara adalah artis film populer yang pro republik.

Setelah setahun tinggal di Yogyakarta, ia kembali ke Jakarta naik kereta api untuk mengembangkan karier sekaligus menemui Lasmidjah ibunya.

Perjalanan Ara berakhir dengan penggeledahan oleh pasukan NICA di bawah pimpinan kolonel sekaligus produser film, Surjo Sentono. 

Di sini Ara diajak bermain film propaganda Belanda oleh Mardjohan temannya sesama artis , Surjo Sentono, dan Kolonel Drest. 

Dengan tegas Ara menolak ajakan tersebut. Tersinggung dengan penolakan Ara, Sentono meminta  Mardjohan untuk mengantar Ara berkunjung ke penjara.

Di penjara Ara menyaksikan kekejaman opsir Belanda pada tahanannya, dan sempat membuat dirinya terguncang hingga pingsan. Ara kemudian diantar pulang oleh sopir Sentono yang seorang Republiken.

Kehidupan Ara di Jakarta  terbawa suasana revolusi saat itu. Ia tidak jadi main film, namun justru ikut penyergapan truk NICA yang membuatnya menjadi tawanan Jusman, seorang mata-mata NICA dan pemain gambus berkewarganegaraan Arab.

Novel ini mengambil latar waktu suasana pasca proklamasi dimana secara de jure Indonesia sudah merdeka tapi secara de facto Belanda masih berusaha untuk tetap berkuasa di Indonesia.

Novel ini menceritakan tentang ketegasan Ara menolak segala bujuk rayu untuk mengkhianati Republik. Artis cantik yang mempunyai banyak penggemar ini mendapatkan kekuatan dalam proses perjalanannya dari Yogyakarta ke Jakarta.

Ia bertekad untuk berjuang melawan penjajah sekaligus para angkatan tua yang oportunis.

Ada banyak pertentangan dalam diri Ara terutama melihat kenyataan angkatan tua saat itu yang dalam pandangannya korup dan oportunis. Hal mana yang membuat ia bertekad bulat untuk hidup di antara para pejuang.

Dokumentasi pribadi

Hal istimewa dari novel ini adalah kemampuan Pramoedya dalam menggambarkan situasi sosial pada masa pascaproklamasi.

Bagaimana suasana di kampung saat itu, bagaimana ketika terjadi serangan NICA atau ada penggeledahan di kampung-kampung.

Ara adalah sosok yang dihidupkan Pram, yang melalui sosok itu ditunjukkan bahwa dengan caranya sendiri perempuan bisa mengambil peran dalam revolusi.

Keyakinan dan semangat dalam revolusi diwujudkan Pram lewat pribadi Ara yang berani dan tak pernah menyerah meski dihadapkan dengan berbagai macam halangan.

Kalau mati dengan berani, kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya bangsa asing bisa jajah kita (Pramoedya Ananta Toer)