Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi ketika bus kami mulai meninggalkan Hotel Pandanaran Yogyakarta.
“Bapak/Ibu, hari ini kita akan mengikuti Merapi Lava Tour. Beberapa tempat yang akan kita kunjungi adalah Museum Petilasan Mbah Maridjan, Batu Alien, Bunket Kaliadem dan terakhir off road Air Kali Kuning,” jelas pemandu kami Mbak Nia dari Nala Tour.
Bus terus melaju membelah lalu lintas Yogyakarta yang semakin ramai. Sesekali terdengar canda tawa di dalam bus, sementara lagu-lagu yang ditayangkan berganti ganti. Mulai dari Dewa 19 hingga campursari. Wah, serasa gayeng sekali.

Tak berapa lama sampailah kami di tempat yang dituju. Turun dari bus, kami langsung disambut oleh pemandu dari Merapi Lava Tour dan beberapa Jeep siap mengajak kami berkeliling di area sekitar Merapi.
Berempat kami menaiki Jeep warna merah. Tutorial naik dan turun kendaraan perang ini diberikan oleh Mas Wisnu guide kami dengan sabar.
Mas Wisnu, driver sekaligus guide kami ini banyak bercerita tentang cerita erupsi Merapi di tahun 2010. Sebagai orang Yogja asli Mas Wisnu tampak begitu memahami daerah Merapi ini.

Jeep kami melalui jalan yang naik turun dengan kecepatan yang tinggi menurut saya. Memang sepertinya di sini sensasinya. Naik kendaraan terbuka, melihat alam sekitar dan menikmati udara yang begitu segar.
Setelah perjalanan yang tidak begitu lama, Jeep kami memasuki wilayah Museum Petilasan Mbah Maridjan.
Museum Petilasan Mbah Maridjan
Museum ini berada di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Sesuai dengan namanya, tempat ini dibangun untuk mengenang Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi atas kesetiaan dan pengabdiannya dalam menjaga tradisi dan spiritualitas masyarakat setempat.
Mbah Maridjan menjadi ikon nasional setelah letusan besar Gunung Merapi pada tahun 2010. Saat itu beliau bersikeras tinggal di rumah saat terjadi erupsi hingga beliau meninggal di tempat.

Museum Petilasan Mbah Maridjan dibangun di lokasi yang berdekatan dengan rumah Mbah Maridjan, yang hancur akibat letusan Merapi.
Di Museum ini kita bisa melihat banyak barang peninggalan Mbah Maridjan yang memiliki nilai sejarah tinggi, seperti pakaian, sarung, dan peci yang biasa ia gunakan, termasuk juga replika rumah Mbah Maridjan yang hancur, serta motor tua yang menjadi kendaraannya sehari-hari.
Di sini kita juga bisa melihat dokumentasi kehidupan Mbah Maridjan sebagai juru kunci Merapi, informasi erupsi besar Gunung Merapi tahun 2010, proses evakuasi dan berbagai kerusakan serta dampak bagi masyarakat sekitarnya.
Hingga kini di sekitar museum banyak penjual makanan atau cinderamata. Salah satu kios adalah milik putri dari Mbah Maridjan.

“Mas Wisnu kenal Mbah Maridjan?” tanya saya ketika kami kembali naik Jeep untuk melanjutkan perjalanan.
“Kenal, ” jawabnya.
“Beliau baik sekali, sabar,” tambah Mas Wisnu. Tampak sekali ia sangat menghormati sosok Mbah Maridjan.
Dari Museum Mbah Maridjan perjalanan kami lanjutkan ke Bunker Kaliadem dan batu Alien.
Bunker Kaliadem

Bunker Kaliadem adalah bangunan perlindungan bawah tanah di lereng Gunung Merapi yang dibangun pada tahun 2001 .
Bunker ini dibangun oleh pemerintah kabupaten Sleman dengan fungsi sebagai tempat evakuasi darurat bagi warga dan relawan dari terjangan awan panas atau wedhus gembel Gunung Merapi.
Ketika terjadi erupsi pada tahun 2006, letusan gunung Merapi mengakibatkan aliran piroklastik atau awan panas bersuhu ekstrem menimbun seluruh bangunan bunker dan menutup pintu masuknya. Akibat nya dua orang relawan yang berlindung di dalam bunker meninggal dunia, karena suhu di dalam bunker melonjak sangat tinggi seperti oven akibat terjangan material panas.

Dari papan yang berisi informasi tentang bunker, bisa dilihat kondisi bunker sebelum erupsi, saat erupsi dan sesudah erupsi Merapi.
Dari lokasi bunker Kaliadem ini kita bisa melihat sosok Merapi yang tampak begitu indah dari jarak yang tak begitu jauh.
Batu Alien dan Off road Air Kali Kuning

Jika di Padang ada batu Malin Kundang, maka di lereng Gunung Merapi kita bisa temui Batu Alien.
Batu Alien adalah bongkahan batu vulkanik erupsi Merapi tahun 2010 yang berbentuk mirip wajah manusia.
“Yang pertama menemukan menyebut, itu wajah alien, makanya sekarang namanya wisata Batu Alien,” kata pemandu wisata saatbitu.
Diperkirakan batu Alien dan batuan lainnya di lokasi tersebut berasal dari muntahan Gunung Merapi, yang dibawa Kali Gendol. Karena posisi kali sedikit menikung, maka batu terlempar karena luapan kali tersebut.
Sesudah jelajah musium, bunker Kaliadem dan Batu Alien, kami tiba pada jelajah terakhir yaitu offroad air Kali Kuning.
Kali Kuning adalah sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi serta mengalir di bagian timur Kota Yogyakarta. Sungai tersebut tentu memiliki panjang sekitar 40 km dan mengalir melalui beberapa kapanewon di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul
Offroad Air Kali Kuning dilakukan dengan cara menaiki jeep terbuka dengan track offroad yang langsung melintasi beberapa jalur, seperti area berbatu, sungai dangkal, serta area yang berpasir.
“Siap dipakai jas hujannya Ibu-ibu,” kata Mas Wisnu mengingatkan. Bergegas kami memakai jas hujan dan tak lupa merapatkan helm.

“Pegangan yang kuat..!” kata Mas Wisnu sambil menambah kecepatan Jeep kami. Jeep meluncur menuju jalanan berbatu dan turun ke arah sungai kecil.
“Wiiih…!” air langsung muncrat naik membasahi kami para penumpang Jeep. Teriakan dan tawa langsung berderai bersama.
“Aman, Ibu-ibu?” tanya Mas Wisnu memastikan.
“Aman..!” teriak kami bersemangat
Dengan cekatan Mas Wisnu memutar mobil , kembali ke rute awal dan Jeep kembali melintasi sungai. Semakin tinggi kecepatannya semakin tinggi pula air yang muncrat di sekitar kami. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa.
Rute Jeep yang berkelok- kelok, cipratan air sungai dan jeritan para penumpang membuat pengalaman ini tak akan terlupakan.
Ketika matahari semakin tinggi, jelajah sekitar Merapipun diakhiri. Kami mengucapkan terima kasih pada Mas Wisnu yang telah begitu sabar menjadi guide kami dalam perjalanan pagi ini.
Setelah sejenak bersih diri, kamipun menuju bus untuk persiapan kembali ke Malang.
“Bu, monggo salaknya.. salaknya,” seorang ibu menawarkan dagangan salak di tangannya.
Bukan hanya sebagai gunung yang menyimpan amarah dan pernah menelan korban, Merapi adalah guru yang mengajarkan ketangguhan, tentang kehidupan yang terus berjalan di atas bekas luka, dan tentang alam yang selalu punya cara untuk mengingatkan kita akan kebesaran Yang Kuasa
“Manis?” tanya saya.
“Manis, Bu, bisa dicoba,” katanya ramah. Saya dan teman-teman masing-masing mengambil satu ikat dan segera memasukkannya ke dalam bagasi bus.
Matahari kian terik, dan bus kami perlahan meninggalkan area Merapi.
Dari kejauhan dengan latar langit yang berwarna biru terang, sosok Merapi tampak indah dan begitu perkasa.
Merapi yang luar biasa.
Bukan hanya sebagai gunung yang menyimpan amarah dan pernah menelan korban, tetapi juga sebagai guru yang mengajarkan ketangguhan, tentang kehidupan yang terus berjalan di atas bekas luka, dan tentang alam yang selalu punya cara untuk mengingatkan kita akan kebesaran Yang Kuasa.
- Merapi Lava Tour, dari Petilasan Mbah Maridjan hingga Offroad Air Kali Kuning - September 26, 2026
- Mbak Menik - September 17, 2026
- Hangatnya Omelet Pagi di Pandanaran - September 15, 2026
Keingat serunyaaa……