Hari Buku Nasional, Kehadiran Buku yang Tak Tergantikan 

Selamat ulang tahun buku.., Anggap aku kekasih atau pacarmu.., semoga panjang umur dan cetak ulang selalu… (Jokpin)

Sabtu sore itu saya diajak anak saya jalan-jalan ke Gramedia. Sudah lama sekali kami tidak ke Gramedia bersama. Kebetulan di antara semua anak saya, si nomor tiga ini punya kegemaran yang sama dengan saya. Ke toko buku, membaca-baca, dan berlama lama di dalamnya.

Suasana Gramedia langsung menyambut kami dengan aromanya yang khas. Aroma buku. Diam- diam saya tersenyum. Hmm, aroma yang sangat kami suka.

Kami terus naik, dan sampai di lantai atas eksplorasi dimulai. Mata benar benar dimanjakan dengan deretan buku yang dipajang. Mulai dari novel, cerita anak, agama,  filsafat dan yang lain. 

Hari Buku Nasional, dokumentasi pribadi

Pandangan saya langsung tertumbuk pada tulisan tentang Hari Buku Nasional dan tawaran diskon dari Gramedia. Nah, sangat menarik ini..

Tentang Hari Buku Nasional

Hari Buku Nasional diperingati setiap tanggal 17 Mei. Peringatan Harbuknas pertama dilakukan pada tahun 2002. 

Rak Gramedia, dokumentasi pribadi

Adalah Menteri Pendidikan pada Kabinet Gotong Royong saat itu Bapak Malik Fajar yang menetapkan tanggal tersebut sebagai hari Buku Nasional. Tanggal 17 Mei dipilih karena bertepatan dengan berdirinya Ipusnas tanggal 17 Mei 1980.

Hal yang membuat Malik Fajar menetapkan Hari Buku adalah karena rendahnya angka melek huruf orang Indonesia pada saat itu.

Sesuai data dari UNESCO pada tahun 2002,  angka melek huruf orang Indonesia dewasa (15 tahun ke atas) hanya 87,9 persen.

Di bawah beberapa negara tetangga seperti Thailand (92,6 persen), Malaysia (88,7 persen), dan Vietnam (90,3 persen).

Peringatan Hari Buku Nasional diharapkan bisa memberikan dorong untuk merevitalisasi industri buku nasional yang saat itu tertinggal dan mengajak masyarakat Indonesia untuk meningkatkan literasi sebagai modal dasar pembangunan negara.

Lalu bagaimana dengan peringatan hari Buku Nasional tahun 2024?

Tema Hari Buku Nasional tahun ini adalah Membaca Untuk Masa Depan. 

Ya, Hari Buku Nasional adalah momentum untuk mengingatkan kita pentingnya membaca. Melalui membaca kita dapat membuka jendela pengetahun, memperluas wawasan dan meningkatkan kreativitas 

Kehadiran Buku yang Tak Tergantikan 

Membeli buku di Gramedia, dokumentasi pribadi

Seiring berkembangnya zaman akses informasi begitu mudah kita lakukan. Media terus berkembang dan kita bisa mendapatkan berita ataupun pengetahuan baru tidak hanya dari membaca buku.

Dunia seolah dalam genggaman, apapun bisa kita akses, dan akhirnya ‘kehadiran’ buku dalam bentuk fisik mulai tergeser dengan sumber informasi dalam bentuk online.

Berbagai bukupun kini selain disajikan dalam bentuk fisik juga disajikan dalam bentuk online. Bahkan saya juga sering mengakses buku-buku lewat aplikasi tertentu .

Kehadiran platform yang menyediakan buku- buku secara online sangat bermanfaat. Utamanya bagi saya yang kadang ingin membaca lagi buku- buku lawas yang sudah tidak ada di toko buku. Seperti buku Marga T, Maria A Sardjono, S. Mara GD, V. Lestari yang dulu pernah begitu terkenal di zamannya.

Namun meski akses buku online demikian mudah, kehadiran buku dalam bentuk fisik tetap tak tergantikan. Seperti sore ini saya menemukan sebuah buku karya Mitch Albom.

Tanpa ragu buku dengan cover hijau itu saya ambil untuk segera saya beli.

Buku Mitch Albom, dokumentasi pribadi

“Kan, ibuk sudah baca?” tanya anak saya heran

“Tidak apa-apa Le, kan selama ini bacanya online, Ibuk ingin baca secara langsung ,” jawab saya.

Ya, membaca langsung dan online memang sangat berbeda menurut saya. Karenanya kehadiran buku secara fisik rasanya tidak bisa digantikan secara online.

Beberapa hal yang membuat kehadiran buku secara fisik tidak tergantikan, seperti:

1. Bisa dibaca tanpa perangkat dan juga  berulang-ulang. Kapan saja kita bisa membaca buku tanpa harus membuka gadget kita.

Kapa saja buku bisa dibaca berulang-ulang, dokumentasi pribadi

2. Kita bisa memberikan tanda pada bagian bagian yang disukai. Dalam membaca kita sering menjumpai bagian bagian yang menarik, misal karena gaya bahasanya, atau kalimat yang merupakan kunci dari sebuah teka teki dari cerita yang kita baca. 

Pada buku bagian bagian tersebut bisa kita beri tanda.

3. Bisa menjadi kenang-kenangan. Buku bisa mengingatkan kita pada sebuah peristiwa, misal kita membeli buku tersebut pas jalan-jalan dengan siapa dan di mana.

4. Bisa dijadikan hadiah untuk orang tercinta. Saat hari istimewa seperti naik kelas, kelulusan atau yang lain,  kita bisa memberikan hadiah buku.

Buku sebagai hadiah, dokumentasi pribadi

5. Bisa menjadi kebanggaan. Kadang kita merasa bangga  karena memiliki koleksi buku tertentu. Apalagi jika itu adalah karangan dari penulis favorit kita. 

Masih banyak lagi alasan yang membuat kehadiran buku secara fisik tidak tergantikan oleh buku online. Namun ada satu alasan yang menarik yaitu bau buku baru selalu memberikan rasa nyaman bagi para pecinta nya. Aha.., bagaimana pendapat pembaca?

Artikel ini telah ditayangkan di Kompasiana

Yuli Anita

Leave a Comment

Your email address will not be published.

5 views