Gempita Pameran Karya Siswa di Akhir Projek “Aku Keren dengan 4R”

Pagi itu selepas upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2022 siswa kelas tujuh bergegas menuju aula. Sesuai arahan bapak/ibu guru mereka segera duduk mengambil tempat sesuai kelas masing-masing seperti biasanya.

Aha, ada perayaan lagi di acara Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.  Pagi itu akan diadakan pameran karya siswa kelas  tujuh yang menandai berakhirnya projek tema dua yaitu “Aku Keren dengan 4R”.

Persiapan pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, Dokumentasi P.Fabi

Projek “Aku Keren dengan 4R” dilakukan dalam berbagai kegiatan yaitu pemberian materi dari narasumber, pembuatan karya dengan bimbingan ibu-ibu para pelaku UMKM kota Malang, ODL, pembuatan karya mandiri dan pameran.

Sekitar pukul 08.30 persiapan dilakukan.  Sound,  LCD dan yang tak kalah penting adalah persiapan siswa menyambut kedatangan Komite SMP Negeri 3 Malang,  juga perwakilan paguyuban orang tua siswa.

Layaknya sebuah perayaan semua dipersiapkan dengan rapi. Lagu Profil Pelajar Pancasila dan Jangan Membuang Sampah berkali-kali dinyanyikan dengan rancak dan penuh semangat.  Adanya pemandu gerak siswa yang berdiri di setiap kelas membuat suasana semakin ceria. 

Sekitar pukul sembilan acarapun dimulai. Acara diawali dengan berdoa bersama seraya berharap semoga semua berjalan lancar sesuai yang diharapkan.

Menyanyikan lagu Indonesia Raya, dokumentasi P.Fabi

Sesudah pembukaan dan doa semua yang hadir berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza dengan dirigen Ibu Hertika. Betapa hal yang mengharukan, bersama siswa menyanyikan lagu kebangsaan dengan penuh semangat dan sungguh-sungguh.

Laporan ketua projek tema dua, dokumentasi P.Fabi
Kreatif…dan bernalar kritis, dokumentasi P.Fabi

Sesudah laporan dari ketua projek tema dua yaitu Ibu Ahfi, acara dilanjutkan dengan sambutan Ibu Kepala Sekolah, dan menyanyikan lagu Profil Pelajar Pancasila serta Jangan Membuang Sampah dengan panduan Bu Ami,  Bu Novi,  Bu Dani dan Bu Triana. Beberapa orang tua siswa ikut bernyanyi sambil bertepuk tangan.

Sesudahnya acara dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan orang tua.  Dalam sambutannya  bapak perwakilan orang tua menekankan pentingnya melaksanakan 4R demi menjaga kelestarian lingkungan kita.

Sambutan perwakilan orang tua, dokumentasi P.Fabi
Sosialisasi tema tiga, dokumentasi pribadi

Sesudah sambutan orang tua acara di aula ditutup dengan berdoa, dan siswa segera diminta ke kelas masing-masing untuk persiapan pameran kelas. 

Sementara siswa menyiapkan pameran,  perwakilan paguyuban,  guru dan komite mengikuti acara sosialisasi Projek Tema Tiga dengan topik “Konser Musik Nusantara”. 

Sosialisasi dilakukan oleh Pak Fabi sebagai ketua tim Projek Tema Tiga .

Dalam paparannya Pak Fabi menjelaskan tentang apa saja yang akan dilakukan di Projek Tema Tiga,  dan tentunya mengharapkan dukungan orang tua dalam pelaksanaannya.

Sesudah sosialisasi, perwakilan paguyuban dipandu oleh dua orang siswa menuju ke kelas untuk menyaksikan pameran karya siswa.

Siswa menjawab pertanyaan Ibu Komite Sekolah, dokumentasi P.Fabi
Paguyuban orang tua menyaksikan pameran, dokumentasi P.Fabi
Ibu Kepala Sekolah menyaksikan pameran, dokumentasi P.Fabi

Sesuai dengan tema,  pameran berupa barang-barang hasil karya siswa dengan menerapkan prinsip 4R yaitu reduce,  reuse,  recycle dan replace.  Karya siswa sederhana namun menarik dan bermanfaat.  Contoh: mekuren, meja kursi keren yang dibuat dari ban bekas,  laci dari kardus,  lampu hias dari compact disc bekas,  lampu belajar dan banyak lagi.

Berbagai pertanyaan tentang produk dijawab dengan sigap oleh para penjaga stand pameran.

Kreatifitas siswa benar benar patut diacungi jempol,  baik dalam membuat karya ataupun menyelenggarakan pameran. Pameran dikemas dengan sederhana namun tetap ‘serius’. 

Penerima tamu, dokumentasi pribadi

Hal ini bisa dilihat dengan adanya meja penerima tamu,  daftar hadir,  brosur keterangan produk,  juga penjaga stand yang siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pengunjung dengan ramah.

Beberapa kelas bahkan menyediakan makanan juga permen.  Wow… 

Brosur pameran, dokumentasi pribadi

Ya, selalu ada banyak cerita di balik pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. 

Melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ternyata bisa diketahui bahwa siswa menyimpan ‘talenta’ tertentu dalam diri masing-masing. Talenta yang tentunya perlu dikembangkan lagi untuk bekal mereka di masa mendatang. 

Salam Pelajar Pancasila… 🙂

Meriahnya Peringatan Bulan Bahasa 2022 di Bintaraloka

Tentang Bulan Bahasa

Di dalam bulan Oktober terdapat sebuah peristiwa penting yaitu ikrar yang diucapkan oleh para pemuda tanggal 28 Oktober 1928 atau Sumpah Pemuda.

Pembukaan Peringatan Bulan Bahasa, dokumentasi Apple

Sumpah Pemuda menggambarkan semangat para pemuda untuk bertumpah darah yang satu tanah air Indonesia, berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia,  dan menjunjung bahasa persatuan yang satu yaitu Bahasa Indonesia. 

Dan sebagai wujud kecintaan kita pada  Bahasa dan Sastra Indonesia itu maka setiap bulan Oktober kita memperingati Bulan Bahasa.

Peringatan Bulan Bahasa di Bintaraloka

Peringatan Bulan Bahasa di Bintaraloka tahun ini diadakan hari Rabu  26 Oktober 2022 dan mengangkat tema “GEMILANG MUDA MEMBANGUN INDONESIA” .

Briefing sebelum pelaksanaan lomba, dokumentasi pribadi

Ketua panitia pelaksana Bulan Bahasa Bapak Mahmud menerangkan bahwa istilah ‘muda’ tidak merujuk hanya pada  yang berusia muda.  Siapapun yang masih punya semangat tinggi untuk mencapai kemajuan maka ia tergolong dalam kategori muda.

Peringatan pagi itu diawali dengan apel pembukaan yang dipimpin oleh Ibu Kepala Sekolah.  Mendung tebal dan kondisi lapangan yang agak basah tidak mengurangi semangat peserta apel. Setelah apel siswa menuju ke kelas dan bapak/ibu guru menerima briefing dari Pak Mahmud.

Briefing pagi sangat diperlukan karena hampir semua bapak/ibu guru menjadi juri dalam lomba bulan bahasa ini.  Ada 17 mata lomba yang disiapkan untuk memeriahkan acara Bulan Bahasa, di antaranya adalah story telling, pidato Bahasa Indonesia, speech contest, cipta puisi, musikalisasi puisi, madding, drama dan banyak lagi.

Lomba MC, dokumentasi Apple

Sekitar pukul setengah delapan para peserta menuju tempat yang ditentukan demikian juga bapak/ibu guru dewan juri.

Speech contest, dokumentasi Apple

Lomba berlangsung demikian meriah.  Semua siswa all out berusaha menyajikan tampilan terbaiknya. Beberapa lomba selesai menjelang Dhuhur namun beberapa lagi seperti broadcasting dan mading diberi batas agak panjang hingga pukul dua belas bahkan setengah dua siang.

Lomba broadcasting, dokumentasi pribadi
Lomba mading, dokumentasi pribadi
Dari arena musikalisasi puisi, dokumentasi pribadi

Sesudah lomba usai, sementara bapak/ibu guru merekap nilai untuk memutuskan pemenang, siswa berkumpul di lapangan volly guna melihat tampilan nominasi terbaik dari tiap lomba .

Konser bersama Pak Vigil, dokumentasi pribadi

Siang itu selepas azan Dhuhur matahari bersinar malu-malu, ya,  hujan yang turun sejak dini hari membuat langit tertutup awan sebagian.

Tapi yang perlu dicatat,  siang itu tidak hujan.  Hal yang sangat kami syukuri. Karena sesuai rencana,  jika tidak hujan hari Rabu siang akan diisi dengan tampilan nominasi terbaik dari beberapa nomor lomba Bulan Bahasa di lapangan .

Musikalisasi puisi, dokumentasi Apple

Siswa dan beberapa bapak ibu guru sudah bersiap di lapangan.  Alat musik sudah ditata di depan dan… action..

Tampilan siang itu diawali dengan permainan gitar Pak Vigil mengiringi siswa menyanyi bersama.  Lagu-lagu pun dialunkan.  Indonesia Tanah Air Beta,  Rayuan Pulau Kelapa,  bahkan juga Sempurna.

Siswa larut dalam suasana yang begitu menyenangkan.  Sesudahnya acara dilanjutkan dengan tampilan musikalisasi puisi,  dongeng dan juga drama.  Berkali kali penonton memberikan applaus atau tertawa atas tampilan siswa di depan yang begitu menarik,  lucu bahkan atraktif.

Ibu guru mendampingi siswa di lapangan, dokumentasi pribadi

Ya,  Bintaraloka selalu penuh cerita.  Lalu siapa saja pemenangnya? Pemenang diumumkan sesudah upacara Sumpah Pemuda 28 Oktober 2022 oleh Pak Mahmud.

Suasana di lapangan volley begitu meriah. Terlebih ketika juara lomba diumumkan satu-persatu, dan tiap pemenang mendapatkan piagam penghargaan.

Sebagian pemenang, dokumentasi Apple

Ingin tahu siapa pemenangnya? Yuk, cek di bawah ini..:)

Lomba Story Telling : 1. Revania Khuma airo (3.5.5), 2. Lili Avisa ( 3.3.5), 3. Dinar Arini (3.5.8)

Lomba Desain Batik : 1. Najwa Aqidatul (2.2.1), 2. Satria Eldin( 3.1.2), 3. Khuluqin Adhim (3.5.7)

Lomba Menulis Indah aksara Jawa : 1. Biru Prameswari(3.3.1), 2. Farzana Luthfi( 3.5.3), 3. Nayla Cahya (3.1.7)

Lomba Pidato bahasa Indonesia : 1. Jauza Udkhia(2.3.1), 2. Azka Affan ( 3.3.6), 3. Faril Ardiansyah (3.5.5)

Lomba Geguritan : 1. Atiqoh Sabrina Hasan (2.3.1), 2. Silvania Tsabitah Saffa (2.1.1), 3. Favian Ahmad 3.3.6

Lomba Musikalisasi Puisi : 1. Kelas 3.3.2, 2. Kelas 3.1.9, 3. Kelas 2.1.1

Lomba Speech Contest: 1. Dirsanala Nararya (2.1.1), 2. Yusuf Danendra (3.1.4), Sybia Ainuha ( 3.1.1)

Lomba Poster Digital: 1. Azka Haura (3.5.2), 2. Syifa Izza (2.3.1), 3. Muhammad Iqbal (2.2.1)

Lomba Cipta Makna Puisi : 1. SafiraDwi Rahmasafitri (3.3.1), 2. Saylendra Wicaksono (2.3.1), 3. Rifa AuliaYulistia (3.5.8)

Lomba MC Bahasa Indonesia: 1. Komang Ayu Wicaksaneng N.G (3.5.5), 2. Amira Rizqia ( 3.3.3), 3. Graciella Joshua Agoni ( 3.5.4)

Lomba Mendongeng: 1. Graciella Zafira (3.5.7), 2. Vina Prawira (3.3.1), 3. Chiara Dewi C.S (3.3.5)

Lomba MC Bahasa Inggrisl: 1. Imraan Fauzan Maksum (3.3.5), 2. Cynara Harsya Adinata (3.5.4), 3. Dzakirah Thalita Ramadhani ( 3.3.1)

Lomba Pentigraf : 1. Safira Damayanti (3.5.8), 2. Aneira Calya Andrianti(2.3.1), 3. Mutiara Tida Fandasari (3.5.1)

Lomba drama : 1. Kelas 3.5.1 , 2. Kelas 3.5.2, 3. Kelas 3.3.1

Lomba Broadcasting : 1. Kelas 2.3.1, 2. Kelas 3.1.8, 3. Kelas 3.5.5

Lomba Poster Manual : 1. Trah Jenitraloka Weninggalih (2.1.1), 2. Nazila Almaghfira Hakim (3.1.4), 3. Aurelia Thalita Putri (3.1.5)

Lomba Mading: 1. Kelas 3.3.6, 2. Kelas 3.5.6, 3. Kelas3.5.7

Salam Bintaraloka..!

Outdoor Learning, Sebuah Cara Asyik Melaksanakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Kamis pagi itu kota Malang sudah diguyur hujan sejak menjelang Subuh.  Titik hujan terus  turun meski tak begitu deras.  Sekitar pukul setengah tujuh kurang, di aula sudah tampak kesibukan yang nyata.  Ya,  hari itu rencananya kami akan melakukan outdoor learning ke Ecogreen Park Batu.

Persiapan sehari sebelum ODL, dokumentasi pribadi

Kegiatan outdoor learning ini adalah rangkaian dari pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang mengambil tema Aku Keren dengan 4R. Kegiatan sudah direncanakan jauh hari. Persiapan juga telah dilakukan di hari-hari sebelumnya.

Tujuan utama ODL ini  adalah agar siswa lebih peduli pada masalah sampah di sekitar juga bagaimana menerapkan 4R (Reduce, Reuse, Recycle dan Replace) dalam kehidupan sehari-hari.

Checking peserta dilakukan oleh ketua pelaksana yaitu Ibu Ahfi dengan dibantu bapak ibu guru yang lain di aula.  Sesudah checking dan presensi dari masing masing kelompok,  siswa diajak turun oleh bapak ibu guru pendamping menuju truk masing-masing.

Hari itu yang berangkat mengikuti ODL adalah 295 siswa dan 21 guru pendamping.  Semua berangkat ke Ecogreen Park dengan naik 12 truk tentara dan satu mobil sekolah. Lancarnya pelaksanaan ODL ini tak lepas dari dukungan paguyuban terhadap pelaksanaan kegiatan sekolah.

Gerimis tidak mengurangi semangat peserta untuk mengikuti ODL.  Sebelumnya peserta sudah diminta untuk membawa jas hujan,  payung  juga baju ganti untuk persiapan barangkali dibutuhkan. 

Truk kendaraan ODL, dokumentasi B. Ahfi
Siap berangkat ODL, dokumentasi pribadi

Sekitar pukul setengah delapan rombongan berangkat dari Bintaraloka.  Siswa tampak begitu bersemangat.  Bisa dipahami hampir dua tahun mereka tidak pernah melaksanakan kegiatan ODL dan kini saatnya mereka bisa bersama-sama belajar di luar sekolah.

Bersama pemandu, dokumentasi P. Fabi
Pemasangan gelang, dokumentasi P.Fabi

Sampai di Ecogreen dilakukan pengecekan kembali dan pemasangan gelang masing-masing peserta.  Gelang tersebut berfungsi sebagai tiket dan diperiksa petugas di depan pintu masuk Ecogreen Park.

Masuk area Ecogreen kami langsung disambut dengan suasana yang asri dan segar.  Kolam dengan ikannya yang berwarna-warni berenang kian kemari.  

Ecogreen Park, dokumentasi B.Yuliana
Belajar tentang unggas, dokumentasi pribadi

Peserta langsung dikenalkan dengan pemandu masing-masing.  Ada sepuluh kelompok siswa sesuai dengan jumlah kelas 7. Tiap kelompok didampingi dua guru dan satu pemandu. 

Pemandangan yang unik. Di beberapa tempat terdapat patung-patung binatang yang terbuat dari sampah elektronika.  Ada sapi dan burung onta yang terbuat dari onderdil sepeda motor atau gajah yang terbuat dari televisi -televisi bekas yang tidak terpakai.  Ada pesan tersirat bahwasanya benda yang tampak tak berguna di sekitar kita bisa bermanfaat jika kita punya kreasi dan imajinasi.

Burung onta dari onderdil bekas, dokumentasi pribadi

Oleh pemandu masing-masing kelompok diajak berkeliling dan dijelaskan tentang obyek-obyek yang didatangi.  Pemandu sangat piawai memberikan penjelasan tentang aneka unggas. Bermacam jenis burung,  bebek,  ayam semua dijelaskan pemandu.  Tentang makanannya,  cara membedakan jantan dan betina,  cara hidupnya bahkan berapa lama binatang-binatang itu mengerami telurnya.

Aksi burung nuri, dokumentasi P. Fabi
Aksi burung elang, dokumentasi P.Fabi

Belajar tentang unggas semakin asyik ketika semua diajak menonton aksi burung nuri dan burung elang.

Di samping belajar tentang berbagai jenis unggas siswa juga belajar tentang banyak hal lewat wahana-wahana yang ada di Ecogreen Park.

Tentang dunia serangga,  dunia hama,  perkembangan bumi mulai abad es hingga sekarang,  juga tentang ilmu yang lain misal fisika dan geografi. 

Belajar fisika, dokumentasi pribadi

 Tentang fisika misalnya betapa pengaturan aliran air ternyata bisa menghasilkan nada-nada tertentu jika diatur sedemikian rupa. Sekali lagi pengunjung diajak untuk berkreasi dan berimajinasi. 

Tentang geografi misalnya siswa diajak melihat simulasi tsunami,  merasakan simulator angin juga simulator gempa. 

Belajar pengolahan sampah, dokumentasi pribadi
Edukasi pengolahan sampah, dokumentasi P.Fabi
Pengolahan biogas, dokumentasi Bu Ahfi

Sampai di tempat pengolahan sampah yang menjadi tujuan utama ODL ini,  siswa mendapatkan edukasi pengolahan sampah.  Tentang jenis-jenis sampah,  juga mengolahnya menjadi barang yang berguna.  Seperti briket,  kompos,  pupuk cair atau barang kerajinan.

Dalam ODL ini siswa tetap didampingi Lembar Kegiatan sebagai laporan kegiatan siswa.

Makan siang, dokumentasi P.Fabi
Sebagian pendamping, dokumentasi pribadi
Makan siang, dokumentasi P. Fabi

Sekitar pukul 12 siang semua peserta makan bersama di foodcourt dan melaksanakan sholat dhuhur bergantian di mushola yang sudah tersedia.

Sesudah makan dan sholat siswa diajak melihat atraksi burung elang dan dilanjutkan dengan acara bebas. Ada yang mengikuti pemandu lagi,  ada pula yang melanjutkan dengan bermain air.

Berfoto bersama pemandu, dokumentasi P. Fabi
Bersama wali kelas, dokumentasi P.Fabi

Lewat kegiatan ODL ini selain belajar tentang lingkungan dan bagaimana memperlakukan lingkungan secara bijak siswa juga banyak belajar tentang berbagai karakter baik.  Seperti sungguh-sungguh,  disiplin,  setia kawan, tanggung jawab  juga integritas.

Bersama walikelas, dokumentasi P. Fabi

Sekitar pukul 14.15 siswa bersiap memasuki truk untuk kembali ke Bintaraloka.  Presensi dan cek peserta dilakukan sekali lagi untuk memastikan tidak ada peserta yang tertinggal.

Cek akhir peserta, dokumentasi pribadi

Setelah semua lengkap rombongan pun kembali ke Bintaraloka. Perjalanan ODL hari itu memberikan pelajaran berharga bagi semua peserta bahwa alam sungguh telah banyak memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia.  Sudah seharusnya kita menjaga alam ini demi kelangsungan hidup bersama. 

Perlakukan lingkungan dengan baik, dokumentasi pribadi

Jika kita memperlakukan alam dengan baik,  maka alam akan membalas dengan baik pula.  Sebaliknya jika kita tidak bijak memperlakukan alam , maka alam akan membalas dengan munculnya berbagai macam bencana.

Pesan yang jelas ditampilkan oleh karya tiga dimensi yang kami lihat di dekat pintu masuk Ecogreen Park pagi itu.

Duka dan Doa Kami Untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

Dua hari ini mendung menggayut kota Malang.  Sinar matahari tidak begitu cerah. Beberapa daerah dihiasi gerimis kecil. Alam seolah mewakili suasana hati kami yang sedang berduka.

Malang benar-benar berduka. Begitu banyak korban yang jatuh di Stadion Kanjuruhan gara-gara menonton sepak bola. Postingan teman-teman di grup wa banyak bercerita tentang korban di Stadion Kanjuruhan.  Banyak video amatir beredar berisi barisan ambulan yang membawa jenazah korban.

Kejadian yang sungguh tak pernah diduga.  Sepak bola yang biasanya menjadi hal yang menyenangkan,  hari ini ternyata menyisakan cerita yang memilukan.  Korban tragedi Kanjuruhan begitu banyak.  Hampir dua ratus nyawa melayang gara- gara sepak bola. 

Tragedi Kanjuruhan, sumber gambar: JPNN.com

Sabtu malam menjelang tragedi saya bersepeda bersama anak saya.  Tak seperti biasanya suasana jalan tak begitu ramai,  padahal sekitar Jalan Kawi dan Ijen biasanya lumayan ramai.

“Kok agak sepi ya, Le? ” tanya saya heran.

“Arema main,  Buk.., pada berangkat ke Kanjuruhan, ” jawabnya.

“Ooh…,”Saya langsung maklum.

Di sekitar tempat tinggal saya setiap ada pertandingan Arema suasana selalu menjadi agak sepi. 

Banyak yang berbondong-bondong ke Kanjuruhan,  terutama anak -anak muda.  Mereka selalu datang ke stadion dengan penuh cinta. Ya,  cinta pada club sepak bola kebanggaan kota Malang .

Para orang tua selalu memberikan izinnya, karena menonton bola adalah kesenangan bersama.

Sampai malam hari kami tidak mendengar berita apa- apa tentang pertandingan tersebut. Namun begitu terkejutnya kami ketika Minggu pagi di grup RT maupun grup sekolah sudah ramai dengan berita dan foto-foto peristiwa Kanjuruhan. Rupaya terjadi kerusuhan semalam.

Korban yang jatuh demikian banyak.  Dalam sehari jumlah korban terus merangkak naik.  Suasana terasa agak menegangkan . Apalagi ketika ada pemberitahuan dari Dinas Pendidikan bahwa masing -masing sekolah harus mendata barangkali ada siswanya yang menjadi korban peristiwa Kanjuruhan. 

Mulailah kami para wali kelas mengumumkan di grup orang tua barangkali ada yang putera puterinya menjadi korban atau belum pulang sejak semalaman. 

Alhamdulillah semua siswa selamat. Ada satu siswa yang ikut menonton,  tapi bisa sampai di rumah dengan selamat meski matanya masih pedih. 

Rasa syukur kami masih berbalut kesedihan.

Ada beberapa sekolah yang ternyata siswanya menjadi korban peristiwa tersebut. Baik SMA,  SMK maupun SMP.

Agak siang ada pengumuman dari Pak RT bahwa ada warga kampung kami yang menjadi korban peristiwa Kanjuruhan.  Yang dua orang adalah suami istri, sementara satunya anak seusia SMA.

Yang membuat kami begitu terharu adalah suami istri ini meninggalkan seorang anak yang masih kecil.  Kira- kira kelas satu atau dua SD.

Menunggu kedatangan Ibu Khofifah di rumah korban, dokumentasi Eddy

Menjelang pemakaman, Ibu Khofifah  menyempatkan mengunjungi rumah korban di daerah kami. 

Sedih sekali rasanya.  Menonton sepak bola yang selama ini adalah bagian penting dari kesenangan kami semua kini tiba-tiba menjadi sesuatu yang menyeramkan.  Korban yang berjatuhan mayoritas muda usia.  Bahkan ada pula anak kecil. 

Tahlil dan doa bersama, dokumentasi Imam

Sebagai ungkapan duka pagi ini lapangan sekolah sudah dipenuhi siswa.  Mereka duduk dengan rapi sambil membawa Qur an. Ya,  hari ini upacara bendera tiap hari Senin diganti dengan doa bersama untuk korban peristiwa Kanjuruhan. 

Sekolah yang lain juga melaksanakan kegiatan yang serupa.  Kiriman foto dari seorang teman menunjukkan kegiatan doa bersama dan sholat ghoib untuk para korban Kanjuruhan.

Lantunan surah Yasin dan tahlil membuat kami semakin tertunduk.  Sungguh,  apalah daya manusia.  Kapan harus menghadap Sang Kuasa manusia tak pernah mengetahuinya.

Tiada yang menyangka,  mereka yang berangkat dengan riang gembira ternyata pulang tinggal nama.

Sumber gambar: tangkapan layar pribadi

Hari ini betapa banyak orang tua atau anak yang menangis karena kehilangan orang-orang tercinta.

Siapa yang harus bertanggung jawab kiranya biar yang berwenang mengusut masalah ini sampai tuntas. 

Tidak ada pertandingan sepak bola yang setara dengan nyawa manusia. Yang pergi tak akan kembali.  Kini yang tersisa adalah rasa takut dari keluarga untuk mengizinkan anak atau orang tuanya menuju ke stadion hanya untuk sekedar melihat pertandingan sepak bola. 

Ya, sepak bola kali ini menyisakan trauma, kesedihan juga air mata.

Memorabilia, Karena Ada Ribuan Kenangan di Masa Kecil

Malam itu saya berkesempatan melihat pameran yang diadakan di UM gedung B1.  Pameran bertajuk Posko Memori ini  diadakan oleh program studi Desain Komunikasi Visual ini diikuti oleh mahasiswa dan umum. 

Posko Memori, dokumentasi pribadi panitia

Suasana tidak begitu ramai namun menyenangkan. Mungkin karena durasi pameran yang  dua hari membuat yang datang silih berganti sehingga tidak sampai terjadi kerumunan.  Hal yang patut diapresiasi.  Dengan pengunjung yang tak terlalu padat kami bisa berlama lama menikmati karya yang disajikan dan sesekali bertanya pada yang stand by di sana.

Ada sekitar 80 karya yang disajikan dalam berbagai tehnik.  Kreatifitas peserta pameran dalam hal ini benar-benar patut diacungi jempol. Ada yang berupa kolase,  digital,  sketsa tangan ataupu karya permainan yang mengingatkan kita pada masa kecil.

Kembali ke masa lalu, dokumentasi pribadi

Terlempar ke masa lalu.  Itu yang sangat terasa tatkala kami menikmati karya itu satu persatu.  Tema Memorabilia yang diusung benar benar sukses membawa para penikmatnya berkelana kembali ke masa kecil.

Banyak hal yang diangkat oleh mahasiswa tentang masa kecil dalam karya mereka.  Pada umumnya gambaran tentang masa kecil yang bisa dilihat dari karya- karya yang ditampilkan adalah keceriaan,  petualangan dan kenangan bersama orang tercinta.

Tentang indahnya kenangan masa kecil bisa tampak pada karya Back To The Past  yang mengungkapkan bahwa masa kecil merupakan masa masa yang begitu menarik untuk diingat dan diceritakan kembali. Menceritakannya kembali membuat kita sejenak melupakan segala masalah yang timbul di masa dewasa., atau juga karya berjudul The Mirror  yang menceritakan orang gadis berumur 20 tahun yang menemukan cermin ajaib dan mempertemukannya dengan dirinya saat kecil. Bayangan itu lalu tersenyum dan melambaikan tangannya.

The Mirror, dokumentasi pribadi

Masa kecil adalah masa penuh petualangan.  Lewat bermain mereka juga belajar, seperti diungkapkan dalam karya Let’s We See the World : Dunia anak yang penuh petualangan dan rasa ingin tahu, atau Dream Big : Dunia anak selalu menyimpan impian-impian besar. Seperti jadi astronaut misalnya.

Let’s We See the World, dokumentasi pribadi

Petualangan dan permainan adalah hal yang sangat akrab dengan masa kecil. Seperti terungkap pada karya Di Kala Minggu Pagi. Karya yang bercerita tentang  pandangan anak berusia 8 tahun tentang koran di hari Minggu. Saat itu di mana yang lain sibuk membaca koran Minggu si anak kecil juga ikut sibuk. Ya, sibuk melihat koran. Melihat teka teki silang yang tak mungkin dimenangkannya.

Karena jiwa petualangan mereka yang begitu tinggi tak jarang orang tua memberikan banyak larangan.  Namun dalam memberikan larangan orang tua harus berhati-hati karena dari apa yang dilihat, anak kecil akan mengerjakan. 

What They See, They Do It, dokumentasi pribadi

Hal tersebut diungkapkan dalam karya What They See, They Do It : Anak adalah peniru ulung, apa yang diklakukan orang tua akan terekam dalam memori dan ditiru oleh anak.

Dalam pameran ini juga diungkapkan berbagai macam permainan, jajanan kenangan ataupun kartun yang disukai di masa kecil.

Let’s Play, dokumentasi pribadi

Tentang gembiranya bermain di masa kecil terungkap pada karya Let’s Play , di dalamnya ada  anak kecil bermain engklek dengan wajah ceria. Keceriaannya dilambangkan dengan nuansa warna-warni.

Yang tak kalah menarik adalah Wake Up . Karya ini  mengambil tema Jaran Kepang Jathilan. Berkisah tentang mainan jaran kepang di masa kecil.  Karya ini berusaha mengemas budaya lokal dengan gaya komik Jejepangan

Wake Up, dokumentasi pribadi

Tentang hal yang berkaitan dengan masa kecil ada hal yang sangat menarik yaitu  mainan yang biasanya ada di bagian depan krinyo atau pensil warna-warni.  Jika plastik penutup digerakkan maka gambar harimau akan ikut bergerak. Jadi kesannya harimau sedang berlari.

Kucing Oranye, dokumentasi pribadi

Ada juga permainan ular tangga.  Ah,  permainan yang sangat akrab dengan anak-anak.  Hanya saja pada pameran ini ular diganti sulur sementara tangga diganti bunga. 

Pernak pernik masa kecil terungkap pada karya Launch the Memory, yang mengambil gambar  permen berbentuk kaki atau  hot hot pop.  Juga karya Our Treasure di mana setiap anak mempunyai harta karun, bisa mainan, surat, foto maupun ingatan dengan orang yang sangat berarti , seperti halnya juga gambar perangko kartun anak, ada Doraemon, Sin chan, Chibi Maruko Chan, Power Puff Girl dan yang lain.

Our Treasure, dokumentasi pribadi

Kenangan bersama orang tercinta juga diungkapkan dengan indah seperti karya Comboran  yang bercerita di masa kecil ketika diajak ayah berjalan-jalan di Comboran. Melihat cincin berlama-lama dan makan es tape, juga yang tak kalah menarik adalah Peaceful days Back in the past ,  tatkala kita sering minta digendong dan di gendong di punggung adalah sesuatu yang sangat membahagiakan karena kita bisa melihat banyak segala sesuatu yang sebelumnya tak bisa kita lihat.

Comboran, dokumentasi pribadi

Berbagai serpihan kenangan akhirnya akan membentuk cerita hidup yang berwarna-warni sepeti tertuang dalam karya Journey.

Sebenarnya masih banyak karya karya yang lain.  Kreatifitas peserta benar benar patut diacungi jempol. Caption yang ditampilkan seolah memberi nyawa bagi karya yang disajikan.

Ya,  karya-karya yang dipamerkan Memorabilia sukses membawa pengamatnya sejenak bernostalgia mengingat masa lalu yang penuh kenangan .

Time Flies but Memories Don’t, dokumentasi pribadi

Waktu bisa berlalu, namun kenangan akan tetap abadi seiring berjalannya sang waktu. Time Flies but Memories Don’t.