Categories
Cerita

Sebuah Cerita Tentang Hujan

Hujan adalah titik-titik air yang jatuh dari langit, sering membuat genangan, kadang juga kenangan..(quotes hujan)

Sore itu langit begitu gelap. Bel pulang sudah berbunyi, tapi itu adalah tanda pulang bagi siswa. Guru baru bisa pulang 30 menit kemudian.

Suasana sekolah semakin sepi. Siswa sudah pulang dengan jalan kaki atau dijemput orang tua masing-masing. 

Dan…satu gelegar guruh tiba- tiba datang dengan diikuti oleh turunnya hujan dari langit. 

Dari gelapnya langit dan guruh yang bersahut-sahutan bisa ditebak, hujan pasti akan deras. 

Hawa terasa agak segar. Hujan adalah rahmat. Kedatangannya begitu dinanti-nanti di kisaran bulan Oktober kemarin. Bulan yang seharusnya sudah dipenuhi curah hujan mamun tiba-tiba terasa begitu kering karena pengaruh El Nino yang membawa kekeringan di sana sini.

“Tidak ingin nulis tentang hujan?” tanya teman saya. Saya tertawa, karena siapa tidak tergoda oleh datangnya titik air yang datangnya selalu beramai-ramai ini?

Dalam berbagai pandangan ada bermacam-macam pelajaran yang bisa diambil dari hujan. Di antaranya adalah:

Hujan, dokumentasi pribadi

1. Hujan adalah kehidupan. Ya, hujan  menyediakan air sebagai sumber kehidupan untuk tumbuhan, hewan, dan manusia. Karenanya manusia harus selalu bisa melestarikan kehidupan yang ada di sekitarnya.

2. Hujan adalah harapan. Hujan yang membawa begitu banyak curahan air pada akhirnya akan menghadirkan pelangi setelah mereda. 

Hal ini memberikan gambaran pada kita bahwa dalam situasi terburuk sekalipun, selalu ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.

3.  Hujan sebagai simbol kesabaran. Dari pelajaran yang kita peroleh selama sekolah, ada proses yang panjang dari perjalanan air untuk menjadi hujan. 

Proses terjadinya hujan membutuhkan waktu dan kesabaran. 

Kiranya seperti itulah proses hidup manusia. Perlu kesabaran dan kegigihan untuk meraih apa yang diinginkannya.

 4. Hujan adalah keindahan

Hujan, dokumentasi pribadi

Ya, hujan dapat menciptakan pemandangan yang begitu indah sekaligus syahdu. Hal yang semula tampak bias saja bisa menjadi lebih indah saat hujan turin. Maknanya mari kita belajar menikmati keindahan hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita

5. Hujan adalah perubahan. Hujan bisa  mengubah lingkungan sekitar , bisa lebih baik artau lebih buruk. 

Seperti halnya hidup manusia. Perubahan senantiasa terjadi, dan kita harus siap menghadapinya. Dalam hidup ini tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri.

6. Hujan selalu membawa kenangan. Banyak quotes tentang hujan dan kenangan. Ada yang mengatakan bahwa hujan 1% diri atas air dan 99% adalah kenangan

 Atau hujan adalah titik-titik air yang turun dari langit, yang menimbulkan genangan sekaligus kenangan. Aha….

Berjalan di tengah hujan, dokumentasi Ahfi

Mengapa kenangan sering timbul saat hujan? 

Suara rintik air, udara yang sejuk, bau petrikor sering melemparkan kita kembali ke masa lalu.

Ada penelitian  yang mengatakan bahwa langit menjadi gelap saat hujan turun dan menyebabkan kulit manusia mendapatkan lebih sedikit cahaya. Akibatnya, tubuh kekurangan vitamin D yang memengaruhi level serotonin di otak. 

Serotonin adalah  hormon yang mengatur perubahan mood dan ingatan. Saat hujan turun, kadar serotonin ikut menurun sehingga mood berubah dan membuat seseorang melamun dan menjadi melankolis. 

Nah, suasana melankolis ini membuat banyak lagu yang berlatar belakang hujan yang tercipta. 

Satu lagu favorit saya  yang bercerita tentang hujan adalah Raindrops Keep Falling on My Head. Lagu ini diciptakan tahun 1969 dan dipopulerkan kembali oleh BJ Thomas tahun 2005.

Raindrops Keep Falling on My Head  menggambarkan semangat seseorang yang mengatasi masalah dan kekhawatirannya dengan menyadari bahwa kebahagiaan akan datang mendekat padanya.

Ya, disamping rasa indah, sendu, membangkitkan kenangan, hujan ternyata bisa memberikan semangat dan kekuatan. 

Kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan hidup dan menikmati hidup itu sendiri. Bukankah ada quotes yang mengatakan : Life isn’t about waiting for the storm to pass, its about learning how to dance in the rain…?

Sekedar catatan ketika terhalang pulang karena hujan.

Salam hujan-hujan….😊

Categories
Cerita

Peringatan Hari Guru Nasional, Dari Prank, Konser, Hingga Puisi dan Surat Cinta

Pagi itu suasana kelas tidak seperti biasanya. Ketika ibu guru masuk kelas tiba-tiba ada konser mini. Ada pemain gitar , saxophone juga para penyanyi dengan menyalakan senter HP sebagai penyemarak suasana. Kangen,  itu lagi yang mereka bawakan.

Konser mini, dokumentasi Buz

Sementara itu di kelas lain cerita tak kalah menarik. Setelah guru masuk, ada lagu Hymne Guru, ditambah puisi yang dibawakan dengan demikian syahdu. Suasana sempat mengharu biru.

Bagaimana di kelas lain ? Prank! Hal satu ini sempat membuat bapak ibu guru marah sungguhan, tapi suasana langsung berubah menyenangkan ketika siswa memberikan ucapan selamat hari guru.

Benar-benar hari yang penuh cerita. Penuh kejutan dan tawa bersama. Apalagi ketika siswa berfoto bersama wali kelas ataupun guru-guru pengajar mereka.

Bersama wali kelas, dokumentasi 9.2

Itu adalah gambaran betapa manisnya peringatan Hari Guru Nasional yang diadakan tanggal 27 November 2023. Seharusnya Hari Guru diperingati setiap tanggal 25 November. Tapi karena tanggal 25 November jatuh pada hari Sabtu, peringatan dilaksanakan di hari Senin.

Berfoto bersama wali kelas, dokumentasi Ahfi

Peringatan ditandai dengan pelaksanaan upacara yang dimulai sekitar pukul tujuh kurang seperempat.

Adapun petugas upacara hari ini adalah Pak Gerry sebagai pemimpin, pembawa acara Mister Sony, pembawa teks Pancasila Pak Imam, pembaca sejarah PGRI Pak Aksan , pembukaan UUD 1945 Bu Maria dan doa Ibu Utin.

Bertindak sebagai pembina upacara kali ini adalah Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang.

Bapak/Ibu guru lain bertugas sebagai tim paduan suara.

Teacher Awards, dokumentasi Bintaraloka

Upacara berjalan khidmat. Dalam sambutannya Ibu Kepala Sekolah menyampaikan perlunya terus maju untuk mewujudkan Merdeka Belajar.

Layaknya upacara hari guru, semua berjalan istimewa. Sesudah upacara dilakukan pengumuman teacher award bagi berbagai kategori untuk bapak/ibu guru. Ada guru terdisiplin, terhumble, terkreatif, terkeren, juga penghargaan Teacher of The Year.

Seru-seruan di peringatan HGN, dokumentasi pribadi

Hal yang sangat menarik adalah karena yang menjadi penilai adalah siswa sendiri melalui voting sehari sebelumnya.

Untuk tahun ini penghargaan Teacher of The Year diraih oleh Ibu Ahfi Husniah, pengajar Ilmu Pengetahuan Alam. 

Satu kotak berisi ‘surat Cinta’, dokumentasi pribadi

Hari yang sangat istimewa. 

Ada buket bunga, bunga mawar, kue, puisi, lagu bahkan surat cinta. 

Bersama Ibu Uci, dokumentasi 9.5
Bersama 2.3.1 dan 3.5.6, dokumentasi pribadi
Berfoto bersama wali kelas, dokumentasi Buz

Aih, hari yang terasa begitu manis. Mari sejenak lupakan berbagai kesibukan bahkan mungkin juga ulangan.

Akhirnya terima kasih pada anak- anak semua atas berbagai kejutan yang begitu manis. Jika kalian mengatakan para Bapak dan Ibu Guru adalah penerang dalam gulita, maka kami mengatakan kalian adalah sumber inspirasi yang tiada habisnya.

Foto bersama Mister Sony, dokumentasi pribadi
Bersama bapak/ibu guru PPG, dokumentasi Vina

Selamat Hari Guru Nasional 2023. Semoga Bapak/Ibu guru Bintaraloka senantiasa diberikan kesehatan dan kesabaran untuk mendidik para tunas bangsa dengan sepenuh rasa cinta.

Baca juga:

Categories
Cerita

Rayakan Rezeki dengan Secangkir Kopi

Kami terus berjalan sepanjang Jl Tenes. Acara peringatan Hari Guru belum lagi berakhir. Tapi hawa sudah terasa begitu gerah. 

Menunggu undian doorprize, ah, sebuah acara yang sangat menjemukan. Lagipula jika dihitung secara matematika, peluang untuk dapat hadiah kecil sekali.

Bisa dibayangkan, seandainya ada 100 hadiah yang disediakan, dan peserta apel hari ini adalah 7000 menurut Pak Kadinas, maka peluang kita mendapat hadiah adalah 100/7000 atau 1/70. 

Daripada menunggu, lebih baik cari acara lain sajalah. 

Lantas kemana acara hari ini? Ngopi of course! Energi perlu dicas kembali. 

Depan Kopi-O, dokumentasi pribadi

Beberapa sumber mengatakan kopi dapat membuat kita lebih bahagia dan produktif karena kopi dapat meningkatkan energi.

Ya, kopi memang identik dengan kafein, stimulan yang dapat meningkatkan energi seseorang.

Pada mulanya Kayutangan menjadi rencana tujuan kami, namun karena ternyata dekat Gajayana terdapat tempat ngopi, yaitu Kopi-O, akhirnya tujuan bergeser ke sana.

Nuansa kedai Kopi-O demikian nyaman. Ada yang tempat duduknya di setting berdua-dua, berempat, juga di sofa. Karena kami berenam tentunya kami pilih sofa. Biar gayeng ngobrolnya, eh…

Snack Time Kopi O, dokumentasi pribadi

Ruangan yang didominasi warna hitam dengan berbagai ornamen di sana- sini membuat suasana ‘muda’ kian terasa. Ada sebuah bagian yang berisikan alat musik. Bayangan saya mungkin di malam hari ada live music yang membuat suasana menjadi lebih gayeng.

Tak lama menunggu, pesanan kamipun datang. Kopi Nanyang kosong, lemon tea, kopi susu dan Milo. Eh, apa artinya kopi kosong? Ternyata gula dan kopinya dipisah, tapi tidak boleh terlalu jauh, karena itu bikin rindu..😅

Masih tentang pesanan, supaya jagongan lebih gayeng masih ada sepiring pisang goreng menemani kami. 

Pesanan kami, dokumentasi pribadi

Kata Mbaknya ada 20 potong pisang goreng dalam sebuah piring besar. Tidak seperti yang biasa dijumpai, kali ini pisang goreng dilengkapi susu dan keju parut. Ah, so sweet..

Begitu kopi datang diskusipun dimulai. Ya, sebuah diskusi penting tentang masa depan, masa kini dan masa lalu. Betapa kita yang berpijak di masa kini harus punya visi ke masa depan dengan cermin peristiwa masa lalu. Aha.. melip dikit ….

Tak terasa Azan Dhuhur berkumandang. Sebuah pengingat bahwa diskusi harus segera diakhiri. Pekerjaan rumah di akhir pekan sudah menanti. 

Berfoto di lobby, dokumentasi Ahfi

Setelah berfoto sebentar di lobby, kamipun beranjak pergi. Terima kasih atas rezeki hari ini. Bahagia adalah rezeki, bertemu teman dan ngobrol adalah rezeki. Dan kata Joko Pinurbo sastrawan kondang itu, “Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.”

Selamat berakhir pekan…😉

Categories
Cerita

Klepon, Si Kaget Nyemprot yang Kaya Filosofi

Klepon. Sebuah nama yang singkat tapi menimbulkan sensasi tertentu bagi para penggemarnya. 

 Mendengar kata klepon akan terbayang kue berbentuk bulat kenyal yang berwarna hijau dengan taburan kelapa di atasnya. Tak ketinggalan ada gula merah yang ada di dalamnya, sehingga saat masuk mulut, dengan manisnya kue ini akan menyemprot lidah kita. So sweet.

Karena perilakunya yang seperti itulah beberapa menamakan kue ini kue kaget nyemprot. He.. .he.. tidak salah juga sih..

Tidak hanya di Indonesia, Belanda juga mengenal kue klepon ini. 

Dalam buku Indisch leven in Nederland karya J. M. Meulenhoff, diperoleh informasi bahwa klepon sudah ada di Belanda sejak tahun 1950 an. Konon yang membawa kuliner ini ke Belanda adalah seorang imigran asal Pasuruan, Jawa Timur.

Klepon, sumber gambar: Genpi

Kue klepon dibuat dari tepung beras dan tepung ketan yang dicampur dengan daun suji dan air, diuleni lalu dibentuk bulat-bulat. Di bagian dalamnya dimasuki gula merah yang akan lumer ketika bulatan adonan tadi direbus dalam air panas.

Menyajikan klepon cukup taburi dengan parutan kelapa dan letakkan di piring saji.

Sambil duduk santai , ngobrol bersama sahabat atau keluarga kiranya klepon adalah hidangan yang patut direkomendasikan.

Klepon pelangi, Sumber gambar: Cookpad

Dalam perkembangannya klepon tidak hanya berwarna hijau, tapi juga memakai warna lain. Bahkan ada juga klepon pelangi. Cantik sekali..

Tahukah pembaca bahwa selain cantik dan lezat, ternyata ada filosofi manis yang terkandung dalam hidangan ini?

Dibalik adonan klepon yang sepertinya tidak ada rasanya tersimpan manis yang luar biasa. Maknanya jangan menilai orang dari penampilan luarnya. Bisa jadi penampilan yang biasa biasa saja ternyata menyimpan keistimewaan yang luar biasa.

Hidangan klepon kurang lengkap tanpa adanya taburan kelapa. Taburan kelapa membuat klepon teras makin sedap.

Perjuangan untuk mendapatkan daging kelapa, sumber gambar: InfoPublik

Ini bermakna bahwa segala sesuatu perlu perjuangan untuk meraihnya. Bukankah sebelum dihidangkan kelapa harus diambil dari batoknya, dikupas lalu diparut? Perlu perjuangan untuk mendapatkan taburan kelapa penyedap klepon.

Hmm, tidak hanya lezat. Dibalik kenyal dan manisnya klepon ternyata ada filosofi baik di dalamnya. 

Jadi, tunggu apa lagi.. yuk, mari menikmati klepon bersama secangkir kopi agar hangat terasa di  hati… 

Categories
Cerita

Antara Saya dan Kompasiana

Perkenalan saya dengan Kompasiana terjadi  tiga tahun yang lalu. Tepatnya Oktober 2020, ketika pandemi sedang merajalela di negeri ini. 

Semua berawal dari anjuran anak saya yang juga menggeluti dunia kepenulisan. Anak saya membuatkan akun Kompasiana ketika tahu saya punya banyak tulisan di blog.

“Daripada dibaca sendiri, ‘kan lebih baik kalau yang baca banyak, Buk?” katanya saat itu. Saya menurut saja. Lagipula senang juga jika tulisan saya dibaca oleh banyak orang.

Apa yang saya peroleh dari Kompasiana setelah tiga tahun bergabung? Banyak. Yang paling bisa dirasakan, kepercayaan diri dalam menulis semakin tinggi.

Semula saya agak ragu apakah tulisan saya bisa dinikmati pembaca atau tidak. Tapi komentar dan apresiasi teman- teman sungguh meningkatkan semangat dan rasa percaya dalam diri saya untuk terus menulis.

 Hingga tahun ketiga ini, hampir 500 tulisan yang sudah saya buat. Kalau dihitung rata rata satu tulisan tiap dua hari. Bagi saya cukup lumayan, meski banyak teman yang jauh lebih produktif daripada saya.

Bersama Kompasianer Mbak Naz, dokumentasi pribadi

Tulisan yang saya buat banyak berkisar tentang dunia sekolah. Ya, saya menulis apa yang saya lihat. Di samping untuk bercerita,  saya juga ingin memberi inspirasi pada siswa saya bahwa menulis adalah dunia yang mengasyikkan. 

Hal lain yang saya dapatkan dari Kompasiana adalah banyak teman. Bergabung di grup KPB, Kompasianer Pendidik juga Pulpen membuat kami bisa saling bertegur sapa. 

Saya merasa mempunyai banyak saudara dari Sabang sampai Merauke, bahkan sampai manca negara.

Saling menyapa, menunjukkan foto makanan pas sarapan atau makan siang, membuat pertemanan kami terasa demikian akrab. Ya, betapa banyak keunikan di daerah kami masing-masing. 

Lewat grup whatsapp, biasanya kami juga bertukar tips atau hal hal penting lainnya.

Pertemanan bahkan bisa berlanjut sampai copy darat juga.

Copy darat pernah saya lakukan dengan Mbak Naz dan Bu Yayuk. 

Dengan Mbak Naz kami pernah ketemuan di Matos (Malang Town Square). Ketika itu Mbak Naz mengantar putrinya mencari tempat kost di daerah Malang karena putrinya diterima di Universitas Negeri Malang.

Dengan Bu Yayuk bahkan kami pernah menikmati Mie Bakar Celaket bersama. Gara- gara Kompasiana kami sadar bahwa kami sebenarnya tetangga dekat sekali.

Sekolah Bu Yayuk di SMP Cor Jesu dan saya di SMP Negeri 3 Malang. Hanya sepuluh menit jalan kaki. 

Bersama Bu Yayuk saya pernah diajak berjalan-jalan menjelajah SMP Cor Jesu yang ternyata sangat mempesona.

Di dalam museum mini SMP Cor Jesu, dokumentasi pribadi

Ternyata banyak sekali benda-benda bersejarah di sana.  Waktu itu saya diajak menikmati benda benda koleksi museum mini Malang Ursulin Gallery,  seperti piano buatan Jerman sekitar tahun 1895, koleksi foto-foto lawas mengenai bangunan CorJesu sebelum dan sesudah agresi militer Belanda 21 Juli 1947. 

Bersama Kompasianer Yayuk di SMP Cor Jesu, dokumentasi pribadi

Bahkan benda-benda administrasi sekolah seperti rapor dan buku tata usaha di masa lalu tersimpan rapi dalam sebuah kotak kaca besar

Sebuah perjalanan yang menyenangkan, dan itu saya dapatkan karena berkenalan dengan Bu Yayuk lewat Kompasiana.

Lewat Kompasiana juga akhirnya saya bisa bertemu kakak kelas saya semasa SMA, penulis yang sangat produktif Pak Budi Susilo.

Ikut serta dalam berbagai event lomba adalah moment yang sangat menyenangkan. Lebih-lebih ketika menang dan mendapat hadiah. Wow… Sesuatu rasanya..

Tumbler hadiah dari event lomba KPB, dokumentasi pribadi

Ya, banyak yang saya peroleh setelah tiga tahun bergabung di Kompasiana. Saling silaturahmi , dan berbagi inspirasi dengan sesama Kompasianer, itu yang paling membahagiakan. 

Sebenarnya saya ingin sekali ikut Kompasianival sebagai ajang pertemuan dengan teman teman Kompasianer. Namun sepertinya belum bisa karena di samping jauh, juga diadakan pas agenda kegiatan agak padat.

Singkatnya antara saya dan Kompasiana ada kedekatan yang sangat. Setidaknya itu menurut perasaan saya, karena beberapa teman atau siswa memanggil saya dengan sebutan Bu Kompasiana atau Bu Kompas. He..he.. padahal antara keduanya sangat berbeda.

Akhirnya menjelang ulang tahunnya yang ke 15, saya berharap semoga Kompasiana  senantiasa menjadi tempat yang menyenangkan bagi kami untuk berbagi cerita , inspirasi dan menebar kehangatan silaturahmi.

Salam Kompasiana 😊