Di Makam Bapak

Suasana TPU demikian sepi. Hari masih begitu pagi. Pohon-pohon besar yang tumbuh di sepanjang jalan menuju makam daunnya bergoyang-goyang tertiup angin. Sesekali burung- burung kecil mencerecet sambil terbang dari satu pohon ke pohon yang lain.

Berdua kami berjalan di antara makam- makam. Dekat mushola TPU langkah kami berhenti. Kami memandang ke sana kemari dengan lebih teliti.

“Seingatku di daerah sini, Mas,” kataku sambil terus memeriksa nisan-nisan di sekitarku. Mas diam. Matanya tetap  memperhatikan sekitarnya lebih seksama.

“Iya.., aku juga ingat tak jauh dari mushola ini.. ,” jawab Mas kemudian.  Rasa penasaran terus membuatnya mencari-cari seperti halnya aku.  Membaca nama demi nama dari nisan-nisan tersebut.

“Masa hilang?” kataku resah.
Mas mendesah. Ada kesedihan tergambar di wajahnya. Hari ini seperti tahun- tahun terakhir ini  kami gagal menemukan makam bapak.

Bapak meninggal di akhir tahun 90 an. Cukup lama. Saat itu aku dan Mas kira-kira di awal usia dua puluhan.

Jarak usia yang tak terpaut jauh membuat kami begitu akrab. Kemana-mana bersama, sering juga bersama bapak.

Tapi itu dulu. Sejak bapak meninggal dan kami berumah tangga semua tiba-tiba berubah.

Aku tinggal di Malang bersama ibuk sementara Mas merantau dan akhirnya tinggal dengan keluarganya di luar kota.

Komunikasi jarang kami lakukan. Ya, kami sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Merintis keluarga dari nol bukan hal yang mudah dan itu membuat kami konsentrasi dengan kehidupan kami masing-masing.

Akan halnya ibuk, beliau menyusul bapak beberapa tahun kemudian. Ya, kondisi kesehatan ibuk terus menurun sejak kepergian bapak.

Kepergian bapak dan ibuk membuat kami makin jarang bertemu. Bahkan lebaran pun kadang kami tak saling berkunjung. Saat lebaran Mas berkumpul dengan keluarga besar istrinya, demikian juga aku.

Berkunjung ke makam hanya kami lakukan menjelang puasa dan lebaran. Meski sesudah sholat kami selalu mendoakan   ibuk  dan bapak.

Sejak kepergian ibuk kami tak pernah mengunjungi makam bersama-sama. Sungguh, berbagai kesibukan membuat kami menyepelekan kebersamaan di antara kami. Padahal kebersamaan itu dulu selalu mengisi hari kami.

Ketika tiba-tiba makam bapak tak ditemukan sekitar empat tahun yang lalu,  kami mulai saling menyalahkan. Kami memang belum memasang kijing untuk makam bapak.

Sumber gambar: suara.com

“Kamu kan yang di Malang? Kok bisa hilang?”
“Kalau jarang diziarahi ya nanti dipakai orang lain..,”kata Mas saat itu.
“Lha Mas kan juga anak bapak? Kenapa Mas jarang ziarah?” balasku tak mau kalah. Sungguh, rasa penyesalan dan amarah membuat aku merasa ‘tak terima’ saat itu.

Sejak saat itu komunikasi di antara kami semakin jarang. Ketika ziarah ke makam ibuk, Mas biasanya tidak berkabar padaku. Demikian juga aku. Tak pernah sekalipun menyinggung masalah makam bapak atau ibuk. Biarlah ziarah menjadi urusan kami sendiri-sendiri.

Namun tahun ini beda. Usia yang semakin bertambah mungkin membuat kami lebih bijak untuk menerima dan memaafkan segala kekurangan kami.

Menjelang Ramadhan tahun ini tiba-tiba  Mas datang ke Malang dan mengajakku ziarah ke makam ibuk dan bapak. Dan itu yang membawa kami berdua ke TPU pagi ini.

Makam ibuk lebih mudah dicari karena lokasinya dekat dengan makam keluarga yang lain. Makam bapak yang agak jauh. Dan celakanya ‘hilang’ pula.

Kenyataan yang menyedihkan. Makam bapak sendiri sampai hilang!.
Anak macam apa kami ini, sesalku.

Lelah mencari kamipun berhenti. Dalam jarak antara beberapa nisan kami duduk terpekur dalam diam.

Doa-doa mulai kami langitkan. Meski makam bapak tak ditemukan bukankah Allah maha mendengar semua doa?

Selesai berdoa mataku mulai membasah. Rasa sesal kembali menelusup dalam hati.

Sungguh rasa berdosa ini selalu muncul  sejak makam bapak tak ditemukan.

Sumber gambar: Hi tekno.com

Bapak, maafkan kami.. betapa  kami tak bisa hanya  sekedar untuk  merawat makam bapak.

Diam-diam kuamati Mas yang masih khusyuk dalam doanya.
Mas tampak semakin tua. Guratan-guratan  usia mulai menghiasi wajahnya. Beberapa rambut putih mulai bermunculan tak ubahnya diriku.

Ketika Mas mengusap wajahnya sebagai tanda selesai berdoa, aku segera berdiri  untuk segera meninggalkan makam.

Tapi entah mengapa seakan ada yang menahan langkah kakiku. Seperti ada yang mencegahku meninggalkan area pemakaman.

“Jangan pulang dulu.., cari lagi..,” bisik hatiku.

Kembali kuamati nisan di sekitarku satu persatu.
“Ayo.. ,” kata Mas yang sudah menungguku.
“Sek.. tunggu..,” kataku pada Mas.

Mataku tiba-tiba berhenti pada nisan tak bernama tidak jauh dari tempatku berdiri. Segera kuhampiri nisan itu. Rupanya tertutup lumut yang lama sudah mengering.

“Kenapa?” tanya Mas heran.
“Jangan-jangan ini Mas?” kataku sambil membersihkan nisan itu. Mas segera mendekat sambil  membawa potongan batu kecil untuk membantuku. Dan .. tiba tiba sebuah tulisan muncul di situ. Nama bapak!

“Ini kan tulisanku, Dik,” kata Mas gembira. Dengan gerakan yang lebih cepat nisan kami bersihkan. Ada nama, lahir dan wafat bapak di situ. 

Kami saling berpandangan. Rasa haru dan syukur berpadu jadi satu. Melihat tulisan itu tiba-tiba aku ingat saat meninggalnya bapak. Ketika itu Mas membuat tulisan itu sementara aku memegang kaleng cat kecil di sebelahnya. Bagaimana warna hatiku saat itu, sungguh aku masih bisa membayangkannya.

Kami kembali berdoa. Kini benar- benar di depan makam bapak. Lama.

Ketika matahari semakin naik kamipun meninggalkan TPU. Berbeda dengan tadi, suasana tak begitu sepi. Beberapa pengunjung TPU mulai berdatangan.

Berdua kami menuju pintu keluar.
Mas merangkul pundakku seperti dulu. Hatiku begitu hangat sekaligus terharu. Betapa kebersamaan diantara kami sangat terabaikan selama ini.

Bagaimana Meraih Derajat Taqwa di Bulan Ramadhan

Tak terasa kita sudah tiba di Ramadhan hari keempat. Bulan yang begitu istimewa. Bulan dimana kaum muslimin diperintah Allah untuk melakukan puasa dan memperbanyak amal ibadah lainnya.

Perintah puasa Ramadhan terdapat dalam firman Allah surat Al Baqarah ayat 183 yang berbunyi :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

Meski perintah untuk melaksanakan puasa Ramadhan baru turun pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah, sebelumnya Nabi dan para sahabat telah mengerjakan puasa. Puasa yang dilaksanakan Nabi dan para sahabat adalah puasa setiap bulan selama tiga hari, yakni pada tanggal 13, 14, dan 15, juga puasa setiap tanggal 10 bulan Asyura (Muharam).

Ilustrasi puasa, sumber gambar: Halodoc

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa tujuan puasa adalah agar manusia bisa mencapai derajat taqwa. Namun betapa banyak manusia yang tidak mencapai derajat takwa tersebut. Mereka tidak mendapatkan pahala puasa dan hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja.

Seperti sabda Rasulullah saw : Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya tersebut, kecuali hanya rasa lapar dan dahaga saja (Hadis riwayat Ath-Thabrani).

Karenanya penting bagi kita melaksanakan berbagai amalan dan menjauhkan diri dari berbagai godaan. Apalagi mengingat di era digital ini ‘gangguan’ terhadap puasa demikian besarnya.

Berbagai amalan yang perlu diperbanyak di bulan Ramadhan agar kita bisa mencapai derajat taqwa adalah:

Satu : Banyak bersedekah

Ilustrasi bersedekah, Sumber gambar: detik.com

Ramadhan adalah bulan sedekah. Rasulullah mengatakan bahwa sebaik baik sedekah adalah yang dikeluarkan di bulan Ramadhan. Ya, pada bulan Ramadhan pahala sedekah akan dilipat gandakan

Dua : Banyak membaca Al Qur an

Perbanyak membaca Al Quran, sumber gambar: orami

Ramadhan adalah bulan dimana diturunkannya Al Qur an. Karenanya kita sangat dianjurkan mengisi bulan Ramadhan ini dengan banyak tilawah Al Qur’an. Lebih lebih Al Qur’an bisa memberikan syafaat pada kita di yaumul Qiyamah kelak.

Seperti sabda Rasulullah saw:
“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya.” (Imam Muslim, Shahih Muslim)

Tiga : Melaksanakan sholat malam atau sholat tarawih.

Sholat tarawih, sumber gambar : Kompas.com

Jika kita melaksanakan sholat tarawih karena Allah dan mengharapkan pahala dari Nya, maka Allah akan mengampuni semua dosa-dosa kita yang telah lalu.

Rasulullah bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa melakukan ibadah puasa Ramadan karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Empat : I’tikaf

I’tikaf, sumber gambar: Mantra Sukabumi
Itikaf adalah kegiatan berdiam diri di masjid dan melakukan amalan lainnya di dalam masjid seperti tadarus Al-Qur’an hingga qiyamulail shalat malam.
 
Sebenarnya i’tikaf bisa dilakukan kapan saja, tapi di bulan Ramadhan sangat dianjurkan.
 
I’tikaf utamanya dilaksanakan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana hadits berikut ini:
عن عائشة رضي الله عنها زوج النبي صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله ثم اعتكف أزواجه من بعده

Artinya, “Dari Aisyah RA, istri Nabi Muhammad SAW bahwa Nabi Muhammad SAW beritikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian para istrinya mengikuti itikaf pada waktu tersebut setelah wafatnya beliau.”

Umat Islam dianjurkan melaksanakan i’tikaf karena di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan tersebut diturunkan malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu malam Lailatul Qodar

Akhirnya semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan pada kita agar bisa melaksanakan berbagai amalan Ramadhan sehingga bisa mengangkat derajat kita menjadi manusia yang bertaqwa.

Referensi:

https://jabar.nu.or.id/ubudiyah/i-tikaf-sejarah-dan-waktu-pelaksanaan-yang-dianjurkan-nabi-muhammad-saw-ARyi5

Nu online

Kalbu hari ke 3

Jalan-jalan Sekitar Kajoetangan Sehari Jelang Ramadhan

Suasana jalan tidak begitu ramai pagi itu. Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh. Berempat kami naik sepeda motor berputar-putar sekitar kota Malang.

Sehari menjelang Ramadhan adik dan keluarganya datang ke Malang. Di samping ada agenda mengunjungi teman -temannya, yang tak kalah penting adalah nyekar ke makam ibuk dan bapak.

Kami berboncengan dua dua. Jalan Kawi yang biasanya dipadati kendaraan tampak sepi. Sepeda motor kami melaju bebas, dan Kajoetangan menjadi tujuan utamanya.

Kawasan Kajoetangan, sumber gambar : Terrakota

Di dekat jembatan penyeberangan Kajoetangan sepeda motor kami parkir, dan kami berjalan sepanjang trotoar.

Lama sekali tidak merasakan hawa Kajoetangan bersama adik. Padahal Kajoetangan menyimpan ribuan kenangan bagi kami.

Kami pernah tinggal di daerah Kajoetangan sekitar tahun 1990 selama dua tahun. Jadi daerah daerah kampung Kajoetangan juga toko-toko yang berderet di sepanjang Kajoetangan terasa begitu akrab bagi kami.

Tentunya banyak yang berubah. Seperti Rajabally yang dulu menjadi ikon Kajoetangan sekarang berubah menjadi Cafe Lafayette.

Tempat berfoto yang asyik, dokumentasi pribadi

Kajoetangan semakin cantik. Dengan pembenahan di sana-sini kawasan ini menjadi tempat yang asyik untuk berfoto ria. Bahkan sering dipakai sebagai lokasi foto prewedding oleh pasangan yang akan menikah.

Berfoto di Kajoetangan, dokumentasi pribadi

Bangku-bangku dan lampu taman yang berjejer berpadu dengan kedai kopi atau tempat berjualan makanan yang ditata dengan apik membuat suasana heritage semakin terasa.

Berfoto di Kajoetangan, dokumentasi pribadi

Mengapa daerah ini dinamakan Kajoetangan?

Kawasan ini sebelumnya bernama Jl. Jend Basuki Rachmat. Dikembalikan lagi ke nama Kajoetangan sejak walikota Pak Sutiaji.

Ada empat alasan berbeda yang membuat daerah ini dinamakan Kajoetangan. Alasan tersebut adalah:

Pertama : daerah ini dinamakan Kajoetangan karena sebelum tahun 1914 terdapat petunjuk lalu lintas berbentuk telapak tangan dan terbuat dari kayu. Petunjuk tersebut berada disebelah timur pertigaan Jalan Oro-Oro Dowo dan Kajoetangan.

Penunjuk jalan yang dulunya dari kayu berbentuk tangan, sumber gambar: Malang Voice

Kedua : dinamakan Kajoetangan karena di kawasan ini banyak pohon berderet di sepanjang jalan yang menyerupai deretan tubuh manusia. Tangkai pepohonan seakan tangan yang menjulur ke arah jalan.

Ketiga: dinamakan Kajoetangan karena terdapat pohon yang menyerupai tangan di ujung jalan menuju arah Alun-Alun. Ketika itu kawasan Alun-Alun Jalan Merdeka mulai berkembang.

Keempat, menurut keterangan Oei Hiem Hwie, seorang warga asli Malang, sewaktu ia masih kecil, jalan-jalan di kawasan ini banyak ditanami pohon yang daunnya berbentuk aneh. Daun mirip telapak tangan yang mengembang.

Bahwa kayu tangan adalah nama tanaman, ternyata disebutkan di dalam buku botani ilmiah berbahasa Belanda berjudul Nieuw Plantkundig Woordenboek voor Nederlandsch Indië.

Dalam buku tersebut diterangkan bahwa tanaman “kayu tangan” memiliki nama ilmiah Euphorbia Tirucalli L.

Disebutkan pula bahwa masyarakat Jawa menamakan tanaman ini dengan kayu tangan dikarenakan ketika tanaman ini tumbuh bentuknya mirip dengan tangan.

Depan sebuah cafe, dokumentasi pribadi

Berempat kami bergantian foto di sepanjang jalan Kajoetangan. Hawa yang sejuk dan sangat bersahabat membuat jalan-jalan tak terasa melelahkan. Hanya sayang pagi itu tidak ada konser musik seperti yang kami harapkan.

Ya, Kajoetangan adalah salah satu tempat warga Malang unjuk seni. Karenanya di salah satu bagian Kajoetangan terdapat jadwal pagelaran musik di Kajoetangan.

Jadwal pagelaran musik di Kajoetangan, dokumentasi pribadi

Matahari semakin naik, ketika jam menunjukkan sekitar pukul setengah sepuluh jalan- jalan pun diakhiri.

Kami segera menuju parkiran mengambil sepeda. Lalu- lalang kendaraan mulai banyak. Kajoetangan terus berbenah. Perubahan terjadi di mana-mana. Pada kampung-kampungnya, juga toko-tokonya yang beberapa beralih usaha.

Ya, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada yang tidak berubah selain dari perubahan itu sendiri.

Salam satu jiwa….😊

Sumber bacaan :

https://www.terakota.id/asal-usul-nama-jalan-kayutangan-kota-malang/

Mencetak Generasi Cinta Ilmu Melalui Program KALBU

Marhaban yaa Ramadhan. Bulan yang penuh Rahmat. Bulan mulia dimana tersimpan banyak kebaikan di dalamnya. Bulan dimana pahala amal kebaikan dilipatgandakan.

Sungguh sebuah rahmat yang begitu besar kita bisa bertemu kembali dengan Ramadhan tahun ini. Karenanya kedatangan Ramadhan tidak boleh kita sia-siakan begitu saja. Dalam bulan Ramadhan mari kita tingkatkan ibadah dan amal kebaikan dalam keseharian kita.

Salah satu ibadah yang bisa dilakukan dalam bulan Ramadhan adalah mencari ilmu. Ya, dalam bulan Ramadhan kita harus tetap bersemangat dalam mencari ilmu. Janganlah kiranya rasa lapar dan dahaga di bulan Ramadhan menjadikan kita malas mencari ilmu.

Agama Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, dan tidak terikat oleh waktu dan tempat.

Menuntut ilmu kewajiban laki laki dan perempuan, dokumentasi pribadi

Bahwasanya kedudukan ilmu dalam Islam begitu mulia, bisa kita lihat bahwa ayat pertama  diturunkan kepada Rasulullah SAW adalah “Iqra'” yang artinya
“Bacalah,” (Q.S. Al-Alaq: 1).

Membaca di sini tidak hanya bermakna membaca buku atau sejenisnya, namun secara luas membaca berarti mempelajari segala apa yang ada di sekitar kita.

Dalam sebuah hadits  Rasulullah SAW pernah bersabda:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

Artinya: “Barangsiapa yang menginginkan urusan dunia, maka wajiblah baginya berilmu. Dan barangsiapa yang ingin urusan akhirat (selamat di akhirat) maka wajiblah ia memiliki ilmu juga. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah ia memiliki ilmu tentangnya juga,” (HR Bukhari dan Muslim).

Mengingat betapa mulianya menuntut ilmu, maka di bulan istimewa ini MGMP PAI mengadakan program kegiatan Kajian Jelang Buka (KALBU). Kegiatan ini merupakan wadah menyampaikan dan menerima ilmu.

Ustadzah Utien, salah satu pengisi KALBU, sumber gambar: tangkapan layar pribadi

Pengisi KALBU adalah guru Pendidikan Agama Islam  SMP baik Negeri maupun Swasta se Kota Malang yg tergabung dalam  MGMP PAI SMP Kota Malang.

Pelaksanaan KALBU dilaksanakan setiap sore pukul 17.25 secara live streaming YouTube. Jadi di siang hari guru PAI selalu mengingatkan para siswa untuk mengikuti KALBU di sore hari dan membuat resume.

Materi yang disajikan dalam KALBU bermacam- macam dengan judul yang sangat menarik, seperti Ramadhan Bulan Literasi, Mari Mengaji dan Mengkaji , Menempa Diri di Madrasah Ramadhan, Menghindari Permusuhan dengan Puasa Komen di Medsos, Puasa dan Semangat Anti Kekerasan, Jangan Buat Puasa Kita Prematur dan banyak lagi.

Semangat mencari ilmu, dokumentasi pribadi

Sebuah kegiatan yang sangat bermanfaat. Melalui KALBU siswa diajak membahas berbagai masalah agama dan mengaitkan dengan isu kekinian di sekitar mereka.

Harapannya semoga di bulan Ramadhan ini siswa tumbuh menjadi generasi yang mencintai ilmu, dan ke depannya mereka akan menjadi manusia yang cerdas dan berakhlak mulia.

Salam Ramadhan…:)

KALBU Episode 1

Puasa dan Kerendahan Hati

Salah satu hikmah puasa adalah mengajak manusia untuk lebih rendah hati. 
Puasa mengingatkan manusia bahwa ia bukanlah apa-apa di dunia ini. Manusia hanyalah hamba yang wajib selalu melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Rendah hati atau tawadhu adalah kebalikan dari sifat sombong.  Rendah hati adalah sikap terpuji dan sangat disukai Allah,  sebaliknya sombong adalah sikap yang sangat dibenci Allah swt.

Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS Luqman: 18)

Rendah hati selalu dicontohkan oleh nabi Muhammad saw dalam keseharian beliau.  Betapa banyak kisah yang menggambarkan kerendahan hati Sang Nabi.

Orang yang rendah hati banyak memiliki teman, sumber gambar: Kapanlagi Plus

Dalam beberapa riwayat diceritakan Rasulullah selalu menemui umatnya,  menjabat tangan mereka.  Beliau tidak melepaskan tangan sebelum orang yang diajak bersalaman tersebut melepaskan tangannya terlebih dahulu. 

Rasulullah selalu menatap wajah orang yang bercakap cakap dengan sepenuh pandangan.

Rasulullah baik terhadap anak kecil, orang tua, sahabat, juga isteri-isteri beliau.

Di rumah Rasulullah selalu mengerjakan pekerjaan apa saja yang layak dilakukan di rumah tangga.

Dari Aisyah, ia pernah ditanya apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ di rumah. Aisyah radhiallahu ‘anha menjawab, “Beliau menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sendalnya, dan mengerjakan segala apa yang (layaknya) para suami lakukan di dalam rumah.” (HR. Ahmad 23756).
Dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Apakah manfaat rendah hati bagi manusia?
Mempunyai banyak teman. Ya, orang yang rendah hati jauh lebih disukai daripada orang yang sombong.

Satu : Menjauhkan diri dari sikap takabur. Dengan kerendahan hati orang akan lebih banyak melihat kekurangan diri sendiri sehingga akan terhindar dari sikap sombong dan takabur.

Dua : Mudah menerima masukan. Orang yang rendah hati bersifat lebih terbuka terhadap masukan dari orang lain. Akibatnya orang yang rendah hati juga lebih mudah berkembang.

Tiga : Hati lebih tenteram. Dengan kerendahan hati orang lebih tenang hidupnya. Tidak gelisah dan lebih banyak bersyukur, karena ia sadar bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan Allah.

Empat : Diangkat derajatnya. Orang yang rendah hati akan diangkat derajatnya oleh Allah swt.

Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits:
” Tidaklah seorang bertawadhu yang ditunjukkan semata-mata karena Allah SWT, melainkan Allah Azza wa Jalla akan mengangkat derajatnya.” (HR Imam Muslim)

Orang yang rendah hati mudah menerima masukan

Lalu bagaimana cara kita belajar untuk bersikap rendah hati ?

Satu : Kurangi publikasi. Di zaman sekarang adalah hal yang lumrah mempublikasikan apa saja yang kita lakukan melalui medsos. Tidak setiap publikasi itu buruk. Namun kita harus pandai memilah dan memilih mana yang patut untuk dipublikasikan mana yang tidak. Publikasi yang berlebihan bisa menyeret kita ke sikap pamer.

Dua : Hidup berbaur dengan masyarakat sekitar, tidak merasa lebih tinggi dari orang lain.

Tiga : Tidak mengungkit ungkit pemberian pada orang lain. Ya, apapun yang kita berikan pada orang lain hakekatnya adalah pemberian Allah yang dilewatkan pada kita.

Empat : Tidak merendahkan orang lain meski kita punya kelebihan, karena pada hakekatnya semua manusia derajatnya sama di hadapan Allah swt. Yang membedakan adalah ketakwaannya.

Betapa banyak manfaat rendah hati. Kiranya perlu perjuangan dan terus belajar untuk selalu menerapkan rendah hati dalam keseharian kita seperti Sang Suri Tauladan Rasulullah saw.

Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang yang rendah hati, sehingga dicintai sesama manusia dan yang paling penting mendapatkan limpahan cinta dan kasih sayang Allah swt.

Salam Ramadhan.