Konsultasi Pengisian Survey IPLM ke Perpustakaan Umum Kota Malang

Pada hari Selasa (18/11) perpustakaan SMP Negeri 3 Malang mengirimkan Ibu Yuli Anita dan Ibu Eka untuk melakukan  konsultasi  pengisian survey ILPM ke Perpustakaan Umum Kota Malang.

IPLM adalah singkatan dari Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat, sebuah ukuran statistik untuk menilai sejauh mana pemerintah daerah dan masyarakat berupaya membina perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat guna menciptakan budaya literasi. 

Indeks ini mengukur berbagai aspek, seperti pemerataan layanan perpustakaan, koleksi, dan tenaga perpustakaan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui literasi. 

Pengisian IPLM, dokumentasi pribadi

Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur dan mengevaluasi upaya peningkatan literasi masyarakat, terutama melalui pengembangan perpustakaan. 

ILPM melibatkan berbagai unsur, termasuk pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota), lembaga pendidikan, organisasi masyarakat sipil, dan media massa. 

Hasil yang diperoleh dari survey ini ke depan akan dijadikan dasar penyusunan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan kualitas masyarakat melalui literasi dan akses terhadap informasi. 

Sesudah pendampingan pengisian survey dilaksanakan dengan menyertakan berbagai bukti dukung untuk keabsahan data yang dituliskan di survey.

Terima Kasihku Untukmu, Guru-guruku

Selamat Hari Guru. 

Peringatan Hari Guru selalu istimewa. Betapa tidak? Bunga dan ucapan bertebaran di mana-mana. Dengan senyum hangat siswa memberikan setangkai bunga disertai kartu ucapan dengan tulisan tangan mereka. Manis sekali.

Hal lain yang istimewa adalah kami para guru menjadi petugas upacara. Ya, tugas yang biasanya dilaksanakan siswa bergantian setiap kelas, hari itu dilaksanakan oleh para guru. 

Mulai dari komandan, ajudan, danton, pengibar bendera, membaca teks Pancasila dan UUD 1945, termasuk juga paduan suara.

Dalam upacara hari guru kali ini saya bertugas menjadi tim paduan suara bersama bapak/ibu guru yang lain.

Sebuah tugas yang sangat  menyenangkan. Terutama saat menyanyikan lagu Hymne Guru dan Terima Kasihku. Ya, kedua lagu itu selalu mengingatkan saya pada sosok-sosok guru saya. Guru-guru hebat yang membuat saya mengikuti jejak beliau semua.

Seiring berkumandangnya lagu-lagu itu, kenangan akan Bapak dan Ibu guru saya langsung terlintas satu demi satu. 

***

Ucapan dari siswa, dokumentasi pribadi

Berawal dari guru-guru SD saya. Kelas satu saya diajar oleh kepala sekolah. Bapak Chasir namanya. Biasanya guru kelas satu adalah ibu guru, tapi tidak dengan SD saya. 

Bapak Chasir mengajar dengan menggunakan Bahasa Jawa. Sebuah tongkat kecil selalu ada di tangan beliau. Kadang untuk menunjuk tulisan di papan tulis, kadang juga untuk memukul papan tulis jika kami ramai. 

Meskipun sabar, beliau sangat tegas, sehingga kelas “sirep” saat diajar beliau. Bapak Chasir mengajar kami membaca dari nol. Ya, saat itu keluar dari TK kami hanya kenal beberapa huruf, sama sekali belum bisa membaca.

Dengan telaten Pak Chasir mengajar mulai dari mengenal huruf, suku kata hingga kalimat sederhana.

Selain Bapak Chasir, semua guru SD saya yang merupakan guru kelas mempunyai keunikan masing-masing. Ibu Sur yang suka matematika, Bapak Suhud yang pintar mendongeng dan suka pelajaran sejarah, Ibu Susiana yang pintar menyanyi dan membuat kami semua hafal sebagian besar lagu-lagu Nasional, juga Ibu Sunarti yang suka Bahasa dan kerap meminta kami untuk menulis halus dan mengarang.

Setelah perayaan Hari Guru bersama siswa, dokumentasi pribadi

Masuk ke jenjang SMP, saya menghadapi guru pengajar yang semakin banyak. Ya, tidak seperti di SD, sekarang satu mapel diajar oleh satu guru. 

Guru yang meninggalkan kesan yang begitu dalam bagi saya adalah Ibu Sudarmilah.  Guru matematika sekaligus wali kelas saya yang sangat disiplin dan konsisten. 

Tugas-tugas dari Ibu Sudarmilah selalu banyak, karena menurut beliau matematika adalah latihan dan latihan. Tanpa latihan kita tidak akan pintar matematika.

Meski banyak tugas, yang saya salut semua tugas selalu diperiksa, dan dibahas, bahkan ditandatangani di akhir bab. Jadi kami benar- benar mengerjakan tugas- tugas tersebut, alias tidak berani sembrono.

Selain Ibu Sudarmilah guru Bahasa Inggris selalu membangkitkan kenangan dalam benak saya. 

Pak Siswondho guru bahasa Inggris kami yang mengajar kami lagu Edelweiss. Sebuah lagu yang membuat saya cinta pada pelajaran Bahasa Inggris. Bukan hanya karena terpikat oleh syairnya, lagu itu kesukaan bapak saya.

Masuk SMA saya mendapatkan guru matematika yang “keras” juga. Namanya Bu Hastuti. Tapi justru karena Ibu Hastuti saya akhirnya masuk kuliah di jurusan matematika, meski sebenarnya mapel yang benar-benar saya sukai adalah sejarah dan Bahasa Inggris.

Tentang Bahasa Inggris, guru saya Pak Bambang benar-benar istimewa. Pembelajarannya selalu menarik, plus pintar berimprovisasi dalam pembelajaran, misal dengan menirukan suara Pak Raden yang ada di film Si Unyil.

Satu lagu yang selalu membuat saya teringat beliau adalah The Way We were dari Barbara Streisand. Lagu ini sering beliau nyanyikan di event-event tertentu misalnya gebyar seni.

Lulus SMA saya masuk IKIP Malang jurusan Matematika, dan akhirnya menjadi guru matematika hingga sekarang.

Saat reuni SMA lintas angkatan setahun yang lalu, saya bertemu dengan Pak Bambang guru Bahasa Inggris saya. Sungguh saat yang sangat mengharukan ketika saya salim pada beliau dan beliau memanggil saya dengan akrab. 

“Yuli Anita, kamu di mana sekarang,”

“Saya di Malang, jadi guru SMP, Pak,” jawab saya senang.

“Oh ya, ngajar apa?” tanya beliau surprise.

“Matematika,” jawab saya lagi

“Kok matematika? Ha…ha..,” 

Saya ikut tertawa mendengar komentar beliau kala itu, mungkin maksudnya kok bukan Bahasa Inggris seperti beliau.

***

Bersama teman setelah menerima award, dokumentasi pribadi

Perayaan hari guru hari ini juga ditandai dengan pemberian award untuk guru-guru dengan kategori tertentu. Ada guru terdisiplin, terkreatif, terkeren, bahkan Teacher of the Year. Penentuan guru yang terpilih diambil dari hasil polling suara siswa.

Suasana demikian meriah ketika guru-guru yang mendapat award maju ke depan diiringi tepuk tangan siswa.

Kini, saya menyadari bahwa setiap kali saya berdiri di depan kelas, berinteraksi dengan siswa, ada sedikit dari Pak Chasir dalam kesabaran saya, dari Bu Sudarmilah dalam kedisiplinan saya, dan dari Pak Bambang dalam keceriaan mengajar saya. 

Mereka telah menyerahkan tongkat estafet ini tanpa saya sadari. Dan hari ini, dengan menjadi bagian dari lagu Hymne Guru, saya pun turut mengalirkan inspirasi itu untuk generasi berikutnya, menyanyikan kembali Terima Kasihku yang tak terhingga untuk para pahlawan tanpa tanda jasa dalam hidup saya.

Bukan Sekedar Makan Bersama, Pelaksanaan MBG di Bumi Bintaraloka

Senin (10/11) adalah hari pertama pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bumi Bintaraloka. Program pemerintah yang dicanangkan sejak 6 Januari 2025 ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat, yang diharapkan dapat mendorong lahirnya Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang unggul, sehat, dan cerdas.

Informasi tentang program MBG untuk Bintaraloka sudah datang kira- kira dua minggu yang lalu. Begitu mendapatkan informasi, sekolah gerak cepat dengan membentuk panitia, piket serta melakukan pendataan tentang alergi makanan dari siswa.

Pengambilan MBG di depan sekolah , dokumentasi pribadi

Panitia dan piket dibentuk karena mendistribusikan makanan pada 800 lebih siswa bukan hal yang mudah. Super sibuk pastinya, lebih-lebih makanan harus segera habis dan tempat makan (ompreng) harus segera dikembalikan.

Selain pembentukan piket dan panitia, persiapan sekolah sebelum pelaksanaan program ini adalah mengadakan sosialisasi dan pengarahan pada siswa untuk menghargai makanan yang diberikan dengan memakannya sampai habis. 

Menu MBG hari pertama , dokumentasi Bintaraloka

Jika karena terpaksa atau tidak suka dengan makanan yang diberikan, siswa boleh memberikan jatah makannya pada teman, atau jika tidak ada yang mau, makanan boleh dikembalikan dalam kondisi yang baik.

Dalam sosialisasi juga diterangkan bagaimana teknik pembagian makanan. Pada prinsipnya tiap kelas ada enam siswa yang piket secara bergantian tiap hari. Tugas regu piket adalah mengambil jatah makan yang sudah diikat lima-lima dari mobil dan membagikan ke teman- teman dalam satu kelas.

Siap membagikan MBG, dokumentasi pribadi

Sesudah makan siswa ini bertugas mengikat kembali ompreng (tempat makan) yang kosong untuk dikembalikan ke mobil MBG.

Lalu apa tugas piket guru dan panitia? Panitia MBG yang dikomandani Ibu Utin, Ibu Fathim, Ibu Ahfi, Pak Imron, Ibu Ami dan Suster Ratna ini dalam tugasnya dibantu oleh sepuluh guru yang piket secara bergantian.

Guru membantu pendistribusian MBG, dokumentasi Vigil

Tugas para guru adalah mengarahkan siswa di titik-titik tertentu, memperlancar distribusi makanan dan yang sangat penting adalah mengecek kelayakan makanan untuk dikonsumsi.

Hari pertama MBG berjalan lancar. Mungkin karena hari pertama jadi terasa begitu repot, juga terpaksa memotong jam pelajaran.

Siswa tampak begitu gembira makan bersama hari itu. Menunya nasi kuning, oseng sayuran ,bali telor, tahu bulat dan buah yang sudah diinfokan sebelumnya oleh SPPG Batik Celaket yang menanganinya.

Mengembalikan ompreng MBG, dokumentasi pribadi

“Hmm, enak..,”

“Lauknya mantap , Bu,” ungkap beberapa siswa.

Tampak beberapa siswa yang merasa jatah makannya terlalu banyak, membagikan makanannya pada temannya.

“Terima kasih sudah membantu menghabiskan,” kata siswa pada temannya.

Makan dan berbagi, dokumentasi pribadi

Makan siang bersama berakhir kira kira saat Duhur tiba. 

Di sore hari sebelum pulang dilaksanakan rapat evaluasi pelaksanaan MBG hari itu, agar MBG di hari berikutnya bisa dilaksanakan lebih baik lagi.

Benar-benar hari yang luar biasa. 

Guru membantu pendistribusian MBG pada siswa, dokumentasi Vigil

Ribet, tapi dari MBG ada banyak hal yang bisa dipelajari siswa. Tentang tanggung jawab, kepedulian, kesenangan berbagi juga selalu bersyukur atas rezeki hari ini.

Satu Kompas, Satu Tujuan, Berlayar Bersama Menuju Kepemimpinan dan Solidaritas:  LDK PMR Bintaraloka 2025

Bintaraloka selalu menggeliat dalam berbagai kesibukan. Betapa tidak? Setelah berbagai kegiatan di bulan Oktober, bulan November kali ini ditandai dengan satu kegiatan penting yaitu Latihan Dasar Kepemimpinan Palang Merah Remaja 2025 yang dilaksanakan pada hari Jumat dan Sabtu (7-8 November 2025).

Kegiatan yang diikuti oleh 36 peserta yang berasal dari kelas 7 dan 8, serta 18 panitia siswa yang berasal dari kelas 9 ini bertujuan untuk merealisasikan program kerja Palang Merah Remaja di sekolah, sekaligus membentuk karakter dan mental yang kuat pada calon anggota PMR agar menjadi pribadi yang disiplin, tangguh, dan bertanggung jawab.

Para peserta LDK PMR, dokumentasi PMR

Dalam kegiatan ini para peserta juga dilatih agar memiliki jiwa kepemimpinan, kerja sama, dan solidaritas antar anggota, serta menumbuhkan semangat kemanusiaan sesuai dengan 7 prinsip dasar Palang Merah dan Tri Bakti.

Melalui LDK yang mengambil tema “Satu Kompas, Satu Tujuan: Berlayar Bersama Menuju Kepemimpinan dan Solidaritas” ini,  para peserta akan mendapatkan berbagai pengalaman berharga dalam hal kerja sama, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama.

Pembukaan LDK oleh Ibu Hertika, dokumentasi PMR

Kegiatan LDK dibuka oleh Ibu Hertika Yusniawati , selaku wakasis SMP Negeri 3 Malang.  Dalam pelaksanaan LDK,  siswa didampingi oleh Ibu Ratna, Ibu Hertika, Bapak Ardilah dan Bapak Vigil. 

Alumni juga ikut hadir, dokumentasi PMR
Kegiatan peserta LDK, dokumentasi PMR

Acara yang juga dihadiri oleh para alumni ini berjalan lancar dari awal hingga akhir. Hal tersebut tampak pada antusiasme siswa yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh semangat. Hal yang sangat mengesankan bagi para peserta tentunya  saat bina mental di malam hari serta pada saat tes pertolongan pertama untuk mendapatkan badge+slayer.

Foto bersama, dokumentasi PMR

“Harapannya semoga adik-adik dapat menjadi anggota PMR yang disiplin, bertanggung jawab, dan kompak, saya juga berharap kekeluargaan di antara anggota dan panitia semakin kuat, serta nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan bisa terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” demikian diungkapkan Nisa, salah satu panitia acara LDK PMR ini.

Pramuka Barakuda Cempaka Bintaraloka Kembali Ukir Prestasi Gemilang

Kabar gembira kembali datang dari regu Pramuka Barakuda Cempaka, regu kebanggaan SMP Negeri 3 Malang.

Regu yang kerap menorehkan tinta emas ini berhasil mencatatkan prestasi membanggakan dengan menyabet gelar Juara 1 dalam lomba Pramuka pada ajang Langsep Challenge yang diselenggarakan oleh SMAK Santa Maria Malang.

Pramuka Bintaraloka raih juara pertama, dokumentasi Pramuka Bintaraloka

Langsep Challenge sendiri merupakan event tahunan yang bertujuan menjaring bakat-bakat unggul siswa SMP se-Jawa Timur, baik di bidang akademik maupun non-akademik.

Dengan beragam kompetisi seperti basket, futsal, dan e-sport, acara ini tidak hanya menguji skill, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sportivitas, kreativitas, dan jalinan persahabatan.

Mengusung tema ‘Beyond The Toybox’, ajang ini mendorong setiap peserta untuk berani keluar dari rutinitas dan mengeksplorasi potensi terbaik mereka.

Dalam kompetisi yang penuh semangat ini, Bintaraloka mendelegasikan 17 siswanya yang terpilih. Hasilnya, kerja keras dan dedikasi mereka selama ini terbayar lunas. Prestasi juara pertama ini membuktikan sebuah prinsip sederhana: bahwa usaha dan ketekunan yang tulus tidak pernah mengkhianati hasil.

Peserta Langsep Challenge, dokumentasi Pramuka Bintaraloka

“Pengalamannya sangat menyenangkan. Kami bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak pangkalan Pramuka lain, sekaligus bisa menampilkan yang terbaik dari hasil latihan intensif kami selama dua bulan,” ujar Izza, salah satu peserta, menceritakan kesan tak terlupakan dari ajang tersebut.

Dengan segudang semangat, Pramuka Bintaraloka berharap kemenangan ini menjadi batu loncatan untuk meraih lebih banyak prestasi di masa depan, sekaligus mengangkat nama besar Pramuka Bintaraloka di kancah yang lebih luas.

Peserta dari Bintaraloka , dokumentasi Pramuka Bintaraloka

Pembina Pramuka SMP Negeri 3 Malang, Kak Mubin, juga memberikan pesan penyemangat. “Prestasi ini adalah awal yang baik, namun jangan cepat berpuas diri. Tetaplah rendah hati, jaga solidaritas, dan teruslah menyala untuk meraih pencapaian-pencapaian berikutnya.”

Salam Pramuka!