Sebuah Cerita Tentang Sumsuman Pagi Ini

Anita Math >> Reportase >> Sebuah Cerita Tentang Sumsuman Pagi Ini

Pagi ini tiba-tiba ada pesan dalam grup whatsapp kedinasan. Isi pesan terutama yang nomor dua singkat saja, namun cukup membangkitkan semangat.

Sumber gambar : tangkapan layar pribadi

Aih, panitia memang mantap. Tahu benar kalau badan masih terasa begitu lelah karena euforia HUT Bintaraloka hari Jumat dan Sabtu kemarin.

Ya, acara HUT yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Semua warga Bintaraloka terlibat di dalamnya sehingga acara berjalan begitu meriah.

Sesudah senam bersama, pawai, apel, bazaar, juga konser tentunya badan terasa pegal semua. Harus ada ‘sesuatu’ untuk mengembalikan semangat juga menetralisir semuanya. Dan ternyata bubur sumsum salah satu jawabannya..😃

Tentang Tradisi Sumsuman dan Filosofi Bubur Sumsum

Bubur sumsum, dokumentasi pribadi

Sumsuman adalah tradisi makan bubur bersama- sama sesudah selesai mengadakan perhelatan atau semacam pesta.

Dalam acara Sumsuman semua yang hadir bersama-sama menikmati bubur yang terbuat dari tepung beras, santan dan gula merah.

Biasanya sambil makan bubur sumsum dilakukan evaluasi kegiatan yang sudah dilaksanakan. Rasa bubur sumsum yang lembut , gurih dan manis sungguh terasa sedap dimakan bersama sehingga membuat suasana terasa akrab.

Tapi tahukah pembaca ada filosofi unik di balik lezatnya bubur sumsum?

Bubur sumsum Bintaraloka, dokumentasi pribadi

Bubur berwarna putih melambangkan hati yang bersih. Kuah manis dari gula jawa melambangkan kesejahteraan karena gula banyak digunakan dalam makanan Jawa. Sedangkan tekstur bubur yang lengket merupakan simbol eratnya persaudaraan antar sesama.

Memakan bubur sumsum diharapkan bisa menghilangkan semua rasa lelah sehabis terlibat dalam sebuah perhelatan bersama.

Bubur sumsum sekaligus merupakan ucapan terimakasih dari penyelenggara acara atas bantuan dan dukungan semuanya sehingga acara bisa berjalan dengan lancar, juga harapan agar persaudaraan dan keakraban senantiasa terjalin erat.

Aih, sebuah filosofi manis. Semanis bubur sumsum pagi ini.

Yuli Anita

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Post

Halal bi Halal di Sekolah, Menabur Empati Memperkokoh Silaturahmi

Setelah satu bulan kita melaksanakan puasa Ramadhan dan dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT, maka…

Tebarkan Kasih Pada Sesama, Giat Pondok Kasih di Bumi Bintaraloka

Sebagai wujud pelaksanaan moderasi beragama di Bumi Bintaraloka, sementara siswa beragama Islam melaksanakan kegiatan Maulid…

Perjalanan ke Bali Bersama Traveloky dalam Story

Siang itu suasana Bintaraloka kembali ramai. Setelah pagi hari siswa melaksanakan ujian tulis dan pulang…