Mbak Menik

“Bothok, nasi bakar…, oseng oseng godhong kates,”

Sebuah ‘keributan’ kecil mulai mewarnai pagi di kampung kami. Teriakan Mbak Menik. Ya, dengan suaranya yang cempreng namun penuh semangat, Mbak Menik membangunkan penduduk kampung dengan menawarkan dagangannya. 

“Mbak Sri…Mbak Weni.., bothoknya.. tempe tahu teri..!” Teriakan Mbak Menik kembali membahana ketika melewati rumah hijau yang berhadapan dengan rumah bercat coklat. Rumah Mbak Weni dan Mbak Sri.

Pintu rumah hijau dibuka dan Mbak Menik dengan keranjang di tangan dan bakul di atas kepala  langsung masuk.

Tak berapa lama setelahnya Mbak Menik segera keluar. “Matur nuwun Mbak Weni,” katanya senang.

“Iya Mbak Menik, ati-ati.., laris..laris!” tambah Mbak Weni sambil mengantar sang penjual sampai ke pagar.

“Suwun..!” Teriak Mbak Menik sambil tertawa renyah.

Itulah Mbak Menik. Semangat seolah tak pernah surut dari wajahnya. Hidup sendiri di usia jelang kepala tujuh, tidak menghalangi semangatnya untuk terus bekerja.

“Saya kalau diam saja tambah sakit,” katanya ketika ditanya mengapa terus bekerja padahal Mbak Menik bukan dari keluarga yang kekurangan. Rupanya menganggur membuat ia tidak nyaman, ingat almarhum suaminya dan akhirnya membuatnya semakin nglokro (malas). 

“Mbak Menik masak piyambak?” tanya saya suatu hari.

“Oseng-oseng godhong kates masak sendiri, yang lain punya orang-orang,” katanya.

“Wah, berarti tiap hari banyak yang titip ke Mbak Menik?” tanya saya takjub. Ya, takjub dengan semangatnya untuk mengajak teman-temannya untuk bergerak memutar roda ekonomi rumah tangga.

Dagangan Mbak Menik, dokumentasi pribadi

“Leres, Mbak Ajeng,” katanya sambil menyebutkan nama-nama tetangga yang titip juga jenis masakannya.

“Luar biasa Mbak Menik,” kata saya kagum

Mbak Menik tertawa. “Halah…, saget e namung kados ngeten Lo..,” katanya merendah. Artinya  “bisanya cuma seperti ini Lo..”.

Bukan sekedar penjaja makanan, Mbak Menik kadang bisa menjadi inspirasi bagi diri saya  menghadapi hari. Pernah suatu saat saya merasa segan sekali untuk berangkat ke sekolah. Badan rasanya sakit semua, mungkin kecapekan atau juga karena mewabahnya flu seperti yang sekarang sedang ramai diperbincangkan.

Na, pagi -pagi sekitar pukul setengah enam terdengar suara Mbak Menik  kembali menawarkan dagangannya di depan rumah saya. 

“Monggo Mbak Menik,” kata saya sambil membukakan pintu. Tidak seperti biasanya, kali ini suara Mbak Menik tidak begitu ‘ngegas’.

“Urap, sambel goreng kentang, sama nasi bakar,” kata saya sambil menyodorkan sejumlah uang.

“Mbak Menik agak sakit?” tanya saya demi melihat wajahnya yang agak pucat, tidak sesegar biasanya.

Mbak Menik tersenyum sambil menjawab,”Inggih Mbak Ajeng, nggreges mulai kemarin,”

“Lha.., sama, kok tidak istirahat?” tanya saya. 

Dagangan Mbak Menik , dokumentasi pribadi

Mbak Menik tersenyum

“Mboten, lha kalau saya libur nanti dapat uang dari mana..? Lagi pula kasihan teman- teman yang sudah terlanjur masak,” katanya sambil membetulkan jaketnya yang tebal. Tampak sekali ia kurang sehat hari ini.

“Hati-hati Mbak Menik,” kata saya di depan pintu sebelum Mbak Menik mengangkat keranjangnya.

“Inggih Mbak Ajeng, pokoknya kalau pusing saya duduk sebentar,  terus lanjut lagi,” tambahnya. Meski suaranya agak pelan, tapi tekad dan semangat masih sangat terasa.

Saya tiba-tiba merasa malu. Sungguh, pagi ini saya berencana absen karena badan sakit semua dan agak meriang. 

Rasanya tidak sebanding dengan Mbak Menik yang nggreges mulai kemarin, dimana saya masih belum perlu berjaket tebal, hanya badan saja yang rasanya kurang enak.

Mbak Menik segera berpamitan dan melanjutkan perjalanan. Bergegas saya segera masuk, ganti baju dan melakukan persiapan ke sekolah.

“Le, sepedanya tolong dikeluarkan,” kata saya pada anak saya

“Lho, katanya tidak masuk?” tanya anak saya heran.

“Masuk Le, hari ini anak-anak ulangan,” jawab saya singkat. 

Anak saya memandang saya agak lama. 

“Ibuk sudah sehat?” Ia bertanya memastikan

“Sehat Le, nanti ketemu anak- anak tambah sehat,” senyum saya.

Saya segera menyetater Vario untuk segera berangkat ke sekolah.

Dari kejauhan terdengar suara orang menjajakan dagangan. Meski samar, cemprengnya suara itu sangat saya kenal. Ya, suara Mbak Menik, yang tiap hari menyapa kami semua.

 “Urap-urap.. nasi bakar..!”