Membuka Jendela Dunia: Pembiasaan Literasi di Sekolah

Baik, silakan baca dari link yang sudah dikirim lewat grup kelas, buat catatan atau rangkuman dan nanti ada perwakilan dari siswa putra dan putri untuk maju menceritakan hasil literasi hari ini,” kata Ibu guru pagi itu di depan seluruh siswa kelas tujuh.

Ya, pagi itu mereka berkumpul di aula untuk melaksanakan literasi sebagai salah satu pembiasaan yang dilaksanakan di sekolah.

Siswa langsung membuka HP, membuka link dan mulai membaca. Di sela kegiatan membaca mereka membuat catatan di buku literasi mereka.

Suasana yang semula agak ramai langsung tenang. Beberapa siswa masih menunggu bacaan muncul di gadget mereka, sementara yang lain sudah mulai konsentrasi, membaca dan memegang pena untuk menuliskan bagian penting dari bacaan tersebut .

Hari ini bacaan mereka berjudul “Memberi Ruang Pada Waktu Memberi Makna Pada Hidup”.

Bacaan ini berisikan ajakan untuk memanfaatkan waktu luang. Diterangkan dalam bacaan tersebut perlunya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya karena waktu yang hilang tak akan bisa kembali lagi.

Bacaan ditutup dengan sebuah nasehat bijak bahwasanya “Waktu adalah kain yang Tuhan berikan pada kita. Kita tak bisa meminta lebih panjang, tapi kita bisa menyulamnya dengan cinta, keheningan, dan kebermaknaan. Jangan biarkan ia lewat tanpa pernah kita rasa”

Di akhir acara, dua orang siswa menceritakan apa saja yang sudah dibaca hari itu yang disambut dengan applaus siswa yang lain sebagai bentuk penghargaan.

Pembiasaan Literasi Membuka Jendela Dunia 

Kegiatan literasi sekolah, dokumentasi Richa

Gerakan Literasi Sekolah adalah upaya menyeluruh yang dilakukan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pembiasaan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. (Sumber: Kemdikbud) 

Ada tiga tujuan utama dari gerakan literasi sekolah yaitu 

Menumbuhkan budi pekerti peserta didik melalui ekosistem literasi yang ramah dan menyenangkan.

Meningkatkan budaya membaca dan menulis di lingkungan sekolah secara berkelanjutan.

Meningkatkan kapasitas warga sekolah agar mampu mengelola pengetahuan secara kritis, analitis, dan reflektif.

Salah satu bentuk implementasi gerakan literasi ini adalah dengan pembiasaan membaca non pelajaran selama 15-20 menit sebelum pelajaran berlangsung.

Membacakan hasil rangkuman, dokumentasi Richa

Sebagai upaya untuk mengajak siswa menggunakan gadget mereka secara bijak, gerakan literasi sekolah kami dilaksanakan bergantian antara menggunakan buku secara fisik dan digital, di mana untuk literasi dengan buku cetak, siswa bisa membawa dari rumah atau meminjam buku di perpustakaan.

Literasi sebagai jantung pembelajaran adalah sesuatu yang harus terus dikuatkan karena  tanpa literasi yang baik siswa tidak akan bisa belajar dengan baik.

Sebenarnya literasi tidak hanya membaca saja. Literasi baca tulis adalah salah satu dari literasi yang menjadi fokus utama dalam gerakan literasi sekolah yang meliputi literasi  digital, finansial, numerasi termasuk juga sains dan kewarganegaraan. Meski demikian membaca adalah literasi yang utama karena membaca adalah gerbang utama untuk mengakses bentuk literasi lainnya. Tanpa kemampuan membaca (memahami teks), seseorang akan kesulitan mempelajari literasi yang lain

Menurut data dari berbagai sumber indeks literasi Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain memang masih jauh tertinggal, terutama dalam hal kualitas dan minat baca.

Berikut rincian perbandingannya berdasarkan beberapa indeks utama:

1. PISA 2022 (Skor Membaca Siswa 15 Tahun): Indonesia di peringkat 71 dari 81 negara dengan skor 359, jauh di bawah rata-rata OECD (476). 

2. Minat Baca (UNESCO/Central Connecticut State Univ): Minat baca hanya 0,001% (1 dari 1.000 orang). Dalam studi World’s Most Literate Nations (2016), Indonesia bahkan menempati peringkat 60 dari 61 negara .

3. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (Perpusnas, 2026): Skor nasional baru mencapai 40,6, yang masuk dalam kategori rendah .

4. Rata-rata Waktu Membaca (World Population Review, 2025): Masyarakat Indonesia hanya membaca 129 jam/tahun, sangat tertinggal dari India (352 jam) dan AS (357 jam) .

Meski demikian angka melek huruf kita termasuk tinggi yaitu mencapai 96%, di atas rata-rata global (~86,5%).

Singkatnya banyak orang Indonesia yang “bisa membaca” tapi belum “suka membaca” , yang berakibat pada tidak atau kurang mengerti dengan apa yang sudah dibaca.

Membacalah maka kamu akan mengenal dunia dan menulislah, kamu akan dikenal dunia” 

Berkaca dari data tersebut penting sekali menguatkan budaya baca tulis di lingkungan sekolah, karena tanpa kemampuan baca yang baik, mustahil siswa akan belajar dengan baik. Kemampuan baca yang baik juga akan membuat siswa bisa menulis dengan baik. 

Literasi sekolah, dokumentasi Richa

Akhirnya pembiasaan membaca 15-20 menit sebelum kegiatan pembelajaran adalah sebuah langkah sederhana yang membawa dampak luar biasa di kemudian hari. Lewat kegiatan ini siswa diajak untuk tidak sekadar bisa membaca tapi juga suka membaca. Gerakan ini juga mengajak siswa untuk menggunakan gadget dengan lebih  bijak dan membuka wawasan mereka tentang dunia.

Dengan pembiasaan ini diharapkan akan terbentuk pribadi yang cinta belajar dan kritis terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Kemampuan membaca dan menulis membuat siswa lebih bisa mengenal diri dan  sekitarnya, terkoneksi dengan dunia yang dipelajarinya serta bisa mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya sehingga bisa dipahami orang lain.

Seperti sebuah kata bijak yang mengatakan :  “Membacalah maka kamu akan mengenal dunia dan menulislah, kamu akan dikenal dunia” 

Salam Literasi

Nguri-uri Basa Jawi Melalui Pembiasaan Literasi

Sugeng enjing, bocah-bocah, ing dina iki literasi Basa Jawa diisi nonton film bareng..,” ucap Ibu Guru Bahasa Jawa pagi itu. Para siswa kelas tujuh yang duduk lesehan di aula langsung fokus. 

Sak marine ayo podho nggawe rangkuman telung alinea wae,” ajak Bu Guru lagi.

Pembiasaan literasi adalah kegiatan yang dilakukan di sekolah kami tiap pagi hari sekitar 20 menit. Kegiatan ini dilaksanakan secara bergantian setiap harinya. Jika sekarang kelas tujuh, maka besok kelas delapan dan lusa kelas sembilan.

Selain membaca secara online, literasi juga diisi dengan membaca buku fisik atau nonton film bareng seperti yang dilakukan hari ini.

Tanpa menunggu lama filmpun diputar. Sebuah film pendek berjudul “TOPI” dengan durasi sekitar 12 menit. Ketika adegan per adegan muncul, semua langsung fokus, baik siswa maupun pendamping literasi. Sesekali penonton tertawa ketika ada adegan yang lucu dalam film.

Film berjudul TOPI ini  bercerita tentang Gesang, siswa yang masih duduk di tingkat SD dan keluarganya.

Topi menjadi pusat cerita karena dari sinilah masalah bermula. Diawali ketika Gesang berangkat ke sekolah dan ternyata di tengah jalan ia baru sadar bahwa topinya ketinggalan.

Kakek yang membonceng Gesang setiap berangkat ke sekolah segera balik ke rumah, dan Gesang diminta menunggu di tengah sawah. Sesampai di rumah, ternyata pintu sudah dikunci karena Ibu Gesang berangkat mengantar kakak Gesang yang bersekolah di SMP. Sementara kakek sibuk minta dibukakan pintu untuk mengambil topi yang ketinggalan, Gesang bertemu tetangganya dan ‘dibawa’ ke sekolah supaya tidak terlambat.

Fokus nonton film bareng, Dokumentasi Pribadi

Betapa terkejutnya kakek tatkala melihat cucunya tidak ada di tempat dimana tadi ia ditinggal. “Gesaaang…,” teriak kakek mencari cucu kesayangannya, dan di sinilah penonton mulai terpancing, ada yang tertawa tapi juga kasihan.

Film yang penuh nasehat tatakrama atau suba sita ini sangat cocok untuk anak SD atau SMP. Lewat adegan-adegan yang sederhana namun sangat mengena film ini memberikan arahan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Contoh: jangan mengambil makanan dengan tangan kiri, bagaimana memberikan barang dengan sopan pada orang lain, termasuk juga tatakrama saat makan yaitu tidak boleh mengeluarkan bunyi berkecap-kecap.

Dikaitkan dengan kegiatan literasi, kegiatan ini mengajak anak anak untuk berliterasi secara visual dengan cara mengambil pelajaran penting dari sebuah film pendek. Sebuah kegiatan yang tampaknya sederhana namun sangat bermakna, karena menonton film dalam durasi 12 menit ternyata merupakan tantangan tersendiri bagi generasi alpa yang relatif memiliki konsentrasi pendek karena sering menonton reels yang berdurasi rata-rata 1-3 menit.

Di akhir cerita, Ibu Guru memberikan sedikit ulasan tentang film yang baru saja ditonton. Siswa tampak demikian antusias dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Bu Guru.

“Bu, rangkumannya dalam Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia?” tanya seorang siswa sebelum kegiatan literasi berakhir.

“Basa Jawa,” kata Bu Guru sambil tersenyum. 

“Wahhh..,” keluh siswa. 

“Sulit, Bu.., sambung yang lain.

“Ora opo-opo.., ngoko wae,” jawab Bu Guru lagi.

Pertanyaan dari siswa, Dokumentasi Pribadi

Kami para pendamping literasi tertawa. Merangkum dengan menggunakan Bahasa Indonesia saja kadang sulit apalagi  Bahasa Jawa. Tapi setidaknya melalui kegiatan ini kami mengajak siswa untuk “nguri-uri Basa Jawa”, teriring harapan mudah-mudahan wong Jawa ora nganti lali Jawane.

Arti istilah:

Sugeng enjing, bocah-bocah, ing dina Iki literasi Basa Jawa diisi nonton film bareng : selamat pagi anak anak, hari ini literasi Bahasa Jawa diisi dengan nonton film bareng

Ngoko : bahasa Jawa biasa, bukan yang halus

Nguri-uri Basa Jawa : melestarikan Bahasa Jawa

Wong Jawa ora nganti lali Jawane : Orang Jawa tidak melupakan adat Jawa.

Ketika Terapi Menulis Membuahkan Prestasi

Seorang siswa mendekati saya malu-malu. Dengan tersenyum ia menyapa saya yang saat itu sedang mengerjakan sesuatu di perpustakaan.

“Ya, Nadia?” tanya saya ramah. Nadia adalah salah satu siswa yang rajin ke perpustakaan. Anaknya sangat pendiam dan lebih sering menenggelamkan diri dalam buku buku bacaan saat istirahat.

Nadia semakin mendekat lalu berkata pelan. “Bu, saya punya naskah cerpen, boleh saya kirim ke Ibu? Barangkali bisa dimuat di majalah?’ 

Saya tersenyum surprise. “Tentu boleh, Nadia suka nulis ya?” tanya saya.

“Suka, Bu,” jawabnya singkat. Masih malu-malu.

“Saya tunggu,” jawab saya lagi.

Singkat kata keesokan harinya cerpenpun dikirim pada saya. 

Tentang Nadia, ia adalah siswa saya di kelas tujuh dan  seorang teman BK bercerita pada saya bahwa anak ini sedang menghadapi masalah yang serius 

“Kenapa Nadia, Bu?” tanya saya heran.

“Anak ini mempunyai kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri. Dengan menggunakan cutter dia sering membuat “barcode” di pergelangan tangannya,” jelas teman saya.

“Astaga, anak sekecil itu? Kenapa dia melakukan hal itu?”

Dijelaskan secara singkat bahwa kecenderungan itu muncul karena ia sering merasa tidak dihargai, dibanding bandingkan dan merasa dirinya tidak berarti. Karena tidak ada teman bicara, untuk melampiaskan kekecewaannya Nadia mengikuti trend saat itu yaitu menyilet pergelangan tangannya. Ada banyak hasil guratan benda tajam itu di lengan kecilnya.

“Apa perasaan Nadia setelah melukai tangannya?” tanya saya lagi.

“Menurut keterangannya, Nadia merasa puas, bebannya lepas dan lega setelah menyileti lengannya,” lanjut teman saya.

Teman saya bercerita ebih lanjut bahwa setelah mengadakan konsultasi berkali-kali baik dengan Nadia maupun orang tuanya, diketahui bahwa Nadia mempunyai hobi menulis. Karenanya ia memutuskan membuat hobbi ini menjadi sarana untuk meringankan masalah Nadia, terutama yang berkaitan dengan kecenderungannya untuk menyakiti diri sendiri.

Ilustrasi membaca buku di perpustakaan, gambar by : Gemini AI

“Nadia, silakan membuat tulisan di sini ketika keinginan untuk melukai dirimu tiba-tiba muncul,” kata teman saya sambil menyodorkan sebuah buku kosong di sebuah sesi konseling.

Nadia menerima buku itu. Dan sejak saat itu setiap ada kecenderungan untuk menyakiti dirinya ia mengalihkan keinginan tersebut dengan menulis dan menulis. 

Hari demi hari berlalu. Suatu saat sesudah duduk di kelas dua Nadia mendatangi guru BKnya sambil bercerita bahwa ia mempunyai sebuah tulisan.

Teman saya begitu gembira. Nadia sepertinya sudah tidak sependiam dulu lagi.

“Coba hubungi tim majalah, barangkali naskahmu bisa diterbitkan di majalah,” kata teman saya saat itu.

Dan akhirnya Nadia menemui saya seperti sekarang ini.

Naskah sudah dikirim, dan saya mulai membaca cerpen Nadia yang lumayan panjang. Ada sekitar empat halaman folio.

Ceritanya berkisar pada seorang anak introvert yang berteman dengan anak,-anak dari dunia lain. Mungkin ini juga menggambarkan suasana hatinya. Oh ya, menurut teman BK, Nadia banyak mempunyai teman ‘imajinasi’, karena ia merasa kurang bisa berteman dengan orang sekitarnya.

Dalam ceritanya Nadia mengisahkan tokoh utama yang tidak mempunyai teman di dunia nyata, merasa dikucilkan dan akhirnya dia menemukan teman-teman dunia khayal yang sangat menyenangkan. 

Di akhir cerita Sang Tokoh mengikuti teman- temannya menuju dunia khayal yang lebih menyenangkan daripada dunia nyata.

Saya langsung terhenyak melihat endingnya. Suram sekali.

Segera saya hubungi guru BK untuk lebih melakukan pendekatan pada Nadia sambil menunjukkan cerpen itu.

“Kok mengkhawatirkan ya Bu?” kata saya saat itu.

Agar cerpen bisa memberikan vibes positif pada pembacanya saya memanggil Nadia.

“Nduk, cerpen ini kami masukkan majalah, tapi tolong endingnya diganti sedikit bisa?”

“Diganti bagaimana Bu?’

“Tokoh utamanya jangan mati, buat yang happy ending,” jawab saya.

Nadia mengangguk dan tersenyum. Ia siap mengubah akhir cerita tulisannya, sementara itu teman saya BK secara berkala tetap berkomunikasi dengan Nadia.

Beberapa hari berlalu dan Nadia kembali mengirimkan tulisannya dengan ending yang berbeda.

“Wah, bagus tulisanmu, nanti dimuat di majalah ya,” kata saya senang. Setelah sekali lagi saya baca naskah cerpen Nadia,  nuansa suram sudah jauh berkurang.

Nadia tersenyum dan seperti biasa ia hanya menjawab singkat,”Terima kasih, Bu,”

“Sama-sama,” 

Sungguh saya ikut merasa gembira. Setidaknya saya berusaha mengajak Nadia untuk melihat bahwa dunia tidak sesuram yang ia kira.

Mempunyai tulisan yang dimuat di majalah adalah sebuah kebanggan tersendiri. Dengan wajah gembira, setelah penerbitan majalah Nadia  mendekati saya sambil berkata,” Saya masih punya cerita yang lain, Bu,” katanya senang.

Ilustrasi purnawiyata, gambar by: Gemini AI

Hari purnawiyata kemarin menjadi hari yang sangat mengejutkan bagi saya dan guru BK Nadia. Betapa tidak? Saat pengumuman nilai absolut, ternyata Nadia mendapatkan nilai 100 untuk Bahasa Indonesia. Luar biasa.

Jika banyak teori yang mengungkapkan bahwa menulis bisa menjadi terapi, hari itu kami telah membuktikannya. Menulis bukan hanya terapi, tapi juga bisa membuahkan prestasi.

“Bu, Nadia..!” bisik saya pada teman BK yang duduk di samping saya.

“Subhanallah…,” kata teman saya speechless.

Sungguh mengharukan ketika kami melihat Nadia maju ke depan di antara para peraih nilai absolut untuk mendapatkan penghargaan. Rupanya kegemaran membaca dan menulis secara otomatis mengasah kemampuan Nadia dalam bidang literasi sehingga ia bisa meraih prestasi yang yang sangat membanggakan ini.

Jika banyak teori yang mengungkapkan bahwa menulis bisa menjadi terapi, hari itu kami telah membuktikannya. Menulis bukan hanya terapi, tapi juga bisa membuahkan prestasi.

Kunjungan Perpustakaan Keliling: Permudah Akses Literasi, Tingkatan Minat Baca

Sebuah mobil berwarna biru memasuki area sekolah. Setelah parkir di tempat yang strategis, dua orang turun sambil tersenyum ramah. 

“Selamat pagi, kami dari perpustakaan kota,”

Aha.., tanpa penjelasan tersebut sebenarnya kami sudah tahu siapa yang berkunjung dari berbagai tulisan yang ada di mobil.

Ya,  hari ini sekolah kami mendapatkan kunjungan dari Perpustakaan Umum Kota Malang dalam bentuk Perpustakaan Keliling.

Mobil layanan perpustakaan keliling, dokumentasi pribadi

Perpustakaan Keliling Kota Malang adalah sebuah layanan dari Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang dengan menggunakan mobil operasional untuk mendekatkan akses buku ke masyarakat, khususnya anak-anak. 

Kader pustaka siap menyambut kedatangan perpustakaan keliling

Sebuah layanan jemput bola, dimana selain melakukan kunjungan, perpustakaan ini juga beroperasi rutin di beberapa lokasi seperti Alun-Alun Kota Malang dan Taman Merjosari.

Setelah beramah-tamah sejenak, kami langsung menuju perpustakaan sekolah, dan di sana sudah ditunggu oleh siswa dan kader pustaka.

Acarapun dimulai. Dari berkenalan, petugas perpustakaan menjelaskan tentang cara menjadi anggota Perpustakaan Umum Kota Malang. Beberapa pertanyaan muncul dari siswa yang menunjukkan antusias mereka salam mengikuti acara ini.

Membaca bersama, dokumentasi pribadi
Membaca bersama , dokumentasi pribadi

Sekitar sepuluh menit kemudian acara dilanjutkan dengan pemutaran film dan peminjaman buku untuk dibaca di tempat.

Adalah sebuah pemandangan menarik ketika melihat siswa duduk bareng di atas karpet sambil menonton film yang diputar di televisi. Ya, generasi sekarang pasti belum tahu sensasinya nonton TV rame- rame seperti yang sering dilakukan para generasi terdahulu (termasuk saya).

Nonton film bareng, dokumentasi pribadi

Begitu film berakhir siswa segera menuju mobil yang berisi penuh buku dan memilih sekaligus membacanya. Sangat menyenangkan. Bukunya begitu beragam mulai dari fiksi maupun non fiksi. 

Satu hal membuat saya surprise. Ya, tiba-tibasaya menemukan buku serial Little House on the Prairie karya Laura Ingalls Wilder. Buku yang lama saya cari dan sudah tidak ada di toko buku manapun.

Tentang Little House on the Prairie, ini adalah serial yang pernah diputar di TVRI di kisaran tahun 1980 an, dan saya adalah salah satu penggemarnya.

Buku Laura Ingalls Wilder, dokumentasi pribadi

Serial klasik Amerika ini  mengisahkan kehidupan keluarga Ingalls, Charles, Caroline, dan anak-anak mereka yang berjuang, bertahan hidup, dan membangun kehidupan di Walnut Grove, Minnesota pada tahun 1870-an hingga 1880-an. Serial yang sarat dengan nilai persahabatan, kasih sayang dan kegigihan berjuang.

“Bukunya bagus-bagus,”

“Nonton filmnya asyik,” ungkap beberapa siswa. 

Hari yang luar biasa. Lewat kegiatan ini siswa mendapatkan pengalaman baru, sekaligus lebih memahami program-program perpustakaan umum kota Malang yang belum diketahui.

Berfoto bersama di akhir acara, dokumentasi Dwikaa

“Sekarang di perpustakaan juga ada kitab kuning dan bacaan dalam huruf Braille,” ungkap Pak Ichwan yang menjadi narasumber pagi itu.

Ketika saya bertanya ada berapa sekolah yang harus dilayani  Perpustakaan Keliling ini, Pak Ichwan menjawab bahwa ada 400 sekolah dan kelurahan yang akan dikunjungi perpustakaan keliling ini, dan armada yang dikerahkan ada lima buah.

Menurut informasi, perpustakaan keliling ini akan berkunjung setiap satu semester sekali.

Semoga kehadiran perpustakaan umum sebagai sumber literasi yang terpercaya bisa semakin dirasakan masyarakat kota Malang.

Hari yang luar biasa. 

Semoga dengan kegiatan perpustakaan keliling ini minat baca masyarakat semakin meningkat karena akses baca yang semakin mudah, serta kehadiran perpustakaan umum sebagai sumber literasi yang terpercaya bisa semakin dirasakan masyarakat kota Malang.

Aksi Jumat Literasi di Bumi Bintaraloka

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang. Di lapangan upacara siswa sudah berkumpul dalam barisan yang rapi, untuk mengikuti kegiatan pagi. 

Sementara itu di perpustakaan tampak kesibukan yang demikian nyata. Para kader literasi sibuk mempersiapkan tampilan perdana mereka pagi itu. Ya, hari itu (Jumat 10/10) adalah saatnya Jumat Literasi.

Jumat Literasi adalah saat bagi tim literasi untuk unjuk karya di hadapan para siswa yang lain.

Persiapan kader literasi, dokumentasi pribadi
Persiapan kader literasi, dokumentasi pribadi

Dua orang MC segera tampil untuk memandu acara pagi itu. Balqis dan Salsa. 

Meski berasal dari jenjang kelas yang berbeda (kelas 8 dan kelas 7) mereka tampak begitu kompak membawakan acara pagi itu.

Acara diawali dengan story telling tentang Roro Jonggrang yang dibawakan oleh Artha. Dengan penuh percaya diri siswa kelas delapan ini membawakan cerita tentang terjadinya Candi Prambanan. Dialog-dialog dalam cerita dibawakan dengan gaya yang kadang jenaka.

Story telling, dokumentasi pribadi

Sesudah atraksi tersebut siswa kelas tujuh, Alena Vidya membawakan story telling dengan judul Little Red Riding Hood.

Kisah ini bercerita tentang gadis kecil berkerudung merah yang mendapat pesan dari ibunya untuk mengantar kue pada neneknya dan ternyata menjadi incaran serigala jahat.

“Pesan dari cerita ini adalah agar kita tidak mudah memberikan informasi pribadi pada orang lain,” ungkap Alena di akhir ceritanya.

Penampilan pagi itu ditutup dengan berbalas pantun yang dibawakan oleh lima orang siswa yaitu Flaviana, Anya Rasendriya, Az-Zahira, Raysa dan Mayshaputri .

Yang menarik, tanya jawab dalam bentuk pantun pagi itu berkisar tentang pentingnya membaca, menulis dan bagaimana memanfaatkan teknologi secara bijaksana.

Setelah duapuluh lima menit berlalu akhirnya acarapun berakhir. Balqis dan Salsa menutup acara pagi itu dan siswa segera menuju ke kelas untuk pembelajaran seperti biasa. 

Dalam Jumat literasi pagi ini kader literasi  kelas 9 tidak dilibatkan dalam aksi karena mereka harus mengikuti Try Out TKA.

Berbalas pantun, dokumentasi kader literasi

Akhirnya Jumat Literasi bukan sekedar aksi atau unjuk karya. Kegiatan ini adalah motivasi bagi semua bahwa di zaman dimana arus informasi begitu deras, kita harus menjadi generasi yang cerdas dan bijaksana dalam berliterasi agar terhindar dari berita yang belum tentu kebenarannya.

Semangat membaca dan menulis harus terus ditingkatkan karena membaca dan menulis akan membuka wawasan dan melahirkan budaya yang dikenang sepanjang masa, seperti pantun yang dibaca siswa pagi itu:

Pagi-pagi baca koran,sambil minum teh di beranda; Apa gunanya baca tulisan, kalau mata cepat lelah juga?

Kalau lelah istirahatkan mata,minum air biar segar terasa; Baca tulisan menambah makna,membuka wawasan sepanjang masa.

Foto bersama di akhir acara, dokumentasi Happy

Ke toko buku beli kamus,bertemu teman tukar cerita; Mengapa sih harus menulis, padahal bisa bicara saja?

Menulis bukan sekadar kata, tapi jejak ilmu dan rasa; Dari tulisan lahir budaya, yang dikenang sepanjang masa.

Salam Literasi 😊