Jelajah Kampung Sekabrom, Stadsklok dan Gedung PLN, Cerita Jalan Sore Bersama History Funwalk Malang

Mentari Kota Malang bersinar lembut. Cuaca benar-benar cerah dan sangat mendukung kegiatan kami hari itu. Aha, di Sabtu(15/08) sore itu kami akan jalan-jalan bersama History Funwalk Malang. 

History Fun Walk Malang adalah komunitas walking tour atau wisata jalan kaki edukatif di Kota Malang yang mengajak masyarakat menyusuri kawasan bersejarah dan bangunan peninggalan kolonial Belanda sambil belajar sejarah. Komunitas ini didirikan pada Mei 2023 oleh anak-anak muda pemerhati sejarah lokal

Bersama anak saya, saya mendaftar untuk ikut kegiatan. Ya, sudah lama sekali kami ingin ikut jelajah bangunan bersejarah di kota Malang, dan baru kali ini kesampaian.

Jelajah Kampung Sekabrom

Kampung Sekabrom di era tahun 90, lukisan Effendy Yusa

Sebelum mulai perjalanan kami lebih dahulu berkumpul di rooftop Instasemeru, Jalan Semeru Malang. Setelah briefing sejenak untuk menentukan lokasi apa saja yang akan dikunjungi perjalananpun dimulai. 

Sebelum turun dari rooftop saya sempat menjepret Kampung Sekabrom dari atas. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengharukan bagi saya. Betapa tidak? Sekitar tahun 90 an saya pernah tinggal di kampung ini. Meskipun hanya dua tahun, tapi ada banyak cerita yang terukir saat saya dan keluarga tinggal di sana.

Kampung Sekabrom dari rooftop Instameru, dokumentasi pribadi

Sekabrom adalah singkatan dari Semeru Kayutangan dan Bromo. Artinya kampung ini terletak tepat di pertemuan Jalan Semeru, Kayutangan dan Jalan Bromo. Lokasi yang sangat strategis karena begitu keluar gang (ada tiga gang) kita bisa langsung ke jalan besar yaitu Jl Semeru, Kayutangan atau Jl Bromo.

Kami terus berjalan menyusuri gang menuju kampung Sekabrom yang lokasinya masuk dalam wilayah Kayutangan. Dengan dipandu dua orang leader dan fotografer perjalanan sore itupun dimulai. 

Berjalan menyusuri Kampung Sekabrom serasa membuka kembali jejak kenangan masa lalu. Mengapa? Jalan yang kami lalui sore itu adalah jalan yang dulu setiap hari harus saya lewati, entah untuk ke Pasar Talun, berangkat kuliah ataupun mengantar kue ke toko.

Meski sudah banyak mengalami perubahan, namun kehangatan suasana Sekabrom masih sangat terasa. Pedagang yang berjualan di sekitar pos, anak kecil yang bersepeda juga orang- orang yang berlalu lalang di sekitar jembatan. 

Sejenak saya berhenti di pos Sekabrom yang dibangun tepat di atas sungai. Dinamakan pos, tapi fungsinya kira-kira seperti aula kecil dan sekarang menjadi balai RW.

Balai RW, dokumentasi pribadi

Di sini dulu kami jamaah putri di kampung mendirikan sholat tarawih juga shalat malam setiap hari di bulan Ramadhan. Mengapa di pos? Ya karena langgar yang ada masih kecil, hanya cukup untuk jamaah putra.

Suara gemericik air sungai yang mengalir benar benar terasa syahdu. Rumah kami saat itu tepat berada di dekat sungai tersebut, karenanya suara air sungai adalah irama yang menemani keseharian kami. Bentuk rumah-rumah yang ada sudah jauh lebih bagus daripada dulu. 

Menyusuri sungai Sekabrom, dokumentasi pribadi

Sungai terasa demikian akrab dengan kehidupan kami. Peristiwa yang  berkaitan dengan sungai banyak kami alami sebagai warga Sekabrom. Seperti banjirnya sungai saat musim hujan, sungai yang kotor karena dipakai untuk membuang sampah (saat itu) atau sungai yang tiba-tiba berwarna coklat kemerahan seperti membawa tanah yang terkikis dari hulu sungai 

“Banyune kemlandan,” kata orang- orang saat air sungai menjadi kecoklatan saat itu. Kata ibuk saya yang orang asli Sekabrom kemlandan artinya mirip orang Belanda. Maksudnya warna sungainya jadi kemerahan mirip warna rambut orang Belanda. He..he…bisa saja.

Bagian tepi sungai sekarang berpagar tinggi. Pagar yang dibuat dari bata dan semen. Sebuah langkah yang sangat pas karena dulu saat hujan, air sungai meluap sehingga pemandangan di depan rumah seperti lautan. Tidak ada batas antara jalan dan sungai, sehingga sangat berbahaya seandainya ada pejalan kaki yang belum kenal dengan daerah tersebut. Bisa- bisa tercebur ke dalam sungai karena mengira luberan air tersebut adalah genangan air biasa.

“Ini jalan ibuk pas mau kuliah dulu,” kata saya pada anak saya yang setia berjalan di dekat saya. Kami terus berjalan hingga ujung sungai dimana di sana terdapat semacam gerojogan besar. Dulu kami menamakannya   rolak. Anak-anak kecil benar benar dilarang bermain di sini, terutama oleh orang tua mereka. Bahaya, itu pesannya.

Menurut narasumber, sungai di Kayutangan ini adalah sodetan sungai Brantas yang sudah dibangun sejak zaman Belanda. Dulu airnya lumayan bersih dan ada sekitar 12 jenis ikan hidup disini. Namun seiring berjalannya waktu, air semakin kotor dan hanya sekitar tiga jenis ikan yang ada di sini.

Rolak atau gerokogan di bagian atas sungai Sekabrom, dokumentasi pribadi

Satu hal yang selalu saya ingat, dulu di dekat gerojogan ini banyak karamba dipasang  untuk memelihara ikan. Nah, ketika hujan deras dan debit air sangat besar, banyak karamba yang ambrol. Kami yang tinggal di daerah yang lebih rendah banyak yang membawa jaring kecil untuk menangkap ikan yang lepas dari karambanya.

Masih terbayang kehebohan orang-orang saat hujan deras. Ada rasa khawatir karena air meluap, tapi juga gemas melihat ikan-ikan besar yang berloncatan.

Stadsklok dan Gedung PLN

Berfoto di Stadsklok dengan latar belakang Toko Avia, dokumentasi History Fun Walk Malang

Dari Kampung Sekabrom kami melanjutkan perjalanan ke pertigaan Kayutangan dimana terdapat jam kota atau Stadsklok.  Stadsklok  tersebut dibangun sekitar tahun 1925-1926 bersamaan dengan dibangunnya Balai Kota Malang dibawah perintah Wali Kota Malang, Bussemaker. 

Lokasi Stadsklok ini sangat strategis karena terletak  di pertigaan penghubung jalan poros utama yang menghubungkan pelintas dari arah barat (Batu dan Kediri) serta utara (Surabaya dan Pasuruan). Di dekat jam ini terdapat kompleks pertokoan dan toko besar yang masih berdiri hingga kini adalah toko Avia yang terletak tepat di belokan dari Oro- oro Dowo ke arah Celaket.

Meskipun hampir tiap hari saya melalui jalan ini untuk ke sekolah, tapi sejarah Stadsklok dan sekitarnya baru saya ketahui sore itu. Setelah berfoto bersama, perjalananpun kami teruskan menuju Kantor PLN yang ada di depan Stadsklok.

Bangunan kantor yang selama ini saya anggap biasa saja ternyata menyimpan sejarah yang panjang. Berlokasi di Jalan Basuki Rahmat, kantor ini adalah bangunan bersejarah yang dibangun sekitar tahun 1930. Bangunan ini awalnya digunakan sebagai kantor perusahaan listrik swasta Belanda, ANIEM (Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteits-Maatschappij). Gedung ini menjadi saksi sejarah perkembangan infrastruktur kelistrikan di Malang, mulai dari masa kolonial, pendudukan Jepang (saat bernama Shobu Denki Sha), hingga dikelola oleh PLN setelah kemerdekaan. 

Kantor PLN yang berlokasi di depan Stadsklok, dokumentasi pribadi

Dari Kantor PLN kami masuk kampung sekitar Avia untuk menuju Jembatan Kahuripan yang terletak di Jalan Kahuripan Malang. 

Jika selama ini saya selalu melalui jembatan Kahuripan di bagian atas, kali ini rombongan kami menyusuri bagian bawah Jembatan Kahuripan. Cerita tentang Jembatan Kahuripan dan kunjungan ke beberapa tempat yang lain akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya saja ya..😊 

Jalan sore bersama, mendengar cerita-cerita dari pemandu, membuat saya sadar bahwa mencintai kota bukan hanya menikmati keindahan dan memotretnya, namun juga berhenti sejenak untuk menikmati setiap kisah di balik bangunan-bangunannya.

Sore yang begitu hangat. Sekabrom yang penuh kenangan, juga Stadsklok dan Gedung PLN yang dulu cuma saya lewati tanpa rasa penasaran, kini terasa begitu dekat dan bermakna. 

Salam jalan-jalan, berfoto di area Stadsklok, dokumentasi pribadi

Jalan sore bersama, mendengar cerita-cerita dari pemandu, membuat saya sadar bahwa mencintai kota bukan hanya menikmati keindahan dan memotretnya, namun juga berhenti sejenak untuk menikmati setiap kisah di balik bangunan-bangunannya.

Salam dari Kota Malang

https://www.kompasiana.com/yuli91129/6a87f65cc925c436954e0dfd/cerita-tentang-jelajah-sekabrom-stadsklok-dan-gedung-pln-kota-malang?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Referral&utm_campaign=Sharing_Mobile

Sebuah Perjalanan Nostalgia ke Taman Rekreasi Sengkaling

Siang itu kami mendapat undangan untuk makan bersama sepulang sekolah. Aha, sebuah hal yang pantang ditolak, apalagi undangannya kali ini dalam rangka syukuran ulang tahun teman.

“Sengkaling? Jauh sekali?” tanya saya heran

Sengkaling adalah sebuah wahana rekreasi yang ada di Kabupaten Malang.

“Ah, tidak jauh.. ya manut sajalah wong kita diundang,” jawab teman saya sambil tertawa. Selama ini makan di daerah sekitar Sengkaling tidak pernah masuk dalam agenda kami. Ya, jarak Sengkaling ke sekolah cukup jauh. Kira-kira setengah jam bersepeda motor. Belum lagi macetnya.

Akhirnya kami berangkat bersama dari sekolah dengan kendaraan moda online. Suasana jalan lumayan ramai, terutama di sekitar Sumbersari dan Dinoyo. Tentu saja, di daerah ini banyak ditinggali mahasiswa baik yang kuliah di UIN, Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Malang juga Universitas Negeri Malang.

Spot foto menarik di Sengkaling, dokumentasi Buz

Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya kami sampai. 

Sekul (Sengkaling kuliner )  yang kami tuju. Sebuah tempat makan yang lumayan luas dan berada  tepat di dekat pintu masuk Taman Rekreasi Sengkaling. 

Nama yang menarik, sekul artinya nasi, nasi erat kaitannya dengan makan.  Cocok sekali karena sekul menyediakan berbagai macam hidangan untuk orang orang yang perlu makan alias lapar.

Saat itu suasana tidak begitu ramai. 

Bersama kami menikmati hidangan di Sekul dengan suasana gembira. Sesekali ada canda di antara kami. 

Sekitar pukul setengah empat acara makan selesai. Bergegas kami akan segera pesan mobil lagi untuk balik sekolah guna mengambil kendaraan kami masing masing. 

Tapi ya ampun, satu kejutan telah menanti. Teman kami yang berulang tahun mengeluarkan enam buah tiket untuk masuk Sengkaling.

“Dipakai besok bisa?” tanya salah satu teman saya.

“Harus hari ini,” kata teman saya sambil tertawa. 

Berfoto bersama, dokumentasi pribadi

Waduh.., agar tiket tidak hangus akhirnya ‘terpaksa’ kami berenam masuk. Ini namanya rezeki.., tidak ada angin tidak ada hujan tahu tahu rekreasi ke Sengkaling, pikir kami.

Agak aneh juga rasanya pergi ke taman rekreasi di sore hari. Tapi tak apalah, hitung hitung refreshing juga.

Sedikit tentang Taman Rekreasi Sengkaling, tempat rekreasi ini terletak di Desa Mulyoagung Kecamatan Dau Kabupaten Malang. 

Taman Rekreasi Sengkaling pertama kali didirikan oleh seorang yang berkewarganegaraan Belanda, yaitu Mr. Coolman pada tahun 1950. Pada tahun 1975 dikelola oleh PT Bentoel dan pindah dikelola oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2015.

Pemandian Sengkaling , dokumentasi pribadi

Daya tarik utama taman rekreasi ini adalah berbagai wahana permainan anak-anak, tempat berenang dan bersepeda air di telaga buatan, berbagai  koleksi binatang dan kolam renang. 

Sekul atau Sengkaling Kuliner yang terletak di depan juga  hotel yang bernama Kapal Garden Hotel yang bentuknya seperti kapal termasuk daya tarik yang dimiliki  taman rekreasi ini.

Kami terus memasuki area taman rekreasi. Tampak setiap sudut ditata dengan cantik sehingga bisa menjadi tempat yang sangat mengasyikkan untuk berfoto. Di beberapa spot foto kami selalu menyempatkan untuk foto, baik sendiri maupun bareng. He..he…

Bagi saya sendiri perjalanan ke Sengkaling ini tak ubahnya sebuah perjalanan nostalgia.

Berbagai wahan di Sengkaling, dokumentasi pribadi

Ya, di sekitar akhir tahun 70 an saya pernah rekreasi ke sini bersama para tetangga di kampung. Saat itu Sengkaling masih terbilang baru bagi kami, karena sebelumnya hanya diperuntukkan karyawan Bentoel Malang.  Karena penasaran dengan taman rekreasi baru ini, yang konon katanya tempat pemandiannya sangat bagus, kami beramai- ramai ke sana naik colt L 300.

Rasanya bagaimana? Wuih, senang sekali. Apalagi ketika datang ke sana pemandangannya memang benar- benar bagus. Jauh lebih bagus dari tempat rekreasi lain yang pernah kami datangi.

Saya yang saat itu masih usia SD sangat tertarik dengan patung putri salju dan tujuh orang kerdil yang sampai sekarang masih ada. Waktu itu saya tidak sempat berfoto kamera masih merupakan barang mahal, karenanya begitu ketemu lagi dengan putri salju, saya sempatkan untuk berfoto dulu. Aha…

Bersama putri salju, dokumentasi pribadi

Kapal berwarna putih yang terletak di tengah telaga juga masih kokoh berdiri. Dulu dalam pandangan saya dan teman-teman kapal ini tampak besar sekali. Kami bahkan masuk kapal dan berjalan- jalan di dalamnya.

Sepeda air, perahu naga masih ada. Masih terbayang serunya bersepeda air di sini. Jerit dan tawa kami bersatu dengan kecipak air telaga. Sesekali tampak ikan yang berenang ke sana kemari.

Menurut keterangan yang ada, banyak wahana yang ditambahkan di Sengkaling seperti outbound, Kapal Misteri, Bioskop 4D, Bom Bom Car, Kolam Tirtasari, Taman Satwa, dan Pesona Primitif. Sungguh tempat yang sangat cocok untuk sebuah taman edukasi khususnya TK dan SD. 

Ah ya, menurut cerita teman saya yang juga pembina TK, siswa -siswinya di saat- saat tertentu diajak ODL (Outdoor Learning) ke tempat ini.

Semakin masuk area Sengkaling semakin terasa betapa banyak perubahan yang ada. Di bagian belakang taman rekreasi ini ada sebuah sungai yang dipenuhi batu- batu besar. Dulu ini sepertinya batas tempat rekreasi Sengkaling.

Saya tiba-tiba ingat saat makan bekal di sini bersama teman-teman ketika itu setelah lelah bermain air. Sungguh sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan.

Sungai dengan batu batu besar, dokumentasi pribadi

Posisi sungai sekarang berada di tengah taman rekreasi karena Sengkaling terus diperluas.  

Kami terus berjalan menyusuri jembatan di atas sungai. Tidak jauh dari sini ada bumi perkemahan yang areanya cukup luas. Tempat ini  sering dipakai untuk event- event tertentu, pramuka misalnya.

Kami memutari danau buatan yang di tengahnya terdapat kapal pesiar putih yang menjadi ikon taman rekreasi ini. Deretan perahu naga dan sepeda air di tepI telaga, sabar menunggu kedatangan penyewa.

Sepeda air dan kapal pesiar di telaga buatan, dokumentasi pribadi

“Naik sepeda air?” tanya teman saya.

“Tidak usah, Bu” jawab saya sambil tersenyum. Sebenarnya ingin juga, tapi hari sudah semakin sore. Di langit matahari sudah semakin condong ke barat.

“Ayo, sudah waktunya balik,” ajak teman-teman. Ya, kami harus segera balik sekolah untuk mengambil sepeda motor kami.

Bergegas kami keluar dari Sengkaling dan pesan kendaraan lagi untuk menuju sekolah. 

Sengkaling semakin sepi. Satu demi satu pengunjung meninggalkan taman rekreasi.

Sungguh sebuah sore yang amat berkesan. Jalan- jalan ke Sengkaling bukan sekedar refreshing atau mencari angin segar. Perjalanan ini membuka kembali nostalgia tentang momen-momen manis yang pernah terukir di masa yang lalu.

Berkunjung ke Dino Park, Berwisata Sekaligus Belajar Sejarah Purbakala

Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Mobil kami terus berjalan menembus nyamannya lalu lintas di Malang.

Ya, hari Minggu lalu lintas di Malang tidak sepadat biasanya. Tentu saja, tidak ada anak bersekolah, ditambah mahasiswa masih libur semester, praktis di daerah kampus yang kami lalui tidak begitu ramai.

Mobil terus berjalan menuju arah Batu. Aha, pagi ini kami akan berjalan-jalan ke Dino Park Batu.

Ceritanya anak saya pulang dari Jepang karena mendapat cuti sepuluh hari. Karenanya begitu pulang ke Indonesia kami mau jalan- jalan bareng mengunjungi saudara dan beberapa tempat, di sekitar Malang Raya.

Pada mulanya saya kurang tertarik dengan destinasi yang dipilih anak anak.  Dino Park. Aduuuh, iya kalau mereka masih kecil-kecil. Ini sudah buesar-buesar kok mau mengunjungi taman dinosaurus? Pikir saya.

Naik dinosaurus, dokumentasi pribadi

Tak apalah, yang penting kami bisa dolan bersama. Sudah lama sekali hal tersebut tidak kami lakukan.

Sekitar pukul setengah sebelas kami sampai di depan pintu masuk Dino Park.

 Para pengunjung sudah banyak yang datang.  Di lokasi yang cukup luas tersebut berbagai patung dinosaurus dan tokoh tokoh fantasi seperti Thor, Captain Amerika, robot-robot  bertebaran di mana-mana.

Sungguh sebuah tempat yang menarik untuk berfoto-foto.

Berfoto di depan tokoh fantasi, dokumentasi pribadi

Sebelum masuk (pintu dibuka pukul 11.00) kami disuguhi dengan welcome dance yang ditarikan oleh 4-5 penari. Setelah tarian berakhir kamipun masuk dan… petualanganpun dimulai. 

Menurut informasi yang kami terima, tempat rekreasi yang terletak di Jl. Raya Ir. Soekarno, Beji, Junrejo, Kota Batu ini  berada pada ketinggian 700-1.700 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata mencapai 12 derajat celsius.

Dino Park mempunyai luas sekitar 5 hektar dan di dalamnya ada 17 zona yang siap dijelajahi oleh para pengunjung.

Berbagai wahana di Dino Park, sumber gambar: website Dino Park

Begitu masuk kami sampai di ruangan besar yang berisikan beraneka ragam kerangka makhluk purbakala. 

Di bagian ini terpajang antara lain kerangka  Ankylosaurus, Triceratops, Apatosaurus, Tyrannosaurus, dan masih banyak lagi.

Di sini, kami bisa membayangkan ukuran asli  dinosaurus juga mempelajari berbagai informasi lain tentang dinosaurus termasuk masa hidup dan persebaran DNA dinosaurus.

Kerangka stegosaurus, dokumentasi pribadi
Keterangan tentang stegosaurus, dokumentasi pribadi
Rekayasa genetika dinosaurus , dokumentasi pribadi

Berikutnya kami memasuki ruangan untuk diajak melihat film tentang jelajah lima zaman yaitu permian, zaman triassic, zaman jurassic, zaman cretaceous dan ice age atau zaman es.

Diterangkan bahwa tiap zaman mempunyai cerita yang berbeda, mulai dari awal munculnya kehidupan yang pertama, kejayaan dinosaurus hingga zaman ekstrem di mana suhu bumi menjadi sangat dingin. Hal hal tersebut menyebabkan bentuk mahluk hidup menjadi demikian beragam.

Taman Jusassic, dari kereta petualangan , dokumentasi pribadi

Sesudah melihat film kami diajak berkeliling dengan kereta untuk melakukan penjelajahan bersama mengarungi lima zaman tersebut 

Kereta yang kami naiki mempunyai kapasitas 48 penumpang dan narasi yang disajikan demikian jelas. Baik orang dewasa maupun anak kecil akan mudah sekali memahami informasi yang diberikan.

Perjalanan menembus lima zaman, dokumentasi pribadi

Sesudah menjelajah kami menuju spot- spot foto dengan tema dinosaurus dan didesain dengan suasana khas negara-negara terten ataupun dunia fantasi.

Area berfoto dengan konsep dinosaurus dan fantasi, dokumentasi pribadi

Setelah istirahat sejenak untuk sholat Dhuhur perjalanan dilanjutkan dengan masuk ruangan akuarium empat dimensi. Ruang gelap ini dipenuhi layar-layar yang menunjukkan film kehidupan satwa di dalam laut.

Dari ruang akuarium, kami menuju ruang ice age. Ruangan ini didominasi warna biru dan putih yang menggambarkan suasana bumi yang kala itu tertutup oleh es.

Ice Age, dokumentasi pribadi

Menuju jalan keluar kami melalui The Rimba. Sebuah petualangan memasuki hutan lebat yang penuh dinosaurus di mana mana. Sesekali suara keras dinosaurus terdengar membuat suasana rimba semakin terasa.

Masih banyak wahana yang ada, dan kami tidak bisa melihat semuanya. Tak apalah, nanti di kesempatan lain akan kami eksplor lagi. Semua wahana yang kami lihat hari itu sangat menarik, termasuk arena bermain yang cocok untuk anak anak maupun dewasa.

Berfoto bersama, dokumentasi pribadi

Sekitar pukul tiga sore perjalanan kami akhiri. Total kami berjalan- jalan selama empat jam hari itu.

Sungguh sebuah hari yang luar biasa. Jalan jalan ke Dino Park bukan sekedar berwisata, tapi kami juga banyak belajar tentang sejarah purbakala.

Lepas dari itu, jalan-jalan bersama keluarga adalah sebuah hal yang sangat membahagiakan. Karena jalan-jalan bukan hanya tentang destinasi, tapi tentang pengalaman juga kenangan yang kami ukir bersama.