Playlist “Bapak”, Lagu-lagu yang Setia Menemani di Kala Hujan

Hujan adalah titik-titik air yang turun dari langit, sering membuat genangan, kadang juga kenangan..

(quotes hujan)

Di bulan-bulan seperti ini, hujan kian rajin membasahi bumi. Bukan hanya membuat suasana terasa basah, namun kedatangan hujan bisa membangkitkan perasaan nostalgia, karena suara rintik, aroma petrichor, dan udara yang sejuk, sering memicu ingatan pada masa lalu, membuka kembali lembaran kenangan bersama orang-orang tercinta.

Aktivitas yang paling menyenangkan bagi saya saat hujan adalah membaca dengan ditemani minuman hangat, atau mendengarkan musik. Hal yang terakhir ini paling sering saya lakukan bersama bapak dulu.

Ya, di sore hari, bapak biasanya masih harus menuntaskan jahitannya dan saya selalu membantu beliau. Saya bagian memasang kancing, sementara Bapak membersihkan benang- benang di antara jahitan. Kegiatan itu biasanya kami lakukan bersama dengan diiringi alunan musik kesukaan kami.

Dalam pandangan saya untuk urusan “unen-unen” bapak punya selera yang istimewa.

Tape deck, sumber gambar: Carousel

Di bupet kecil kami ada tape merek Sony , amplifier Sansui dan equalizer yang ukurannya cukup besar. Merek equalizer nya saya lupa. Perangkat itulah yang sehari-hari menemani bapak dalam menjahit.

Sebagai pengiring menjahit biasanya bapak menyetel dengan volume yang tidak terlalu keras, yang jelas musik harus ada. Berbeda dengan di pagi hari saat bersih-bersih atau membangunkan kami, bapak akan menyetel dengan volume yang agak keras, agar semua bersemangat dan segera melakukan berbagai aktivitas.

Bapak selalu menyetel musik sesuai suasana. Pagi hari ketika kami memerlukan semangat ada lagu-lagu Queen, Deep Purple dan sejenisnya. Menjelang siang lagu lagu manis mulai mengisi ruang dengar kami seperti lagu dari Jim Reeves, Pat Boone, Mat Monroe, semakin siang menuju ke sore ada berbagai instrumen yang mempermanis suuasana seperti dentingan gitar Francis Goya, atau alunan piano Richard Clayderman.

Untuk kaset, Bapak punya koleksi yang begitu banyak. Seingat saya 150 lebih dalam berbagai genre musik. Ada pop, jazz, rock, bahkan keroncong.

Ya, dalam keseharian kami selalu ada musik dan musik. Bapak secara tak sengaja membentuk selera kami dan mendengarkan musik adalah tali yang menghubungkan ingatan kami terhadap momen-momen tertentu.

Suatu malam bapak berkata kepada saya ketika kami mendengarkan lagu A Whiter Shade of Pale dari Procol Harum. Saat itu saya sedang mengerjakan PR di samping beliau yang membetulkan jahitan.

” Mbesok kalau kamu dengar lagu-lagu ini pasti ingat Bapak, Nduk,” kata beliau di tengah obrolan kami. Saya hanya tertawa saat itu.

Tapi seiring berjalannya waktu, ketika beliau sudah tiada lagu- lagu bapak selalu membangkitkan kenangan akan hangatnya kebersamaan dengan beliau dimanapun saya berada.

Ya,dalam banyak kesempatan ketika bepergian saya sering berhenti sejenak ketika tiba-tiba mendengarkan lagu kesukaan bapak. 

Suatu saat, pas jalan-jalan di Kayutangan bersama anak saya, tiba- tiba seorang pengamen menyanyikan lagu A Whiter Shade of Pale. Saya langsung berhenti.

“Ayo dengar lagu dulu Le,” kata saya sambil duduk di kursi yang ada di trotoar sampai lagu habis. Seiring mengalirnya lagu itu kenangan akan Bapak terus tergambar. Ya, saya benar benar merasakan momen ketika kami sedang ngobrol berdua di ruang tamu saat itu.

Demikian juga ketika anak saya wisuda di UGM, saya langsung mbrebes mili ketika kelompok paduan suara menyanyikan lagu Close to You. Ya, lagu dari Carpenter ini adalah juga favorite bapak.

Ketika era tape mulai tergerus dengan kedatangan MP3 dan yang lain, saya berusaha kembali mengumpulkan lagu- lagu kenangan itu lewat Spotify.  Melalui playlist yang saya buat saya bisa merasakan kembali keindahan kenangan mendengarkan lagu lagu bersama orang-orang tercinta terutama bapak.

Saya punya beberapa macam playlist dengan judul “Bapak”. Ya, genre musik yang disukai bapak beraneka ragam. Playlist yang pertama berisi lagu lagu instrumen, ada lagu- lagu dari Paul Mauriat, Francis Goya, Richard Clayderman, Idris Sardi di sana. Playlist kedua berisi lagu lagu manis dari Elvis Presley, Jim Reeves, Pat Boone, juga Bimbo. Playlist berikutnya berisi lagu-lagu slowrock dari Queen, Deep Purple, Scorpion dan sejenisnya.

Playlist-playlist itu yang setia menemani saya sekarang ketika menikmati sore yang dihiasi hujan, karena setiap tetes hujan bulan hanya sekadar membuat genangan, melainkan juga membuka lembaran kenangan. 

Melalui alunan lagu-lagu dari playlist “Bapak”, beliau selalu hadir kembali dalam rindu. Mengingatkan saya kembali pada dialog-dialog kecil, tawa, dan kehangatan sore-sore yang basah. 

Ya, hujan selalu bisa merajut kembali kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Di balik rintiknya, ada cinta yang terus mengalun, seiring alunan musik kesukaan saya dan bapak.

Bapak dan Gulai Terlezat di Dunia

Membaca topik pilihan Kompasiana tentang makanan berempah ingatan saya langsung tertuju pada jenis makanan satu ini. Gulai.

Ya, gulai kambing, makanan yang begitu lezat dan rempahnya begitu terasa. Paduan tumbar, jintan, kayumanis membuat gulai kambing hadir dengan aroma yang begitu menggoda.

Tentang Makanan Berempah 

Makanan berempah di Indonesia banyak sekali jenisnya seperti gulai, rendang, soto, kare, rawon,opor, dan yang lain. 

 Kaya akan hasil rempah-rempah, membuat orang Indonesia bisa membuat berbagai kreasi masakan yang lezat menggoda selera. Bahkan beberapa di antaranya masuk dalam kategori hidangan terlezat di dunia. Sebutlah rawon atau pecel yang dinobatkan sebagai sup terenak dan salad terbaik di dunia versi Taste Atlas.

Dari berbagai sumber, diketahui bahwa gulai  adalah jenis masakan yang tumbuh dan berkembang di Sumatera. 

Gulai pada mulanya mendapat pengaruh dari India, namun cita rasa India diubah total dengan aneka bumbu dan rempah khas Nusantara

Dalam perkembangannya isi gulai pun kian bermacam. Berbagai macam hidangan protein hewani hingga aneka sayur bisa menjadi isi gulai khas Indonesia .

Hidangan gulai kambing mempunyai cerita tersendiri dalam hati saya. Tidak hanya lezat dalam rasa tapi juga indah pada kenangan yang tercipta.

Di masa kecil, sekitar tahun delapan puluhan sebagaimana anak anak seusia saya, setiap hari saya mengaji di sebuah masjid besar yang berlokasi dekat pasar, tak jauh dari rumah.

Di sebelah masjid kami terdapat sebuah warung yang lumayan besar. Warung itu beratap terpal dan ditutupi kain yang melingkar  dengan warna biru bersih.

Di kain tersebut terdapat tulisan dengan sablon warna merah. Warung Nasi Sate dan Gule Kambing “Sederhana”, begitu bunyinya.

Seperti namanya, fontnya demikian sederhana. Namun dibalik kesederhanaan itu kehadiran warung ini selalu menjadi perbincangan kami setiap pulang mengaji.

Mengapa? Aromanya sedap sekali. Bau gulai selalu menguar memenuhi udara  sore tatkala  yang jualan membuka tutup panci besar berisi penuh gulai di bagian belakang warung.

Belum lagi jika pada saat yang bersamaan penjual juga sedang membakar sate. Wah, paduan bau keduanya membuat cacing cacing di perut serasa menari nari.

Wenak paling yo..., ” kata teman saya sambil menghirup baunya dalam- dalam.

Iya lah… larang tapi,” jawab teman yang lain.

Ya, menurut ukuran kami saat itu gulai kambing adalah makanan yang mahal, sehingga jarang-jarang kami bisa menikmatinya kecuali pas Hari Raya Iedul Adha.

Seingat saya ibuk pernah membeli gulai di warung ini satu kali. Harga satu rantang kira kira 2000 rupiah. Mahal menurut kami. Dan dengan harga tersebut gulai hanya cukup dibagi kami bertiga. Bapak dan Ibuk makan dengan lauk lainnya.

Sesudah satu kali makan gulai itu (meski dengan kuah yang sedikit), saya semakin yakin bahwa ini adalah makanan yang paling lezat, juga mahal. Bahkan saking mahalnya saya tidak lagi berangan-angan untuk makan gulai tersebut. Paling juga tidak dibelikan pikir saya.

Tapi siapa sangka pada suatu hari saya tiba-tiba dajak bapak makan di warung “Sederhana” tersebut.

Gulai kambing, Sumber gambar: dapurkobe.co.id

Malam itu saya baru saja mengikuti latihan karate di Museum Brawijaya. Ya, di masa kecil latihan menari, karate, basket saya coba semua. Kata bapak, mumpung masih muda, harus banyak beraktivitas.

Nah, hari Minggu malam adalah jadwal saya untuk latihan di museum Brawijaya. Latihan dimulai pukul tujuh dan diakhiri sekitar pukul setengah sembilan.

Selesai latihan biasanya  Bapak sudah menunggu saya di bawah pohon dekat museum Brawijaya bersama sepeda motor Bebek 75 merah yang selalu setia menemaninya. 

Sepeda motor kami terus berjalan menembus malam. Jam setengah sembilan suasana  Kota Malang sudah terasa sepi. Jalan Ijen terasa agak lengang. Hanya satu dua sepeda motor yang lewat.

Saya duduk di belakang sepeda motor bapak yang berjalan pelan.

” Bagaimana latihannya?” tanya bapak.

“Asik juga. Mungkin habis ulangan umum, jadi yang latihan agak banyak,” jawab saya sambil memegang tas saya erat-erat.

Sepeda motor kami tiba- tiba berhenti di depan warung dengan tutup biru tersebut. “Sederhana”. Aih…

“Kok ke sini?” tanya saya heran.

Bapak tersenyum.

“Makan dulu.. habis olah raga, pasti lapar,” 

Bergegas saya turun dari boncengan dan ikut bapak masuk ke dalam warung.

Sekul gulai kalih, wedang jeruk kalih,” kata bapak pada sang penjual.

Gulai kambing, sumber gambar : Tastynesia

Rasanya seperti bermimpi. Membayangkan membeli gulai saja sudah tak pernah, apalagi makan di warungnya. 

Saya duduk di sebelah bapak. Aroma gulai kambing demikian menggoda hingga perut saya mulai berbunyi.

“Krupuk?” tanya bapak sambil mengambil dua bungkus krupuk puli dan meletakkan di depan saya.

Tak lama kemudian pesanan kamipun datang. Dua mangkok nasi gulai lengkap dengan sambal dan jeruk nipis dalam piring kecil dan dua minuman jeruk nipis hangat.

Tanpa dikomando dua kali saya segera makan. Sambil bergurau saya menceritakan asyiknya latihan karate hari itu. Bapak sesekali tertawa. Ya, dalam banyak hal, beliau adalah teman ngobrol yang sangat menyenangkan.

Malam semakin larut. Setelah membayar, bapak mengajak saya untuk segera pulang. Perut saya terasa begitu hangat, apalagi hati saya.

“Kok malam?” tanya Ibuk sesampai di rumah. Saya dan bapak cuma tersenyum penuh rahasia. 

Cerita tentang nasi gulai kambing itu baru kami buka keesokan harinya. Seperti yang diperkirakan, mas dan adik saya langsung protes dan ingin diajak makan ke warung “Sederhana”.

Sejak saat itu saya merasa bahwa gulai kambing adalah hidangan terlezat yang pernah ada.

Mengapa ? Bukan hanya karena terasa begitu sedap dan kaya rempah, tapi selalu mengingatkan saya pada bapak dengan segala kenangan dan kasih sayangnya.

Arti istilah:

Sekul gulai kalih, wedang jeruk kalih : nasi gulai dua, minuman jeruk dua

Wenak paling yo… : sepertinya enak ya ..

Iya lah… larang tapi : iya, tapi mahal

Dari “Procol Harum” Hingga “Kangen”, Sebuah Cara Membangun Bonding dalam Keluarga

Topik pilihan Kompasiana kali ini sangat menarik, yaitu tentang bonding antara orang tua dan anak. Renggangnya hubungan antara anak dan orang tua sekarang ini ditengarai karena kurangnya bonding di antara mereka.

Dari berbagai sumber yang saya baca, bonding antara orang tua dan anak adalah ikatan emosional yang kuat dan mendalam yang terbentuk seiring berjalannya waktu. 

Bonding bisa membangun dasar percaya diri, rasa aman, dan cinta antara kedua belah pihak.

Ada banyak cara untuk meningkatkan bonding antara orang tua dan anak, seperti menyediakan waktu berkualitas untuk melakukan kegiatan bersama, mau terlibat dalam kegiatan anak, bersedia saling mendengarkan dan banyak lagi.

Pada prinsipnya bonding terjadi melalui interaksi positif, perhatian, perawatan, dan komunikasi yang ajeg antara orang tua dan anak.

Francis Goya

Berbagai artikel tentang bonding orang tua dan anak ini  mengingatkan  saya ingat pada bagaimana bapak saya membangun ikatan emosional yang kuat dengan kami para anaknya.

Bapak membangun ikatan emosional tersebut lewat membaca dan mendengarkan musik bersama. Mengenai membaca, sudah pernah saya ulas dalam artikel yang berjudul Belajar dari Bapak, Menanamkan Kegemaran Membaca dengan Cara yang Sederhana

Kali ini saya akan bercerita tentang bonding yang terbentuk karena mendengarkan musik bersama.

Sebuah cara yang sangat sederhana namun bisa membuat ikatan emosi kami terjalin erat

Kala itu kami sekeluarga memiliki tradisi mendengar musik bersama. Setiap sore ataupun pagi sebelum sekolah. Sambil mendengar musik yang diputar kdari kaset kami bersih- bersih, istirahat sejenak sambil ‘ngeteh’ lalu meneruskan kegiatan lainnya.

Lagu- lagu yang disetel lewat tape adalah lagu kesukaan bapak yang akhirnya menjadi kesenangan kami juga.

Hingga sampai sekarangpun, di mana saja kami berada jika mendengar lagu -lagu tertentu kami selalu ingat bapak. Bahkan peristiwa peristiwa kecil yang dibawa oleh kenangan dari lagu itu.

Pernah saat ada acara jalan jalan di luar kota, waktu rombongan kami belanja oleh-oleh tiba tiba sebuah lagu instrumen mengalun. Lagu dari Francis Goya. Saya berhenti sejenak sambil tersenyum. Ah, ini lagu bapak, pikir saya.

Sumber gambar: Spotify

 Sampai sekarang setiap mendengar lagu The Whiter Shade of Pale, saya selalu diam sejenak. Menikmati alunannya sambil mengulang kenangan ketika kami , saya dan bapak duduk di ruang depan sambil menyelesaikan jahitan yang akan diambil esok hari.

Ya, bapak saya adalah seorang penjahit, tiap malam kami memasang kancing ataupun menjahit tangan baju baju yang akan segera diambil para pelanggan  kami.

Lagu berikutnya yang sangat sangat membuat saya teringat bapak adalah Belladona dari UFO. Melodinya saja sudah terasa sangat indah menurut saya

Belladona

Di zaman radio masih sering diputar, di suatu siang ketika sedang bermain saya mendengar lagu ini diputar di radio tetangga.

Saya segera berlari ke bapak yang sedang menjahit. “Pak, ada Belladona!” teriak saya.

Bergegas bapak nyetel radio Sieghfrid kami di belakang mesin jahit, dan mencari stasiun radio yang memutar lagu Belladona.

Meskipun hanya dapat setengah lagu tapi senang sekali rasanya bisa mendengar bersama bapak. Ada rasa bangga karena saya ‘menemukan’ lagu itu.

Dream Express, tangkapan layar pribadi

Lagu- lagu dari Dream Express yang pernah ngetop di kisaran tahun 80 an  juga menyimpan banyak kenangan manis. Saat itu saya sering diajak ke toko kaset. Mendengar lagu lewat headphone, memilih kaset yang bagus sungguh sangat menyenangkan.

Apalagi kalau di rumah bapak berkata,”Nduk, lagu pilihanmu enak-enak,”

Bahkan urutan lagu Dream Express ini saya hafal saking seringnya disetel di rumah.

Masih banyak lagi lagu lain yang menyimpan kenangan di antara kami. Sampai kamipun hafal lagu kesukaan kakak, ibuk, juga adik.

Sampai sekarang begitu mendengar lagu lagu Deep Purple dan Kitaro saya langsung WhatsApp adik saya. Ya, dulu kami sering ngopi sambil mendengar lagu lagu favorit kami ini.

Mendengar musik bareng juga sering saya lakukan dengan anak-anak saya. Biasanya pulang sekolah atau pas bersih bersih di hari Minggu.

Ada satu lagu favorit yang kami dengarkan bersama yaitu “Music and Me ” dari Michael Jackson. 

Music and Me

Kata anak saya setiap mendengar lagu itu ia selalu ingat suasana Minggu di rumah. “Ada ibuk yang masak di dapur, aku dan adik adik membaca dan ngobrol di kamar belakang dan rumah beraroma obat pel… Selalu bikin kangen,” katanya.

Hingga ketika saya dan anak saya berjauhan karena harus kuliah atau bekerja di luar Malang, berkirim lagu adalah hal yang sering kami lakukan.

Suatu ketika, anak saya yang saat itu sedang kuliah di Jogja mengirim lagu Nothing s Gonna Change My Love for You, dari George Benson lewat WhatsApp.

“Lagi jalan jalan tiba-tiba adalah lagu kesukaan Ibuk,” katanya.

Dewa 19, sumber gambar: Spotify

Aih… Hati saya terasa begitu hangat. Segera saya buka Spotify, saya kirim sebuah lagu balasan untuknya. “Kangen” dari dewa 19. 

“Kangen ya Le…,”

Bapak Adalah Pahlawanku

(Naskah lomba cerpen anak)

Malam semakin larut. Jam dinding mengeluarkan bunyi tik…tik…tik… Jarum-jarumnya seperti berkejar-kejaran. Beberapa saat lagi pasti akan menunjukkan pukul delapan. 

Nodi mulai menguap. Anak yang masih duduk di kelas empat SD itu sudah mulai mengantuk. Berkali-kali dikucek-kuceknya matanya yang mulai terasa berat.

PR dari Bu Guru tinggal satu nomor lagi.

“Buk, pahlawan itu apa?” tanya Nodi sambil memandang Ibuknya yang duduk tak jauh darinya.

Ibuk meletakkan jahitan tangannya. Setiap malam Ibuk selalu menemani Nodi dan adik-adiknya belajar.

“Orang yang berjasa untuk bangsa dan negara,” jawab Ibuk.

“Orang yang berjuang untuk kemerdekaan?” tanya Nodi lagi.

“Bisa..,” kata Ibuk sambil  mengangguk.

“Kalau sudah merdeka berarti tidak ada pahlawan, ya?” lanjut Nodi.

“ Eh, orang yang berjuang untuk kemajuan lingkungan sekitarnya juga bisa disebut pahlawan, Le,” ralat Ibuk kemudian.

“Berarti bukan yang berjuang di zaman kemerdekaan saja ya Buk?”

Ibuk tersenyum melihat semangat bertanya Nodi, “Tidak, Nodi.., sekarangpun banyak pahlawan. Ada pahlawan kebersihan, pahlawan pendidikan, dan banyak lagi..,”

“PR Nodi sudah selesai?” tanya Ibuk sambil meraih buku tulis Nodi dan memeriksanya.

Nodi menggeleng.

“Nodi masih bingung dengan satu pertanyaan, tapi itu buat minggu depan, Buk,” jawab Nodi.

“Apa pertanyaannya?” tanya Ibuk.

“Sebutkan contoh sosok pahlawan atau pejuang di lingkungan sekitarmu,”jawab Nodi. Ia menguap lagi.

Demi melihat Nodi yang semakin mengantuk, Ibuk membantu Nodi merapikan buku-bukunya.

“Tidur saja,Le, besok dilanjutkan,”

Nodi mengangguk. Ia segera berangkat ke kamar dan tak berapa lama kemudian iapun mengikuti jejak kedua adiknya yang sudah tertidur pulas.

****

Minggu yang cerah. Tidak ada yang lebih indah daripada hari Minggu. Hari dimana semua bisa dikerjakan dengan irama yang santai. Hari di mana Nodi bisa berlama-lama dengan bapak, ibuk  dan adik-adiknya di rumah.

 Nodi berlari menyambut bapak yang membawa dua keranjang penuh belanjaan. Bapak baru saja pulang dari pasar. Cepat-cepat Nodi meraih satu keranjang. Dua adiknya yang masih kecil ikut di belakangnya.

 “Berat Le,  hati-hati.., ” kata bapak Nodi  sambil tersenyum.

 “Haa segini sih, keciiil..,  ” kata Nodi sambil menjentikkan jarinya.  Adin dan Sisi adiknya mengikuti tingkah Nodi dengan lucu.

Dengan cekatan Nodi membawa keranjang itu ke dapur di mana  Mas No dan Mas Pri sudah menunggu. Mas No dan Mas Pri adalah orang yang bekerja pada Bapak Nodi.  Keduanya  bekerja di rumah Nodi sejak Nodi masih duduk di TK.

Bapak Nodi adalah pembuat dan penjual bakso Malang.  Bakso yang terkenal lezat dengan isinya yang bermacam-macam.  Banyak yang mengatakan, jika pergi ke Malang selalu sempatkan membeli bakso Malang, ditanggung pasti ketagihan.

 Tiap hari di rumah Nodi selalu ada kesibukan membuat bakso. Aroma daging giling yang diberi bumbu dan berbentuk bulat itu selalu memenuhi rumah yang tak begitu besar itu. Selain membuat bakso, Mas No dan Mas Pri juga membuat  siomay,  tahu kukus dan siomay goreng.

 Saat libur Nodi selalu ikut membantu.  Tugasnya adalah menggulung mie. Dengan telaten bapak mengajarinya. Ya,  berbeda dengan bakso Solo yang mie nya diurai,  bakso Malang mienya digulung.

Biasanya semua pekerjaan itu selesai menjelang  duhur,  dan sesudah istirahat sejenak, bakso mulai dijual berkeliling kampung. 

 Nodi selalu ingat cerita ibuk tentang perjuangan bapak dalam berjualan bakso.  Dari mulai punya satu gerobak hingga akhirnya mempunyai tiga gerobak. Ketiganya dijalankan oleh bapak, Mas No dan Mas Pri.

Sumber gambar: Bakso Endeus

  Sesekali ibuk juga membantu membuat bakso, meski dalam keseharian  ibuk lebih  banyak disibukkan oleh menemani Nodi dan kedua adiknya.

Dengan berjualan bakso bapak bisa menampung tenaga kerja dari orang -orang sekitar rumah. Seperti Mas No dan Mas Pri. Bahkan Ketika ada pesanan yang banyak beberapa tetangga membantu di rumah, dan tentu saja oleh Bapak akan diberi sedikit uang lelah.

Dalam berbagai acara kampung bapak Nodi juga sering memberikan sumbangan. Misal ketika kemarin ada rapat persiapan HUT Proklamasi, Bapak Nodi  hadir dan menyediakan konsumsi untuk panitia yang hadir.

Apa konsumsinya? Semangkuk bakso tentu! Semua sudah kenal dengan lezatnya Bakso Pak Man, bapak Nodi.

Pendeknya bapak benar-benar sosok yang sangat membanggakan. Kerja keras, kesabaran dan kedermawanannya adalah teladan yang akan selalu dicontoh oleh Nodi dan adik-adiknya. 

Malam itu sehabis sholat Isyak bapak menghampiri Nodi yang sedang tekun belajar.

“PR ,ya Le? “

Nodi menghentikan pekerjaannya.

“Benar Pak, “jawabnya.

Bapak mengelus kepala Nodi dengan bangga. 

“Sekolah yang pinter ya Le,  biar nanti hidupmu enak..,  jauh lebih sukses dari Bapak, ” kata bapak Nodi lagi.

 Nodi tersenyum.

” Iya Pak,  tapi Nodi nanti ingin tetap berjualan bakso, seperti Bapak, ” jawab Nodi.

Bapak Nodi terkejut.

“Nodi ingin sekolah yang pintar,  berjualan bakso dengan armada yang lebih banyak, Nodi juga ingin punya restoran bakso dan bisa  buka cabang di mana-mana, ” lanjut Nodi yakin.

Bapak Nodi terpana sejenak lalu tertawa bangga sambil mengucek-ucek rambut anaknya.

Terima kasih Bapak, Bapak telah memberi banyak teladan pada Nodi. Tentang bagaimana berjuang dan bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga, bahkan membantu orang-orang sekitar.

Tiba-tiba Nodi tahu, apa jawaban dari pertanyaan di PR kemarin. Ya, Nodi sudah menemukan sosok pahlawan atau pejuang itu. Bapak adalah pahlawanku, bisik hati kecil Nodi.

Di Makam Bapak

Suasana TPU demikian sepi. Hari masih begitu pagi. Pohon-pohon besar yang tumbuh di sepanjang jalan menuju makam daunnya bergoyang-goyang tertiup angin. Sesekali burung- burung kecil mencerecet sambil terbang dari satu pohon ke pohon yang lain.

Berdua kami berjalan di antara makam- makam. Dekat mushola TPU langkah kami berhenti. Kami memandang ke sana kemari dengan lebih teliti.

“Seingatku di daerah sini, Mas,” kataku sambil terus memeriksa nisan-nisan di sekitarku. Mas diam. Matanya tetap  memperhatikan sekitarnya lebih seksama.

“Iya.., aku juga ingat tak jauh dari mushola ini.. ,” jawab Mas kemudian.  Rasa penasaran terus membuatnya mencari-cari seperti halnya aku.  Membaca nama demi nama dari nisan-nisan tersebut.

“Masa hilang?” kataku resah.
Mas mendesah. Ada kesedihan tergambar di wajahnya. Hari ini seperti tahun- tahun terakhir ini  kami gagal menemukan makam bapak.

Bapak meninggal di akhir tahun 90 an. Cukup lama. Saat itu aku dan Mas kira-kira di awal usia dua puluhan.

Jarak usia yang tak terpaut jauh membuat kami begitu akrab. Kemana-mana bersama, sering juga bersama bapak.

Tapi itu dulu. Sejak bapak meninggal dan kami berumah tangga semua tiba-tiba berubah.

Aku tinggal di Malang bersama ibuk sementara Mas merantau dan akhirnya tinggal dengan keluarganya di luar kota.

Komunikasi jarang kami lakukan. Ya, kami sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Merintis keluarga dari nol bukan hal yang mudah dan itu membuat kami konsentrasi dengan kehidupan kami masing-masing.

Akan halnya ibuk, beliau menyusul bapak beberapa tahun kemudian. Ya, kondisi kesehatan ibuk terus menurun sejak kepergian bapak.

Kepergian bapak dan ibuk membuat kami makin jarang bertemu. Bahkan lebaran pun kadang kami tak saling berkunjung. Saat lebaran Mas berkumpul dengan keluarga besar istrinya, demikian juga aku.

Berkunjung ke makam hanya kami lakukan menjelang puasa dan lebaran. Meski sesudah sholat kami selalu mendoakan   ibuk  dan bapak.

Sejak kepergian ibuk kami tak pernah mengunjungi makam bersama-sama. Sungguh, berbagai kesibukan membuat kami menyepelekan kebersamaan di antara kami. Padahal kebersamaan itu dulu selalu mengisi hari kami.

Ketika tiba-tiba makam bapak tak ditemukan sekitar empat tahun yang lalu,  kami mulai saling menyalahkan. Kami memang belum memasang kijing untuk makam bapak.

Sumber gambar: suara.com

“Kamu kan yang di Malang? Kok bisa hilang?”
“Kalau jarang diziarahi ya nanti dipakai orang lain..,”kata Mas saat itu.
“Lha Mas kan juga anak bapak? Kenapa Mas jarang ziarah?” balasku tak mau kalah. Sungguh, rasa penyesalan dan amarah membuat aku merasa ‘tak terima’ saat itu.

Sejak saat itu komunikasi di antara kami semakin jarang. Ketika ziarah ke makam ibuk, Mas biasanya tidak berkabar padaku. Demikian juga aku. Tak pernah sekalipun menyinggung masalah makam bapak atau ibuk. Biarlah ziarah menjadi urusan kami sendiri-sendiri.

Namun tahun ini beda. Usia yang semakin bertambah mungkin membuat kami lebih bijak untuk menerima dan memaafkan segala kekurangan kami.

Menjelang Ramadhan tahun ini tiba-tiba  Mas datang ke Malang dan mengajakku ziarah ke makam ibuk dan bapak. Dan itu yang membawa kami berdua ke TPU pagi ini.

Makam ibuk lebih mudah dicari karena lokasinya dekat dengan makam keluarga yang lain. Makam bapak yang agak jauh. Dan celakanya ‘hilang’ pula.

Kenyataan yang menyedihkan. Makam bapak sendiri sampai hilang!.
Anak macam apa kami ini, sesalku.

Lelah mencari kamipun berhenti. Dalam jarak antara beberapa nisan kami duduk terpekur dalam diam.

Doa-doa mulai kami langitkan. Meski makam bapak tak ditemukan bukankah Allah maha mendengar semua doa?

Selesai berdoa mataku mulai membasah. Rasa sesal kembali menelusup dalam hati.

Sungguh rasa berdosa ini selalu muncul  sejak makam bapak tak ditemukan.

Sumber gambar: Hi tekno.com

Bapak, maafkan kami.. betapa  kami tak bisa hanya  sekedar untuk  merawat makam bapak.

Diam-diam kuamati Mas yang masih khusyuk dalam doanya.
Mas tampak semakin tua. Guratan-guratan  usia mulai menghiasi wajahnya. Beberapa rambut putih mulai bermunculan tak ubahnya diriku.

Ketika Mas mengusap wajahnya sebagai tanda selesai berdoa, aku segera berdiri  untuk segera meninggalkan makam.

Tapi entah mengapa seakan ada yang menahan langkah kakiku. Seperti ada yang mencegahku meninggalkan area pemakaman.

“Jangan pulang dulu.., cari lagi..,” bisik hatiku.

Kembali kuamati nisan di sekitarku satu persatu.
“Ayo.. ,” kata Mas yang sudah menungguku.
“Sek.. tunggu..,” kataku pada Mas.

Mataku tiba-tiba berhenti pada nisan tak bernama tidak jauh dari tempatku berdiri. Segera kuhampiri nisan itu. Rupanya tertutup lumut yang lama sudah mengering.

“Kenapa?” tanya Mas heran.
“Jangan-jangan ini Mas?” kataku sambil membersihkan nisan itu. Mas segera mendekat sambil  membawa potongan batu kecil untuk membantuku. Dan .. tiba tiba sebuah tulisan muncul di situ. Nama bapak!

“Ini kan tulisanku, Dik,” kata Mas gembira. Dengan gerakan yang lebih cepat nisan kami bersihkan. Ada nama, lahir dan wafat bapak di situ. 

Kami saling berpandangan. Rasa haru dan syukur berpadu jadi satu. Melihat tulisan itu tiba-tiba aku ingat saat meninggalnya bapak. Ketika itu Mas membuat tulisan itu sementara aku memegang kaleng cat kecil di sebelahnya. Bagaimana warna hatiku saat itu, sungguh aku masih bisa membayangkannya.

Kami kembali berdoa. Kini benar- benar di depan makam bapak. Lama.

Ketika matahari semakin naik kamipun meninggalkan TPU. Berbeda dengan tadi, suasana tak begitu sepi. Beberapa pengunjung TPU mulai berdatangan.

Berdua kami menuju pintu keluar.
Mas merangkul pundakku seperti dulu. Hatiku begitu hangat sekaligus terharu. Betapa kebersamaan diantara kami sangat terabaikan selama ini.