Literasi Bersama Siciput, Perjuangan dan  Kegigihan Meraih Cita-cita dalam Film MARS

Sementara sebagian siswa menonton film di MOPIC, sebagian siswa yang tidak mengikuti kegiatan tersebut melakukan kegiatan literasi di sekolah.

Literasi kali ini diprakarsai oleh Siciput, perpustakaan SMP Negeri 3 Malang.

Sebagaimana kita ketahui bersama, ada enam jenis literasi dasar yang perlu dikuasai siswa yaitu: literasi baca dan tulis, numerasi, sains, digital, finansial dan literasi budaya dan kewargaan, dan kali ini kami melakukan literasi digital dengan menonton film motivasi berjudul MARS ( Mimpi Ananda Raih Semesta). 

Tentang film MARS (Mimpi Ananda Raih Semesta)

Film ini bercerita tentang sebuah keluarga miskin yang tinggal di daerah Gunung Kidul yang terdiri dari Ibu, ayah dan seorang anak bernama Sekar Palupi.

Meski hidup dihimpit dalam kemiskinan, Tupon , ibu dari anak ini memiliki cita cita besar yaitu agar anaknya menjadi orang yang pintar.

Tanpa kenal lelah Tupon membesarkan dan memberikan semangat kepada putrinya untuk sekolah. 

Ibu yang buta huruf ini  selalu membawa Sekar Palupi melihat alam semesta.

Tupon selalu menunjukan lintang lantip (bintang yang cerdas), planet Mars. Ia sering mengatakan bahwa Sekar bisa mencapai lintang tersebut dengan ilmu pengetahuan.

Kegigihan dan impian ibu ini sempat dicibir oleh tetangganya. Lebih- lebih ketika Sekar menolak lamaran seorang duda dengan alasan ingin melanjutkan kuliah.

Dalam perjalanan mencari ilmu Sekar akhirnya mendapat beasiswa untuk kuliah di sebuah universitas di Jogjakarta dan lanjut hingga meraih gelar master dalam bidang astronomi di Oxford University, Inggris.

Mimpi Adinda Raih Semesta, sumber gambar: Viu

Kata MARS di sini memiliki dua makna. Bukan hanya sebagai singkatan dari Mimpi Ananda Raih Semesta, namun juga bermakna sebagai planet mars atau lintang lantip.

Film yang direlease tahun 2016 ini dibintangi oleh Kinaryosih, Acha Septriasa, Teuku Rifnu Wikana, Cholidi Asadil Alam, dan Chelsea Riansy dan dibuat berdasarkan novel dengan judul yang sama , karya Aishworo Ang.

Banyak adegan yang mengharukan dan memperlihatkan kondisi kemiskinan rakyat kecil di masa itu. Adegan mengharukan didominasi oleh kegigihan perjuangan Tupon agar anaknya bisa sekolah dengan baik.

Sedikit yang mengganggu dalam film ini adalah alurnya yang terasa terlalu cepat. Terutama pada bagian di mana Sekar tiba- tiba dapat beasiswa untuk kuliah di Jogja dan langsung lanjut magister. Tidak tampak perjuangan Sekar di masa sekolah lanjutan ataupun kuliah.

Namun lepas dari hal tersebut ada banyak pelajaran penting yang bisa diambil dari film ini, di antaranya kegigihan mengejar mimpi, jangan menyerah pada keadaan, termasuk menghargai orang tua yang sangat berperan besar dalam meraih kesuksesan kita.

Adegan yang sangat mengharukan sekaligus membanggakan adalah ketika Sekar berpidato di hari kelulusannya dan memberikan tribute pada Ibunya yang selalu memberikan motivasi pada dirinya dalam menuntut ilmu meski didera kemiskinan.

“Saya menemukan surga dalam diri ibu saya,dan saya sangat percaya pada sebuah hadits yang mengatakan: Dalam hidup ini siapakah yang harus kamu hormati? Jawabannya adalah Ibumu, Ibumu, Ibumu, kemudian ayahmu,” ungkap Sekar di akhir pidatonya yang langsung disambut dengan tepuk tangan para mahasiswa yang lain.

Peserta nobar hari pertama , dokumentasi Bintaraloka

Masih belum cukup, applaus para mahasiswa di film diikuti tepuk tangan siswa di aula. Agaknya mereka benar- benar terbawa dengan alur cerita film ini.

Di akhir kegiatan ini siswa diminta untuk membuat resume cerita film, menulis pelajaran berharga yang bisa diambil termasuk menuliskan adegan film yang paling disukai beserta alasannya.

Hari yang sangat menyenangkan. Meski ada air mata pada beberapa siswi karena terharu, di akhir kegiatan suasana kembali ceria karena ada pembagian voucher kantin bagi siswa yang bisa menjawab pertanyaan tentang film hari itu.

Tanya jawab dan pembagian mbagian voucher di akhir acara, dokumentasi pribadi

Ketika jam menunjukkan pukul setengah sebelas siswa beranjak meninggalkan aula. Harapannya ke depan kegiatan literasi akan dikemas dalam kegiatan kegiatan menarik, dan nonton bareng ini akan lebih sering dilakukan.

Persahabatan dan Perjuangan dalam Meraih Cita-cita, Tentang Nobar Film “Sang Juara Sejati”

Menonton film adalah salah satu bentuk literasi yang sangat digemari siswa. Lewat film  yang bagus,  karakter baik bisa ditularkan, demikian juga inspirasi pada para penontonnya. 

Berkaitan dengan pembentukan karakter baik pada diri siswa, pada hari Rabu dan Kamis (12-13 Juni) siswa kelas 7 dan 8 bergantian menonton film bareng di MOPIC yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta 9 Malang.

Film yang diputar dalam acara tersebut adalah Sang Juara Sejati yang direlease tahun 2024 dengan bintang Yatti Surachman, Adli Umar, Raissa Siregar, Kendra Basel dan disutradai oleh Alex Latief.

Film Sang Juara Sejati bercerita tentang Elang anak yatim piatu yang tinggal bersama neneknya yang bernama Mak Inah. 

Sumber gambar : Film Indonesia

Sejak kecil, rumah Elang berdekatan dengan Melati seorang anak perempuan tomboy yang memiliki rambut gimbal sejak lahir. 

Berdasarkan kepercayaan masyarakat kampung, anak yang terlahir dengan rambut gimbal adalah titisan leluhur yang hanya boleh dipangkas rambutnya dengan menjalankan upacara, serta setiap permintaannya harus dikabulkan oleh kedua orang tuanya setelah rambut gimbalnya dipotong.

Teman Elang yang lain yaitu Rafi adalah anak yang manja dari keluarga yang berkecukupan dan mendapatkan apa yang ia inginkan dari kedua orang tuanya.

Latar belakang yang berbeda tidak menghalangi ketiga sahabat tersebut untuk berjuang meraih cita-cita, dan melalui berbagai tantangan untuk menjadi juara yang sejati.

Pendamping siswa, dokumentasi Bintaraloka

Ada banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari film ini. Film yang berdurasi sekitar 110 menit ini memberikan pelajaran tentang  persahabatan dan pantang menyerah dalam mencapai cita.

“Melalui film ini juga anak anak diajak untuk lebih bersyukur karena akses mereka ke sekolah tidak sesudah yang ada di film,” demikian diungkapkan Ibu Ahfi salah satu pendamping nobar hari itu.

Ando & Ali: Dua Pemanah Ulung Bintaraloka yang Siap Menaklukkan Tantangan Baru

Cabang olahraga panahan mungkin bukanlah yang paling popular di Indonesia. Dibandingkan dengan sepak bola ataupun bulu tangkis, cabang olahraga ini tidak terlalu banyak memikat mata. Akan tetapi, masih banyak anak muda yang menekuni cabang olahraga ini dan terbukti mampu mendulang segudang prestasi, baik pada level terbawah hingga bahkan menaklukkan kompetisi level provinsi.

Pada momen kali ini, saya mendapatkan kesempatan berbincang dengan dua siswa SMP Negeri 3 Malang yang telah malang melintang di dunia panahan, memenangkan berbagai macam penghargaan dan menorehkan nama mereka sebagai dua orang rising star di kancah panahan provinsi Jawa Timur. Keduanya adalah Ando Juliant Chamelo (14) dan Gusti Muhammad Ali (14). Keduanya merupakan siswa kelas 9.7 SMP Negeri 3 Malang yang juga merupakan atlet panahan andalan Kota Malang di berbagai kejuaraan panahan selama beberapa tahun terakhir.

Bagaimana tidak, dalam rentang waktu mereka bersekolah di SMP Negeri 3 Malang, keduanya telah menorehkan berbagai prestasi, seperti Ando – Sapaan dekat Ando Juliant Chamelo – yang telah menyabet juara 1 individu Kejuaraan provinsi kelompok umur panahan Jawa Timur 2022, juara 2 individu Kejuaraan Panahan Piala Dankormar 2023, juara 2 individu SPA CUP 9 INDOOR ARCHERY TOURNAMENT 2024, dan masih banyak lagi.

Gambar 1. Deretan prestasi Ando Juliant Chamelo di dunia panahan selama duduk di bangku SMP.

Tak ingin kalah dari kompatriotnya, Ali – Sapaan dekat Gusti Muhammad Ali – juga kerap mendulang pundi prestasi, mulai dari Juara 1 Aduan Beregu Divisi Compound Putra Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XIII Provinsi Jawa Timur 2022, JUARA 2 Mixteam Compound U-15 Kejuaraan Piala Danrindam V/Brawijaya tahun 2022, 6. Juara 2 Total Mix Team Compound U15 Pada Kejuaraan Panahan Piala Dankormar 2023, dan sejumlah prestasi lain yang akan terlalu banyak jika harus disebutkan satu persatu.

Gambar 2. Deretan prestasi Gusti Muhammad Ali di dunia panahan selama duduk di bangku SMP.

Deretan prestasi ini tentu melambungkan nama Ando dan Ali di dunia panahan kota Malang, dan mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai kedua siswa berprestasi tersebut merupakan sebuah kehormatan bagi saya.

Pewawancara (P): Untuk memulai wawancara singkat kali ini, saya ingin bertanya sesuatu yang sederhana terlebih dahulu. Sejak kapan kalian tertarik dengan dunia panahan dan apa momen yang membuat kalian berdua terjun ke dalam dunia ini?

Ando: Saya memulai (latihan) sejak kelas 1 di sekolah dasar. Saat itu, saya inging menekuni olahraga yang disunnahkan Nabi (Muhammad SAW), dan setelah saya pikirkan dengan hati-hati, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba panahan.

Ali: Kalau saya baru tertarik memulai Latihan di kelas 2 sekolah dasar. Ketika itu, saya tidak sengaja melihat latihannya dan saya ingin mencoba karena panahan ini berbeda dengan olahraga lainnya.

Keduanya memiliki alasan yang cukup unik, dan hal tersebut mungkin cukup untuk menggugah rasa penasaran mereka untuk mencoba. Akan tetapi, memulai rutinitas yang baru dan menekuninya secara konsisten adalah kedua hal yang berbeda. Oleh karena itu, tak lupa saya menanyakan, apa hal pertama yang membuat mereka berdua ‘jatuh cinta’ terhadap dunia panahan.

Ando: Mungkin karena waktu pertama kali ikut kompetisi, saya berhasil naik (podium), jadi saya mungkin kecanduan terhadap panahan.

Ali: Kalau saya justru kebalikannya. Ketika saya pertama kali ikut kompetisi, saya justru gagal masuk podium, sementara kakak saya yang memulai lebih lambat justru berhasil masuk. Perasaan iri tersebut yang membakar semangat saya untuk menekuni panahan lebih lanjut.

Gusti Ali dalam sebuah event, dokumentasi Ali

Ya, Ali sendiri terlahir di keluarga pemanah, dimana kedua saudara kandungnya juga menekuni olahraga yang sama. Tak heran, jiwa kompetitif Ali sudah terbentuk semenjak ia memasuki kompetisi untuk pertama kalinya.

Berbicara tentang jiwa kompetitif, tentu saya tak lupa untuk bertanya persaingan mereka. Kedua siswa tersebut telah malang melintang di dunia panahan, tentu saya juga tertarik dengan rivalitas mereka berdua di atas lapangan. Sayangnya, hal tersebut tidak pernah terjadi, mengingat keduanya tidak tergabung dalam kategori yang sama.

Ando: Iya, kami tidak pernah bermain di satu kompetisi yang sama. Ali sendiri tergabung dalam kategori Compound, sedangkan saya ada di kategori Recurve.

Compound dan Recurve sendiri adalah dua dari banyaknya kategori di dunia panahan. Ando menjelaskan bahwa perbedaan mendasar dari kedua kategori tersebut terletak dari busur panah dan jarak targetnya.  Untuk kategori Compound, busur yang digunakan memiliki system katrol yang meringankan beban saat ditarik, sehingga tantangan yang diberikan pada kategori ini adalah untuk menembak target yang jauh lebih kecil. Sedangkan untuk kategori Recurve, busur yang digunakan jauh lebih sederhana, sehingga meskipun target diletakkan sedikit lebih jauh, diameter dari target sendiri memang lebih besar.

P: Di samping menjadi atlet panahan, kalian berdua kan juga berstatus sebagai siswa. Bagaimana cara kalian menyeimbangkan kegiatan sehari-hari antara panahan dan pembelajaran?

Ali: Berdasarkan pengalaman saya, untuk menjaga agar tidak terlalu tertinggal di dalam kelas, saya selalu bertanya teman atau guru terkait tugas yang telah diberikan dan ikut mengerjakannya ketika Latihan panahan saya selesai.

Ando: Kalau saya punya pendekatan berbeda. Saya tahu kalua dengan rutin latuhan panahan, saya akan tertinggal di bidang akademis dibandingkan dengan teman-teman saya. Karena itu, saya selalu membulatkan tekad untuk paling tidak harus masuk ke dalam podium di setiap kompetisi yang saya ikuti untuk membayar pengorbanan tersebut.

Ya, keduanya memiliki pendekatan yang berbeda terkait dengan menyeimbangkan kehidupan mereka sebagai siswa dan atlet panahan. Namun, pada akhirnya, waktu telah membuktikan bahwa pendekatan mereka berdua jauh dari kata salah. Selain berhasil meraih berbagai prestasi di dunia panahan, kedua siswa yang telah lulus dari SMP Negeri 3 Malang sejak tanggal 3 Juni 2025 tersebut telah mendapatkan satu kursi di sekolah impian mereka masing-masing; Ando dengan satu kursi di MAN 2 Kota Malang dan Ali dengan satu kursi di SMA Taruna Nusantara Magelang, dua sekolah dengan tuntutan akademik tinggi.

Keduanya berhasil membuktikan bahwa status mereka sebagai atlet tidak menjadi penghalang bagi keduanya untuk berprestasi di bidang akademis.

P: Saya penasaran, menurut kalian berdua, apa Pelajaran terpenting yang dapat kalian peroleh dari dunia panahan dan kalian terapkan di sekolah?

Ando: Yang jelas nomor satu bagi saya adalah kesabaran. Hal ini (kesabaran) adalah kunci utama di dunia panahan, seperti halnya peran jantung dalam tubuh manusia. Tanpa kesabaran, mustahil seseorang bisa meraih kesuksesan di olahraga ini.

Wawancara dengan Ando dan Ali, dokumentasi pribadi

Ali: Di samping kesabaran, fokus juga menjadi kunci. Karena, pada akhirnya, di dalam pertandingan, yang paling penting adalah diri saya sendiri. Saya tidak akan pernah bisa mempengaruhi lawan saya untuk mendapatkan nilai yang lebih kecil dari saya, sehingga memusatkan pikiran saya untuk meraih hasil yang terbaik tanpa terdistraksi oleh pemain lainnya adalah kunci penting untuk memenangkan kompetisi.

Kesabaran adalah kunci utama di dunia panahan, seperti halnya peran jantung dalam tubuh manusia.

Ando Juliant Chamelo

Meskipun mereka berdua tidak menjelaskan bagaimana mereka menerapkan hal tersebut di sekolah, kedua konsep tersebut – sabar dan fokus – adalah hal yang penting dimiliki setiap orang, tidak hanya di dunia panahan ataupun sekolah, akan tetapi juga di semua lini kehidupan di Masyarakat.

P: Lantas, setelah memenangkan berbagai kompetisi, apa yang menjadi target kalian berdua di masa depan? Apa yang menjadi target untuk jangka pendek dan jangka panjang?

Ali: Untuk target jangka pendek, tentu saya ingin berprestasi di Kejurnas (Kejuaraan Nasional). Meskipun ini adalah sesuatu yang sulit karena saingannya adalah atlet terbaik seluruh negeri, saya tetap ingin berusaha untuk menjadi salah satu dari mereka.

Ando: Sama, saya juga mempunyai target untuk Kejurnas. Untuk jangka panjang sendiri, saya ingin masuk ke dunia hukum, antara kepolisian atau kejaksaan.

Ali: Oh, untuk jangka panjang, saya ingin menjadi dokter umum atau tentara.

Pada akhirnya, kedua siswa tersebut memang menyatakan bahwa mereka tidak mempunyai target jangka panjang di dunia panahan. Namun, saya tidak terlalu kecewa terhadap hal tersebut, karena pada akhirnya, keduanya telah dibentuk secara karakter di dunia panahan, dan saya juga yakin bahwa dimana pun mereka berada, kedua siswa tersebut, Ando dan Ali, akan mampu untuk tetap berprestasi sebagaimana mereka telah menaklukkan berbagai arena panahan hingga saat ini.  

Penulis : Achmad Zulfikar

Editor : Yuli Anita

Semangat Idul Adha di SMP Negeri 3 Malang, Refleksi Keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail

Gema takbir yang bersahut sahutan sejak hari Kamis malam adalah tanda datangnya hari yang sangat dinanti- nanti. 

Seruan akan Maha Besar dan Maha Sucinya Allah menghiasi langit. Ya, Hari Raya Idul Adha tahun ini jatuh pada hari Jumat 6 Juni 2025.

Dalam perayaan Idul Adha kali ini  SMP Negeri 3 Malang kembali mengadakan sholat Id bersama di sekolah.

Jamaah sholat id, dokumentasi Naufal

Sholat kali ini diikuti oleh siswa kelas tujuh dan delapan, guru, Plt kepala sekolah, ketua komite beserta jajarannya juga beberapa orang tua.

Dalam sambutan pagi ini Bapak Teguh Edy Purwanta mengucapkan terima kasih atas kehadiran semuanya.

Beliau juga menerangkan karena berbagai kegiatan yang sangat padat  tahun ini SMP Negeri 3 Malang tidak melaksanakan penyembelihan kurban, dan diharapkan tahun depan bisa melaksanakan kegiatan tersebut seperti tahun-tahun yang lalu.

Bertindak sebagai imam dan khotib sholat Id pagi ini adalah Ustadz Budi Sulistyo, S.Hi, M.Pd

Dalam ceramah pagi ini Ustadz Budi menjelaskan bahwa sebagai umat muslim kita harus selalu mengikuti teladan dari Nabi Muhammad SAW juga Nabi Ibrahim as.

Memperingati Kurban berarti kita mengingat kembali perjalanan hidup Nabi Ibrahim as dan mengambil hikmah dari segala peristiwa yang ada di dalamnya.

Menengok kembali kisah Nabiyullah Ibrahim, diiterangkan oleh Ustadz Budi bahwa Nabi Ibrahim dan Ibu Hajar sangat merindukan hadirnya anak dalam kehidupan mereka. Setelah menunggu bertahun-tahun akhirnya lahirlah Ismail.

Ketika Ismail masih bayi datang perintah Allah pada Nabi Ibrahim untuk uzlah, mengajak anak dan istrinya pindah ke daerah Mekkah dan meninggalkannya.

Jamaah putri , dokumentasi Anggita

Meski perintah itu terasa berat, tapi karena ketaatan manusia- manusia pilihan ini, perintah tersebut pun dijalani

Hingga ketika Ismail menginjak baligh perintah berikutnya datang, yaitu agar nabi Ibrahim menyembelih putranya, Ismail.

Sungguh sebuah perintah yang berat, namun karena ketaatan dan ketakwaan mereka,  Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail melaksanakannya, dan ternyata Ismail diganti dengan domba.

Ketaatan yang sungguh luar biasa dari Nabi Ibrahim ini yang akhirnya membawa anak keturunan Nabi Ibrahim menjadi orang- orang besar dan beliau bergelar Abul Ambiya wal Mursalin, atau Bapak dari para nabi dan rasul.

Dari peristiwa di atas bisa diambil pelajaran tentang ketaatan, kesabaran dalam menjalankan perintah Allah, serta khusnudzon atas segala ketentuan Allah.

Jamaah putri, dokumentasi Bintaraloka

Diungkapkan oleh Ustadz Budi bahwa dengan taat dan khusnudzon dalam menegakkan agama Allah, maka Allah akan menjamin kehidupan kita.

“Marilah kita mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa Kurban ini untuk bisa diterapkan di era sekarang sehingga hidup kita diberkati oleh Allah SWT,” pungkas Ustadz Budi di akhir ceramahnya.

Foto bersama , dokumentasi Naufal

Setelah sholat Id, acara dilanjutkan dengan foto bersama dan sarapan bersama siswa BDI yang sejak sehari sebelumnya melaksanakan kegiatan sholat berjamaah dan takbiran di Masjid Bintaraloka.

Sarapan bersama, dokumentasi Pak Imron

Akhirnya semoga dengan peringatan Kurban ini kita semua akan tumbuh menjadi manusia yang lebih baik, dan akan muncul “Ismail Ismail” baru yang rela berkorban demi ketaatan kepada perintah Allah SWT.

Langkah Awal Menuju Masa Depan, Cerita Penyerahan Kembali Siswa Kelas 9 SMP Negeri 3 Malang 

Suasana demikian ramai di depan Hotel Ijen Suite Malang hari Selasa pagi itu (03/06).

Matahari belum begitu tinggi. Para penjual bunga, tukang foto sudah banyak yang  berjajar di depan hotel. Mereka menawarkan dagangan ataupun jasa pada para pengunjung hotel yang hari itu didominasi oleh siswa SMP dan orang tuanya.

Siap mengikuti kirab, dokumentasi pribadi

Siswa putra berjas hitam rapi, sementara yang putri berkebaya cantik. Memang bukan hari biasa, karena pagi akan dilaksanakan acara Penyerahan Kembali Siswa Kelas 9 SMP Negeri 3 Malang.

Siap mengikuti kirab, dokumentasi Pribadi
Siap di samping ruangan acara, dokumentasi pribadi

Setelah tiga tahun menuntut ilmu, kini saatnya  siswa dilepas untuk menuntut ilmu di jenjang yang lebih tinggi. Acara yang sangat bermakna karena ini adalah pentas terakhir mereka di panggung SMP Negeri 3 Malang.

Acara yang dihadiri oleh sekitar 270 siswa dengan didampingi para orang tua ini dimulai  pukul 07.30 wib.

MC Bapak Nur Rochmat dan Ibu Galuh, dokumentasi pribadi

Dengan dipandu MC Bapak Nur Rochmat, Ibu Galuh dan beberapa siswa, acara pagi itu dimulai dengan kirab siswa dan guru memasuki ruangan.

Iringan instrumen  lagu-lagu  daerah Nusantara membuat suasana terasa segar. Wajah peserta dengan baju yang berwarna warni sesuai kelas masing masing tampak begitu gembira.

Ada senyum di mana- mana.  Ya, hari ini adalah momen terakhir mereka berkumpul bersama teman- teman SMP Negeri 3 Malang.

MC dari siswa, dokumentasi pribadi

Acara Penyerahan Kembali Siswa Kelas 9 kali ini juga dihadiri oleh Bapak Kadinas Pendidikan Dasar dan Menengah, Bapak Pengawas, Ketua Komite SMP Negeri 3 Malang serta Ikatan Alumni.

Dalam sambutan pagi itu ketua panitia Ibu Vivi Maksum mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah berkontribusi sehingga acara ini bisa terselenggara dengan baik.

Ditambahkan oleh Ibu Vivi bahwa moment ini bukan sekedar hura-hura namun juga momen untuk  memberikan apresiasi dan penghargaan pada para siswa atas kerja keras dan semangat mereka selama tiga tahun bersekolah SMP Negeri 3 Malang.

Bapak Kadinas, Kepsek, Ketua Komite, Ketua panitia dan pengawas menyanyi bersama, dokumentasi pribadi

Dalam sambutan pagi itu Bapak Kadin, Suwarjana SE mengucapkan selamat atas terselenggaranya acara Penyerahan Kembali Siswa Kelas 9 ini. Beliau juga berharap agar  kekompakan , kerjasama dengan orang tua dalam menyelenggarakan event sekolah terus ditingkatkan.

Setelah berpidato pagi itu Bapak Kadinas juga berkenan untuk menyumbangkan suara emasnya yang disambut meriah oleh para hadirin.

Sesudah sambutan dari Bapak Kadinas, Bapak Plt Kepala SMP Negeri 3 Malang juga memberikan sambutan. 

Selain berterima kasih pada ketua panitia dan semua pihak yang mendukung terlaksananya acara hari itu, Bapak Teguh berpesan pada siswa agar menjadi  pribadi yang bertanggung jawab dan lebih berhati-hati dalam era disrupsi dan distraksi.

“Teruslah berprestasi  agar index sekolah kita  semakin meningkat,” pesan beliau.

Tari Pesona Indonesia, dokumentasi pribadi

Bapak Natsir Pratomo Ketua Komite SMP Negeri 3 Malang juga berpesan pada semua siswa bahwa sukses adalah target kita semua, dan harapannya anak-anak semua akan semakin sukses ke depannya.

Dalam acara pagi itu juga diumumkan sepuluh besar siswa dengan perolehan nilai terbaik. Nilai diakumulasikan dari nilai rapor semester satu hingga enam, ujian praktik dan ujian tulis.

Sepuluh peraih nilai tertinggi , dokumentasi pribadi

Selain prestasi akademik , juga diumumkan berbagai prestasi non akademik yang diperoleh siswa. Seperti karate, Taek won do, Pramuka dan banyak lagi. Sungguh hari yang bertabur prestasi.

Prosesi kelulusan siswa, dokumentasi pribadi

Selain prosesi kelulusan dan penyerahan siswa, acara pagi itu juga dihiasi dengan berbagai tampilan siswa. 

Tampilan tersebut meliputi tari Pesona Indonesia, alunan Lintang Asmoro dari Farin, lagu-lagu dari Petrichor, aksi memukau Rajendra dan Maureen dalam lagu The Prayer juga lagu-lagu keroncong.

Penampilan Farin, dokumentasi pribadi
Perichor, dokumentasi pribadi
The Prayer oleh Maureen dan Syahjendra, dokumentasi pribadi

Sesudah pembacaan ikrar, dua orang siswa maju ke depan sebagai perwakilan untuk menerima selempang alumni. Momen ini menandakan bahwa siswa sudah menjadi alumni Bintaraloka (B25).

Pemberian selempang alumni, dokumentasi Buz

Apresiasi setinggi- tingginya kepada tim panitia baik dari orang tua dan guru yang telah bekerja keras sehingga acara Pelepasan Siswa kali ini berjalan sukses dan meriah.

Panitia dari orang tua, dokumentasi Buz

Akhirnya selamat untuk anak-anak atas kelulusannya. Perlu diIngat bahwa hari ini  bukanlah akhir,  namun justru langkah awal untuk menuntut ilmu di jenjang yang lebih tinggi.

Terus semangat, berjuang dan berprestasi serta jangan lupakan Bumi Bintaraloka.

Kami selalu menunggu kabar sukses kalian..