Lebih Memahami Budaya Nusantara Melalui Pembuatan Majalah Duduk (Maduk)

Sekelompok siswa yang terdiri atas delapan anak melakukan presentasi dengan penuh percaya diri di depan kelas. Di depan mereka ada majalah duduk (maduk ) sebagai peraga.

Kelompok yang maju kali ini menjelaskan tentang propinsi Nusa Tenggara Timur dengan serba- serbinya. Tentang rumah adat, tarian adat, lagu daerah, binatang khas bahkan daerah wisatanya.

Yang menarik semua yang dibahas tersaji rapi dalam majalah duduk yang telah mereka buat.

Di atas adalah salah satu kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tema tiga di Bintaraloka.

Kegiatan yang dinanti siswa ini selalu mempunyai banyak cerita dalam pelaksanaannya.

Tentang Majalah Duduk ( Maduk)

Siswa dan maduk hasil karya, dokumentasi pribadi

Majalah duduk sebenarnya istilah lain dari majalah tiga dimensi. Jika ada singkatan mading untuk majalah dinding, maka untuk majalah duduk disingkat dengan maduk. Jika majalah dinding posisinya digantung di dinding, maka majalah duduk diletakkan di atas meja dan berupa karya tiga dimensi.

Membuat maduk adalah salah satu tagihan dari projek tema Konser Musik Nusantara yang mulai dilaksanakan di awal bulan Pebruari.

Salah satu maduk, dokumentasi Buz
Salah satu maduk, dokumentasi pribadi
Salah satu maduk, dokumentasi pribadi

Mengapa membuat maduk? Sebelum mereka melakukan konser tentang lagu daerah Nusantara, mereka harus memahami kekhasan daerah di mana lagu tersebut berasal, dan pengetahuan tentang segala sesuatu berkaitan dengan propinsi tersebut  bisa digali lewat pembuatan majalah duduk.

Pembuatan maduk, dokumentasi Bintaraloka

Pembuatan maduk dilakukan melalui beberapa tahapan :

Diskusi pembuatan maduk, dokumentasi Buz
  1. Pengundian tema : satu kelas dibagi dalam tiga kelompok besar dan tiap kelompok mengambil undian yang berisi nama propinsi yang akan diangkat sebagai tema dari majalah duduk.
  2. Diskusi dan browsing : sesudah mendapatkan nama propinsi yang harus dijadikan maduk, siswa melakukan diskusi kelompok dan mencari bahan sebanyak-banyaknya dengan cara browsing tentang propinsi tesebut.
  3. Membuat maduk : proses merancang dan membuat maduk dilaksanakan bersama. Bahan-bahan diusahakan jangan terlalu mahal, atau memanfaatkan bahan yang ada di sekitar kita.
  4. Presentasi : sesudah jadi, maduk dipresentasikan di depan kelas. Guru memberikan bimbingan seperlunya tentang bagaimana melakukan presentasi yang baik, dan memberikan beberapa pertanyaan berkaitan dengan proses pembuatan maduk.
  5. Penilaian : penilaian dilakukan oleh guru juga oleh teman sejawat

Maduk dibuat dari berbagai macam benda yang ada di sekitar kita. Seperti  triplek, kardus bekas, benang wol, kawat, sabut kelapa, tusuk gigi, stick es krim dan banyak lagi. Dengan kreativitas siswa, benda-benda tersebut bisa disulap sebagai pengisi maduk.

Proses pembuatan maduk, dokumentasi pribadi
Penilaian teman sejawat, dokumentasi Buz

Wow, dari stik es krim dan tusuk gigi siswa bisa mebuat rumah adat Kalimantan Barat, dari sabut kelapa mereka bisa membuat rumah adat NTT juga dari benang wol mereka bisa membuat pepohonan di pantai. Mengagumkan sekali. Kreativitas siswa benar-benar patut diacungi jempol.

Presentasi dengan bimbingan guru, dokumentasi pribadi

Selain lebih memahami kekhasan daerah-daerah di Nusantara,   yang bisa  dipelajari siswa dari kegiatan pembuatan maduk ini adalah:

  1.  Siswa belajar bekerja dalam tim dan bertanggung jawab dalam mengerjakan tugasnya.
  2. Siswa belajar mencari ide, mendiskusikan dan mengeksekusi ide-ide tersebut.
  3. Siswa belajar melakukan presentasi dengan baik.

Ya, ada banyak hal yang dipelajari siswa dari kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Utamanya dalam tema Konser Musik Nusantara ini, disamping belajar tentang berbagai karakter baik, yang tak kalah penting adalah siswa bisa memahami kekayaan Nusantara, sehingga bisa lebih mencintai budaya Nusantara.

Siswa dan maduk, dokumentasi pribadi
Siswa dan maduk, dokumentasi pribadi
Presentasi maduk, dokumentasi Bintaraloka

Karena jika bukan kita yang mencintai budaya Nusantara , lalu siapa lagi?  

Salam Pelajar Pancasila:)

Yuli Anita

Leave a Comment

Your email address will not be published.

236 views