Hangatnya Omelet di Sebuah Pagi

Sebuah pagi di Yogyakarta. Suasana ruang makan Hotel Pandanaran tempat kami menginap sudah mulai ramai. 

Kami duduk berempat atau berlima mengitari meja makan kecil . Ada yang menyantap soto, bubur ayam, omelette sementara saya sendiri bihun dan kerupuk.

“Tambah omelet, enak,” kata teman saya sambil menunjuk ke arah chef yang sedang sibuk membuat omelet. Chef-nya masih muda, kelihatannya ramah pula, saya sebut Mas Chef saja.

Tanpa dikomando dua kali saya langsung mendekati Mas Chef. “Boleh minta satu, Mas?”

“Boleh, Bu , ditunggu ya,” katanya  sambil terus fokus pada panci dadar di atas kompor . Sementara tangan yang satu memegang gagang panci, tangan yang lain melipat telur dadar di atas panci yang sudah diberi mentega, mencampurkan irisan paprika lalu sekali lagi melipatnya.

“Saya kalau membuat omelet kok tidak secantik itu ya,” kata saya jujur.

 Asli…, meski enak (kata anak-anak saya) omelet saya tidak secantik punya Mas Chef ini. Omelet saya biasanya agak coklat, agak kaku dan gosong tepinya. Punya Mas Chef ini warnanya kuning cantik dengan pletik-pletik merah paprika dan sosis.

Mas Chef tersenyum sambil mempersilakan saya mengambil omelet. Olala, omelet yang lembut, diberi sedikit saus tomat adalah sajian lezat yang membuat pagi itu menjadi lebih bersemangat.

Bersama Mas Chef, dokumentasi pribadi

“Lembut sekali, apa rahasianya?” tanya saya penasaran.

“Tidak ada rahasianya,Bu,” kata Mas Chef tersenyum sambil terus bekerja. Di belakang saya beberapa orang antre untuk juga mengambil hidangan satu ini.

Tentang Omelet atau Omelette

Omelet dengan tekstur yang lebih padat, sumber gambar: ResepMamiku

Omelet atau omelette adalah hidangan yang dipopulerkan oleh para koki dari Perancis.

Hidangan ini sebenarnya berasal dari Persia yang bernama kuku sabzi atau kuku isi rempah. Kata omelet mulai digunakan pada pertengahan abad ke 16 menurut Alan Davidson dalam bukunya The Oxford Companion to Food. Seorang koki terkenal Prancis abad 16 dan awal abad 17, François Pierre La Varenne dalam buku masaknya Le Cuisinier françois (1651) menyebut aumelette dan omelet modern muncul di hidangan-hidangan borjuis atau Cuisine Bourgeoise pada 1784.

Omelet adalah makanan yang cepat disajikan tapi bergizi. Dengan menambahkan sayuran ke pada omelet, akan bisa dihasilkan 270 kalori per sajian, di samping juga mengandung berbagai nutrisi seperti  vitamin A, kalium, vitamin E, vitamin D, kalsium, juga  folat.

Lalu bagaimana cara membuat omelet?

Membuat omelet yang enak dan lembut sangat mudah dengan menggunakan teflon anti lengket dan api kecil. 

Berikut adalah cara membuat omelet yang saya peroleh dari Mas Chef pagi itu.

Bahan-Bahan

2–3 butir telur ayam

2 sendok makan susu cair (opsional, agar lebih lembut)

Garam dan lada jika suka

1 sendok makan mentega atau margarin

Isian (opsional): Irisan sosis, keju parut, paprika, daun bawang, atau jamur 

Cara Membuat

Pecahkan telur ke dalam mangkuk, lalu masukkan susu cair, garam, dan lada. Kocok menggunakan garpu  sampai tercampur rata dan sedikit berbusa.

Masukkan isian seperti irisan sosis, keju parut, paprika, daun bawang, atau jamur 

Panaskan wajan teflon dengan api kecil lalu lelehkan mentega atau margarin hingga merata. 

Tuang adonan telur ke dalam teflon. Biarkan bagian bawahnya sedikit mengeras, lalu lipat omelet menjadi dua bagian atau gulung perlahan. 

Mirip membuat telur dadar ya? Ya, hanya bedanya isi omelet bisa beragam, sementara telur dadar biasanya menggunakan daun bawang sebagai isinya.

Angkat omelet dari teflon dan sajikan selagi hangat. 

Kehadiran saos dalam penyajian omelet bisa lebih menggugah selera lebih lebih jika pembuatan omelet tidak menggunakan garam atau lada.

Pagi yang begitu hangat. Pembicaraan di meja makan jadi dipenuhi dengan cara membuat omelet.

“Kalau hanya telur, sosis, parutan wortel irisan lombok itu teksturnya lebih ringan karena tanpa karbo. Jika ingin tekstur omelet yang padat, bisa ditambahkan mie, sedangkan untuk omelet yang krispi pada telur yang didadar bisa ditambahkan tapioka,” kata seorang teman yang pintar memasak.

Setelah menyelesaikan omelet yang kedua bergegas kami mengambil kopor untuk persiapan masuk kendaraan.

Mbak Nia, siap memandu jalan jalan di Yogyakarta, dokumentasi pribadi

“Monggo rombongan dari Malang sebentar lagi masuk bus untuk melanjutkan perjalanan,” 

Suara Mbak Nia leader kami kembali terdengar. Dengan topi lebar dan penampilan yang lebih segar ia siap memandu kami untuk jelajah Yogyakarta di hari kedua. Aha…

Salam jalan-jalan….😊

Yuli Anita

Published by

Yuli Anita

"The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you’ll go."

3 thoughts on “Hangatnya Omelet di Sebuah Pagi”

Leave a Reply

Your email address will not be published.