Satu Kompas, Satu Tujuan, Berlayar Bersama Menuju Kepemimpinan dan Solidaritas:  LDK PMR Bintaraloka 2025

Bintaraloka selalu menggeliat dalam berbagai kesibukan. Betapa tidak? Setelah berbagai kegiatan di bulan Oktober, bulan November kali ini ditandai dengan satu kegiatan penting yaitu Latihan Dasar Kepemimpinan Palang Merah Remaja 2025 yang dilaksanakan pada hari Jumat dan Sabtu (7-8 November 2025).

Kegiatan yang diikuti oleh 36 peserta yang berasal dari kelas 7 dan 8, serta 18 panitia siswa yang berasal dari kelas 9 ini bertujuan untuk merealisasikan program kerja Palang Merah Remaja di sekolah, sekaligus membentuk karakter dan mental yang kuat pada calon anggota PMR agar menjadi pribadi yang disiplin, tangguh, dan bertanggung jawab.

Para peserta LDK PMR, dokumentasi PMR

Dalam kegiatan ini para peserta juga dilatih agar memiliki jiwa kepemimpinan, kerja sama, dan solidaritas antar anggota, serta menumbuhkan semangat kemanusiaan sesuai dengan 7 prinsip dasar Palang Merah dan Tri Bakti.

Melalui LDK yang mengambil tema “Satu Kompas, Satu Tujuan: Berlayar Bersama Menuju Kepemimpinan dan Solidaritas” ini,  para peserta akan mendapatkan berbagai pengalaman berharga dalam hal kerja sama, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama.

Pembukaan LDK oleh Ibu Hertika, dokumentasi PMR

Kegiatan LDK dibuka oleh Ibu Hertika Yusniawati , selaku wakasis SMP Negeri 3 Malang.  Dalam pelaksanaan LDK,  siswa didampingi oleh Ibu Ratna, Ibu Hertika, Bapak Ardilah dan Bapak Vigil. 

Alumni juga ikut hadir, dokumentasi PMR
Kegiatan peserta LDK, dokumentasi PMR

Acara yang juga dihadiri oleh para alumni ini berjalan lancar dari awal hingga akhir. Hal tersebut tampak pada antusiasme siswa yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh semangat. Hal yang sangat mengesankan bagi para peserta tentunya  saat bina mental di malam hari serta pada saat tes pertolongan pertama untuk mendapatkan badge+slayer.

Foto bersama, dokumentasi PMR

“Harapannya semoga adik-adik dapat menjadi anggota PMR yang disiplin, bertanggung jawab, dan kompak, saya juga berharap kekeluargaan di antara anggota dan panitia semakin kuat, serta nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan bisa terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” demikian diungkapkan Nisa, salah satu panitia acara LDK PMR ini.

Pramuka Barakuda Cempaka Bintaraloka Kembali Ukir Prestasi Gemilang

Kabar gembira kembali datang dari regu Pramuka Barakuda Cempaka, regu kebanggaan SMP Negeri 3 Malang.

Regu yang kerap menorehkan tinta emas ini berhasil mencatatkan prestasi membanggakan dengan menyabet gelar Juara 1 dalam lomba Pramuka pada ajang Langsep Challenge yang diselenggarakan oleh SMAK Santa Maria Malang.

Pramuka Bintaraloka raih juara pertama, dokumentasi Pramuka Bintaraloka

Langsep Challenge sendiri merupakan event tahunan yang bertujuan menjaring bakat-bakat unggul siswa SMP se-Jawa Timur, baik di bidang akademik maupun non-akademik.

Dengan beragam kompetisi seperti basket, futsal, dan e-sport, acara ini tidak hanya menguji skill, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sportivitas, kreativitas, dan jalinan persahabatan.

Mengusung tema ‘Beyond The Toybox’, ajang ini mendorong setiap peserta untuk berani keluar dari rutinitas dan mengeksplorasi potensi terbaik mereka.

Dalam kompetisi yang penuh semangat ini, Bintaraloka mendelegasikan 17 siswanya yang terpilih. Hasilnya, kerja keras dan dedikasi mereka selama ini terbayar lunas. Prestasi juara pertama ini membuktikan sebuah prinsip sederhana: bahwa usaha dan ketekunan yang tulus tidak pernah mengkhianati hasil.

Peserta Langsep Challenge, dokumentasi Pramuka Bintaraloka

“Pengalamannya sangat menyenangkan. Kami bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak pangkalan Pramuka lain, sekaligus bisa menampilkan yang terbaik dari hasil latihan intensif kami selama dua bulan,” ujar Izza, salah satu peserta, menceritakan kesan tak terlupakan dari ajang tersebut.

Dengan segudang semangat, Pramuka Bintaraloka berharap kemenangan ini menjadi batu loncatan untuk meraih lebih banyak prestasi di masa depan, sekaligus mengangkat nama besar Pramuka Bintaraloka di kancah yang lebih luas.

Peserta dari Bintaraloka , dokumentasi Pramuka Bintaraloka

Pembina Pramuka SMP Negeri 3 Malang, Kak Mubin, juga memberikan pesan penyemangat. “Prestasi ini adalah awal yang baik, namun jangan cepat berpuas diri. Tetaplah rendah hati, jaga solidaritas, dan teruslah menyala untuk meraih pencapaian-pencapaian berikutnya.”

Salam Pramuka!

Gempita Bulan Bahasa Bintaraloka 2025

Sekelompok siswa berdiri berjajar di lapangan. Tak berapa lama satu dari mereka maju ke depan dan membacakan ikrar Sumpah Pemuda dengan penuh semangat.

Setelah ikrar semua segera menyanyikan lagu Bangun Pemudi Pemuda, beberapa dengan koreografi tertentu. Nuansa kebangsaan dan semangat begitu terasa di pagi itu.

Ikrar Sumpah Pemuda dan padsu, dokumentasi Bintaraloka

Berbagai macam kostum mewarnai penampilan mereka. Ada yang mengenakan baju bebas, busana merah putih, busana batik, juga busana daerah.

Peserta dengan kostum merah putih, dokumentasi pribadi

Sementara itu di tempat lain siswa sedang menyiapkan diri untuk tampil dalam drama b. Ada yang mengenakan baju surjan, kaos oblong, kebaya, pendeknya mereka berbusana sesuai dengan peran yang akan mereka bawakan.

Drama, dokumentasi Bintaraloka

Di tempat yang lain lagi siswa sibuk membuat tulisan aksara Jawa, membuat poster digital juga poster manual. Berbagai pesan tersampaikan lewat karya siswa, misalnya tentang anti bullying.

Poster anti bullying , dokumentasi Meiyantika
Lomba poster digital , dokumentasi Bintaraloka

Belum selesai, di tengah kesibukan peserta lomba ada siswa yang meliputi sekaligus melaporkan tentang pelaksanaan lomba. Mereka adalah reporter- reporter cilik yang sedang mengikuti lomba broadcast.

Lomba broadcasting , dokumentasi pribadi

Di atas adalah kesibukan SMP Negeri 3 Malang dalam perayaan Bulan Bahasa yang diadakan pada hari Kamis, 23 Oktober 2025.

Bahasa adalah jiwa dari sebuah bangsa. Ia bukan sekadar kumpulan huruf dan kata, melainkan jendela untuk menatap dunia, jembatan untuk merajut persatuan, dan cermin yang memantulkan identitas kita. 

Story telling, dokumentasi Bintaraloka

Dalam semangat akan kecintaan pada bahasa inilah perayaan ini diadakan.

Acara yang ditandai dengan berbagai macam lomba ini adalah sebuah festival untuk merayakan keindahan, kekuatan dan kekayaan bahasa yang meliputi bahasa daerah, bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Musikalisasi puisi, Dokumentasi Bintaraloka

“Mari cintai Bahasa Indonesia, lestarikan Bahasa Daerah dan kuasai Bahasa Asing,” ungkap Ibu Dwikaa ketua pelaksana Perayaan Bulan Bahasa 2025 di pembukaan acara ini.

Tidak tanggung-tanggung, acara kali ini dimeriahkan dengan lima belas nomor lomba yang wajib diikuti oleh perwakilan tiap kelas.

Cintai Bahasa Indonesia, lestarikan Bahasa Daerah dan kuasai Bahasa Asing

Nomor lomba yang diadakan meliputi pidato, MC, mendongeng, story telling, speech contest, cipta puisi dan cerpen, geguritan, menulis aksara Jawa, membuat poster digital dan manual, drama, musikalisasi puisi, broadcasting dan mading.

Peserta lomba, dokumentasi pribadi

Setiap kelas begitu intens dalam melakukan persiapan. Beberapa hari sebelumnya siswa sibuk latihan membuat puisi, membuat naskah sekaligus berlatih drama, dan banyak lahi. Singkat cerita, ini adalah minggu sibuk di Bintaraloka, karena semua ingin menunjukkan tampilan yang maksimal di hari perayaan Bulan Bahasa.

Hari yang luar biasa. Lewat kegiatan ini siswa bisa mengembangkan kreativitas dalam kebahasaan dan kesastraan, sekaligus melatih ketrampilan bahasa lisan mereka.

Selain hal tersebut di atas lewat berbagai kegiatan lomba, siswa bisa mengasah rasa  percaya diri sekaligus sportivitas dalam berkompetisi.

Mading, dokumentasi pribadi

Akhirnya lebih dari sekadar kompetisi, perayaan Bulan Bahasa  adalah wadah nyata bagi siswa untuk mengaktualisasikan diri, mengasah kreativitas kebahasaan, dan memperkuat karakter.

Berbagai kesibukan dan persiapan yang dilakukan para siswa telah terbayar lunas dengan kegembiraan, kebanggaan, dan pelajaran berharga yang mereka dapatkan di hari perayaan.

Berbagai kegiatan hari itu  menjadi bukti bahwa kecintaan pada bahasa dan budaya adalah fondasi penting dalam membentuk generasi muda yang percaya diri, sportif, dan mencintai identitas bangsanya.

Pesta Demokrasi di Hari Santri

Rabu (22/10) adalah hari yang begitu istimewa di Bintaraloka. Betapa tidak? Hari ini telah dilaksanakan pemilihan ketua OSIS periode 2025/2026 sekaligus peringatan Hari Santri Nasional 2025.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan Hari Santri Nasional ditandai dengan pemakaian busana muslim oleh seluruh warga Bintaraloka.

Siap menggunakan hak pilih, dokumentasi pribadi

Penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional sendiri dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. 

Penetapan tersebut merujuk pada peristiwa bersejarah tahun 1945, ketika Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, mengeluarkan seruan monumental yang dikenal sebagai “Resolusi Jihad”.

Seruan itu disampaikan di Surabaya pada 22 Oktober 1945 dan berisi fatwa bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap individu Muslim). Artinya, seluruh umat Islam tanpa memandang status sosial memiliki kewajiban untuk melawan penjajah yang berusaha kembali menancapkan kekuasaannya di bumi Indonesia.

Siap menggunakan hak pilih, dokumentasi pribadi

Resolusi ini membakar semangat para santri, ulama, dan rakyat untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Tak lama setelah seruan tersebut, pecahlah pertempuran 10 November 1945, yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan. 

Sejarah mencatat, tanpa semangat jihad yang dikobarkan oleh kalangan pesantren, perjuangan rakyat Surabaya tidak akan seheroik itu.

Peringatan Hari Santri dilaksanakan dengan bersama sama menyanyikan Mars Hari Santri yang dipimpin oleh Ibu Utien Kustianing.

Di tengah peringatan Hari Santri tersebut, juga dilaksanakan Pilketos sebagai wujud partisipasi seluruh warga sekolah untuk memilih Ketua OSIS periode 2025/2026.

Pengarahan dari Pak Ardilah, dokumentasi pribadi

Pilketos yang dilaksanakan di lapangan volley ini diikuti dengan antusias oleh seluruh warga sekolah. Pemilihan dilaksanakan dengan menggunakan tab sekolah melalui aplikasi Master Web.

“Harapannya semoga para pengurus OSIS yang terpilih bisa bekerja dengan baik dan optimal, ” ungkap beberapa siswa setelah menunaikan hak pilihnya.

Pelaksanaan Pilketos, dokumentasi pribadi

Akhirnya semoga peringatan Hari Santri dan Pilketos hari ini bisa menjadi inspirasi bagi siswa untuk menjadi pemimpin yang baik di masa depan, mengabdi pada bangsa dan negara dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi yang tinggi.

Aksi Jumat Literasi di Bumi Bintaraloka

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang. Di lapangan upacara siswa sudah berkumpul dalam barisan yang rapi, untuk mengikuti kegiatan pagi. 

Sementara itu di perpustakaan tampak kesibukan yang demikian nyata. Para kader literasi sibuk mempersiapkan tampilan perdana mereka pagi itu. Ya, hari itu (Jumat 10/10) adalah saatnya Jumat Literasi.

Jumat Literasi adalah saat bagi tim literasi untuk unjuk karya di hadapan para siswa yang lain.

Persiapan kader literasi, dokumentasi pribadi
Persiapan kader literasi, dokumentasi pribadi

Dua orang MC segera tampil untuk memandu acara pagi itu. Balqis dan Salsa. 

Meski berasal dari jenjang kelas yang berbeda (kelas 8 dan kelas 7) mereka tampak begitu kompak membawakan acara pagi itu.

Acara diawali dengan story telling tentang Roro Jonggrang yang dibawakan oleh Artha. Dengan penuh percaya diri siswa kelas delapan ini membawakan cerita tentang terjadinya Candi Prambanan. Dialog-dialog dalam cerita dibawakan dengan gaya yang kadang jenaka.

Story telling, dokumentasi pribadi

Sesudah atraksi tersebut siswa kelas tujuh, Alena Vidya membawakan story telling dengan judul Little Red Riding Hood.

Kisah ini bercerita tentang gadis kecil berkerudung merah yang mendapat pesan dari ibunya untuk mengantar kue pada neneknya dan ternyata menjadi incaran serigala jahat.

“Pesan dari cerita ini adalah agar kita tidak mudah memberikan informasi pribadi pada orang lain,” ungkap Alena di akhir ceritanya.

Penampilan pagi itu ditutup dengan berbalas pantun yang dibawakan oleh lima orang siswa yaitu Flaviana, Anya Rasendriya, Az-Zahira, Raysa dan Mayshaputri .

Yang menarik, tanya jawab dalam bentuk pantun pagi itu berkisar tentang pentingnya membaca, menulis dan bagaimana memanfaatkan teknologi secara bijaksana.

Setelah duapuluh lima menit berlalu akhirnya acarapun berakhir. Balqis dan Salsa menutup acara pagi itu dan siswa segera menuju ke kelas untuk pembelajaran seperti biasa. 

Dalam Jumat literasi pagi ini kader literasi  kelas 9 tidak dilibatkan dalam aksi karena mereka harus mengikuti Try Out TKA.

Berbalas pantun, dokumentasi kader literasi

Akhirnya Jumat Literasi bukan sekedar aksi atau unjuk karya. Kegiatan ini adalah motivasi bagi semua bahwa di zaman dimana arus informasi begitu deras, kita harus menjadi generasi yang cerdas dan bijaksana dalam berliterasi agar terhindar dari berita yang belum tentu kebenarannya.

Semangat membaca dan menulis harus terus ditingkatkan karena membaca dan menulis akan membuka wawasan dan melahirkan budaya yang dikenang sepanjang masa, seperti pantun yang dibaca siswa pagi itu:

Pagi-pagi baca koran,sambil minum teh di beranda; Apa gunanya baca tulisan, kalau mata cepat lelah juga?

Kalau lelah istirahatkan mata,minum air biar segar terasa; Baca tulisan menambah makna,membuka wawasan sepanjang masa.

Foto bersama di akhir acara, dokumentasi Happy

Ke toko buku beli kamus,bertemu teman tukar cerita; Mengapa sih harus menulis, padahal bisa bicara saja?

Menulis bukan sekadar kata, tapi jejak ilmu dan rasa; Dari tulisan lahir budaya, yang dikenang sepanjang masa.

Salam Literasi 😊