Dari Malang ke Surabaya, Perjalanan Barakuda Cempaka yang Berbuah Juara

Hari masih begitu pagi ketika sebuah rombongan yang terdiri atas sekitar dua puluh orang dengan seragam Pramuka bersiap siap di stasiun Kotabaru Malang.

Seragam coklat, hasduk Pramuka dan berbagai atribut melengkapi penampilan mereka pagi itu. 

Ada senyum semangat di antara mereka. Sesekali terdengar candaan hangat membuat suasana terasa demikian akrab. 

Yap, pagi itu regu Pramuka Bintaraloka akan mengikuti sebuah event lomba di Surabaya.

Dalam kereta api Malang-Surabaya , dokumentasi Pramuka Bintaraloka

Lomba ini bernama  Al Uswah Treasure Hunt (AUSTERN 3.0) yang diselenggarakan oleh SMAIT Al-Uswah Surabaya.

Dalam lomba ini tim Bintaraloka mengirimkan 2 regu, regu Barakuda untuk putra dan regu Cempaka untuk putri.

Battle yel- yel, dokumentasi Pramuka Bintaraloka

Adapun nomor-nomor lombanya adalah:

1. Austern Scout Chef (ASC)

2. Sandi Morse Smaphore (SMS)

3. Pengetahuan Umum Pengetahuan Pramuka (PUPP)

4. Pioneering

5. Battle yel – yel

Perjuangan dan semangat para siswa benar benar patut diacungi jempol. Motivasi dari Kak Mubin yang setia menemani juga sangat berperan dalam membangkitkan semangat anak anak.

ASC, dokumentasi Pramuka Bintaraloka
ASC, dokumentasi Pramuka Bintaraloka

Hasil tidak akan mengkhianati usaha.

Setelah berbagai putaran lomba dilaksanakan akhirnya berbagai kejuaraan diperoleh tim  Barakuda Cempaka. Total gelar juara yang diraih adalah : 

1. JUARA UMUM

2. JUARA 2 REGU TERGIAT PUTRA

3. JUARA 1 REGU TERGIAT PUTRI

4. JUARA 1 SMS PUTRA

5. JUARA 1 SMS PUTRI

6. JUARA 3 PUPP PUTRA

7. JUARA 3 PUPP PUTRI

8. JUARA 3 PIONEERING PUTRA

9. JUARA 2 ASC PUTRI

Pioneering, dokumentasi Pramuka Bintaraloka
Pantang menyerah, dokumentasi pramuka Bintaraloka

Menurut Kak Mubin hal yang paling berkesan adalah semangat siswa begitu tinggi.

Dari pembentukan tim yang seadanya sampai latihan yang kadang dilakukan sampai malam hari, hingga berebut tiket Malang Surabaya pp  adalah hal yang juga amat mengesankan. 

Melalui kegiatan seru di ajang kompetitif ini diharapkan mental dan skill siswa bisa terlatih dengan baik.

Hasil tak akan mengkhianati usaha, akhirnya mendapat juara umum, dokumentasi Pramuka Bintaraloka

“Terima kasih atas dukungan, doa dan motivasi dari orang tua, pelatih, alumni, dan semoga Adik-adik Dewan Galang semakin bersemangat dan terus tumbuh lebih baik,” demikian ungkap Kak Mubin pembina Pramuka SMP Negeri 3 Malang.

Di Chatten Waktu Berhenti dan Obrolan Tak Pernah Usai

Chatten Koffie en Plaats , sumber gambar: Ajak Dolan

Mobil kami terus berjalan menembus lalu lintas kota Batu yang tidak begitu ramai untuk ukuran akhir pekan.

Sesudah melalui jalanan aspal juga makadam dan kadang berkelok-kelok, akhirnya kami sampai di tujuan. Chatten Koffie en Plaats, sebuah cafe yang terletak di daerah Bumiaji kota Batu.

Chatten. Sebuah kata dalam bahasa Belanda yang berarti ngobrol. Logo cafe  ada di mana mana bergambar tiga orang yang sedang mengobrol. Hal yang menggambarkan konsep cafe ini yang menyediakan tempat agar pengunjungnya bisa mengobrol dengan hangat.

Dari parkiran, kami segera menuju cafe. Sebuah bangunan berbentuk bulat unik dengan taman di sekitarnya ada di hadapan kami.

Gambar-gambar di dinding dengan nuansa vintage membawa kita merasakan nuansa tahun 1960 an. 

Depan Chatten Koffie en Plaats, dokumentasi Andre

Kami terus memasuki halaman cafe. Bunga bunga kecil yang bermekaran di sekitar taman seolah tersenyum menyambut kehadiran kami.

Kehadiran pohon botol dan Walisongo di depan cafe membuat keunikan Chatten kian terasa.

Diterangkan bahwa pohon botol adalah tanaman khas dari Queensland Australia. Pohon ini memiliki toleransi terhadap kekeringan dan tingginya bisa mencapai 25 meter.

Pohon botol dan Walisongo, dokumentasi pribadi

Sedangkan tanaman di sekitarnya dinamakan walisongo karena dalam setiap tangkai tanaman terdiri dari 9 helai daun.

Kami terus masuk ke cafe dan menuju tempat duduk di bagian luar. Suasana terasa demikian segar. Ada hijau di mana-mana. Mata seolah dimanjakan dengan keindahan pemandangan sawah, area kebun jeruk juga berbagai pepohonan di sekitar kami.

Suasana di Chatten, dokumentasi Andre

Dari kejauhan Gunung Panderman dan Arjuno tampak tegak berdiri kokoh.

Sesudah memesan makanan, kamipun memilih tempat di dalam cafe bagian atas. 

“Di atas pemandangannya lebih bagus,” kata Mbak yang menyambut kedatangan kami.

Berbeda dengan di bagian luar, di cafe bagian dalam suasana terasa sangat sejuk. Dan benar apa yang dikatakan Mbak tadi, di atas pemandangan  tampak begitu indah. 

Salah satu keistimewaan Chatten adalah, dari tingkat paling atas kita bisa melihat keindahan pemandangan kota Batu dengan view 360 derajat.

Pemandangan Batu dari ketinggian, dokumentasi pribadi

Suasana di atas begitu nyaman, pengunjung belum begitu banyak. Sengaja kami pilih tempat duduk di sofa karena kami datang berdelapan. Pertimbangannya dengan duduk- duduk di sofa ngobrol bisa lebih hangat sekaligus gayeng. He..he… serasa ngobrol di rumah sendiri.

Pesanan mulai datang. Capuccino, lemon tea, wedang uwuh, pisang goreng, kentang goreng dan hidangan yang lain.

Kombinasi lapar dan dingin membuat makan terasa demikian nikmat.

Suasana di lantai dua, dokumentasi pribadi

Sambil menikmati aneka hidangan berbagai cerita mengalir hangat, diiringi tawa dan canda di antara kami. 

Sesudah semua hidangan habis, kami segera  sholat dilanjutkan dengan berjalan-jalan di sekitar cafe untuk mencari spot- spot yang bagus buat berfoto.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah lima. Berarti sudah sekitar dua jam kami ada di Chatten.

Berfoto dengan latar belakang Chatten Koffie en Plaats (pengarah gaya dan dokumentasi Mbak Wiwin)

Aih, begitu cepat rasanya waktu berlalu. Lampu- lampu taman mulai dihidupkan, dan pengunjung semakin banyak yang datang.

Bergegas kami menuju parkiran. Mas Andre dari dolan 4six, teman setia kami sudah siap mengantar ke destinasi berikutnya.

“Sudah siap?” tanya Mas Andre ramah.

“Siyaap,” jawab kami hampir bersamaan. Sesudah ngobrol dan tertawa bersama, hati terasa begitu ringan.

Kian terasa betapa bahagia itu sederhana. Dari duduk, ngobrol dan ngopi bareng teman, ia akan tercipta dengan sendirinya .

Belajar dari Film Jumbo, Sahabat dan Keluarga Adalah Harta yang Sungguh Tak Ternilai Besarnya

Sedikit demi sedikit

Engkau akan berteman pahit

Luapkanlah saja bila harus menangis

Anakku, ingatlah semua

Lelah tak akan tersia

Usah kau takut pada keras dunia (ost film Jumbo)

Saya menonton film ini di Dieng Cyber Mall Plaza yang tidak jauh dari rumah. Kami mengambil jadwal tayangan di pukul 12.40 WIB di hari Sabtu (05/04). Berlima, 3 orang dewasa dan dua bocil kami berangkat selepas sholat Dhuhur.

Ketika kami sampai di lokasi, suasana sudah demikian ramai dan didominasi anak kecil. Ya,  karena hari itu masih dalam suasana libur lebaran banyak yang memanfaatkan waktu untuk jalan bareng anak-anak. Apalagi dari berbagai review film ini tampaknya sangat menarik.

Film Jumbo, Sumber gambar : Beautynesia

Dari suasana di dekat pintu masuk, tampak sekali bahwa Film Jumbo ini sangat menyedot perhatian. Kehadiran poster Jumbo dengan warna- warni ceria mengalahkan poster-poster film lain yang didominasi oleh film horor.

Bahkan untuk berfoto bersama di dekat poster tersebut kami harus rela antre.

Film Jumbo bercerita tentang petualangan anak kecil bernama Don bersama Nurman, Mae, Atta dan Meri.

Don dipanggil dengan nama Jumbo karena badannya yang besar dan sering dijadikan bahan ejekan teman-temannya terutama oleh Atta.

Ayah dan ibu Don (yang diisi dengan suara Ariel dan Bunga Citra Lestari) sudah meninggal. Dan sebelum meninggal keduanya membuat sebuah buku cerita yang tokohnya adalah seorang anak yang mirip Don.

Buku cerita itulah yang selalu dibawa Don kemana-mana karena ia merasa itulah kenang- kenangan yang sangat berharga dari ayah dan ibunya.

Jumbo dan buku ceritanya, sumber gambar : Popmama

Don tumbuh menjadi anak yang suka bercerita. Dan ketika akan diadakan semacam kompetisi pagelaran karya anak-anak,  Don mendaftar bersama teman- temannya yaitu Mae, dan Nurman.

Atta juga ikut mendaftar. Tapi karena kuota peserta sudah terpenuhi, ia tidak bisa ikut kompetisi. 

Sementara itu, Jumbo yang mendaftar sesudah Atta justru diterima karena tepat ketika ia mendaftar, ada satu peserta yang mundur. Jadi Jumbo dan teman-temannya yang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kompetisi

Hal ini yang membuat perseteruan antara Jumbo dan Atta semakin tajam. Dalam perjalanan kisah ini Jumbo dan teman- temannya bertemu dengan hantu cilik Merri, dan menghadapi berbagai peristiwa yang seru dan menegangkan.

Lalu bagaimana akhir dari kompetisi ini? Akankah Jumbo yang menang atau Atta? Sepertinya melihat sendiri film ini akan terasa lebih menarik

Menonton film Jumbo membawa kita masuk lebih ke dalam dunia anak-anak yang penuh warna. Ada ceria juga ada duka.

Dalam cerianya dunia mereka anak-anak kadang dihadapkan pada masalah yang cukup pelik, seperti Atta yang ingin mencari uang guna membantu biaya berobat kakaknya, Jumbo yang yatim piatu, ataupun Nurman yang tiap hari harus mengurus kambing kambing kakeknya.

Dialog-dialog sederhana antara Jumbo dan Oma ( suara diisi oleh Ratna Rintiarno) terasa sangat menyentuh.

Jumbo dan Oma, sumber gambar :Yoursay

Kata yang paling mengesankan menurut saya adalah ketika sang Oma mengatakan,”Sebuah cerita tidak akan menjadi cerita, jika tidak ada yang mau mendengar,”

Sebuah nasehat yang sangat bijak untuk mengajak kita supaya jangan hanya suka bicara untuk didengar, tapi cobalah untuk mendengar apa yang dikatakan orang lain.

Kehadiran lagu Kumpul Bocah yang pernah dipopulerkan oleh Vina Panduwinata (dinyanyikan kembali oleh Maliq & D’essentials) membuat film ini terasa demikian manis. 

Lagu Selalu Ada Di Nadiku yang dinyanyikan Jumbo pas perform mempunyai lirik yang demikian menyentuh. Sangat mengharukan.

Sebagai karya anak bangsa yang digarap oleh 400 pekerja kreatif di Indonesia, mulai dari  musisi, visual artist, animator, penulis naskah, dan technical engineer film ini sangat membanggakan

Film yang ditayangkan di 17 negara ini pemirsanya tembus satu juta lebih di tujuh hari penayangannya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa karya anak bangsa juga mampu bersaing di kancah internasional, bahkan memperkuat eksistensi Indonesia di industri animasi. 

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari film yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy ini. 

Film yang mengangkat tema persahabatan, bullying juga trauma masa lalu  ini mengajarkan pada kita untuk selalu bersyukur, tegar menghadapi hidup, serta menyadari bahwa  dan keluarga serta sahabat adalah sebuah kekayaan yang sungguh tak ternilai besarnya.

Cerita Tentang Potong Rambut, Tazos dan Tabloid Bola

“Pendek rapi ya,” 

“Iya, Buk..,”

Bergegas, keempat laki- laki itu, ayah dan tiga orang anaknya yang masih kecil berangkat ke tukang cukur. 

Tukang cukur atau tukang potong rambut langganan anak-anak saya letaknya tak berapa jauh dari rumah. Berlokasi di kios kecil dekat masjid di bawah pohon besar dengan tulisan sederhana Potong Rambut Andri.

Tempatnya tak begitu luas, tapi cukup untuk antre beberapa orang yang akan potong rambut. 

Entah Andri itu nama siapa , yang jelas anak- anak dan ayahnya dulu selalu berkata ‘mau potong ke Andri’.

Dalam perjalanan waktu nama Andri semakin melekat pada tukang potongnya, dan anak anak saya memanggil nama tukang potongnya Pak Andri.

Ilustrasi anak sedang potong rambut, sumber gambar: Radar Bromo

Sebagai keluarga yang didominasi laki laki (dalam keluarga saya ada empat laki laki dan dua perempuan) pergi ke tukang potong rambut adalah sebuah hal wajib paling tidak 2-3 bulan sekali.

Jika rambut anak-anak sudah mulai agak panjang saya mulai ‘ramai’ mengingatkan untuk potong. Rambut yang agak gondrong membuat wajah mereka kelihatan lesu bahkan kurus, tidak segar.

“Ayo ndang potong..,” 

Jika saya sudah mengingatkan begitu biasanya mereka bertiga segera diajak ayah mereka potong rambut sepulang mengaji.

Mengapa memilih Andri? Disamping karena harganya murah, lokasinya dekat dari tempat mengaji, juga karena modelnya cocok. Ya, pulang dari tukang potong rambut penampilan anak-anak menjadi jauh lebih rapi.

Meski di dalam ruang potong rambut ada poster yang berisi gambar macam- macam model rambut , pendek rapi selalu menjadi pilihan terbanyak.

Menurut pengamatan saya saat itu, yang keluar masuk ke tukang potong itu kebanyakan anak- anak sekolah dan bapak-bapak, karenanya model yang dipilih hampir sama, pendek dan rapi.

Selalu ada sensasi tersendiri saat harus potong rambut ke Andri. Setidaknya itu menurut cerita anak saya. Mulai dari tukang cukurnya yang ramah, hingga karena pulangnya dibelikan snack berhadiah mainan ataupun membeli tabloid Bola.

Tukang cukur di sini memang sangat ramah. Pelanggan diajak ngobrol hingga waktu bercukur tak terasa lama. 

Hadirnya radio transistor kecil yang memperdengarkan lagu-lagu, ludruk Kartoloan atau ceramah juga membuat suasana bercukur terasa akrab.

Nah, sepulang cukur, biasanya anak-anak minta dibelikan snack berhadiah.

Tazos, sumber gambar: GRVN

Snack yang dimaksud adalah yang di dalamnya ada hadiah tazos, yaitu lempeng plastik bulat tipis yang ada gambar pokemonnya. Anak- anak saya sangat suka mengoleksi mainan ini.

Ada hal yang membuat snack ini istimewa yaitu karena saya sangat pelit untuk urusan snack. Hal tersebut sebenarnya ada alasannya. 

Batuk. Itu alasannya. Ya, mereka mudah batuk jika habis makan snack.

Satu-satunya orang yang mengizinkan mereka melanggar ‘peraturan’ ini adalah ayah mereka. Benar, ayah justru membelikan snack ini  saat mereka habis potong rambut.

Selain membeli snack, hal lain yang membuat potong rambut menjadi saat yang berkesan adalah karena sehabis potong mereka diajak membeli tabloid Bola di sebuah kios kecil yang lokasinya tak jauh dari masjid.

Sampai di rumah biasanya koran dibeber, dibaca bersama. Favorit mereka adalah Liga Italia. Sebuah rubrik yang banyak dihiasi foto- foto menarik aksi para pesepak bola Italia.

Tabloid Bola, sumber gambar : Acta Diurna WordPress 

Pernahkah anak-anak mencoba potong di barbershop? Pernah. Ketika itu sedang ada rezeki, sehingga ketiganya diajak ayahnya potong di barbershop. Ongkosnya tentunya sedikit lebih mahal daripada tukang cukur Andri.

Hasilnya lebih bagus, tapi entah mengapa modelnya kami kurang cocok. Memang lebih halus, dan bagus, tapi punya Andri lebih mengena di hati..he..he…

Sampai sekarang potong rambut Andri masih eksis. Kiosnya masih seperti dulu. Meski barbershop mulai bermunculan di mana- mana, potong rambut Andri tetap mempunyai pangsa pasar tersendiri .

Anak saya sendiri sesekali juga ke sana ketika ingin potong rambut, tapi sudah tak sesering dulu. 

Ya, mereka sudah tidak dikejar kewajiban potong rambut lagi dari sekolah. Apalagi anak saya yang bungsu lebih suka membiarkan rambutnya gondrong.

Potong Rambut Andri, sumber gambar: FB Tofa Ramadhan

Tiap hari saat berangkat sekolah pun saya selalu melewati kios potong rambut ini.  Potong Rambut Andri. Sebuah kios tukang cukur rambut yang sederhana, namun menyimpan banyak cerita.

Berkunjung ke Dino Park, Berwisata Sekaligus Belajar Sejarah Purbakala

Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Mobil kami terus berjalan menembus nyamannya lalu lintas di Malang.

Ya, hari Minggu lalu lintas di Malang tidak sepadat biasanya. Tentu saja, tidak ada anak bersekolah, ditambah mahasiswa masih libur semester, praktis di daerah kampus yang kami lalui tidak begitu ramai.

Mobil terus berjalan menuju arah Batu. Aha, pagi ini kami akan berjalan-jalan ke Dino Park Batu.

Ceritanya anak saya pulang dari Jepang karena mendapat cuti sepuluh hari. Karenanya begitu pulang ke Indonesia kami mau jalan- jalan bareng mengunjungi saudara dan beberapa tempat, di sekitar Malang Raya.

Pada mulanya saya kurang tertarik dengan destinasi yang dipilih anak anak.  Dino Park. Aduuuh, iya kalau mereka masih kecil-kecil. Ini sudah buesar-buesar kok mau mengunjungi taman dinosaurus? Pikir saya.

Naik dinosaurus, dokumentasi pribadi

Tak apalah, yang penting kami bisa dolan bersama. Sudah lama sekali hal tersebut tidak kami lakukan.

Sekitar pukul setengah sebelas kami sampai di depan pintu masuk Dino Park.

 Para pengunjung sudah banyak yang datang.  Di lokasi yang cukup luas tersebut berbagai patung dinosaurus dan tokoh tokoh fantasi seperti Thor, Captain Amerika, robot-robot  bertebaran di mana-mana.

Sungguh sebuah tempat yang menarik untuk berfoto-foto.

Berfoto di depan tokoh fantasi, dokumentasi pribadi

Sebelum masuk (pintu dibuka pukul 11.00) kami disuguhi dengan welcome dance yang ditarikan oleh 4-5 penari. Setelah tarian berakhir kamipun masuk dan… petualanganpun dimulai. 

Menurut informasi yang kami terima, tempat rekreasi yang terletak di Jl. Raya Ir. Soekarno, Beji, Junrejo, Kota Batu ini  berada pada ketinggian 700-1.700 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata mencapai 12 derajat celsius.

Dino Park mempunyai luas sekitar 5 hektar dan di dalamnya ada 17 zona yang siap dijelajahi oleh para pengunjung.

Berbagai wahana di Dino Park, sumber gambar: website Dino Park

Begitu masuk kami sampai di ruangan besar yang berisikan beraneka ragam kerangka makhluk purbakala. 

Di bagian ini terpajang antara lain kerangka  Ankylosaurus, Triceratops, Apatosaurus, Tyrannosaurus, dan masih banyak lagi.

Di sini, kami bisa membayangkan ukuran asli  dinosaurus juga mempelajari berbagai informasi lain tentang dinosaurus termasuk masa hidup dan persebaran DNA dinosaurus.

Kerangka stegosaurus, dokumentasi pribadi
Keterangan tentang stegosaurus, dokumentasi pribadi
Rekayasa genetika dinosaurus , dokumentasi pribadi

Berikutnya kami memasuki ruangan untuk diajak melihat film tentang jelajah lima zaman yaitu permian, zaman triassic, zaman jurassic, zaman cretaceous dan ice age atau zaman es.

Diterangkan bahwa tiap zaman mempunyai cerita yang berbeda, mulai dari awal munculnya kehidupan yang pertama, kejayaan dinosaurus hingga zaman ekstrem di mana suhu bumi menjadi sangat dingin. Hal hal tersebut menyebabkan bentuk mahluk hidup menjadi demikian beragam.

Taman Jusassic, dari kereta petualangan , dokumentasi pribadi

Sesudah melihat film kami diajak berkeliling dengan kereta untuk melakukan penjelajahan bersama mengarungi lima zaman tersebut 

Kereta yang kami naiki mempunyai kapasitas 48 penumpang dan narasi yang disajikan demikian jelas. Baik orang dewasa maupun anak kecil akan mudah sekali memahami informasi yang diberikan.

Perjalanan menembus lima zaman, dokumentasi pribadi

Sesudah menjelajah kami menuju spot- spot foto dengan tema dinosaurus dan didesain dengan suasana khas negara-negara terten ataupun dunia fantasi.

Area berfoto dengan konsep dinosaurus dan fantasi, dokumentasi pribadi

Setelah istirahat sejenak untuk sholat Dhuhur perjalanan dilanjutkan dengan masuk ruangan akuarium empat dimensi. Ruang gelap ini dipenuhi layar-layar yang menunjukkan film kehidupan satwa di dalam laut.

Dari ruang akuarium, kami menuju ruang ice age. Ruangan ini didominasi warna biru dan putih yang menggambarkan suasana bumi yang kala itu tertutup oleh es.

Ice Age, dokumentasi pribadi

Menuju jalan keluar kami melalui The Rimba. Sebuah petualangan memasuki hutan lebat yang penuh dinosaurus di mana mana. Sesekali suara keras dinosaurus terdengar membuat suasana rimba semakin terasa.

Masih banyak wahana yang ada, dan kami tidak bisa melihat semuanya. Tak apalah, nanti di kesempatan lain akan kami eksplor lagi. Semua wahana yang kami lihat hari itu sangat menarik, termasuk arena bermain yang cocok untuk anak anak maupun dewasa.

Berfoto bersama, dokumentasi pribadi

Sekitar pukul tiga sore perjalanan kami akhiri. Total kami berjalan- jalan selama empat jam hari itu.

Sungguh sebuah hari yang luar biasa. Jalan jalan ke Dino Park bukan sekedar berwisata, tapi kami juga banyak belajar tentang sejarah purbakala.

Lepas dari itu, jalan-jalan bersama keluarga adalah sebuah hal yang sangat membahagiakan. Karena jalan-jalan bukan hanya tentang destinasi, tapi tentang pengalaman juga kenangan yang kami ukir bersama.