Sebuah Kisah Tentang Si Burik

Ilustrasi Si Burik, sumber gambar : ayamkalkun.com

Mbak Menik menatap suaminya dengan dongkol. Betapa tidak? Sejak pagi hingga jam sudah menunjukkan pukul delapan Mas Marno masih berasyik-asyik dengan ayam -ayam katenya. Ayam ayam kecil itu benar benar membuatnya cemburu. Jealous kalau kata anak sekarang.

Yang memberi makanlah.. Memberi vitamin… Bahkan mengajak bicara. Ya ampuun. Gemes melihatnya.
Padahal bangun tidur yang pertama dilakukan Mbak Menik di dapur adalah membuatkan kopi suami tercinta.
Tapi sesiang ini ia tak juga disapa.

“Duh Mas, pitiiik ae, ” protesnya.
“Sik… Diluk.., ” kata Mas Marno tanpa menoleh. Mbak Menik menatap jam dinding. Duuh, Pak Mus penjual sayuran sudah hampir datang ini, pikirnya. Apalagi persediaan bumbu habis, minyak nipis, Tempe dan tahu apalagi.

Mas Marno kembali menghisap rokoknya. “Buriiik…, ” katanya sambil menjentikkan jarinya pada si ayam. Yang dipanggil seakan mengerti dan dengan genitnya mendekati Mas Marno.
Mas Marno tertawa senang sambil menyebarkan jagung halus yang langsung dipatuk oleh Si Burik.

“Ayo, kalian mau ikut? ” kata Mas Marno pada empat ayam yang lain. Semua langsung merubung ikut makan jagung halus yang disebar.

Dari kelima ayamnya Si Burik paling disayangi Mas Marno. Tubuhnya kecil montok dan bulu-bulu nya yang berwarna campuran hitam dan putih berkilauan tertimpa sinar matahari.

Sumber gambar: DuniaBelajar

“Mas, masak apa ini? ” tanya Mbak Menik sekali lagi.
Mas Marno menoleh sekilas. “Sembarang wes… Pokok ada sambel.., “jawabnya.
“Lha uangnya?” kata Mbak Menik gemas.
“Bon dulu sama Pak Mus.. Nyatet, ” jawabnya ringan.
Mbak Menik semakin jengkel. “Nyatet.. Nyatet.. Catetanku sudah banyak, Mas, ” katanya setengah menangis.

Tanpa banyak kata ia bergegas menuju pick up di jalan yang berisi aneka belanjaan. Bicara dengan suaminya saat seperti itu percuma. Hanya bikin naik darah saja.

“Pak Mus, nyatet nggeh.., “kata Mbak Menik sambil meraih bayam dan tempe.
“Lha monggo…, ” jawab Pak Mus ramah. Ia sudah lama menjadi langganan ibu-ibu di kampung Manggis. Tidak ada yang nakal saat berhutang, yang penting administrasi beres, tak ada masalah.

Mbak Menik menyodorkan belanjanya ke Pak Mus untuk dihitung. “Beres, duapuluh ribu, catet nggih? “
“Nggih Pak Mus,” jawab Mbak Menik sambil bergegas meninggalkan Pak Mus. Duuh, sungkan sebenarnya.. Tapi lha bagaimana lagi. Masak tidak makan, pikirnya.

“Mbak Menik, tunggu! ” sebuah suara tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Mbak Rena? Tumben?
Setelah berbasa-basi keduanya terlibat dalam pembicaraan yang serius. Sedikit berbisik-bisik dan…Cling, wajah Mbak Menik tiba-tiba berseri-seri.

“Nanti malam? ” tanya Mbak Rena memastikan.
“Beres.., ” senyum Mbak Menik menutup percakapan keduanya.

Pagi kembali merekah. Mas Marno sedang menikmati kopinya. Tak seperti biasanya istrinya tak banyak protes. Senyumnya tampak begitu manis.

“Mau dimasakkan apa? ” tanya Mbak Menik sambil duduk di depan suaminya.
“Aku kok kepingin lodeh ya? ” jawab Mas Marno senang. Pagi ini cuaca kelihatan begitu bersahabat.
“Lodeh, mendol, bakwan? “tanya Mbak Menik lagi.
“Wah, sip itu.., “

Dari kejauhan suara klakson pick up Pak Mus terdengar. Mbak Menik bergegas menuju jalan besar, apalagi ketika dilihatnya Mas Marno menuju kandang ayam-ayam katenya.

Di belokan jalan, Mbak Rena tersenyum menyapanya. ” Adikku seneng lho.. Katanya cantik barangnya.. Ini kurangannya semalam ya.. ,” katanya sambil menyodorkan uang seratusan ribu.
Mbak Menik segera memasukkan uang ke saku. Bergegas keduanya menuju pick up Pak Mus.

Ada senyum di wajah Mbak Menik.
Ya, seratus dua puluh lima ribu harga yang pantas untuk ayam kate secantik Burik.

Ojo Dipikir Marahi Mumet

Pedagang di pasar, Sumber gambar: Totabuan. News

Mbak Menik menjalankan Varionya dengan santai. Vario lawas yang setia.

Wajahnya begitu cerah.  Tidak ada yang seindah Minggu pagi memang.  Minggu pagi selalu membuatnya agak bernafas lega.  Ya,  tidak tergesa gesa seperti biasanya karena anak sekolah libur,  termasuk Nanang putera semata wayangnya yang tiap hari masuk jam setengah tujuh .

“Belanja Mbak? ” tanya Bu Pri di tepi jalan.  Sepagi itu Bu Pri sudah pulang dari pasar sambil membawa tas kresek isi belanjaan.
“Inggih Bu,   monggo, ” jawab Mbak Menik ramah.

Pasar,  itu tujuan utama Mbak Menik.  Meski tidak terlalu jauh dari rumah ia lebih suka naik motor. Ya,  kadang-kadang dari pasar ia juga ingin sedikit berkeliling mencari hawa segar.

Uang lima puluh ribu tersimpan rapi di dompet. Uang terakhir dari Mas Marno dua hari yang lalu. 

Dua hari yang lalu Mas Marno dapat order memasang keramik di rumah tetangga.  Alhamdulillah sehari diberi 200.000 . Walah,  rezeki itu..  Biasanya juga 125-150.000

Sebagai suami yang baik Mas Marno memberikan semua uangnya pada sang istri tercinta.  Yang penting rokok, jangan sampai telat he.. He…

Ini hari ketiga, berarti sudah pantas kalau uangnya tinggal 50.000. Rencananya Mbak Menik mau memasak sop,  tempe,  tahu dan telor dadar.  Sisanya buat uang saku sekolah Nanang besok pagi.

Perkara belanja besok,  gampanglah.  Pasti ada rezeki,  bisik hatinya yakin. 

Sebelum belanja Mbak Menik bertekad melakukan survey pasar dulu pagi ini.  Bukankah kemarin Pak Presiden sudah resmi mengumumkan kenaikan harga BBM? Apakah ada akibatnya?
Wah,  pasti harga-harga naik semua.  Efek domino kata orang orang pinter.  Kenaikan BBM pasti membuat yang lain pada naik.

“Di sini Mbak.., ” kata Mas Pardi tukang parkir pasar sambil menunjuk tempat yang kosong. Bergegas Mbak Menik memarkir sepedanya. 
“Jangan dikunci setir ya, ” kata Mas Pardi lagi.
“Inggih Mas, ” kata Mbak Menik sambil mengangguk dan tersenyum,  lalu bergegas masuk pasar.

Survey dimulai. 
“Tempe pinten,  Mbak? “
“Halaah,  tetap..  Dua ribu,  tahu dua ribu limaratus.., ” jawab si penjual.
Mbak Menik tersenyum lega.  Diraihnya dua tempe dan satu tahu.  Perasaan agak beda, pikirnya. Oh ya,  irisannya agak kecil.  Meski sedikit Mbak Menik bisa merasa. Tapi tak apa-apalah. 
Setelah membayar,  bergegas ia menuju penjual telor.

“Telor pinten Bu? “
28.000  sekilo.., ” jawab si penjual.
Walah..  Katanya turun..  Masih mahal ternyata. 
“Sekilo? ” tanya penjual lagi.
“Seperempat saja, ” kata Mbak Menik tersenyum.
Penjual ikut tersenyum , sambil mulai menimbang telor.

“Ayam pinten? ” tanya Mbak Menik lagi.  Kebetulan penjual telor juga berjualan ayam dan aneka bumbu.
“Tiga puluh tiga..”
Penjual menyodorkan telor pada Mbak Menik
“Ayamnya berapa? ” tanya si penjual.
“Besok saja, ” jawab Mbak Menik tersenyum.  Manis..

Tujuan akhir ke pedagang sayur. 
“Sop- sopan lima ribu, ” kata Mbak Menik sambil menyodorkan uang sepuluh ribuan.
“Yang lima ribu lombok sama tomat, ” tambahnya. Ya,  apapun lauknya sambel harus ada.  Karena itu stok lombok dan tomat tidak boleh kosong di tempat bumbu.

Dengan sigap pedagang sayur memasukkan aneka sayur untuk sop.  Kubis,  wortel,  kentang, buncis,  seledri,  brambang daun, dan terakhir memasukkan lombok dan tomat.

“Wortelnya kok cuma dua?  Biasanya tiga?” protes Mbak Menik.
Pedagang sayur tertawa renyah.  Ia sudah mendapat banyak protes pagi ini.
” BBM naik Mbak…  Alamat naik semua ini, ” katanya sambil memberikan kresek berisi sop- sopan. 

“Wah,  alamat kalau sudah naik lupa turun ini, ” kata pembeli di sebelahnya.
“Lha iya ta..  Semua kalau sudah naik ya sulit turunnya,” jawab pedagang sayur.
Pembeli pada tertawa.  Mbak Menik juga. Meski agak masam kali ini.

Waduh,  sudah tempenya kecil,  sayur sopnya sedikit pula. Alamat makan juga dikurangi..
Gak apa apa wes.. yang penting beras jangan ikut naik.  Malah susah itu, hibur Mbak Menik pada dirinya sendiri.

“Ya,  nasib wong cilik ya..  Manut ae wes..,” kata pembeli yang lain lagi.
“Lha gak manut terus mau apa? Gak usah dipikir..  Marahi mumet.., ” kata penjual sayur sambil tertawa. 
“Iya wes, dijalani bareng saja, ” timpal Mbak Menik disambut tawa renyah yang lain.  Dengan sigap pembeli yang lain memilih sayuran.  Mbak Menik menerima kresek dan segera menuju parkiran pasar.

Setelah membayar parkir,  mesin dihidupkan,  dan Vario mulai berjalan pelan.  Tidak ada acara keliling mencari hawa segar pagi ini. Semua harus dihemat.

Angin bertiup perlahan.  Lewat depan  kios Pak Man penjual jamu terdengar lagu yang hits akhir akhir ini:

Joko Tingkir ngombe dhawet
Jok dipikir marahi mumet…

Mbak Menik tersenyum,  tapi juga puyeng memikirkan trik apa yang harus dilakukan untuk menjaga stabilitas dapur dan ketahanan pangan di rumahnya.