Satukan Harapan dan Raih Kemenangan, Wisuda Bintaraloka 2024

Makan durian bikin kepayang, segelas limau itu obatnya..

Selamat jalan anakku sayang, kulepas engkau menggapai cita..

(Mengutip Pantun Ibu Vipha Maksum, Ketua Komite SMP Negeri 3 Malang)

Pagi yang cerah. Meski beberapa ruas jalan di kota Malang tampak basah karena sisa hujan yang turun kemarin, semua tak mengurangi semangat para undangan yang akan menghadiri acara di ballroom Ijen Suite Hotel.

Siap untuk mengikuti kirab wisuda, dokumentasi pribadi

Ya, hari itu, Kamis 13 Juni 2024 akan dilaksanakan Penyerahan Kembali Siswa Kelas 2.4 dan 3.6 SMP Negeri 3 Malang.

Siswa, guru maupun orang tua memenuhi jalan di luar ballroom. Semua tampak gembira, terutama para siswa. Tentu saja , setelah tiga tahun mereka belajar di Bintaraloka sekolah tercinta, kini tiba saatnya mereka harus diserahkan kembali oleh sekolah kepada orang tua.

Panitia bagian penerima tamu, dokumentasi pribadi

Acara pagi itu diawali dengan kirab seluruh siswa diikuti para guru. Lagi Padamu Negeri mengiringi jalannya kirab dari luar menuju ke dalam ballroom hotel.

Dengan dipandu Mister Sony dan Ibu Galuh sebagai MC dari guru  dan Al fil zacky, Anya kalia, Anindya dan M Irsyad sebagai MC dari siswa, acarapun dimulai. 

Pembawa acara guru, dokumentasi pribadi
Pembawa acara siswa, dokumentasi pribadi

Acara pertama diisi dengan suara merdu Kirana.  Rolling in the Deep. Lagu dari Adele ini dinyanyikan oleh siswi kelas 8 ini dengan begitu apik.

Setelah berdoa dan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. 

Penampilan Kirana, dokumentasi pribadi

Sambutan pertama adalah dari Ibu Melly Syamallia, Ketua panitia Penyerahan Siswa Tahun 2024. Dalam sambutannya beliau   menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan kerjasama sehingga acara pagi itu bisa berlangsung dengan baik.

Sambutan Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang, dokumentasi pribadi

Sambutan berikutnya adalah dari Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang Dra Mutmainah Amini, M.Pd. Dalam sambutan pagi itu Ibu Amini mengucapkan selamat atas kelulusan seluruh siswa kelas 2.4 dan 3.6.  Beliau juga berpesan agar semua siswa terus berusaha meraih prestasi yang lebih baik, tidak mudah putus asa, tetap kuat dan tangguh.

Tari Maheswari, dokumentasi pribadi

Tak lupa beliau juga berpesan agar orang tua selalu mendampingi siswa dalam belajar, mengingat begitu beragamnya media belajar sehingga kita semua harus pandai memilah dan memilih.

 Sesudah sambutan Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang, Bapak Sutikno, S.Pd, MM, pengawas SMP Negeri 3 Malang juga memberikan pesan yang berintikan agar para siswa terus menjaga nama baik sekolah dan selalu berbakti pada orang tua, guru dan negeri kita tercinta.

Penampilan Jason, dokumentasi pribadi

Setelah berbagai sambutan acara dilanjutkan dengan tampilan Tari Maheswari dari siswa kelas 8. Dengan gemulai namun energik mereka membawakan tari kreasi yang cantik ini.

Suasana semakin hangat ketika sesudah tampilan tari, Jason Aditya yang juga merupakan wisudawan membawakan lagu “Sekali Ini Saja” dengan alunan saxophone nya yang lembut.

Trinors feat Kak Oni, dokumentasi pribadi

Kejutan berikutnya adalah penampilan dari The Trinors feat Kak Oni yang membawakan lagu O Sole Mio. Lagu yang diciptakan di era 1800 an ini dibawakan oleh Addin, Imraan, Danendra dan Kak Oni dengan begitu memukau. Tepuk tangan penonton begitu meriah setelah mereka menyelesaikan lagu ini.

Petrichor Band, dokumentasi pribadi

Setelah tampilan dari Petrichor Band yang membawakan lagu dari Sheila On 7, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Komite SMP Negeri 3 Malang yaitu Ibu Vipha Maksum. 

Dalam sambutannya Ibu Vipha mengucapkan selamat atas kelulusan para siswa dan ucapan terima kasih pada seluruh orang tua yang telah memberikan kontribusi begitu berarti sehingga semua acara pagi itu bisa terlaksana.

Kirab 10 besar wisudawan , dokumentasi pribadi

Sesudah sambutan dari Ibu Ketua Komite, sampailah pada acara yang ditunggu-tunggu yaitu prosesi sepuluh besar wisudawan dan wisudawati Bintaraloka 24.

Pengiring kirab sepuluh besar, dokumentasi pribadi

Dengan didampingi kedua orang tua, para wisudawan dan wisudawati yang masuk dalam jajaran sepuluh besar memasuki ballroom. Ada wajah bangga dan haru atas pencapaian yang mereka raih setelah tiga tahun belajar di SMP Negeri 3 Malang.

Wisudawan sepuluh besar, dokumentasi pribadi
Berfoto bersama sepuluh besar dengan Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang dan Pengawas, dokumentasi pribadi

Setelah pemberian penghargaan dan berfoto bersama acara kembali dilanjutkan. Kini yang tampil adalah duet Maureen dan Syahjendra dalam lagu The Prayer. 

The Prayer by Mauren dan Syahjendra , dokumentasi pribadi

Sebuah tampilan yang luar biasa. Lagu yang berisi rasa syukur, harapan dan doa pada Tuhan ini dibawakan dengan begitu manis oleh keduanya.

Tidak hanya prestasi akademik, prestasi non akademik pun sangat diperhatikan oleh SMP Negeri 3 Malang. 

Sesudah penayangan di LCD para siswa yang mempunyai prestasi non akademik, acara dilanjutkan dengan prosesi wisuda seluruh siswa mulai dari 3.6.1 hingga 3.6.8 dan 2.4.1.

Kelas 3.6.4 berfoto bersama sesudah prosesi, dokumentasi pribadi
Keroncong Bintaraloka , dokumentasi pribadi

Acara prosesi diiringi oleh lagu-lagu dari paduan suara dan tim Keroncong Bintaraloka secara bergantian.

Di sela-sela prosesi wisuda, acara dihentikan sejenak karena kedatangan dari Bapak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwardjana, SE MM.

Berfoto bersama Pak Kadinas, dokumentasi Bintaraloka

Dalam kesempatan tersebut Bapak Suwardjana memberikan sambutan yang berintikan ucapan selamat atas pelaksanaan kegiatan pada hari itu, juga agar siswa dan orang tua lebih cermat dalam mengikuti PPDB SMA yang akan berlangsung tidak lama lagi.

Sesudah sambutan dan foto bersama Kadinas, acara prosesi dilanjutkan hingga selesai.

Penyerahan siswa pada orang tua secara secara simbolis dokumentasi pribadi

Sesudah prosesi dilaksanakan  pembacaan janji wisudawan,  penyerahan siswa kepada orang tua secara simbolis dan pengalungan selempang alumni pada dua orang siswa sebagai perwakilan angkatan B24.

Pembacaan janji wisudawan , dokumentasi pribadi
Pengalungan selempang alumni Bintaraloka, dokumentasi Buz

Acara hari itu ditutup sekitar pukul 13.00 dengan doa bersama yang dipimpin oleh Bapak Aksan selaku Wakakur SMP Negeri 3 Malang.

Doa dipimpin oleh Pak Aksan, dokumentasi pribadi

Sungguh sebuah acara yang menggambarkan kolaborasi yang luar biasa antara sekolah dan orang tua siswa.

Foto bersama guru dan panitia wisuda, dokumentasi Fabi

Akhirnya selamat atas kelulusan seluruh siswa kelas 3.6 dan 2.4, satukan harapan dan raih kemenangan.., semoga semua semakin berprestasi dalam belajar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Baca juga:

“Sekali Ini Saja”, Sebuah Tampilan Manis  Saxophonis Bintaraloka 

Arena wisuda atau pelepasan siswa kelas 2.4 dan 3.6 tahun ini menyimpan banyak cerita. Utamanya tentang berbagai talenta yang bertaburan di Bintaraloka. Salah satu yang akan saya tulis di sini adalah penampilan dari Jason Aditya dengan saxophonenya yang luar biasa.

Denting irama mengalun lembut membuat hadirin diam sesaat. Tak lama kemudian dari arah pintu masuk, melangkah pelan Jason Aditya dengan tiupan saxophone yang demikian manis. Bagaikan seorang penyihir, ia menghipnotis seisi arena wisuda dengan lantunan saxophonenya.

Penampilan Jason Aditya dengan lagu “Sekali Ini Saja”, dokumentasi pribadi

Dalam berbagai kesempatan Jason sering menunjukkan kepiawaiannya dalam bermain alat musik satu ini. Menurut pengamatan saya sejak kelas tujuh ia sering tampil dalam acara sekolah.

Penampilan Jason selalu menarik perhatian, antara Jason dan saxophone seperti dua hal yang tak terpisahkan.

Alat musik saxophone sendiri adalah alat musik tiup yang ditemukan oleh  Adolphe Sax pada awal 1840 dan terus mengalami perkembangan hingga dipatenkan pada tanggal 28 Juni 1846.

Penapilan Jason Aditya di acara wisuda, dokumentasi pribadi

Alat musik ini sering digunakan dalam musik klasik, drumband, jazz,musik kontemporer maupun solo. Pemain saxophone disebut saxophonis.

Musik terus mengalun lembut. Sekali Ini Saja, sebuah lagu yang pernah dipopulerkan oleh almarhum Glenn Fredly terasa demikian indah. Selain Glenn Fredly lagu ini juga pernah dinyanyikan Rossa dengan aransemen ulang oleh Andi Rianto pada tahun 2022.

Salut pada Jason yang konsisten menekuni alat musik satu ini sehingga bisa tampil di berbagai acara sekolah termasuk wisuda hari itu.

Jason dalam sebuah persiapan acara, dokumentasi pribadi

Melihat usianya yang demikian muda, dan talenta yang selalu diasah tersimpan harapan besar bahwa potensi Jason akan semakin berkembang lagi ke depannya.

Baca juga:

Tentang ‘O Sole Mio’ dan Cinta yang Terpancar di Kala Wisuda

Lampu gedung dimatikan. Suasana menjadi gelap. Intro musik yang mengalun membuat saya tiba- tiba terlempar ke masa lalu.

Dari arah pintu masuk Imraan dengan senyumnya yang khas mengalunkan sebuah lagu. O Sole Mio. Lampu kembali benderang dan suasana terasa demikian hangat.

Che bella cosa, ‘na jurnata ‘e sole (Sungguh indah, hari yang cerah)

N’aria serena doppo ‘na tempesta (Udara tenang setelah badai)

Pe’ l’aria fresca pare già ‘na festa (Udara segar sudah terasa seperti pesta)

Sampai di depan, dua orang penyanyi yang lain muncul. Addin dan Danendra. Aha… The Trinors dengan suara mereka yang demikian memukau mengeksekusi nada nada dari O Sole Mio dengan demikian manis.

Senyum selalu mengembang di wajah mereka. Belum selesai. Menjelang lagu berakhir, muncul Kak Oni. Dan kolaborasi keempatnya membuat lagu ini benar benar terasa istimewa.

Sebuah tampilan yang penuh kejutan. Betapa tidak? Selama ini saya lebih mengenal Imran sebagai pemain pantomim, teater juga dirigen paduan suara.

Penampilan The Trinors dan Kak Oni, dokumentasi pribadi

Addin lebih saya kenal sebagai fotografer yang pendiam, dan Danendra sebagai pemain olah raga. Tapi hari itu mereka seperti menjadi sosok yang lain. Powerful. Dan lewat kolaborasi dengan Kak Oni mereka membuat lagu lawas ini terasa begitu cantik. 

Applaus penonton begitu meriah setelah mereka mengakhiri penampilan pagi itu.

Tentang Lagu O Sole Mio

Kota Napoli, sumber gambar: Haluan Lifestyle

O Sole Mio adalah lagu Italia yang sangat digemari. Bahkan seperti menjadi ‘lagu wajib’ bagi orang Napoli.

Menggunakan bahasa dialek Napoli lagu ini diciptakan oleh Giovanni Capurro (1898), dengan komposisi melodi oleh Eduardo di Capua dan Alfredo Mazzucchi.

Almarhum Elvis Presley pernah mempopulerkan lagu ini kembali dengan menggunakan irama O Sole Mio untuk lagu Its Now or Never pada tahun 1960.

Lagu ini memiliki syair yang demikian puitis yang menggambarkan perasaan yang mendalam tentang kerinduan, pengabdian dan kegembiraan saat berada di tengah orang yang dicintai.

Sole Mio artinya Matahariku. Mungkin matahari digunakan penciptanya karena Napoli adalah daerah di Italia yang berlimpah sinar matahari.

Mengapa matahari dipakai sebagai lambang cinta? Kemunculan sinar matahari selalu memberikan kehangatan, harapan dan kegembiraan pada manusia. Sinar matahari adalah lambang optimisme kita untuk melangkah ke depan

Matahari juga lambang dari sebuah kesetiaan. Bukankah dia tak henti menyinari kita di saat dan jam yang sama selama berabad abad? Kemunculannya adalah ibarat kesetiaan dan janji yang selalu ditepati. Tak berlebihan jika beberapa penyair mengatakan bahwa mentari adalah gambaran dari sosok yang tak pernah ingkar janji.

Lewat lagu ini pengarangnya seolah menggambarkan bahwa begitulah seharusnya cinta. Ia memberikan kegembiraan, kehangatan, kekuatan dan optimisme dengan penuh kesetiaan pada orang yang dicintai.

Wisuda saat berbagi kebahagiaan bersama orang orang tercinta, dokumentasi pribadi

Membawakan lagu ini di kala wisuda seperti kemarin terasa begitu tepat. Bukankah dalam wisuda kita berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai? Teman, ayah, ibu atau bahkan adik juga kakak. 

Dalam acara tersebut kita bisa saling berbagi rasa gembira. Ada keakraban dan optimisme dalam wisuda. Ya, di antara kehangatan hari itu terucap optimisme wisudawan dan wisudawati dalam sebuah janji yang berkali- kali diucap. See you on the top. Semoga kita bertemu lagi dalam prestasi yang lebih baik

O Sole Mio…

Baca juga:

Karena tidak bisa memvideo secara lengkap yuk tetap kita nikmati lagu legendaris ini lewat Il Volo😊

Bintaside Out, Kompetisi, Gali Potensi dan Jalin Keakraban di Antara Siswa

Masa ujian telah usai. Masa perbaikan pun telah menyusul. Kini, tibalah masa yang paling dinantikan seluruh warga sekolah, masa classmeeting.

Jerit dan teriakan siswa baik sebagai pemain maupun suporter begitu mewarnai suasana. Siswa dengan baju kaos kelas berwarna warni tampak begitu bersemangat dengan keringat sehabis pertandingan. Luar biasa. 

Siswa siap mengikuti pertandingan basket, dokumentasi pribadi
Siswa dengan warna warni kaos kelasnya, dokumentasi pribadi

Sebagai guru saya biasanya sibuk dengan koreksi atau nilai rapor saat classmeeting. Tapi karena kelas sembilan sudah menerima SKL dan rapor kali ini saya bisa lebih leluasa melihat kegiatan ini bahkan mengadakan perbincangan dengan beberapa siswa.

Adapun berbagai lomba yang diselenggarakan adalah basket, futsal, kasti, badminton, tarik tambang dan voli.

Pertandingan volley, dokumentasi pribadi
Pertandingan kasti, dokumentasi OSIS
Badminton, dokumentasi OSIS
Futsal, dokumentasi OSIS

Classmeeting kali ini mengambil tema Bintaside out, yang artinya Bintaraloka inside out. Maknanya,  setiap siswa di Bintaraloka mempunyai sisi kelebihan atau potensi yang masih tersimpan dan bisa diekspresikan dalam acara classmeeting ini.

Briefing sebelum pertandingan, dokumentasi pribadi
Pertandingan basket, dokumentasi pribadi

Diungkapkan oleh Hasna dan Chalyza, tujuan Classmeeting ini disamping untuk menggali potensi siswa dalam berbagai bidang oleh raga, juga bisa menjadi sarana refreshing setelah sekian lama bergelut dengan berbagai macam ulangan dan SAS.

Di samping itu kegiatan ini juga bisa meningkatkan kekompakan, menjalin keakraban, meningkatkan sportifitas dan mengajak siswa berkompetisi secara sehat.

Panitia pertandingan, dokumentasi pribadi
Panitia dari OSIS, dokumentasi pribadi
Panitia pertandingan, dokumentasi pribadi

Panitia lomba dari OSIS tampak stand by di tepi lapangan pertandingan. Penonton yang melihat pertandingan dari atas juga begitu interest.

Petugas UKS, dokumentasi Adzraa

Yang  tidak bisa diabaikan di masa classmeeting juga adalah peran dari para petugas di UKS. Menurut keterangan Adzraa dan teman-temannya setiap hari ada sekitar 10-15 siswa yang datang ke UKS karena luka atau pusing, dan siswa yang bertugas siap melayani mereka.

Penonton pertandingan, dokumentasi pribadi

Matahari semakin naik, jam sudah menunjukkan pukul 11, tapi semangat pemain dan animo penonton masih begitu tinggi.

Ada teriakan pemberi semangat, ada pukulan genderang, termasuk juga jerit senang atau juga kecewa ketika regu yang dijagokan berhasil  atau gagal  mencetak poin nilai.

Penonton pertandingan, dokumentasi pribadi
Di tepi lapangan volley , dokumentasi pribadi
Siap menjadi supporter , dokumentasi pribadi

Akhirnya semoga classmeeting kali ini tidak hanya berhasil mencari bibit olahraga yang baru, tapi juga bisa menjadi sarana menanamkan kompetisi yang sehat dan menjalin keakraban di antara siswa.

Ayo, semangat Bintaraloka 😊 

Titah Gayatri, Sang Petarung di Atas Papan Hitam-Putih

Namanya Titah Gayatri. Jika melihat sekilas dari perawakannya saja, banyak orang mungkin akan berpikir ia hanya siswi SMP biasa, sedang berharap-harap cemas akan masuk SMA mana. Akan tetapi, tidak akan ada yang menyangka bahwa di balik tubuh gadis mungil tersebut, tersimpan segudang prestasi yang ia telah pupuk sejak dini, siap dituai sewaktu-waktu.

Berawal dari medali perunggu yang ia raih pada Kejuaraan Provinsi Jawa Timur untuk kelompok usia tujuh tahun di tahun 2015, karir siswi SMP Negeri 3 Malang tersebut melonjak drastis pasca Pandemi Covid-19 empat tahun silam. Berbagai penghargaan ia sabet, mulai dari medali emas Kejuaraan Provinsi Jawa Timur kelompok usia 13 tahun pada bulan September 2022, Juara 3 Festival Catur Pelajar Nasional kategori SMP putri sebulan setelahnya, hingga yang terbaru adalah Juara 3 JAPFA Chess festival 2023 kategori putri kelompok usia 14 tahun.

Dengan segudang prestasi di genggamannya, saya merasa sangat antusias ketika mendapatkan kesempatan untuk berbincang ringan dengan Titah Gayatri pada hari Selasa (04/06). Darinya, saya mendapatkan banyak pandangan tentang lika-liku perjalanan atlet catur muda dalam mengejar mimpinya.

Bincang ringan dengan Titah Gayatri, pecatur berprestasi SMP Negeri 3 Malang.

Pewawancara (P): Let’s start with a general question. Mengapa catur? Sejak kapan mengenal papan catur dan apa yang membuat seorang Titah Gayatri mulai tertarik bermain catur?

Titah Gayatri (TG): Saya mulai bermain catur dari umur lima tahun, Mas.

P: Lima tahun?!

Jujur, saya cukup terkejut mendengar jawaban Titah. Saya yang memiliki keponakan berusia sekitar lima menuju enam tahun tahu persis betapa sulitnya mengajak anak seusia tersebut untuk duduk diam dan berkonsentrasi selama lebih dari setengah jam, belum pula mengajarkan konsep catur yang bisa dibilang rumit bahkan untuk orang dewasa sekalipun.

Pujian tidak hanya layak dilayangkan kepada Titah dan bakat luar biasanya, melainkan juga kepada pihak keluarga dan pelatih yang mampu bersabar membimbing Titah sejak dini.

TG: Iya, Mas. Saya mulai bermain catur sejak umur lima tahun. Waktu itu, ayah dan kakek yang mengenalkan saya kepada permainan papan catur ini.

P: Kalau begitu, profesi kakek dan ayah Titah..?

TG: Keduanya adalah pelatih catur.

Setelah menggali lebih dalam, putri bungsu dari empat bersaudara ini mengungkapkan bahwa ia memang berasal dari keluarga catur. Selain ayah dan kakeknya, ketiga kakak Titah juga bergelut di bidang catur. Bahkan, kakak laki-lakinya, Nayaka Budhidharma (18) telah mendapatkan gelar master FIDE (FM) di tahun ini, bertengger nyaman di posisi 26 dalam jajaran pecatur terbaik nasional saat ini.

Nayaka Budhidharma, Kakak dari Titah Gayatri dan pecatur nasional bergelar Master FIDE. Source:FIDE.

Akan tetapi, bukan Nayaka yang menjadi tokoh utama di wawancara kali ini, melainkan Titah yang sedang berjuang mengikuti jejak keberhasilan sang kakak.

P: Lalu, apa catur di mata Titah Gayatri saat ini? Apakah sekedar hobi? Lifestyle? Atau sudah menjadi mimpi yang ingin dikejar?

TG: Saat ini, mungking lebih ke mimpi yang ingin dikejar. Saya bahkan sedang berada di posisi saya lebih bersemangat untuk bermain catur daripada belajar.

P: Lantas, adakah kesulitan di sekolah karena harus bergelut di bidang catur juga?

TG: Kesulitan sih ada. Tapi mungkin banyak yang berasal dari diri saya sendiri, seperti susah menghafal di pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) atau tidak mengerti materi pelajaran menjelang ujian. Untungnya, hingga saat ini saya masih tidak pernah mengalami kesulitan di sekolah akibat terlalu focus di bidang catur.

Setelah bertanya pada ibu Yuli Anita, wali Kelas dari Titah Gayatri, beliau mengungkapkan bahwa Titah sendiri masuk dalam golongan siswa yang pintar. Meskipun berada di kelas empat semester dan harus menyelesaikan Pendidikan jenjang SMP hanya dalam waktu dua tahun, Titah masih selalu konsisten mendapat nilai di atas rata-rata. Hal ini membuktikan bahwa meskipun Titah sudah membulatkan tekad pada dunia catur, sekolah masih menjadi prioritas utamanya hingga kini.

P: Apa yang menyebabkan perubahan pola pikir tersebut? Sejak kapan Titah menganggap bahwa catur bukan hanya sekedar hobi saja?

TG: Mungkin sejak pandemi Covid-19 ya, Mas. Meskipun sebelumnya, saya juga sudah memiliki prestasi, tapi karena saya masih terlalu kecil, saya belum pernah membayangkan ingin menjadi apa ketika dewasa kelak. Akan tetapi, ketika sekolah berubah menjadi dari rumah, saya menggunakan banyak waktu luang saya untuk belajar lebih dalam tentang catur. Setelah sekian lama, saya mulai berpikir, kenapa tidak?

Ya, berbeda dari remaja lainnya yang banyak menghabiskan waktu mereka di kala pandemi dengan hanya bermain Tiktok atau aplikasi sejenisnya, Titah memutuskan untuk memanfaatkannya secara produktif dengan memperdalam ilmu catur yang ia miliki. Hal tersebut berbuah manis dua tahun pasca pandemi, ketika Titah baru saja menjadi siswi SMP Negeri 3 Malang. Ia berhasil menyabet medali emas pada Kejuaraan Provinsi Jawa Timur kelompok usia 13 tahun pada bulan September 2022 serta meraih Juara 3 pada Festival Catur Pelajar Nasional kategori SMP putri pada bulan Oktober di tahun yang sama, sebuah lonjakan prestasi yang luar biasa dalam kurun waktu dua tahun.

Titah Gayatri ketika memenangkan medali emas Kejuaraan Provinsi Jawa Timur 2022 kategori putri KU 13.
Titah Gayatri, peraih juara 3 ajang JAPFA Chess Festival 2023 kategori putri KU 14.

P: Adakah sesuatu yang Titah belajar banyak dari dunia catur dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?

TG: Mungkin karena catur adalah olahraga yang menuntut akurasi tinggi dalam waktu terbatas, yang paling banyak diterapkan adalah manajemen waktu dan selalu berpikir untuk beberapa Langkah ke depan.

P: Dan mungkin ini akan menjadi pertanyaan terakhir saya hari ini. Apa target yang ditetapkan untuk diri sendiri di tahun ini dan apa harapan seorang Titah Gayatri untuk karir caturnya di masa depan?

TG: Untuk tiap tahun, target yang saya tetapkan selalu sama, yaitu memenangkan kejuaraan nasional. Karena jika saya berhasil berprestasi di kejuaraan nasional, besar kemungkinan bagi saya untuk diberangkatkan ke luar negeri (Untuk kompetisi internasional). Sedangkan untuk harapannya, saat ini saya masih tetapkan di gelar FIDE Master Wanita (WFM) terlebih dahulu. Setidaknya, gelar WFM ini adalah lower ceiling saya. Untuk harapan setelah itu, saya akan pikirkan lagi setelah satu (harapan gelar WFM) ini tercapai.

Kejuaraan nasional. Setelah memenangkan medali emas di kejuaraan provinsi Jawa Timur dua tahun silam, Titah mengalihkan targetnya menuju kejuaraan tertinggi di Indonesia. Dan benar katanya, mereka yang mampu meraih gelar di gelaran ini mendapatkan kesempatan besar untuk diberangkatkan oleh Persatuan Catur Indonesia (PERCASI) menuju kompetisi internasional.

Dan melihat dari perjalanan karirnya, memenangkan kejuaraan nasional bukanlah sesuatu yang mustahil bagi Titah. Buktinya, ia mampu meraih 6 poin dari 9 permainan di kejuaraan nasional pertamanya tahun lalu, dimana Titah berhasil menduduki posisi 9 di klasemen akhir. Jika ia mampu lolos menuju kejuaraan nasional tahun ini di Gorontalo, pengalaman dari tahun lalu akan menjadi bekal berharga untuk meraih hasil yang lebih baik lagi.

Statistik akhir Titah Gayatri pada gelaran kejuaraan nasional 2023.

Selain berbincang masalah catur, saya juga sempat bertanya seputar pribadi Titah; mulai dari hobi, keseharian, hingga masalah sekolah. Dari pembicaraan tersebut, saya sedikit banyak dapat melihat seperti apa diri Titah Gayatri yang sebenarnya.

Meskipun bertubuh kecil dan agak pendiam, Titah Gayatri adalah sosok yang ambisius. Dan meskipun di dunia catur profesional, ia bukanlah sosok super jenius yang mampu menggemparkan jagat dunia layaknya para pecatur ulung India, Titah adalah seorang petarung. Demi mewujudkan mimpi-mimpinya, Titah adalah seorang petarung tangguh di atas papan hitam-putih yang siap membantai lawan-lawannya.

Penulis: Achmad Zulfikar.

Editor: Yuli Anita.