Peningkatan Karakter dan Etika Guru untuk Sekolah Masa Kini, Belajar Bersama Berlian Triatma

Sepandai apapun dirimu, tanpa etika tidak akan ada artinya.

Pertemuan kami pagi itu dibuka dengan sebuah kalimat yang singkat namun sarat makna, dan kalimat tersebut sekaligus merupakan tema besar pelatihan kami hari itu.

Pelatihan yang diadakan kali ini (Kamis, 26/06) merupakan salah satu rangkaian kegiatan workshop awal tahun pembelajaran. Sebuah kegiatan rutin yang dilakukan sekolah untuk persiapan dalam menghadapi tahun pelajaran baru sekaligus Peningkatan Kompetensi Guru.

Dalam kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru kali ini kegiatan bertajuk “Dari Hati ke Aksi : Karakter dan Etika Guru Milenial untuk Sekolah Masa Kini” dan mengundang Brilian Triatma sebagai narasumber.

Yang menarik sekaligus membanggakan Brilian Triatma adalah alumni SMP Negeri 3 Malang.

Narasumber Berlian Triatma, dokumentasi

Sekilas tentang Berlian, alumni Bintaraloka tahun 2011 ini menempuh pendidikan dari BA Restu, MIN Malang 1, SMP Negeri 3 Malang, SMA Negeri 4 Malang, kuliah di FISIP dan Psikologi Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 2020. Setelah lulus dari UI ia pernah mengambil short course tentang Mindfulness di Harvard University. 

Di usianya  yang ke 28 ini, Berlian aktif sebagai manajer, konsultan dan trainer sumber daya manusia di berbagai perusahaan.

Ada tiga hal yang menjadi topik pembicaraan pagi ini yaitu praktik pendekatan psikologi pada siswa, layanan prima oleh guru dan kerja kolaboratif berbasis kepercayaan.

Dalam paparan pagi itu dijelaskan bahwa satu indikator keberhasilan seorang guru adalah ia mampu untuk mengubah tingkah laku siswa dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Untuk mengubah perilaku tersebut guru harus bisa memberikan contoh atau berperan sebagai role model bagi pembentukan karakter siswa.

There are two ways to influence human, you can manipulated it or you can inspire it (Simon Sinek)

Adalah penting untuk memberikan inspirasi pada siswa agar  berperilaku lebih baik, dan sebelum melakukan hal tersebut guru harus melakukan refleksi diri dan mengubah perilakunya sendiri menjadi lebih baik.

Suasana pemberian materi dan diskusi, dokumentasi Bintaraloka

“Agar siswa mau meniru apa yang dilakukan guru, maka lebih dahulu guru harus membuat dirinya disukai siswa,” demikian dijelaskan oleh Berlian. Adanya rasa suka membuat siswa dengan sukarela  melaksanakan nasehat ataupun menirukan contoh dari guru.

Dalam materi kerja kolaboratif Berlian menjelaskan tentang perlunya kompetensi, reliabilitas, intimacy untuk membentuk sebuah kepercayaan.

Jika kepercayaan antar guru sudah timbul maka bersama-sama semua bisa berjalan cepat untuk meraih tujuan kita semua, jelasnya.

Diskusi dan pemberian materi hari itu berlangsung hangat. Para peserta aktif berpendapat maupun mengajukan pertanyaan yang dijawab oleh narasumber melalui paparan ataupun berbagai contoh nyata.

“Semoga Bapak /Ibu guru senantiasa sehat sehingga bisa melaksanakan tugas besar sebagai pencetak generasi penerus bangsa,” ungkap Berlian di akhir materinya.

Alumni Bintaraloka lintas angkatan, dokumentasi Buz

Acara pagi itu diakhiri dengan penyerahan cindera mata topeng Malangan dari sekolah yang diwakili oleh Ibu Arie kepada Berlian Triatma, disambung dengan berfoto bersama.

Sesi foto ditambah dengan foto bersama para alumni Bintaraloka lintas angkatan juga. Aha…

Hari yang luar biasa. Kami belajar banyak pagi itu.

Semoga dengan pemberian materi ini para guru Bintaraloka akan terus berusaha meng-upgrade dirinya, meningkatkan personal branding, dan bisa menjadi teladan bagi siswa.

Bincang bersama Berlian, dokumentasi Buz

Harapannya juga semua guru bisa memberikan layanan terbaik pada siswa agar mereka tumbuh menjadi generasi yang lebih baik di masa yang akan datang. 

Serunya Classmeeting , Bukan Sekedar Pertandingan Antar Kelas

Salah satu kegiatan pasca PAT yang sangat ditunggu siswa adalah classmeeting. Di acara ini masing masing kelas bertemu dalam sebuah bingkai pertandingan antara kelas. Ya, di saat guru menyelesaikan berbagai tugas penilaian akhir, siswa mendapatkan kesempatan untuk melakukan kegiatan ini dalam empat hari. 

Dalam classmeeting kali ini Bintaraloka mengadakan delapan macam Pertandingan yaitu kasti, futsal, teklek, bola tembak, badminton, estafet lari, kebersihan kelas, paduan suara, literasi dan numerasi.

Seru? Tentu saja! Siswa begitu antusias dalam mengikuti berbagai pertandingan yang diadakan. Sorak sorai suporter ataupun teriakan pemain mewarnai hari hari itu.

Salah satu nomor pertandingan classmeeting, dokumentasi Naufal
Salah satu pertandingan classmeeting, dokumentasi Naufal

Ada hal yang menarik dari classmeeting kali ini. Apa itu? Jika selama ini classmeeting identik dengan pertandingan-pertandingan oleh raga, kali ini tidak. Ada lomba paduan suara, literasi dan numerasi.

“Siswa banyak yang tidak hafal Mars SMP3, juga lagu-lagu nasional..,” demikian dituturkan Bapak Ardilah penanggung jawab classmeeting ketika ditanya mengapa dalam event kali ini ada lomba paduan suara.

“Untuk meningkatkan rasa nasionalisme,” ungkap salah seorang panitia dari OSIS.

Lomba literasi dan numerasi diadakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam  literasi baca tulis dan numerasi. Lebih- lebih di tahun ini siswa kelas sembilan akan menghadapi TKA. 

Meski belum diketahui bagaimana nantinya bentuk TKA itu, tapi menguatkan literasi adalah hal penting untuk persiapan menghadapi TKA, juga untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menerima pelajaran.

Lalu bagaimana pelaksanaan lomba paduan suara (padsu) dan literasi di sekolah?

Untuk lomba padsu seluruh siswa dalam satu kelas wajib ikut. Mereka menyanyikan dua buah lagu yaitu Mars SMP 3 dan satu lagu nasional bebas.

Setiap kelas diwakili oleh penampilan seluruh personil kelas menyanyi dengan satu orang menjadi konduktor.  

Lomba paduan suara , dokumentasi pribadi
Lomba paduan suara, dokumentasi pribadi

Dalam lomba ini selain kebenaran dalam membawakan lagu,  performance peserta juga masuk dalam penilaian. 

Performance ini meliputi penampilan penyanyi dan konduktor, kerapian, juga koreografi.  Karena itu peserta merancang berbagai koreografi yang menarik untuk mendukung penampilan mereka.

Bagaimana dengan lomba literasi dan numerasi?

Dalam lomba ini masing masing lomba  terdiri atas dua babak. Pada literasi, di babak penyisihan tiap peserta wajib menyalin sebuah cerpen yang terdiri atas dua lembar.

Peserta dengan typo atau kesalahan paling sedikit berhak maju ke babak berikutnya. 

Peserta lomba literasi, dokumentasi Meiy

Di babak final yang diikuti dua orang peserta dari kelas tujuh dan dua peserta dari kelas delapan, tiap peserta diminta mengetik sebuah surat resmi  dengan contoh yang sudah disediakan OSIS. 

Lomba yang tampaknya sederhana, tapi mengetik surat dengan bahasa resmi ternyata merupakan tantangan tersendiri bagi siswa.

Lomba literasi , dokumentasi Meiy

Nah, lomba numerasi lebih menarik lagi. Di babak penyisihan setiap kelas mengirimkan dua orang wakil yang harus mengerjakan soal secara estafet.

Setelah diambil dua peraih nilai terbaik dari kelas tujuh dan dua dari kelas delapan, babak final dilakukan dengan pemberian pertanyaan semacam adu cepat di depan banyak siswa.

Lomba dilaksanakan di lapangan volly, mirip mirip cerdas cermat atau klompen capir di zaman dulu. Apalagi ketika adu cepat bukan bel yang digunakan, tapi kentongan.

Babak penyisihan lomba numerasi, dokumentasi pribadi

Sorak sorai penonton langsung menggema begitu tim yang dijagokan bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Lomba berjalan serius, tegang, tapi juga sangat menyenangkan.

Akhir lomba ditandai dengan tepuk tangan panjang para penonton sekaligus seruan gembira para supporter.

Luar biasa, seru“,  komentar salah satu siswa.

Asyik , menegangkan..,” kata siswa yang lain sambil meninggalkan lapangan volly.

Akhirnya kegiatan classmeeting  tidak hanya bisa diisi dengan olah raga, tapi bisa juga diisi dengan lomba yang lain.

Ada banyak pelajaran penting yang bisa diambil dari sebuah kegiatan classmeeting, seperti mengajak siswa berkompetisi secara sehat, melatih kekompakan, kerjasama, setia kawan, tanggung jawab juga kegigihan.

Final lomba numerasi , dokumentasi pribadi

Lomba padsu bisa menjadi ajang untuk meningkatkan rasa cinta sekolah dan rasa nasionalisme, sedangkan lomba literasi baca tulis dan numerasi bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berliterasi.

Ya, bukan sekedar pertandingan antara kelas, classmeeting kali ini berhasil menciptakan momen seru, mengajarkan siswa tentang sportivitas, kerjasama, nasionalisme sekaligus meningkatkan potensi akademik.

Semoga bermanfaat..salam edukasi😊

Literasi Bersama Siciput, Perjuangan dan  Kegigihan Meraih Cita-cita dalam Film MARS

Sementara sebagian siswa menonton film di MOPIC, sebagian siswa yang tidak mengikuti kegiatan tersebut melakukan kegiatan literasi di sekolah.

Literasi kali ini diprakarsai oleh Siciput, perpustakaan SMP Negeri 3 Malang.

Sebagaimana kita ketahui bersama, ada enam jenis literasi dasar yang perlu dikuasai siswa yaitu: literasi baca dan tulis, numerasi, sains, digital, finansial dan literasi budaya dan kewargaan, dan kali ini kami melakukan literasi digital dengan menonton film motivasi berjudul MARS ( Mimpi Ananda Raih Semesta). 

Tentang film MARS (Mimpi Ananda Raih Semesta)

Film ini bercerita tentang sebuah keluarga miskin yang tinggal di daerah Gunung Kidul yang terdiri dari Ibu, ayah dan seorang anak bernama Sekar Palupi.

Meski hidup dihimpit dalam kemiskinan, Tupon , ibu dari anak ini memiliki cita cita besar yaitu agar anaknya menjadi orang yang pintar.

Tanpa kenal lelah Tupon membesarkan dan memberikan semangat kepada putrinya untuk sekolah. 

Ibu yang buta huruf ini  selalu membawa Sekar Palupi melihat alam semesta.

Tupon selalu menunjukan lintang lantip (bintang yang cerdas), planet Mars. Ia sering mengatakan bahwa Sekar bisa mencapai lintang tersebut dengan ilmu pengetahuan.

Kegigihan dan impian ibu ini sempat dicibir oleh tetangganya. Lebih- lebih ketika Sekar menolak lamaran seorang duda dengan alasan ingin melanjutkan kuliah.

Dalam perjalanan mencari ilmu Sekar akhirnya mendapat beasiswa untuk kuliah di sebuah universitas di Jogjakarta dan lanjut hingga meraih gelar master dalam bidang astronomi di Oxford University, Inggris.

Mimpi Adinda Raih Semesta, sumber gambar: Viu

Kata MARS di sini memiliki dua makna. Bukan hanya sebagai singkatan dari Mimpi Ananda Raih Semesta, namun juga bermakna sebagai planet mars atau lintang lantip.

Film yang direlease tahun 2016 ini dibintangi oleh Kinaryosih, Acha Septriasa, Teuku Rifnu Wikana, Cholidi Asadil Alam, dan Chelsea Riansy dan dibuat berdasarkan novel dengan judul yang sama , karya Aishworo Ang.

Banyak adegan yang mengharukan dan memperlihatkan kondisi kemiskinan rakyat kecil di masa itu. Adegan mengharukan didominasi oleh kegigihan perjuangan Tupon agar anaknya bisa sekolah dengan baik.

Sedikit yang mengganggu dalam film ini adalah alurnya yang terasa terlalu cepat. Terutama pada bagian di mana Sekar tiba- tiba dapat beasiswa untuk kuliah di Jogja dan langsung lanjut magister. Tidak tampak perjuangan Sekar di masa sekolah lanjutan ataupun kuliah.

Namun lepas dari hal tersebut ada banyak pelajaran penting yang bisa diambil dari film ini, di antaranya kegigihan mengejar mimpi, jangan menyerah pada keadaan, termasuk menghargai orang tua yang sangat berperan besar dalam meraih kesuksesan kita.

Adegan yang sangat mengharukan sekaligus membanggakan adalah ketika Sekar berpidato di hari kelulusannya dan memberikan tribute pada Ibunya yang selalu memberikan motivasi pada dirinya dalam menuntut ilmu meski didera kemiskinan.

“Saya menemukan surga dalam diri ibu saya,dan saya sangat percaya pada sebuah hadits yang mengatakan: Dalam hidup ini siapakah yang harus kamu hormati? Jawabannya adalah Ibumu, Ibumu, Ibumu, kemudian ayahmu,” ungkap Sekar di akhir pidatonya yang langsung disambut dengan tepuk tangan para mahasiswa yang lain.

Peserta nobar hari pertama , dokumentasi Bintaraloka

Masih belum cukup, applaus para mahasiswa di film diikuti tepuk tangan siswa di aula. Agaknya mereka benar- benar terbawa dengan alur cerita film ini.

Di akhir kegiatan ini siswa diminta untuk membuat resume cerita film, menulis pelajaran berharga yang bisa diambil termasuk menuliskan adegan film yang paling disukai beserta alasannya.

Hari yang sangat menyenangkan. Meski ada air mata pada beberapa siswi karena terharu, di akhir kegiatan suasana kembali ceria karena ada pembagian voucher kantin bagi siswa yang bisa menjawab pertanyaan tentang film hari itu.

Tanya jawab dan pembagian mbagian voucher di akhir acara, dokumentasi pribadi

Ketika jam menunjukkan pukul setengah sebelas siswa beranjak meninggalkan aula. Harapannya ke depan kegiatan literasi akan dikemas dalam kegiatan kegiatan menarik, dan nonton bareng ini akan lebih sering dilakukan.

Persahabatan dan Perjuangan dalam Meraih Cita-cita, Tentang Nobar Film “Sang Juara Sejati”

Menonton film adalah salah satu bentuk literasi yang sangat digemari siswa. Lewat film  yang bagus,  karakter baik bisa ditularkan, demikian juga inspirasi pada para penontonnya. 

Berkaitan dengan pembentukan karakter baik pada diri siswa, pada hari Rabu dan Kamis (12-13 Juni) siswa kelas 7 dan 8 bergantian menonton film bareng di MOPIC yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta 9 Malang.

Film yang diputar dalam acara tersebut adalah Sang Juara Sejati yang direlease tahun 2024 dengan bintang Yatti Surachman, Adli Umar, Raissa Siregar, Kendra Basel dan disutradai oleh Alex Latief.

Film Sang Juara Sejati bercerita tentang Elang anak yatim piatu yang tinggal bersama neneknya yang bernama Mak Inah. 

Sumber gambar : Film Indonesia

Sejak kecil, rumah Elang berdekatan dengan Melati seorang anak perempuan tomboy yang memiliki rambut gimbal sejak lahir. 

Berdasarkan kepercayaan masyarakat kampung, anak yang terlahir dengan rambut gimbal adalah titisan leluhur yang hanya boleh dipangkas rambutnya dengan menjalankan upacara, serta setiap permintaannya harus dikabulkan oleh kedua orang tuanya setelah rambut gimbalnya dipotong.

Teman Elang yang lain yaitu Rafi adalah anak yang manja dari keluarga yang berkecukupan dan mendapatkan apa yang ia inginkan dari kedua orang tuanya.

Latar belakang yang berbeda tidak menghalangi ketiga sahabat tersebut untuk berjuang meraih cita-cita, dan melalui berbagai tantangan untuk menjadi juara yang sejati.

Pendamping siswa, dokumentasi Bintaraloka

Ada banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari film ini. Film yang berdurasi sekitar 110 menit ini memberikan pelajaran tentang  persahabatan dan pantang menyerah dalam mencapai cita.

“Melalui film ini juga anak anak diajak untuk lebih bersyukur karena akses mereka ke sekolah tidak sesudah yang ada di film,” demikian diungkapkan Ibu Ahfi salah satu pendamping nobar hari itu.

Ando & Ali: Dua Pemanah Ulung Bintaraloka yang Siap Menaklukkan Tantangan Baru

Cabang olahraga panahan mungkin bukanlah yang paling popular di Indonesia. Dibandingkan dengan sepak bola ataupun bulu tangkis, cabang olahraga ini tidak terlalu banyak memikat mata. Akan tetapi, masih banyak anak muda yang menekuni cabang olahraga ini dan terbukti mampu mendulang segudang prestasi, baik pada level terbawah hingga bahkan menaklukkan kompetisi level provinsi.

Pada momen kali ini, saya mendapatkan kesempatan berbincang dengan dua siswa SMP Negeri 3 Malang yang telah malang melintang di dunia panahan, memenangkan berbagai macam penghargaan dan menorehkan nama mereka sebagai dua orang rising star di kancah panahan provinsi Jawa Timur. Keduanya adalah Ando Juliant Chamelo (14) dan Gusti Muhammad Ali (14). Keduanya merupakan siswa kelas 9.7 SMP Negeri 3 Malang yang juga merupakan atlet panahan andalan Kota Malang di berbagai kejuaraan panahan selama beberapa tahun terakhir.

Bagaimana tidak, dalam rentang waktu mereka bersekolah di SMP Negeri 3 Malang, keduanya telah menorehkan berbagai prestasi, seperti Ando – Sapaan dekat Ando Juliant Chamelo – yang telah menyabet juara 1 individu Kejuaraan provinsi kelompok umur panahan Jawa Timur 2022, juara 2 individu Kejuaraan Panahan Piala Dankormar 2023, juara 2 individu SPA CUP 9 INDOOR ARCHERY TOURNAMENT 2024, dan masih banyak lagi.

Gambar 1. Deretan prestasi Ando Juliant Chamelo di dunia panahan selama duduk di bangku SMP.

Tak ingin kalah dari kompatriotnya, Ali – Sapaan dekat Gusti Muhammad Ali – juga kerap mendulang pundi prestasi, mulai dari Juara 1 Aduan Beregu Divisi Compound Putra Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XIII Provinsi Jawa Timur 2022, JUARA 2 Mixteam Compound U-15 Kejuaraan Piala Danrindam V/Brawijaya tahun 2022, 6. Juara 2 Total Mix Team Compound U15 Pada Kejuaraan Panahan Piala Dankormar 2023, dan sejumlah prestasi lain yang akan terlalu banyak jika harus disebutkan satu persatu.

Gambar 2. Deretan prestasi Gusti Muhammad Ali di dunia panahan selama duduk di bangku SMP.

Deretan prestasi ini tentu melambungkan nama Ando dan Ali di dunia panahan kota Malang, dan mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai kedua siswa berprestasi tersebut merupakan sebuah kehormatan bagi saya.

Pewawancara (P): Untuk memulai wawancara singkat kali ini, saya ingin bertanya sesuatu yang sederhana terlebih dahulu. Sejak kapan kalian tertarik dengan dunia panahan dan apa momen yang membuat kalian berdua terjun ke dalam dunia ini?

Ando: Saya memulai (latihan) sejak kelas 1 di sekolah dasar. Saat itu, saya inging menekuni olahraga yang disunnahkan Nabi (Muhammad SAW), dan setelah saya pikirkan dengan hati-hati, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba panahan.

Ali: Kalau saya baru tertarik memulai Latihan di kelas 2 sekolah dasar. Ketika itu, saya tidak sengaja melihat latihannya dan saya ingin mencoba karena panahan ini berbeda dengan olahraga lainnya.

Keduanya memiliki alasan yang cukup unik, dan hal tersebut mungkin cukup untuk menggugah rasa penasaran mereka untuk mencoba. Akan tetapi, memulai rutinitas yang baru dan menekuninya secara konsisten adalah kedua hal yang berbeda. Oleh karena itu, tak lupa saya menanyakan, apa hal pertama yang membuat mereka berdua ‘jatuh cinta’ terhadap dunia panahan.

Ando: Mungkin karena waktu pertama kali ikut kompetisi, saya berhasil naik (podium), jadi saya mungkin kecanduan terhadap panahan.

Ali: Kalau saya justru kebalikannya. Ketika saya pertama kali ikut kompetisi, saya justru gagal masuk podium, sementara kakak saya yang memulai lebih lambat justru berhasil masuk. Perasaan iri tersebut yang membakar semangat saya untuk menekuni panahan lebih lanjut.

Gusti Ali dalam sebuah event, dokumentasi Ali

Ya, Ali sendiri terlahir di keluarga pemanah, dimana kedua saudara kandungnya juga menekuni olahraga yang sama. Tak heran, jiwa kompetitif Ali sudah terbentuk semenjak ia memasuki kompetisi untuk pertama kalinya.

Berbicara tentang jiwa kompetitif, tentu saya tak lupa untuk bertanya persaingan mereka. Kedua siswa tersebut telah malang melintang di dunia panahan, tentu saya juga tertarik dengan rivalitas mereka berdua di atas lapangan. Sayangnya, hal tersebut tidak pernah terjadi, mengingat keduanya tidak tergabung dalam kategori yang sama.

Ando: Iya, kami tidak pernah bermain di satu kompetisi yang sama. Ali sendiri tergabung dalam kategori Compound, sedangkan saya ada di kategori Recurve.

Compound dan Recurve sendiri adalah dua dari banyaknya kategori di dunia panahan. Ando menjelaskan bahwa perbedaan mendasar dari kedua kategori tersebut terletak dari busur panah dan jarak targetnya.  Untuk kategori Compound, busur yang digunakan memiliki system katrol yang meringankan beban saat ditarik, sehingga tantangan yang diberikan pada kategori ini adalah untuk menembak target yang jauh lebih kecil. Sedangkan untuk kategori Recurve, busur yang digunakan jauh lebih sederhana, sehingga meskipun target diletakkan sedikit lebih jauh, diameter dari target sendiri memang lebih besar.

P: Di samping menjadi atlet panahan, kalian berdua kan juga berstatus sebagai siswa. Bagaimana cara kalian menyeimbangkan kegiatan sehari-hari antara panahan dan pembelajaran?

Ali: Berdasarkan pengalaman saya, untuk menjaga agar tidak terlalu tertinggal di dalam kelas, saya selalu bertanya teman atau guru terkait tugas yang telah diberikan dan ikut mengerjakannya ketika Latihan panahan saya selesai.

Ando: Kalau saya punya pendekatan berbeda. Saya tahu kalua dengan rutin latuhan panahan, saya akan tertinggal di bidang akademis dibandingkan dengan teman-teman saya. Karena itu, saya selalu membulatkan tekad untuk paling tidak harus masuk ke dalam podium di setiap kompetisi yang saya ikuti untuk membayar pengorbanan tersebut.

Ya, keduanya memiliki pendekatan yang berbeda terkait dengan menyeimbangkan kehidupan mereka sebagai siswa dan atlet panahan. Namun, pada akhirnya, waktu telah membuktikan bahwa pendekatan mereka berdua jauh dari kata salah. Selain berhasil meraih berbagai prestasi di dunia panahan, kedua siswa yang telah lulus dari SMP Negeri 3 Malang sejak tanggal 3 Juni 2025 tersebut telah mendapatkan satu kursi di sekolah impian mereka masing-masing; Ando dengan satu kursi di MAN 2 Kota Malang dan Ali dengan satu kursi di SMA Taruna Nusantara Magelang, dua sekolah dengan tuntutan akademik tinggi.

Keduanya berhasil membuktikan bahwa status mereka sebagai atlet tidak menjadi penghalang bagi keduanya untuk berprestasi di bidang akademis.

P: Saya penasaran, menurut kalian berdua, apa Pelajaran terpenting yang dapat kalian peroleh dari dunia panahan dan kalian terapkan di sekolah?

Ando: Yang jelas nomor satu bagi saya adalah kesabaran. Hal ini (kesabaran) adalah kunci utama di dunia panahan, seperti halnya peran jantung dalam tubuh manusia. Tanpa kesabaran, mustahil seseorang bisa meraih kesuksesan di olahraga ini.

Wawancara dengan Ando dan Ali, dokumentasi pribadi

Ali: Di samping kesabaran, fokus juga menjadi kunci. Karena, pada akhirnya, di dalam pertandingan, yang paling penting adalah diri saya sendiri. Saya tidak akan pernah bisa mempengaruhi lawan saya untuk mendapatkan nilai yang lebih kecil dari saya, sehingga memusatkan pikiran saya untuk meraih hasil yang terbaik tanpa terdistraksi oleh pemain lainnya adalah kunci penting untuk memenangkan kompetisi.

Kesabaran adalah kunci utama di dunia panahan, seperti halnya peran jantung dalam tubuh manusia.

Ando Juliant Chamelo

Meskipun mereka berdua tidak menjelaskan bagaimana mereka menerapkan hal tersebut di sekolah, kedua konsep tersebut – sabar dan fokus – adalah hal yang penting dimiliki setiap orang, tidak hanya di dunia panahan ataupun sekolah, akan tetapi juga di semua lini kehidupan di Masyarakat.

P: Lantas, setelah memenangkan berbagai kompetisi, apa yang menjadi target kalian berdua di masa depan? Apa yang menjadi target untuk jangka pendek dan jangka panjang?

Ali: Untuk target jangka pendek, tentu saya ingin berprestasi di Kejurnas (Kejuaraan Nasional). Meskipun ini adalah sesuatu yang sulit karena saingannya adalah atlet terbaik seluruh negeri, saya tetap ingin berusaha untuk menjadi salah satu dari mereka.

Ando: Sama, saya juga mempunyai target untuk Kejurnas. Untuk jangka panjang sendiri, saya ingin masuk ke dunia hukum, antara kepolisian atau kejaksaan.

Ali: Oh, untuk jangka panjang, saya ingin menjadi dokter umum atau tentara.

Pada akhirnya, kedua siswa tersebut memang menyatakan bahwa mereka tidak mempunyai target jangka panjang di dunia panahan. Namun, saya tidak terlalu kecewa terhadap hal tersebut, karena pada akhirnya, keduanya telah dibentuk secara karakter di dunia panahan, dan saya juga yakin bahwa dimana pun mereka berada, kedua siswa tersebut, Ando dan Ali, akan mampu untuk tetap berprestasi sebagaimana mereka telah menaklukkan berbagai arena panahan hingga saat ini.  

Penulis : Achmad Zulfikar

Editor : Yuli Anita