Senin ini terasa istimewa. betapa tidak? Hari ini dilaksanakan perpisahan dengan Ibu Uci Lusiati guru IPA yang telah mengabdi selama dua puluh tahun di SMP Negeri 3 Malang.
Ibu Uci telah memberikan kenangan yang begitu dalam di hati kami semua. Beliau bukan hanya guru yang disiplin dan inspiratif tapi juga teman satu tim yang demikian gigih dan penuh kerja keras.
Bagi saya sendiri, Ibu Uci bukan hanya teman guru, tapi beliau juga penyiar pujaan saya ketika saya masih bersekolah.
Perpisahan di lapangan upacara , dokumentasi Fabi
Ya, beliau adalah penyiar Radio KDS 8 di era 80 -90 dengan nama kondang Uci Santoso.
Perjalanan Ibu Uci sebagai guru cukup panjang. Berbagai prestasi diraih. Lahir pada tanggal 20 November 1965, beliau pernah mengajar fisika di SMP Negeri 4 Numfor Biak, SMP Negeri 1 Pacitan dan sejak tahun 2004 mengajar di SMP Negeri 3 Malang.
Selama mengajar di Bintaraloka, Bu Uci yang juga merupakan alumni sekolah kita tercinta ini pernah menjadi pembina KIR, Olimpiade Fisika, Staf kurikulum, Waka kurikulum, Waka kesiswaan, juga guru inti pada tahun 2014.
Penyerahan kenang kenangan , dokumentasi pribadi
Pagi ini acara perpisahan yang dipandu oleh Mister Sony, baik di lapangan maupun di ruang guru berlangsung penuh haru.
Pada para siswa Ibu Uci berpesan agar para siswa tetap melakukan hal yang terbaik agar nama besar SMP Negeri 3 Malang tetap berjaya.
Mister Sony sebagai MC, dokumentasi Fabi
Lewat sambutannya Bapak Teguh Edy Purwanta mengucapkan terima kasih atas pengabdian Ibu Uci selama mengajar di SMP Negeri 3 Malang, dan berharap Ibu Uci senantiasa sehat dan bahagia bersama keluarga di rumah.
Bersama para pengajar IPA dan Bapak Kepala SMP Negeri 3 Malang, dokumentasi Fabi
Akhirnya selamat memasuki masa purna tugas Ibu Uci. Dedikasi, semangat dan pengabdian Ibu selalu menjadi kenangan manis dalam hati kami.
Membaca topik pilihan Kompasiana tentang makanan berempah ingatan saya langsung tertuju pada jenis makanan satu ini. Gulai.
Ya, gulai kambing, makanan yang begitu lezat dan rempahnya begitu terasa. Paduan tumbar, jintan, kayumanis membuat gulai kambing hadir dengan aroma yang begitu menggoda.
Tentang Makanan Berempah
Makanan berempah di Indonesia banyak sekali jenisnya seperti gulai, rendang, soto, kare, rawon,opor, dan yang lain.
Kaya akan hasil rempah-rempah, membuat orang Indonesia bisa membuat berbagai kreasi masakan yang lezat menggoda selera. Bahkan beberapa di antaranya masuk dalam kategori hidangan terlezat di dunia. Sebutlah rawon atau pecel yang dinobatkan sebagai sup terenak dan salad terbaik di dunia versi Taste Atlas.
Dari berbagai sumber, diketahui bahwa gulai adalah jenis masakan yang tumbuh dan berkembang di Sumatera.
Gulai pada mulanya mendapat pengaruh dari India, namun cita rasa India diubah total dengan aneka bumbu dan rempah khas Nusantara
Dalam perkembangannya isi gulai pun kian bermacam. Berbagai macam hidangan protein hewani hingga aneka sayur bisa menjadi isi gulai khas Indonesia .
Hidangan gulai kambing mempunyai cerita tersendiri dalam hati saya. Tidak hanya lezat dalam rasa tapi juga indah pada kenangan yang tercipta.
Di masa kecil, sekitar tahun delapan puluhan sebagaimana anak anak seusia saya, setiap hari saya mengaji di sebuah masjid besar yang berlokasi dekat pasar, tak jauh dari rumah.
Di sebelah masjid kami terdapat sebuah warung yang lumayan besar. Warung itu beratap terpal dan ditutupi kain yang melingkar dengan warna biru bersih.
Di kain tersebut terdapat tulisan dengan sablon warna merah. Warung Nasi Sate dan Gule Kambing “Sederhana”, begitu bunyinya.
Seperti namanya, fontnya demikian sederhana. Namun dibalik kesederhanaan itu kehadiran warung ini selalu menjadi perbincangan kami setiap pulang mengaji.
Mengapa? Aromanya sedap sekali. Bau gulai selalu menguar memenuhi udara sore tatkala yang jualan membuka tutup panci besar berisi penuh gulai di bagian belakang warung.
Belum lagi jika pada saat yang bersamaan penjual juga sedang membakar sate. Wah, paduan bau keduanya membuat cacing cacing di perut serasa menari nari.
“Wenak paling yo..., ” kata teman saya sambil menghirup baunya dalam- dalam.
“Iya lah… larang tapi,” jawab teman yang lain.
Ya, menurut ukuran kami saat itu gulai kambing adalah makanan yang mahal, sehingga jarang-jarang kami bisa menikmatinya kecuali pas Hari Raya Iedul Adha.
Seingat saya ibuk pernah membeli gulai di warung ini satu kali. Harga satu rantang kira kira 2000 rupiah. Mahal menurut kami. Dan dengan harga tersebut gulai hanya cukup dibagi kami bertiga. Bapak dan Ibuk makan dengan lauk lainnya.
Sesudah satu kali makan gulai itu (meski dengan kuah yang sedikit), saya semakin yakin bahwa ini adalah makanan yang paling lezat, juga mahal. Bahkan saking mahalnya saya tidak lagi berangan-angan untuk makan gulai tersebut. Paling juga tidak dibelikan pikir saya.
Tapi siapa sangka pada suatu hari saya tiba-tiba dajak bapak makan di warung “Sederhana” tersebut.
Gulai kambing, Sumber gambar: dapurkobe.co.id
Malam itu saya baru saja mengikuti latihan karate di Museum Brawijaya. Ya, di masa kecil latihan menari, karate, basket saya coba semua. Kata bapak, mumpung masih muda, harus banyak beraktivitas.
Nah, hari Minggu malam adalah jadwal saya untuk latihan di museum Brawijaya. Latihan dimulai pukul tujuh dan diakhiri sekitar pukul setengah sembilan.
Selesai latihan biasanya Bapak sudah menunggu saya di bawah pohon dekat museum Brawijaya bersama sepeda motor Bebek 75 merah yang selalu setia menemaninya.
Sepeda motor kami terus berjalan menembus malam. Jam setengah sembilan suasana Kota Malang sudah terasa sepi. Jalan Ijen terasa agak lengang. Hanya satu dua sepeda motor yang lewat.
Saya duduk di belakang sepeda motor bapak yang berjalan pelan.
” Bagaimana latihannya?” tanya bapak.
“Asik juga. Mungkin habis ulangan umum, jadi yang latihan agak banyak,” jawab saya sambil memegang tas saya erat-erat.
Sepeda motor kami tiba- tiba berhenti di depan warung dengan tutup biru tersebut. “Sederhana”. Aih…
“Kok ke sini?” tanya saya heran.
Bapak tersenyum.
“Makan dulu.. habis olah raga, pasti lapar,”
Bergegas saya turun dari boncengan dan ikut bapak masuk ke dalam warung.
“Sekul gulai kalih, wedang jeruk kalih,” kata bapak pada sang penjual.
Gulai kambing, sumber gambar : Tastynesia
Rasanya seperti bermimpi. Membayangkan membeli gulai saja sudah tak pernah, apalagi makan di warungnya.
Saya duduk di sebelah bapak. Aroma gulai kambing demikian menggoda hingga perut saya mulai berbunyi.
“Krupuk?” tanya bapak sambil mengambil dua bungkus krupuk puli dan meletakkan di depan saya.
Tak lama kemudian pesanan kamipun datang. Dua mangkok nasi gulai lengkap dengan sambal dan jeruk nipis dalam piring kecil dan dua minuman jeruk nipis hangat.
Tanpa dikomando dua kali saya segera makan. Sambil bergurau saya menceritakan asyiknya latihan karate hari itu. Bapak sesekali tertawa. Ya, dalam banyak hal, beliau adalah teman ngobrol yang sangat menyenangkan.
Malam semakin larut. Setelah membayar, bapak mengajak saya untuk segera pulang. Perut saya terasa begitu hangat, apalagi hati saya.
“Kok malam?” tanya Ibuk sesampai di rumah. Saya dan bapak cuma tersenyum penuh rahasia.
Cerita tentang nasi gulai kambing itu baru kami buka keesokan harinya. Seperti yang diperkirakan, mas dan adik saya langsung protes dan ingin diajak makan ke warung “Sederhana”.
Sejak saat itu saya merasa bahwa gulai kambing adalah hidangan terlezat yang pernah ada.
Mengapa ? Bukan hanya karena terasa begitu sedap dan kaya rempah, tapi selalu mengingatkan saya pada bapak dengan segala kenangan dan kasih sayangnya.
Mereka yang bukan saudara kita dalam iman adalah saudara kita dalam kemanusiaan.(Ali bin Abi Thalib)
Pagi itu lapangan volley Bintaraloka sudah begitu penuh. SAS matematika baru saja berlalu.
Bukan hanya siswa, guru dan pegawai sekolah juga membentuk barisan di lapangan. Yap, hari itu dilakukan deklarasi sekaligus penandatanganan komitmen pelaksanaan sekolah Moderasi Beragama.
Apakah Sekolah Moderasi Beragama itu?
Penandatanganan komitmen dan deklarasi moderasi beragama, dokumentasi pribadi
Sekolah Moderasi Beragama adalah sebuah institusi pendidikan yang mengajak siswa fokus pada pembelajaran nilai nilai keagamaan dan menerapkan prinsip moderasi.
Tujuan dari sekolah ini adalah mengajak siswa tidak hanya memahami ajaran agamanya, tapi juga bagaimana siswa bisa saling menghargai, melakukan interaksi dan bekerja sama dengan siswa lain dengan latar belakang agama yang berbeda.
Adapun ciri-ciri sekolah yang menerapkan Moderasi Beragama adalah:
1. Pengajaran Nilai-Nilai Keagamaan.
Pengajaran nilai agama, dokumentasi pribadi
Di sekolah ditanamkan nilai nilai agama termasuk moral dan etika yang diajarkan oleh agama tersebut.
Tidak hanya mengajarkan agama, sekolah juga mengajarkan siswa untuk menghargai keragaman budaya sehingga siswa bisa menghargai perbedaan di sekitar mereka.
3. Melibatkan Komunitas
Retret, kegiatan sekolah yang melibatkan Komunitas keagamaan, dokumentasi pribadi
Dalam pelaksanaan kegiatan di sekolah pada saat tertentu sekolah mengadakan kerjasama dengan komunitas lokal dan organisasi keagamaan sebagai pendukung.
4. Pembinaan Karakter
Halal BI halal antar siswa membentuk karakter toleransi, dokumentasi pribadi
Fokus utama pembentukan karakter siswa di sekolah adalah menanamkan sikap sesuai ajaran agama, toleransi , keadilan dan kasih sayang.
5. Bersifat Inklusif
Sarapan bersama, contoh kegiatan bersama tanpa memandang latar belakang agama, dokumentasi pribadi
Sekolah moderasi beragama berusaha untuk menyediakan pendidikan yang inklusif, artinya semua siswa bisa ikut terlibat dalam semua kegiatan sekolah tanpa memandang latar belakang agama.
Ada sembilan kata kunci dari moderasi beragama yaitu kemanusiaan, kemaslahatan umum, adil berimbang, taat konstitusi, komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan penghormatan pada tradisi.
Menurut Ibu Utien guru PAI SMP Negeri 3 Malang program Sekolah Moderasi Beragama ini mengajak siswa agar bisa melaksanakan toleransi secara wajar, dimana kita menghargai ajaran agama orang lain dengan tetap teguh menjalankan ajaran agama kita. “Toleransi tidak berarti mencampuradukkan ajaran agama,” jelas Bu Utien.
Akhirnya dengan adanya sekolah moderasi beragama ini diharapkan akan terbentuk generasi muda yang tidak hanya berpengetahuan agama yang kuat, tetapi juga mampu berkontribusi positif dalam masyarakat yang kaya akan perbedaan.
Salam Moderasi, dokumentasi Bintaraloka
Perbedaan adalah keniscayaan dan hakekatnya kita semua bersaudara. Seperti nasehat dari Ali bin Abi Thalib : mereka yang bukan saudara kita dalam iman adalah saudara kita dalam kemanusiaan.
Beberapa siswa tampak sibuk di depan sebuah papan tulis besar. Satu orang membuat hiasan dengan menggunakan spidol, berapa yang lain.menempel lembar lembar informasi yang diperoleh dari hasil print atau tulisan anak anak sendiri.
Siswa sedang menghias mading, dokumentasi pribadi
Ya, anak anak tersebut sedang menyiapkan Mading yang dipakai sebagai kelengkapan visitasi dari sebuah lomba.
Tentang Majalah Dinding (Mading)
Mading Bintaraloka, dokumentasi pribadi
Mading atau dulu sering disebut sebagai koran dinding adalah media informasi yang diletakkan di tempat umum yang bertujuan memberikan informasi pada masyarakat sekitar.
Mading kelas, dokumentasi pribadi
Mading bisa kita dapatkan di banyak tempat seperti sekolah, ataupun instansi- instansi. Meski sudah berada di era digital penggunaan mading sebagai pemberi informasi masih sering dipakai karena terasa keefektifannya.
Ada banyak manfaat dari mading , misalnya untuk:
1. Penyebaran Informasi dan pengumuman kegiatan.
Mading tentang stunting, dokumentasi pribadi
2. Memberikan pendidikan dan meningkatkan kesadaran tentang isu isu kesehatan, lingkungan juga sosial.
Mading ekosistem daratan, dokumentasi pribadi
3. Sarana promosi sebuah kegiatan.
Mading untuk reklame, dokumentasi pribadi
4. Sebagai sarana komunikasi massa, terutama bagi yang mengalami kesulitan akses terhadap berbagai media komunikasi.
Kehadiran majalah dinding di sekolah mempunyai berbagai manfaat tambahan, seperti sebagai sarana siswa untuk berkreasi juga menyampaikan berbagai isu yang ada di sekolah.
Mading hak dan kewajiban, dokumentasi pribadi Mading SSK, dokumentasi pribadi
Majalah dinding juga merupakan satu hal yang sering menjadi ‘jujugan’ ketika ada visitasi lomba di sekolah.
Saat ada visitasi, tema majalah dinding yang dibuat disesuaikan dengan tema lomba.
Membuat Mading, mencari informasi , menuangkan kreasi, dokumentasi pribadi
Saat membuat mading adalah saat yang sangat menyenangkan. Selain mencari informasi siswa berpikir membuat kreasi seperti apa yang cocok dengan tema mading yang akan dibuat.
Membuat maduk, dokumentasi pribadi
Dalam perkembangannya majalah dinding tidak hanya berwujud kertas yang ditempelkan tapi bisa berwujud tiga dimensi dan sering disebut sebagai mading tiga dimensi .
Sebenarnya kata majalah dinding sudah tidak pas untuk Mading tiga dimensi ini. Mengapa? Karena informasi tidak lagi ditempel di dinding. Kata yang pas mungkin majalah tiga dimensi.
Mading tentang pentingnya hidup sehat, dokumentasi pribadi
Pada majalah tiga dimensi ini kreativitas siswa sangat ditantang dengan membuat berbagai pernak pernik yang melengkapi informasi sesuai tema yang disajikan
Dalam ukuran yang lebih kecil majalah tiga dimensi ini dinamakan majalah duduk (maduk). Ya, karena bentuknya yang tidak begitu besar, majalah ini bisa “didudukkan” di atas meja.
Maduk karya siswa, dokumentasi pribadi
Akhirnya meskipun teknologi digital telah mengubah cara kita mengakses informasi, kehadiran mading, terutama di sekolah sangat diperlukan.
Mading sebagai media pemberi informasi tidak hanya membuat siswa lebih rajin berliterasi, juga sebagai sarana untuk menggali potensi dan menuangkannya dalam berbagai ekspresi.
Pagi itu suasana di dalam salah satu aula UMM Kampus dua Malang tampak demikian sibuk. Ibu-ibu dengan busana muslim warna warni tampak asyik menata berbagai macam makanan yang ditata di atas meja.
Makanan atau lebih tepatnya kudapan pagi ini ditata demikian cantik. Dalam kemasan yang menarik, mereka juga punya nama yang unik. Sebutlah Abole (abon lele), Ginco (ginger kacang eco), kukis dari tepung bentul, Moccaft Kelor, Cassava Keju, Mam Bawang Goreng dan banyak lagi.
Nama- nama yang menarik membuat pengunjung berhenti sejenak dan dengan penuh rasa ingin tahu mengamati makanan yang tersaji dengan lebih teliti.
Kukis sehat dari tepung bentul, dokumentasi pribadi
Di atas adalah gambaran suasana Lomba Olahan Pangan Lokal dan Gerakan Lumbung Hidup Aisyiyah tingkat Kota Malang yang diadakan pada hari Minggu, 1 Desember 2024.
Gerakan Lumbung Hidup adalah usaha pemanfaatan pekarangan sebagai penghasil bahan pangan keluarga. Misal untuk ditanami berbagai macam sayuran, toga ataupun memelihara binatang ternak budidaya ikan.
Gerakan ini bertujuan agar setiap keluarga bisa mendapatkan akses yang lebih mudah dalam menyajikan makanan yang bergizi, atau bahkan juga untuk tambahan ekonomi.
Lomba Olahan Pangan Lokal dan Gerakan Lumbung Hidup ini diadakan oleh Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pengurus Daerah Aisiyah kota Malang dan diikuti oleh 65 peserta dari PCA Klojen, Sukun, Kedung Kandang, Blimbing , Lowokwaru.
Dalam lomba tersebut proses pengolahan makanan diserahkan dalam bentuk video, sedangkan hasil makanan didisplay di lokasi.
Sehari sebelum lomba dilaksanakan Sekolah Wirausaha Aisyiyah (SWA) dengan para pemateri ketua MEK PDA kota Malang ibu Baroya Milasanti, SE, MM, Ibu Novita Ratna Satiti, PhD, Dra. Ratna Satiti, MM juga tokoh pengusaha kota Malang yaitu Dadik Wahyu Cang.
Dalam acara ini peserta diberi semangat untuk berwirausaha, juga dipaparkan tentang bagaimana cara membuat branding dari sebuah produk.
Para narasumber acara SWA, dokumentasi pribadi
Pagi yang luar biasa. Selain memberikan inspirasi untuk wirausaha, di tengah gempuran berbagai makanan kekinian, para peserta diajak untuk meningkatkan kecintaan kita pada olahan makanan lokal.
Foto bersama, dokumentasi pribadi
Dan yang tak kalah penting, melalui gerakan lumbung hidup para perempuan Aisyiyah diajak untuk memperkuat peranannya dalam menciptakan kesejahteraan dan ketahanan pangan keluarga.