Adit terbangun. Tiba-tiba ia merasa berada di tempat yang begitu asing. Semua tampak besar. Kursi, meja, bahkan tempat tidurnya.
“Bunda? ” panggilnya. Namun tidak ada sedikitpun jawaban.
“Bunda…! ” katanya lagi sambil menoleh ke kiri dan kanan. Tetap sepi. Tiba-tiba sesosok mahluk berbulu kuning bergerak mendekatinya. Adit mengucek-kucek matanya. Mahluk berbulu kuning itu memiliki sepasang sayap, sepasang kaki dan paruh. Di ujung paruhnya ada sedikit titik merah.
“Cika.! ” teriaknya. Tapi mengapa begitu besar? Ukurannya menjadi empat atau lima kali tubuh Adit. Demi mendengar namanya dipanggil Cika melihat Adit dengan matanya yang hitam pekat. Adit tiba-tiba merasa takut, mata itu sama sekali tidak ramah. Tak berapa lama di belakang Cika tiba-tiba muncukl mahluk kuning yang lain. Besarnya sama tapi paruhnya agak kehitaman.
“Ciko..! “teriak Adit. Tapi seperti Cika, Cikopun memandang Adit tak ramah.
Adit tiba-tiba ingat bukankah Cika dan Ciko sudah mati diterkam Bony kucing tetangga? Cika dan Ciko adalah anak-anak ayam yang dibeli oleh Bunda tiga hari yang lalu di pasar. Sebenarnya bunda tidak mau membelikan Adit anak-anak ayam itu karena Adit kurang pandai merawat. Buktinya anak-anak ayam yang terdahulu mati, entah karena tidak diberi makan atau tercebur dalam selokan. Tapi karena Adit menangis, akhirnya oleh bunda Adit dibelikan dua anak ayam yang diberi nama Cika dan Ciko. Bunda selalu berpesan agar Adit menjaga Cika dan Ciko baik-baik. Namun apa yang terjadi?
Saat itu Adit memandikan Cika dan Ciko. Bunda sudah mengingatkan supaya jangan berkali-kali dimandikan. Kasihan. Tapi Adit sama sekali tidak peduli, sesudah dimandikan ,kedua anak ayam itu lalu dijemur di dekat teras. Celakanya ketika ditinggal Adit masuk rumah ,tiba-tiba keduanya diterkam Bony kucing tetangga. Ada darah berceceran di sekitar teras. Bunda sangat menyesal, bahkan menangis, namun tidak demikian halnya dengan Adit. Bukankah anak ayam banyak dijual di pasar? Nanti bisa beli lagi, pikirnya.
Sekarang di depan Adit, Cika dan Ciko dalam ukuran besar memandangnya dengan marah.
“A.. Apa kabar kalian? ” tanya Adit berusaha ramah. Cika dan Ciko tidak menyahut. Di luar dugaan Adit Cika mendekat dan mengangkat Adit dengan paruhnya pada kerah bajunya.
“Heiii… Cika… Apa yang kamu lakukan? ” teriak Adit ketakutan.

Adit dilempar ke halaman, dan langsung diambil oleh Ciko. Tubuhnya diayun-ayunkan ke kiri dan ke kanan.
“Jangan Cikoo… Aku takuut! “teriak Adit ngeri.
Adit dijatuhkan lagi, diangkat lagi, dijatuhkan lagi, diayun-ayun,begitu bergantian oleh Cika dan Ciko. Sekeras apapun Adit berteriak Cika dan Ciko tidak menghiraukannya.
“Cika… Ciko.. Maafkan aku… Hu…. Hu…, ” Adit menangis tersedu-sedu. Berkali kali ia memanggil bunda, tapi bunda tidak datang juga. Tiba tiba Cika mengangkat Adit dan memasukkan Adit dalam sebuah kaleng besar yang penuh berisi air.
“Blep.. Blep… Ampuun…! ” Adit yang tidak pandai berenang terengah-engah.
Ciko segera mengangkat Adit lalu meletakkannya di pagar rumah. Bajunya dikaitkan dipagar sehingga Adit tak bisa bergerak. Sambil menata nafasnya Adit dimenyusutkan air yang membasahi tubuhnya.

Panas matahari membuat tubuh Adit terasa sedikit hangat. Hei, kemana dua mahluk tadi? Adit melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Namun keduanya lenyap begitu saja. Ah, syukurlah mereka sudah pergi, pikirnya lega.
Tiba-tiba Adit merasa pagar bergoyang goyang.
“Ngeeeeooong…., “
Ternyata di bawah pagar telah berdiri Bony yang menatapnya dengan mata kelaparan. Ya Tuhan… Adit langsung lemas dibuatnya. Seperti Cika dan Ciko, Bony juga menjadi begitu besar. Bulunya yang hitam, tebal dan cakarnya yang panjang tampak sangat menakutkan.
“Bunda…… Tolooong…, ” Adit menangis lagi.
“Bunda.. , aku mau diterkam Bony, tolooong! ” Adit terus berteriak-teriak dan meronta-ronta.
Bony semakin mendekat. Mulutnya dibuka sehingga taringnya tampak begitu jelas. Teriakan Adit semakin keras. Lalu dia merasakan dunianya semakin gelap dan gelap.
“Bundaaaa….! “
Dan akhirnya…gedebug!! Adit membuka matanya. Bunda sudah ada di sebelahnya dan segera menggendongnya.
“Adit mimpi ya? Pasti lupa berdoa sebelum tidur, ” kata Bunda lembut.
“Maafkan Adit, Bunda,”kata Adit. Dipeluknya bunda erat-erat. Untung semua cuma mimpi. Dalam hati Adit berjanji akan selalu patuh pada bunda , menyayangi anak-anak ayam yang tadi pagi dibelikan di pasar sebagai pengganti Cika dan Ciko, dan tidak akan membeli anak ayam warna-warni lagi.