MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) selalu istimewa di Bintaraloka. Masa di mana siswa banyak belajar tentang kebiasaan dan lingkungan sekolah ini disambut dengan antusias utamanya oleh siswa kelas tujuh.
MPLS tahun ini diadakan pada tanggal 15-17 Juli 2014.
Bapak PJ Walikota Malang berfoto bersama Kadinas, Ibu Kepala sekolah, wakasis, pelatih dan duta FLS2N SMP Negeri 3 Malang, dokumentasi Bintaraloka
Seperti biasa masa pengenalan siswa baru ini diisi dengan berbagai macam kegiatan baik di kelas ,lapangan, tempat ibadah maupun di aula.
Dalam kegiatan ini siswa kelas tujuh mendapatkan materi tentang kebiasaan di SMP Negeri 3 Malang, tata tertib, kurikulum, melakukan ibadah bersama, dan tak ketinggalan mereka menonton demo ekstrakurikuler dari kakak kelas delapan dan sembilan.
Satu hal yang membuat MPLS kali ini terasa istimewa adalah karena kehadiran Bapak PJ Walikota juga Bapak Kadinas di dalamnya.
Bapak PJ dan Pak Kadinas hadir dalam rangka penyerahan sumbangan baju seragam untuk siswa afirmasi SMP se kota Malang.
Pembukaan MPLS, dokumentasi Bintaraloka
Pembukaan MPLS dilakukan dengan apel pagi yang dipimpin oleh Ibu Dra Mutmainah Amini, M.Pd kepala SMP Negeri 3 Malang.
Setelah pembukaan acara dilanjutkan dengan penyerahan seragam secara simbolis oleh Pak PJ Walikota Malang. Acara berlangsung meriah, karena dalam acara tersebut ditampilkan ansamble dan vokal solo dari para duta FLS2N SMP Negeri 3 Malang.
Bapak Kadinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang di antara para siswa baru, dokumentasi Bintaraloka
Setelah apel, siswa segera berkegiatan sesuai dengan jadwal untuk tiap angkatan.
Maureen, salah satu duta FLS2N, dokumentasi pribadi
Untuk kelas tujuh kegiatan dilanjutkan dengan materi MPLS, kelas delapan Aktualisasi Pramuka dan kelas sembilan penguatan pendidikan karakter.
Kegiatan aktualisasi Pramuka dilaksanakan di lapangan volley dengan pemateri dari Dewan Galang dan pelatih Pramuka.
Peserta Aktualisasi Pramuka, dokumentasi pribadi
Melalui kegiatan ini siswa belajar banyak hal, tentang penanaman karakter baik juga berbagai teknik kepramukaan.
Semaphore, dokumentasi pribadi
Dalam kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter, siswa kelas sembilan tidak hanya diajak berlatih PBB di lapangan Rampal, tapi mereka juga mendapatkan banyak materi, seperti tentang kesehatan organ reproduksi, materi dari BNN dan Kepolisian.
Hal positif yang bisa dicatat adalah siswa mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias. Mereka mengikuti jalannya pemberian materi dengan tertib, dan di akhir acara banyak pertanyaan yang timbul dari siswa.
Sosialisasi dari kepolisian, dokumentasi Chiara
Bagi siswa yang aktif bertanya atau menyampaikan pendapat, mereka akan mendapat hadiah dari panitia ataupun pemateri.
Mendapat hadiah dari event sosialisasi dari kepolisian, dokumentasi ChiaraMendapat hadiah dari event BNN, dokumentasi Chiara
MPLS, Aktualisasi Pramuka dan Penguatan Pendidikan Karakter ditutup pada hari Rabu 17 Juli 2024 sekitar pukul 12 siang. Jika pada pembukaan yang menjadi petugas apel adalah anggota Paskibra, maka pada penutupan petugas apel adalah dari Pramuka.
Penutupan MPLS, dokumentasi Chiara
Tiga hari yang begitu sibuk, namun sarat dengan pembelajaran. Melalui MPLS, Aktualisasi Pramuka dan Penguatan Pendidikan Karakter, SMP Negeri 3 berusaha mewujudkan generasi yang tidak hanya handal dalam pengetahuan dan ketrampilan, namun juga mempunyai karakter yang dapat dibanggakan.
“Kutunggu depan perpustakaan umum ya…,” Sebuah pesan masuk WhatsApp saya pagi itu. Dari seorang teman SD. Aha, pagi ini kami memang berjanji untuk jalan-jalan di Car Free Day Jl. Ijen Malang.
Sepeda motor saya langsung melaju menembus dinginnya Kota Malang. Di sepanjang jalan Kawi juga jalan Gelanggang sudah banyak orang berolahraga ringan.
Banyak pejalan kaki di CFD, dokumentasi pribadi
Suasana Jl. Ijen begitu ramai. Ada yang berjalan sendiri, tapi lebih banyak yang jalan bareng teman atau keluarga. Selain berjalan, banyak pula yang bersepeda, senam, berkumpul bersama komunitas ataupun sekedar duduk-duduk di tepi jalan.
Sesuai namanya yaitu Car Free day, tidak ada satupun kendaraan bermotor yang melintas. Kalaupun ada kendaraan, itu adalah sepeda pancal atau sepeda listrik. Tapi tidak begitu banyak.
Di area parkir, dokumentasi pribadi
Karenanya hawa terasa begitu segar. Lain sekali dengan suasana Jl Ijen di hari biasa yang selalu dipadati kendaraan yang lalu lalang.
Saya terus berjalan menuju tempat senam, tepatnya di depan perpustakaan umum. Pengunjung sudah begitu banyak. Ada panggung kecil yang didirikan tepat di pertigaan Jl Ijen dan Semeru untuk tempat para pemandu.
Senam dengan iringan lagu campur sari, dokumentasi pribadi
Tak berapa lama iringan musikpun berkumandang. Lagunya? Campur sari!
Ada lagu Didi Kempot, Niken Salindri, Via Vallen dan banyak lagi.
Kami bergerak mengikuti para pemandu. Gerakan senam semi bergoyang.. he..he.. gayeng sekali.
Ketika irama campur sari berganti dengan lagu lain yang lebih menghentak, satu persatu di antara kami mulai keteteran.
“Jalan-jalan saja yuk.., ” ajak saya pada teman teman.
“Iya, jalan-jalan saja,” kata yang lain. Semua sudah ngos-ngosan mengikuti senam aerobik yang baru saja dimulai.
Penjual balon, dokumentasi pribadi
Kamipun berjalan-jalan sambil ngobrol sepanjang Jalan Ijen dan sekitar Dempo.
CFD benar- benar bagai magnet bagi warga Malang. Di sepanjang jalan yang kami lalui tampak berbagai macam aktivitas. Ada yang berjualan makanan, mainan, promosi event tertentu, bertemu teman lama dan banyak lagi.
Dinosaurus, tempat yang diserbu anak anak, dokumentasi pribadi
CFD juga merupakan sarana hiburan yang murah bagi anak-anak kecil. Ada tempat menyewa kendaraan scooter, naik dokar, belajar menggambar, memancing ikan dan berbagai permainan yang lain.
Setelah berjalan-jalan, kami memasuki area museum Brawijaya yang setiap hari Minggu digunakan para pedagang untuk berjualan. Di sepanjang jalan masuk museum banyak pedagang makanan, asesoris, baju atau barang yang lain.
Duduk-duduk di CFD, dokumentasi pribadi
Khasnya emak-emak jalan-jalan kurang lengkap rasanya tanpa belanja. Dari melihat-lihat akhirnya ada beberapa barang yang kami beli.
Membeli bumbu rentengan, dokumentasi pribadi
Ya, pagi hari di CFD bukan sekedar jalan-jalan ataupun bertemu teman. Buktinya pagi itu kami mendapatkan bros, aneka bumbu rentengan berupa kemiri, merica, bawang, makaroni, ebi, bahkan kami juga membeli penambal panci. He..he… Lengkap pokoknya.
Mbak Sur menuju rumah dengan wajah ceria. Kupon berwarna hijau muda dikipas- kipaskannya. Sesekali senandung kecil mengiringi langkah kakinya.
Berkali- kali dipandanginya kertas seukuran kartu pos itu.
Matanya berbinar-binar membaca tulisan di bagian belakangnya. Betapa tidak? Hidup lagi sulit-sulitnya tiba-tiba ada pembagian kupon untuk paket sembako gratis.
Tidak main-main. Isi per paket adalah beras lima kilo, gula satu kilo dan minyak dua liter. Gratis. Sekali lagi gratis. Siapa yang tidak kepingin?
Kalau ditotal harga satu paket tersebut kira kira 125.000. Wow, betapa baik hati orang yang membagi- bagi paket ini.
Sembako, sumber gambar: merdeka.com
“Eits.., jangan ndlereng..,” kata Mbak Ipah yang hampir bertabrakan di gang. Keduanya kebetulan berpapasan.
“Aduh, sepurane.., ” kata Mbak Sur malu.
“Dari Pak Rahmat juga?” tanya Mbak Sur demi melihat Mbak Ipah membawa kupon yang sama
Mbak Ipah tersenyum lebar.
“Ya iyalah…,” katanya ringan.
“Alhamdulillah, dapat gratisan.. pas garapan bapaknya sepi,” lanjut Mbak Ipah.
Mas Parno, suami Mbak Ipah adalah tukang talang. Di musim kemarau seperti ini garapan talang sepi. Tentu saja, tidak ada hujan berarti tidak ada masalah talang bocor dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.
“Sama…, pesenan jajanku ya sedang sepi .., mungkin karena tahun ajaran baru, orang butuh seragam, tidak butuh jajan,” timpal Mbak Sur. Keduanya tertawa.
“Eh, ngomong-ngomong sumbangan ini dari mana ya?” tanya Mbak Ipah.
Mbak Sur memandang teman bicaranya dengan heran. “Lha tadi kan diterangkan Mbak Wati?” Jawabnya.
“Iya, pas diterangkan tadi Cenik menangis, terpaksa kutinggal keluar sebentar, beli jajan buat Si Cenik,” jawab Mbak Ipah. Cenik adalah anak Mbak Ipah yang paling kecil. Balita berumur satu tahun itu selalu ikut ke mana saja ibunya pergi.
“Oalah, ceritanya Pak Bejo kan mau nyalon lagi,” jawab Mbak Sur lagi.
“Pak Bejo lurah kita? Mau nyalon lagi?”
“Iya.., istilahnya sekarang beliau petahana begitu,” jawab Mbak Sur meyakinkan.
“Ooh, lha ini untuk apa?” tanya Mbak Ipah sambil menunjukkan kuponnya. Polos.
“Halah…., ya biasa lah..,” kata Mbak Sur sambil tersenyum kecil.
“Kaum ‘Golek lemah‘ seperti kita kan selalu diingat pas ada pergantian lurah,”
“Golek lemah?” tanya Mbak Ipah tidak mengerti.
Setengah tertawa Mbak Sur menjawab, “Golongan Ekonomi lemah,”
Mbak Ipah ikut tertawa.
“Alhamdulillah.., rapopo.., rezeki jangan ditolak..,” kata Mbak Ipah yang disambung derai tawa keduanya.
***
Pagi yang cerah. Sebuah tenda terpal didirikan di depan rumah Pak Bejo. Beberapa kursi sofa diletakkan di depan sementara di belakang deretan kursi plastik sudah berjajar rapi.
Hidangan pala pendem diletakkan dalam piring-piring dan tak ketinggalan minuman dalam kemasan tertata rapi di dekatnya.
Pak Rahmat ketua RT 20 sekaligus orang kepercayaan Pak Bejo sibuk mondar-mandir memberikan briefing ke sana- sini.
Alunan musik campur sari membuat suasana semakin gayeng. Satu demi satu tamu-tamu mulai hadir. Tamu hari itu adalah seluruh warga desa ‘Makmur Selalu’.
Semakin siang tamu yang datang semakin banyak. Pak Bejo duduk di depan ditemani istri tercinta.
Bu Bejo yang demikian gandes luwes melemparkan senyum pada para hadirin. Dasar orangnya ayu, batik hijau yang dikenakan sarimbit dengan sang suami membuat penampilannya makin ayu.
Beberapa warga terutama kaum wanita menatap Bu Bejo dengan kagum bahkan sedikit iri. Duh..
“Monggo, ayo duduk,” kata Bu Bejo ketika Mbak Sur dan Mbak Ipah datang. Mereka segera duduk di tempat yang ditentukan. Di sana sudah ada sekitar lima belas orang warga yang rupanya mendapat tempat khusus.
“Lho..,, Pak No,” kata Mbak Sur sambil duduk di sebelah Pak No. Jika ada pemberian sumbangan, Mbak Sur, Pak No dan Mbak Ipah selalu masuk dalam daftar penerima nya. Mereka warga RT 20.
“Inggih, Mbak Sur.., ambil rezeki,” kata Pak No sambil tertawa
Pandangan mata tamu langsung terfokus pada pembawa acara yang mulai membacakan susunan acara hari itu.
Singkat kata hari itu adalah syukuran ulang tahun Pak Bejo, sekaligus beliau meminta doa restu pada yang hadir karena akan mencalonkan diri lagi saat pemilihan lurah sebentar lagi.
Hadirin bertepuk tangan. Apalagi saat Pak Bejo membawakan pidatonya dengan santun dan teduh. Intinya marilah memilih pemimpin yang berpengalaman sekaligus peka pada kebutuhan warga.
“Hidup Pak Bejo..!” teriak yang hadir. Ya, untuk apa memilih orang yang tidak peka pada kebutuhan warganya? Harusnya tiap pemimpin mempunyai kepekaan dan empati bukan?
Hadirin semakin semangat sekaligus terharu tatkala Pak Bejo mengatakan bahwa pemberian sumbangan sembako pada warga yang kurang mampu adalah wujud empati dan kasih sayang seorang pemimpin pada warga yang dipimpinnya.
“Dan kasih sayang lah yang membuat hidup kita lestari dan penuh harmoni,” kata Pak Bejo di akhir pidatonya.
Suasana haru makin menyergap.
“Hidup Pak Bejo!”
Suara Pak Rakhmat langsung diikuti yang lain.
“Hidup Pak Bejo!”
Tak mau kalah, dengan menjinjing tas berisi paket sembako di tangan kiri, tangan kanan Mbak Sur mengepal ke atas.
“Supaya tetap ‘bejo’, kita harus pilih Pak Bejo!” teriaknya.
Sejenak hadirin terpesona dengan pilihan kata Mbak Sur. Dan tak lama kemudian mereka membalas dengan teriakan, “Pilih Pak Bejo!”
Suasana semakin hangat. Musik mengalun tiada henti. Berbagai jenis hidangan disediakan. Soto, rawon, pecel juga rujak. Dua hidangan yang terakhir untuk mereka yang mulai ada masalah dengan kolesterol.
“Ayo tambah, ” kata Pak Rahmat ramah.
Pak Min segera menuju ke stand pecel. Ini piring kedua setelah tadi ia menikmati rawon.
Pak Rahmat lari ke belakang sebentar karena tadi dijawil oleh Bu Bejo.
“Inggih Bu?” kata Pak Rakhmat sesampai mereka di dekat dapur.
“Semua sudah beres to? Pesan bapak apa tadi?”
“Oh, sampun… Beres, semua sudah dibayar, termasuk tenda, catering juga timses,” kata Pak Rahmat senang.
Bu Bejo tersenyum lega.
“Kekurangannya?”
“Pokoknya beres Bu, pakai jimpitan warga dulu, dana ‘lain-lain’ juga dipakai..,” bisiknya.
Bu Bejo tersenyum senang. Musik terus mengalun , makanan terus dihidangkan , semua gayeng, semua seneng.
Sesekali kembali terdengar teriakan,”Hidup Pak Bejo!”
*********
Tulisan ini diikutkan dalam sayembara cerpen Pulpen Kompasiana xvi
Tentang penulis: Yuli Anita, guru matematika yang sedang belajar menulis cerpen.
Kami Pramuka Indonesia Manusia Pancasila Satyaku ku darmakan Darmaku kubaktikan.. (Hymne Pramuka)
Pagi terasa begitu segar. Lapangan volley sejak tadi sudah dipenuhi siswa yang berkegiatan. Dengan seragam Pramuka, hasduk dan topi mereka begitu bersemangat mengikuti komando dari ketua regu. Setiap siswa tampak membawa dua bendera kecil berwarna merah dan kuning.
Semaphore, dokumentasi pribadi
Bendera digerak-gerakkan sesuai dengan bunyi pesan yang hendak disampaikan. Suasana demikian menyenangkan. Ramai, namun semua tetap serius memperhatikan arahan ketua regu dengan gerakan benderanya.
Latihan semaphore, dokumentasi pribadi
Ya, pagi itu para siswa sedang melakukan kegiatan semaphore, sebuah acara dari kegiatan Aktualisasi Pramuka.
Apakah Aktualisasi Pramuka itu?
Pengarahan sebelum kegiatan dilakukan, dokumentasi pribadi
Dari situs Kemdikbud diperoleh keterangan bahwa sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang wajib ada di sekolah, Pramuka bisa dilakukan dalam tiga bentuk, yaitu kegiatan Pramuka Reguler, Aktualisasi Pramuka dan Pramuka Blok.
Pelatih dan dewan galang, dokumentasi pribadi
Pramuka reguler adalah kegiatan Pramuka yang bersifat sukarela dan diadakan di gugus depan.
Pramuka blok adalah kegiatan Pramuka yang dilaksanakan setahun sekali dalam bentuk perkemahan dan dilakukan penilaian umum.
Sedangkan aktualisasi Pramuka adalah kegiatan wajib dalam bentuk penerapan sikap dan keterampilan yang dipelajari didalam kelas yang dilaksanakan dalam kegiatan Kepramukaan secara rutin, terjadwal, dan diberikan penilaian formal.
Bongkar Pasang tenda salah satu aktivitas aktualisasi Pramuka, dokumentasi pribadi
Kegiatan aktualisasi Pramuka yang dilaksanakan sekolah dalam tiga hari ini dilaksanakan oleh kelas delapan sementara kelas tujuh melaksanakan MPLS dan kelas sembilan mendapatkan materi penguatan pendidikan karakter.
Jelang apel pembukaan, dokumentasi pribadi
Pembukaan Aktualisasi Pramuka dilakukan oleh Ibu Kepala Sekolah pada hari Senin (15/7) pagi. Sesudah pembukaan siswa melaksanakan berbagai kegiatan, dalam wujud pemberian materi dan mengerjakan tugas tertentu untuk kemudian dilakukan penilaian.
PBB, dokumentasi pribadi
Materi juga kegiatan yang dilakukan siswa meliputi PBB tongkat, bongkar pasang tenda dome, Morse dan semaphore. Adapun pemberi materi adalah dari dewan Galang juga pelatih Pramuka.
Siswa tampak begitu bersemangat. Setiap kegiatan dilakukan dengan antusias mulai dari hari pertama hingga hari ketiga.
Salam Pramuka, dokumentasi pribadi
Seperti yang diungkapkan Kak Evi, diharapkan lewat kegiatan ini siswa bisa menjadi lebih mandiri, mampu bekerja sama dan bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Matahari bersinar lembut. Hawa pagi terasa begitu dingin. Beberapa hari ini cuasa begitu dingin di Malang.
Kata orang jika di daerah-daerah ada dua musim yaitu musim hujan dan kemarau, maka di Malang ada tiga musim yaitu kemarau, hujan dan bediding.
Ya, satu hal istimewa menjadi pelajar di kota Malang adalah tahun ajaran baru selalu ditandai dengan adanya bediding.
Meski begitu, dinginnya hawa tidak mengurangi semangat orang-orang yang berkegiatan di area Rampal. Banyak orang berolah raga ataupun melakukan kegiatan yang lain. Seperti halnya siswa kelas sembilan yang akan melakukan kegiatan PBB pagi ini.
Mengikuti pengarahan dari Bapak TNI, dokumentasi pribadi Meiy
Selama siswa kelas tujuh melakukan MPLS, kelas delapan dan sembilan melakukan kegiatan Pramuka aktualisasi dan penguatan pendidikan karakter.
PBB adalah salah satu dari rangkaian kegiatan Pembinaan Karakter bagi siswa kelas sembilan. Kegiatan yang dilaksanakan mulai pukul 07.00 hingga 11.30 wib ini diikuti seluruh siswa dengan pelatih dari TNI Dodik (Depo Pendidikan) Belanegara.
Setelah melakukan presensi dan mendapat sedikit pengarahan dari guru pendamping, kegiatan PBB dimulai. Seluruh siswa yang berjumlah kira-kira 280 orang dibagi dalam lima regu yaitu A,B, C, D dan E. Setiap regu dilatih oleh satu orang TNI.
Presensi, dokumentasi pribadi
Berbagai aba-aba dan petunjuk yang diberikan oleh Bapak bapak TNI membuat siswa begitu bersemangat. Rasa dingin yang menyergap sejak tadi langsung hilang begitu saja.
Pembagian regu, dokumentasi pribadi
Sebagai salah satu kegiatan yang di adakah sekolah di masa MPLS, PBB mempunyai banyak manfaat. Di antara berbagai manfaat kegiatan ini adalah:
Siap mengikuti kegiatan PBB, dokumentasi pribadi
1. Menumbuhkan rasa disiplin. Dengan baris-berbaris siswa bisa belajar disiplin karena harus mendengarkan dan menjalankan aba-aba yang diberikan.
2. Menumbuhkan rasa kebersamaan, solidaritas dan setia kawan. Pelatihan baris berbaris bisa menumbuhkan rasa kebersamaan di antara peserta karena mereka harus bekerja dan bergerak bersama dalam satu komando.
Para guru pendamping , dokumentasi pribadi
3.Meningkatkan daya konsentrasi. Baris berbaris membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi, mulai dari mendengarkan setiap instruksi yang diberikan hingga bergerak sesuai dengan aba-aba.
Ikut terlibat dengan kegiatan ini adalah para petugas dari OSIS yang stand by bersama para guru pendamping.
Bersama petugas dari OSIS , dokumentasi pribadi
Akhirnya semoga siswa kelas sembilan bisa mengikuti kegiatan PBB ini dengan sungguh-sungguh sehingga berbagai manfaat baik bisa mereka peroleh, utamanya untuk membina diri menjadi siswa yang disiplin dan berkarakter baik.