Siang yang terik. Matahari bumi Yogyakarta demikian cerah. Jam menunjukkan pukul setengah duabelas siang ketika kami turun dari bus. Ya, hari itu (Jumat 04/09) kami mulai menjelajah Jogjakarta.
Perjalanan ke Jogjakarta kali ini kami lakukan selama dua hari. Di hari pertama ada dua tempat yang kami kunjungi yaitu Malioboro dan Obelix Sea View.
Di depan pusat oleh -oleh Krisna kami berhenti.
“Nanti kita masuk ke Krisna dan tembus ke arah Malioboro,” kata Mbak Nia guide kami.

Bersama sama kami masuk area Krisna oleh-oleh. Baju-baju, kerajinan tangan dan makanan khas Jogja membuat kami lapar mata. Ingin beli dan beli. Dasar emak-emak. Setelah berkeliling, saya mendapatkan satu daster batik hitam dan mukenah batik yang adem dan enak dipakai.
Keluar dari Krisna kami terus berjalan ke arah Malioboro. Suasana tidak begitu ramai. Mungkin karena jam sholat Jumat sehingga toko- toko tidak terlalu banyak pengunjungnya.
Jalanan Malioboro masih seperti dulu ketika saya sering ke sini untuk menengok anak saya. Kursi-kursi di trotoar juga dokar yang lalu- lalang menciptakan suasana yang sangat khas.

“Becak Bu? Monggo, keliling-keliling cuma sepuluh ribu,” tawar seorang pengendara becak.
“Mboten Pak, mlampah mawon,” jawab kami. Benar, kami sudah berniat untuk jalan kaki karena terlalu banyak duduk dalam bus.
“Foto Bu? Monggo foto..,” tawar seorang tukang foto. Rupanya di Malioboro sekarang banyak tukang foto yang menawarkan jasa pada para wisatawan.
“Satu foto lima ribu,” tambahnya lagi.
Kami berhenti sejenak.
“Nanti file foto langsung dikirim?” tanya kami.
“Inggih, Bu, langsung dikirim,”
Tanpa banyak kata kami pun berpose di bawah tulisan Jalan Malioboro, tempat ikonik untuk foto saat berkunjung ke Jogjakarta.
“Lihat samping.., tunjuk kamera, senyum.., berpelukan..,” kata Mas tukang foto ramah. Herannya kami manut saja sambil tertawa bersama, dan jadinya foto-foto seperti di bawah ini. Aha….

Puas berkeliling Malioboro perjalanan pun dilanjutkan. Kali ini kami menuju Obelix Sea View yang berlokasi di kawasan Pantai Ngobaran, Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari
Obelix Sea View terkenal dengan pemandangan lautnya yang memukau. Wisatawan yang datang bisa menikmati pemandangan alam yang masih asri dan menenangkan.
Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati sunset yang spektakuler atau sekadar berjalan di sepanjang pantai yang damai.

Keindahan alam yang ditawarkan menjadikan Obelix Sea View sebagai destinasi wisata yang ideal untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.
Saat kami datang jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Berarti tiga puluh menit lagi pertunjukan musik akan dimulai.
Setelah memesan minuman dingin kami berfoto- foto, menikmati panorama yang luar biasa indah.
Jelang jam empat sore kami memasuki amphiteater. Tampak persiapan para pemusik yang menandakan pertunjukan akan segera dimulai. Cuaca begitu panas. Meski demikian semangat pengunjung untuk melihat konser musik dan sendratari demikian besar. Mayoritas orang- orang mengenakan topi, kacamata hitam bahkan ada juga yang berpayung untuk mengurangi paparan sinar matahari.
Sekitar pukul empat lebih musik mulai dimainkan. Beberapa pemain musik dan satu penyanyi cantik. Lagu “Lela Ledung” yang pernah dipopulerkan oleh Waldjinah mengalun indah menghiasi ruang dengar kami sore itu. Luar biasa.
Lepas lagu “Lela Ledung” lagu lain menyusul. Kali ini penyanyi berikutnya muncul dan menyanyikan sebuah lagu dari KLA Project, “Yogyakarta”. Sungguh, ikut menyanyikan lagu “Yogyakarta” di kota Yogyakarta sambil melihat keindahan pantai Parangtritis dari kejauhan terasa begitu syahdu rasanya.
Saya langsung mengambil video konser lagu tersebut dan saya kirim ke anak saya.

“Le, ibuk lihat konser Lagu Yogyakarta,” kata saya melalui chat WhatsApp. Tak terasa sudah tujuh tahun yang lalu kami ke Yogyakarta ketika anak saya wisuda di UGM. Lagu Yogyakarta selalu mengingatkan saya pada anak saya dan perjuangannya dalam menyelesaikan studinya di sana.
“Terharu ya..,” jawab anak dalam chat balasannya.
Selesai konser musik, acara sendrataripun dimulai. Malam itu sendratari mengambil judul Janji Nyai Roro Kidul. Terasa mistis judulnya.
Ketika gamelan mulai menyapa para penonton benar benar dibuat terpukau oleh aksi tari yang membawakan cerita tentang berdirinya Kerajaan Mataram.

Dikisahkan bahwa sebelum mendirikan Mataram, Danang Sutawijaya melakukan tapa brata yang sangat khusyuk di antara dua batu karang di Pantai Parangkusumo, Yogyakarta.
Kekuatan semedi Sutawijaya memancarkan hawa panas luar biasa yang menggetarkan dasar samudra dan mengganggu ketenangan penguasa Laut Selatan. Melihat hal tersebut Kanjeng Ratu Kidul datang ke permukaan untuk melihat sumber gangguan tersebut dan menemukan seorang pemuda sakti yang tengah bermeditasi.
Ratu Kidul bertanya mengenai tujuan semedi tersebut, dan Sutawijaya menyatakan keinginannya untuk mendirikan serta membesarkan Kerajaan Mataram. Berkaitan dengan hal tersebut Ratu Kidul setuju memberikan bantuan gaib serta dukungan perlindungan bagi Sutawijaya dan seluruh keturunannya dalam memerintah Mataram.

Memukau. Barangkali kata itu yang paling tepat untuk melukiskan pertunjukan sendratari sore itu. Para penari, penabuh gamelan demikian luar biasa aksinya. Para penonton dihibur dengan gerakan tari yang gemulai, manis, dinamis bahkan kadang kocak. Applaus penonton berkali-kali terdengar melihat berbagai aksi tersebut.
Malam semakin gelap. Matahari semakin tenggelam. Keindahan pertunjukan sendratari dilengkapi oleh Samudra Hindia yang menyajikan sunset yang cantik luar biasa.
Irama gending masih berkumandang dan penari bergerak selaras irama. Semburat kuning mewarnai langit barat. Sungguh, perpaduan keindahan budaya dan panorama alam saat itu membuat senja di Yogjakarta demikian memukau.
- Jelajah Yogyakarta, dari Malioboro hingga Obelix Sea View - September 10, 2026
- Soal Penerapan Pola dan Barisan Bilangan - September 9, 2026
- Penerapan Materi Bilangan Berpangkat - September 8, 2026
Mantaaap…. Keseruan yang akan menjadi Kenangan indah … Boleh diulang ya bu.