Bukan hanya sedap, selalu ada kehangatan yang terasa setiap memasuki kedai Mie Jogja Pak Karso
“Ketemu di Mie Jogja?”
“Oke.., tempat biasanya?”
“Sip.., jam setengah empat ya..,”
Di atas adalah chat saya dengan seorang teman. Ya, sudah agak lama kami tidak berjumpa. Semenjak saya mutasi ke sekolah tempat saya mengajar sampai saat ini kami jarang bertemu. Kami bisa bertemu hanya sesekali saja, ketika benar-benar tidak ada kesibukan dan Mie Jogja selalu menjadi pilihan lokasi untuk bertemu.
Sore yang begitu bersahabat, cuaca sangat cerah. Dari sekolah saya langsung bersepeda menuju Mie Jogja yang berlokasi di Jalan Tengger.
Hanya butuh waktu 10 menit sebenarnya, tapi karena jam tiga sampai jam empat sore adalah jam pulang sekolah juga kerja, suasana lalu lintas begitu ramai, hingga akhirnya saya baru sampai di Mie Jogja hampir pukul setengah empat. Di sana teman saya sudah menunggu di meja yang selalu menjadi favorit kami. Meja pojok dekat pintu masuk.
“Mie goreng dan teh hangat?” tanya teman saya. Dia benar-benar hafal dengan kesukaan saya. Saya mengangguk senang.
“Pasti mie goreng dengan es buah kan?” balas saya yang disambut dengan tawa kami berdua. Ya, sering ke kedai ini berdua membuat kami hafal dengan selera kami masing-masing.

Suasana kedai lumayan ramai. Ya, di sini banyak pengunjung sekitar saat makan siang dan sore hari. Banyak yang sebelum pulang menyempatkan diri untuk mampir di Mie Jogja Pak Karso.
Mie Jogja Pak Karso adalah warung kuliner legendaris yang menyajikan menu bakmi Jawa khas Yogyakarta. Menurut informasi kedai Mie Jogja ini ada di Malang, Yogyakarta, Purwokerto (Banyumas), dan Balikpapan.
Yang khas dari hidangan di sini adalah mienya gendut, banyak suwiran daging ayam atau sapi, juga taburan seledri dan brambang goreng yang begitu menggoda.
Perpaduan bumbu dengan manis dan gurihnya kecap menciptakan hidangan yang benar-benar menggugah selera.
Oh ya, selain mie goreng, kedai ini juga menyediakan mie godhog, bihun, kwetiau, hingga nasi goreng mawut.
Tak berapa lama pesanan kami pun datang. Dua piring mie goreng satu teh hangat dan satu es buah. Porsi mienya mantap sekali. Buanyak.
Setelah pramusaji meletakkan satu mangkuk acar sebagai pelengkap hidangan, kamipun mulai menikmati hidangan sore itu
“Tehnya selalu enak,” kata saya sambil menyeruput tehnya perlahan. Ada aroma melati, agak sepat tapi juga manis
“Dari dulu selalu teh anget,” kata teman saya sambil tersenyum. Ia sendiri mengaduk es buah pesanannya.
“Ini namanya nasgitel…panas, legi, kenthel,” jawab saya sambil kembali menyeruput teh di tangan saya. Rasa hangat dan segar langsung terasa.
Tanpa menunggu lama kami langsung menikmati mie goreng dan obrolan demi obrolanpun mengalir hangat. Tentang sekolah, siswa juga anak.. Nah, ini yang paling seru karena anak- anak kami sepantaran dan beberapa menempuh sekolah dan jurusan yang sama.
Posisi duduk di dekat pintu membuat kami leluasa melihat orang orang yang berjalan keluar masuk kedai. Lokasi dapur yang berada dekat pintu masuk menampakkan kesibukan para koki yang sedang memasak.

Selain silaturahmi bersama teman, makan di Mie Jogja adalah hal yang sangat menyenangkan bagi keluarga saya. Ya, kami biasa merayakan sesuatu yang istimewa di sini. Entah ketika anak pulang dari luar kota, merayakan selesainya ujian skripsi, ataupun ketika ada yang ulang tahun.
Tempat ini selalu menjadi jujugan pertama ketika kami ingin makan bersama untuk merayakan sesuatu. Di samping karena tidak jauh dari rumah, suasananya terasa hangat dan bersahabat. Kami bisa berlama-lama ngobrol sambil menikmati hidangan yang dipesan.
Belum lagi ketika tiba-tiba ada musisi jalanan yang membawakan lagu-lagu lawas punya Ebiet, Iwan Fals atau Dewa 19. Wah, nyaman sekali.
Yang membedakan kedai Mie Jogja Pak Karso dengan kedai yang selama ini saya kunjungi adalah ada banyak tulisan nasehat bijak di dinding. Ada nasehat tentang jangan makan berlebihan, adab makan, juga untuk menghargai makanan. Nasehat yang sederhana namun sangat bermakna.
Hari semakin sore. Mie di piring sudah habis, demikian juga teh hangat dan es buah. Rasanya masih ada banyak cerita, tapi waktu juga yang membuat pertemuan sore itu harus kami akhiri.
Akhirnya Mie Jogja Pak Karso bukan hanya kedai dengan segala kelezatan hidangan yang ditawarkan. Tapi ini adalah tempat kami berbagai cerita dan bahagia.
Di balik sepiring mie gendut dan segelas teh manis, Mie Jogja Pak Karso mengajarkan kami bahwa kebahagiaan seringkali hadir dalam hal-hal kecil: obrolan ringan bersama sahabat, tawa keluarga juga nasehat-nasehat bijak yang terpampang di dinding.

Bukan sekadar destinasi kuliner, kedai ini adalah pengingat bahwa di tengah rutinitas yang begitu padat, kita perlu meluangkan waktu, sejenak berhenti untuk merawat hubungan yang berarti dan merenung akan capaian kita hari ini.
Ayo ketemuan lagi