Siang itu saya berkesempatan untuk mengikuti kegiatan keputrian di aula sekolah. Sesuai namanya kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa putri dan beberapa guru pendamping.
Kegiatan keputrian ini dilaksanakan setiap hari Jumat siang. Jadi sementara siswa putra melaksanakan sholat Jumat di masjid, siswa putri diberikan kegiatan lain yang bermanfaat.
Sebuah pemandangan yang menarik di aula.
Satu orang berdiri di depan dengan sebuah mic, sementara yang lain duduk di sajadah masing-masing.
Siswa memberikan ‘tausiyah’ di depan teman yang lain, dokumentasi Jihan
Semua bermukena (kecuali yang berhalangan), karena sesudah keputrian acara dilanjutkan dengan shalat Dhuhur berjamaah.
Sementara siswa di depan memberikan ‘tausiyah’, yang lain menyimak. Siang itu tausiyah berkisar pada masalah hikmah memperbanyak dzikir Laa Ilaha illallah.
Di sesi tanya jawab dan kuis, animo peserta demikian besar. Apalagi ketika pada siswa yang berhasil menjawab pertanyaan akan diberi sedikit reward dari guru pendamping. Aha…
Penjabaran program Keputrian , dokumentasi pribadi
Dalam acara tersebut koordinator keputrian yang juga adalah guru PAI menjabarkan program keputrian selama satu semester ke depan. Seperti tahun sebelumnya, kegiatan akan diisi dengan berbagai materi baik keagamaan maupun non keagamaan.
Materi keagamaan difokuskan pada keimanan, ibadah, adab juga kebersihan. Pemateri masalah keagamaan adalah para guru PAI.
Bagaimana dengan materi keagamaan? Banyak materi yang menarik akan disajikan, misalnya tentang kesehatan, sopan santun berinternet dan bermedsos, ketrampilan, bahkan fashion juga masuk dalam materi ini.
Membuat batik ecoprint, salah satu giat keputriannnon keagamaan, dokumentasi pribadi
Pemberian kegiatan keputrian adalah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran siawi untuk peduli pada diri dan lingkungannya serta selalu meningkatkan kapasitas diri masing-masing.
Sebagaimana diketahui siswa SMP masuk dalam masa remaja awal. Masa dimana mereka mulai peduli pada diri sendiri juga lawan jenis.
Masa dimana mereka mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan penuh semangat untuk mencoba berbagai hal baru.
Jamaah peserta Keputrian , dokumentasi Jihan
Untuk itu adalah kewajiban orang tua ataupun orang dewasa di sekitar mereka untuk memberikan pendampingan dan memberikan rambu-rambu tentang apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan.
Dalam usia tersebut mereka butuh ‘teman’ untuk sharing tentang masalah yang ada pada diri mereka, juga teman yang memberi motivasi pada mereka agar bisa mengembangkan diri.
Pada masa tersebut juga remaja putri banyak yang mulai mendapatkan menstruasi. Karenanya materi tentang kesehatan juga thaharah banyak menyinggung masalah ini.
Menjelang keputrian, dokumentasi Jihan
Berbagai manfaat yang bisa diambil dari kegiatan keputrian di sekolah adalah:
1. Meningkatkan wawasan keilmuan baik agama maupun non agama.
2. Mengajarkan adab dan sopan santun
3. Meningkatkan ketrampilan siswa putri
4. Mendidik siswa putri agar menjadi generasi yang cerdas dan siap menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi.
Masih banyak lagi manfaat kegiatan keputrian. Pada prinsipnya kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas siswi baik secara keilmuan maupun karakter dan keagamaan.
Akhirnya betapa penting memberikan pengajaran yang baik pada siswa putri karena kelak mereka akan menjadi wanita yang akan melahirkan generasi. Baik buruknya generasi sangat bergantung pada yang melahirkan, mendidik dan membesarkannya.
Seperti yang dipesankan oleh Drs Moh Hatta bahwa jika kamu mendidik satu laki-laki maka kamu mendidik satu orang, namun jika kamu mendidik satu perempuan, maka kamu mendidik satu generasi.
Sebuah sepeda motor besar berhenti di depan sekolah. Pengendaranya memakai helm kaca gelap dan kacamata hitam. Bergegas saya mendekatinya.
“Sekarang ya Bude?”
“Ayo Le, jawab saya sambil duduk di boncengan,”
Ya, sore itu, keponakan saya yang sedang kuliah di semester enam jurusan DKV mengajak saya untuk menghadiri pemeran karya yang di adakan di sebuah gedung di Universitas Negeri Malang.
Sumber gambar: posko memori
Pameran ini diisi karya para mahasiswa. Tujuannya adalah untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah mereka. Mata kuliah apa, saya lupa namanya, tapi yang jelas saya diajak ke sana untuk meliput.
Kata keponakan, tugas yang dilakukan ini harus dipublikasikan, dan begitu mendengar kata publikasi dia langsung ingat budenya.
Hobi Membaca, Menulis dan Kompasiana
Semenjak berkenalan dengan Kompasiana, hobi membaca dan menulis saya kian menjadi. Mengapa? Dengan banyak membaca tulisan teman-teman, saya semakin terpacu untuk terus menulis.
Banyak orang hebat di Kompasiana, dan dari mereka saya banyak belajar bagaimana membuat tulisan yang berisi namun tetap enak dibaca.
Seiring berjalannya waktu, menulis bukan lagi sekedar kesenangan bagi saya, tapi juga kebutuhan. Karenanya sangat tidak enak kalau beberapa hari tidak menulis.
Akibatnya setiap mengikuti event tertentu, pasti akan saya jadikan tulisan.
Sering menulis membuat saya ditarik menjadi penulis web sekolah. Tugas saya cukup datang di event sekolah, menulis lalu upload di web.
Barokah lain dari hobi menulis adalah saya jadi sering mendapat undangan dari teman untuk mengikuti event tertentu guna membuat semacam liputan. He..he…sok sok an jadi wartawan ini…
Dalam sebuah event , dokumentasi pribadi
Lalu berapa bayarnya? Tidak ada. Mendapat ucapan terima kasih, melihat yang saya buatkan tulisan merasa senang saja sudah membuat hati saya ikut senang.
Kadang saya menulis tentang rekreasi jamaah pengajian, acara jalan-jalan bersama teman-teman, acara arisan juga acara pameran seperti yang saya lakukan sore itu.
Kami terus berjalan menuju lokasi pameran. Sepanjang kiri kanan jalan dipenuhi dengan berbagai dekorasi. Hingga akhirnya sampailah kami di pintu masuk. Setelah mengisi buku tamu kami pun masuk ruang pameran.
Jalan menuju ruang pameran, dokumentasi pribadi
Keponakan saya memperkenalkan saya pada teman-temannya. Rupanya beberapa dari mereka sudah mendapat cerita tentang saya. Sekilas saya dengar ada yang berbisik. “Bude, ya?”
Keponakan saya mengiyakan.
Saya terus berkeliling. Mungkin karena tahu bahwa tujuan saya ke situ adalah untuk meliput, tiap pertanyaan yang saya ajukan selalu dijawab dengan lengkap.
Bertanya ke sana-sini membuat pembicaraan di antara kami tidak canggung lagi. Dan dengan akrab mereka memanggil saya “Bude”.
Ah ya, tulisan tentang liputan ini saya upload di Kompasiana dengan judul “Memorabilia”, Karena Ada Ribuan Kenangan di Masa Kecil
Suatu saat ketika kuliahnya hampir berakhir, keponakan saya harus mengadakan pameran lagi.
“Bude, saget liputan malih?”
“Oh, bisa Le .. kapan?”
Setelah menentukan hari dan tanggalnya, siang itu ketika jam istirahat saya dijemput dari sekolah untuk kembali meliput pameran karyanya.
Gajah Mada, Umakarta, dokumentasi pribadi
Kali ini karyanya mengangkat tema Mahapatih Gajah Mada. Jadi ceritanya ia membuat berbagai merchandise yang dikaitkan dengan kebesaran Gajah Mada sebagai tugas akhir kuliahnya.
Sama dengan liputan sebelumnya, di lokasi pameran wajah- wajah ramah menyapa saya. “Bagaimana kabarnya Bude?”
He..he… Saya membalas sapaan mereka dengan gembira. Senang sekali rasanya bertemu lagi dengan mereka. Kami berbincang sejenak, lalu saya mulai mengamati karya- karya yang dipamerkan sambil beberapa kali memotret.
Jika dihitung selama keponakan kuliah ada empat kali saya diminta meliput pamerannya. Ada yang di UM, Dewan Kesenian Malang (DKM) juga Malang Creative Centre (MCC).
Yang paling unik adalah ketika saya meliput di MCC. Mengapa? Pameran dikemas dengan gaya kekinian. Peserta pameran banyak yang mengenakan cosplay.
Bersama Naruto, dokumentasi pribadi
Saya yang tidak ikut bercosplay jadi tampak aneh. Bahkan ketika antre lift, di sekitar saya adalah Naruto dan teman-temannya.
Bukan sekedar hobi, gara- gara menulis saya mempunyai banyak kesempatan untuk mendatangi berbagai event, memotret dan menuliskannya.
Menulis membuat saya mendapatkan sebuah profesi baru, yaitu ‘wartawan’. Wartawan yang siap membantu publikasi bagi keponakan jika memerlukan.
tetap menyatu, dalam hasrat dan tujuanku selalu (reff. lagu Gemilang by Krakatau)
“Gemilang” adalah single yang dinyanyikan oleh grup musik Indonesia, Krakatau. Lagu ini diciptakan oleh Dwiki Dharmawan, pemain keyboard dari band tersebut. Dengan lirik oleh Mira Lesmana.
Lagu yang menceritakan kegemilangan dan memberi semangat dalam memecahkan masalah dengan jiwa remaja tersebut dirilis pada tahun 1987. Suara centil dari Trie Utami membuat lagu ini terasa sedap untuk dinikmati.
Pada tahun 2010, Andien membawakan kembali lagu “Gemilang” dengan aransemen oleh Nikita Dompas
Dari Wikipedia, lagu ini pernah mendapat ulasan positif dari Rolling Stone Indonesia yang menempatkan lagu ini sebagai peringkat ke-62 lagu berbahasa Indonesia terbaik sepanjang masa.
Rolling Stone Indonesia adalah majalah musik Indonesia yang diadopsi dari franchise terbitan Amerika Serikat.
Krakatau, sumber gambar: Kumparan
Dalam perjalanan musiknya Krakatau memiliki dua single yaitu Gemilang dan La Samba Primadona yang keduanya dirilis tahun 1987. Dua-duanya enak dinikmati, tapi lagu “Gemilang” adalah one hit wonder membawa cerita tersendiri bagi saya.
Lagu “Gemilang” sangat terkenal di kala saya masih duduk di SMA. Hampir tiap hari kami bisa mendengar lagu ini lewat radio. Kala itu kami sering berkirim lagu lewat beberapa stasiun radio, seperti TT 77 atau KDS 8, dan “Gemilang” adalah lagu yang sering direquest.
Mendengarkan lagu ini membuat saya kembali teringat pada masa di mana kami bersemangat untuk mencari ilmu, dengan bumbu keakraban dan kekonyolan bersama teman-teman. Ya, judul syair lagu ini adalah gambaran jiwa kami yang penuh semangat untuk menuju masa depan yang lebih gemilang.
Lagu ini mengingatkan saya pada seorang sahabat, teman sekelas saat SMA. Sebuah pertemanan yang akhirnya membuat saya menjadi guru matematika. Bagaimana bisa?
Nah, begini ceritanya..
SMA Tugu, sumber gambar: Malang Surya
Teman saya ini sebutlah namanya Anna, orangnya ‘rame’, hampir sama dengan saya. Karena punya ‘frekuensi’ yang hampir sama, di kelas satu SMA kami langsung kenal dan akrab.
Anna punya teman yang jauh lebih banyak dari saya. Belum satu bulan di SMA, temannya sudah ada di mana-mana, termasuk di kelas lain.
Meski ‘rame’ kami punya komitmen sama yaitu tidak main- main saat pelajaran. Kami sama-sama suka IPA dan Bahasa Inggris dan olah raga. Bedanya jika saya suka fisika dan Kimia, Anna lebih suka biologi. Karenanya di kelas dua kami terpisah karena saya memilih jurusan A1 (ilmu fisika) dan Anna memilih A2 ( ilmu biologi).
Bagaimana dengan matematika? Kami bisa matematika, tapi kurang begitu suka. Mungkin karena materi kelas satu SMA hampir sama dengan SMP, jadi kurang menantang sepertinya.
Lucunya saat itu kami juga punya kakak idola yang sama. Maksudnya naksir orang yang sama, yaitu kakak kelas yang pintar berorganisasi sekaligus menonjol dalam mata pelajaran. Kalau kata kami saat itu wajahnya mirip Iwan Fals. He..he…
Tapi begitulah naksir kami tak pernah serius. Sekedar suka pokoknya.
Kakak idola kami ini ada di kelas 3 IPA 5 yang kelasnya di tingkat atas, sementara kami yang masih kelas 1 menempati kelas bawah.
Zaman itu kelas tiga masuk jam tujuh pagi, dan kelas satu masuk jam dua belas. Jadi kelasnya bergantian.
Demi bertemu idola kami ( tepatnya melihat) kami rela datang jam setengah dua belas dan pura-pura baca mading di bawah tangga untuk menunggu Sang Idola lewat.
Begitu dia lewat, kamipun saling bisik-bisik,”Itu tuh anaknya..,” Sang Idola terus berjalan. Entah tahu atau pura-pura tidak tahu dengan keributan kami. Duuh..
Jika dia sudah lewat, kami segera kembali ke kelas. Urusan selesai. Ingin kenal lebih jauh dengan Sang Idola? Tidak juga. Bahkan sampai luluspun kami tidak pernah bicara dengan idola kami itu. Ha..ha…
Karena punya koneksi dengan sekolah sebelah lumayan banyak, Anna selalu tahu sekolah sebelah mengadakan acara apa.
Ah ya, saya bersekolah di SMA Tugu. Ada tiga sekolah di situ. Dan aula yang posisinya di tengah dipakai ketiga sekolah secara bergantian.
Suatu saat terjadilah sebuah peristiwa yang membuat saya menjadi ‘pecinta’ matematika.
Ketika itu dalam sebuah jam pelajaran matematika, sesudah diterangkan kami diberi tugas oleh ibu guru kami. Lima belas soal.
Ya, guru zaman dulu kalau memberi tugas memang buanyak. Tujuannya jelas, supaya kami terbiasa mengerjakan soal dalam berbagai model.
Dalam waktu satu jam pelajaran (45 menit) seluruh soal selesai kami kerjakan. Sementara teman- teman masih sibuk berkutat dengan pekerjaan mereka.
Waduh, waktu masih kurang 45 menit lagi. Sama-sama ‘gabut’ istilah anak sekarang, Anna berbisik pada saya. “Di aula ada mode show.. , lihat yuk..,” ajaknya. Mode show adalah istilah untuk fashion kala itu.
Sejenak saya terdiam. Ada perang dalam hati saya. Perang antara bisikan syaitan dan malaikat. Bisikan syaitan mengajak saya ke aula mengikuti ajakan Anna, malaikat memaksa saya bersabar sejenak menunggu saat pembahasan soal tiba.
Saya melihat ke arah Bu Guru matematika yang sedang asyik mengerjakan sesuatu. Hati saya terus berperang. Celakanya yang menang adalah si syaitan.
” Apik ya…,” bisik saya pada Anna.
“Yo mesti ta..,” bisiknya lagi sambil tersenyum.
Anna menuliskan sesuatu di kertas lalu diberikan pada saya. Suasana kelas masih sepi, semua sibuk mengerjakan tugas.
“Aku izin ke kamar mandi, susul dalam waktu dua menit,” katanya di kertas.
Tanpa menunggu jawaban saya Anna pun izin ke kamar mandi. Dua menit berselang saya ikut-ikutan izin. Ibu guru matematika mengangguk sambil meneruskan pekerjaannya.
Jarak dari kamar mandi putri ke aula lumayan jauh. Tapi demi tekad yang membara untuk melihat mode show kami terus berjalan ke sana.
Suasana aula tampak demikian meriah. Beberapa model berjalan di panggung dengan iringan musik yang menghentak penuh semangat.
Wajah -wajah ayu tampak di mana-mana. Mereka melenggak lenggok memperagakan busana yang demikian cantik. Busana kertas. Amazing. Kertas bisa disulap menjadi baju seindah itu. Kami begitu terkesima dibuatnya. Benar kata Anna. Acaranya memang apik.
Terlalu asyik melihat peragaan busana, tak terasa sudah hampir satu jam pelajaran kami berdiri di situ.
“Ayo balik kelas.., dicari Bu guru nanti,” ajak saya panik demi melihat jam aula sudah menunjukkan pukul setengah dua, berarti sepuluh menit lagi bel istirahat berbunyi.
Anna ikut kaget. Bergegas kami kembali ke kelas. Dan alamak… Bu guru matematika sudah siap di depan pintu kelas menunggu kedatangan kami.
“Dari mana?” tanya beliau tidak ramah.
Kami menunduk. Sungguh, sebengal apapun kami tidak bisa berbohong di depan guru kami.
Dengan jujur kamipun berkata bahwa kami keterusan melihat mode show di aula.
Bu Tutik, guru kami kembali bertanya, “Pekerjaan kalian sudah selesai?”
“Sudah, Bu,” jawab kami cepat.
Bu Tutik mengangguk. Apakah jawaban tersebut membuat posisi kami jadi aman? Tidak.., karena sebagai hukumannya kami berdua harus mengerjakan ke lima belas soal di papan tulis nanti di pertemuan berikutnya.
“Kalau ada pertanyaan dari temanmu, kalian yang menjawab,” kata Bu Tutik sambil meninggalkan kami.
Saya sungguh tak menyangka itulah tonggak pertama saya mulai tekun bermatematika. Sebelumnya saya bisa matematika, tapi untuk diri saya sendiri. Tapi karena diultimatum seperti itu maka sebelum pelajaran matematika saya harus punya persiapan lebih.
Akhirnya buku pekerjaan matematika saya menjadi begitu lengkap. Saya selalu siap menerangkan sewaktu-waktu ada pertanyaan. Teman- teman yang mengalami kesulitanpun banyak yang minta diterangkan, bahkan sampai datang ke rumah.
Sebuah hukuman yang manis, hingga akhirnya selepas SMA saya kuliah di IKIP jurusan matematika.
“Kamu jadi guru matematika saja, kalau menerangkan enak,” kata teman-teman ketika kami memilih jurusan. Biyuh…
Tahun demi tahun berlalu hingga saya menjadi guru dan Anna sukses dengan bisnisnya di luar pulau. Sesekali kami bertemu saat reuni, dan beberapa kali berwhatsapp.
Beberapa tahun yang lalu ia mengirim sebuah pesan yang sangat mengejutkan.
“Cikgu, terima kasih ya, anakku sudah diajar matematika,” katanya.
Saya sedikit bingung. Ini tidak pernah ketemu ibuknya kok tiba-tiba mengatakan anaknya saya ajar?
“Anak yang mana?” tanya saya.
Sambil menyebut nama seorang siswa, Anna berkata, “Dia anakku, kemarin baru lulus dari SMP, matematikanya kamu yang ngajar, sengaja gak tak kasih tahu.. aku pingin tahu kamu ngajarnya bagaimana..ha..ha.., “
Oalah, Anna… Sungguh kamu tetap seperti yang dulu.., pikir saya gemas.
Krakatau, sumber gambar: SpundCloud
Sampai sekarang setiap kali melewati SMA Tugu, saya selalu teringat cerita masa-masa itu. Masa SMA ketika kita punya begitu banyak mimpi. Masa yang begitu lucu, konyol tapi tetap memicu kita untuk meraih masa depan yang lebih gemilang.
Outdoor Learning! Aha, belajar di luar kelas adalah hal yang sangat menyenangkan. Betapa tidak? Lewat belajar di luar kita bisa mendapatkan berbagai pengetahuan baru yang memperluas cakrawala berpikir kita.
Lewat belajar di luar kelas banyak hal baru yang kita pelajari yang tidak kita dapatkan di sekolah.
Sebelum berangkat ODL, dokumentasi pribadi
Berkaitan dengan belajar di luar kelas ini, pada hari Rabu (31/07) SMP Negeri 3 Malang mengadakan ODL ke PT Eka Timur Raya atau PT Etira Mushroom yang berlokasi di Nongkojajar Pasuruan.
ODL ini dilaksanakan oleh 36 siswa dengan didampingi 7 orang guru. Sebagian besar siswa adalah kader NGTS (Nutrition Goes to School).
Di atas truk, dokumentasi pribadi
Setelah di minggu sebelumnya para kader belajar tentang hidroponik dan penanaman jamur tiram, kali ini mereka belajar tentang pembibitan jamur, nutrisi, pengalengan dan distribusi jamur.
Rombongan peserta ODL berangkat dari sekolah sekitar pukul tujuh pagi.
Setelah sambutan dari Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang, dan doa yang dipimpin oleh Mister Heri, semua peserta menaiki truk yang sudah menunggu di depan sekolah. Ada dua truk yang akan membawa peserta menuju lokasi ODL.
Sambutan dan pembekalan dari ibu kepala sekolah, dokumentasi pribadi
Setelah kira-kira 50 menit perjalanan akhirnya peserta memasuki area PT Eka Timur Raya.
Pabrik pengolahan jamur kancing terbesar se Asia Tenggara ini berdiri sejak tahun 1999.
Wilayah budidaya jamur kancing memerlukan tempat yang memiliki suhu tidak begitu tinggi, karenanya PT Eka Timur Raya memiliki tempat penanaman budidaya jamur kancing yang terletak di dekat Gunung Bromo, yaitu Desa Ngadirejo dan Kalitejo, Pasuruan yang memiliki ketinggian 1850 mdpl.
Mempersiapkan tugas sebelum edukasi, dokumentasi pribadi
Dalam kegiatan ODL peserta mendapat berbagai materi dari Ibu Dyah, Ibu Ninik dan Bapak Haydar selaku narasumber.
Materi meliputi cara pembibitan jamur kancing, nutrisi yang terkandung dalam jamur dan pengalengan serta pemasarannya.
Tentang Jamur Kancing
Jamur kancing, sumber gambar :Shopee
Jamur kancing (Agaricus bisporus) atau champignon adalah jenis jamur tertua dan yang paling banyak dibudidayakan di dunia.
Jamur ini banyak diminati oleh masyarakat karena memiliki kandungan nutrisi yang kompleks, yaitu karbohidrat, protein, serat, dan berbagai macam vitamin serta mineral, seperti vitamin B kompleks, seperti riboflavin, niacin, dan asam folat.
Proses edukasi. Dokumentasi pribadi
Berkaitan dengan hal tersebut berbagai manfaat dari jamur kancing adalah menjaga imunitas dan keseimbangan tubuh, menurunkan kolesterol, mencegah serangan jantung termasuk perlindungan antioksidan dan kesehatan tulang.
Jamur dari PT Etira sebelum dipasarkan harus melalui proses pengalengan yang higienis dan berbagai uji yang cukup ketat. Karenanya kualitas jamur kancing yang dipasarkan sudah tidak diragukan lagi.
Siswa yang berhasil menjawab pertanyaan, dokumentasi NGTS
Dalam satu hari menurut keterangan dari narasumber PT Etira bisa menghasilkan sekitar 15 ton jamur kancing, dan memperkerjakan lebih dari 1000 orang.
Hal yang menarik, dari industri ini tidak ada sama sekali bahan buangan yang sia sia. Seperti yang diterangkan oleh narasumber, media penanaman bisa dimanfaatkan untuk pembuatan kompos. Bahkan sisa pengolahan jamur bisa dimanfaatkan untuk penyedap karena jamur memiliki rasa umami (gurih).
Siswa yang berhasil menjawab pertanyaan, dokumentasi NGTS
Acara edukasi berjalan dengan hangat dan menyenangkan. Antusiasme peserta demikian besar. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang muncul dari siswa maupun guru.
Hidangan olahan jamur melengkapi acara hari itu. Ada sate jamur, sambosa isi jamur, keripik jamur dan kentang goreng yang begitu maknyus.
Hidangan olahan jamur, dokumentasi NGTS
Di akhir acara diadakan sesi kuis, dimana peserta yang menjawab dengan benar pertanyaan yang diberikan, akan mendapatkan hadiah. Ada sekitar enam siswa yang mendapat hadiah pada sesi tersebut.
Sebelum acara berakhir, PT Etira Mushroom dan SMP Negeri 3 Malang saling memberikan cindera mata. Sesudah berfoto bersama semua peserta sholat Dhuhur dan makan siang bersama di tempat yang sudah ditentukan.